Orang-Orang di Pinggiran Pulau Banda

 

2320623206

Oleh: Hatib Kadir

Di buku ini, On the Edge of Banda Zone (2003), Roy Ellen membangun dua argumen utama. Pertama, Roy Ellen percaya bahwa kondisi topografi (darat) dan hidografi (perairan) mempengaruhi tipe sistem ekonomi. Kedua, Ellen berasumsi bahwa aktivitas perdagangan mempengaruhi kondisi organisasi sosial, seperti sistem pernikahan, kekerabatan, tempat pemukiman, pembagian sistem kerja dan bentuk bahasa.

Selama ini kajian tentang perdagangan Maluku selalu melihat dari perspektif luar. Banyak studi tentang Maluku yang secara sederhana hanya menggambarkan bahwa kepulauan di daerah ini sebagai produksi cengkeh dan pala untuk kebutuhan pasar global tanpa melihat kompleksitas masyarakat lokal di Maluku sendiri. Studi Ellen ini sekaligus kritik terhadap studi-studi yang hanya melihat mode perdagangan jarak jauh seperti dalam karya-karya sejarah Ferdinan Braudel, Anthony Reid, hingga Van Leur. Ellen berargumen bahwa keberadaan perdagangan global tidak akan ada tanpa didukung oleh kompleksitas pertukaran ekonomi jarak menengah dan pendek antar pulau di Maluku. Dengan menggunakan pendekatan Maluku sentris, “Moluccocentric view”, Ellen mengikuti jejak Malinowski yang melihat pertukaran ekonomi antar pulau pada masyarakat Trobriand di perairan Pasifik. Ellen berpendapat jaringan perdagangan lokal di Maluku telah terbentuk jauh sebelum adanya perdagangan global.

Roy Ellen adalah antropolog lingkungan yang telah mendedikasikan dirinya melakukan penelitian di Maluku sejak 1980. Selama lebih dari tiga dasawarsa ia menggunakan pendekatan ekologi, ekonomi dan historiografi dalam melihat masyarakat Maluku. Di buku ini ia menyebut pendekatannya sebagai “historical ethnography, yang melakukan pendekatan dimensional antara proses sejarah dan analisis kebudayaan. Ellen menawarkan catatan dan fakta tentang sejarah perdagangan jarak pendek yang sangat terintegrasi dengan kekerabatan, etnisitias, organisasi politik, bahasa, teknologi perahu, pertukaran komoditas dan bahasa.

 

Lanskap Geografi

Ellen tidak membahas soal Pulau Banda secara lengkap, melainkan ia melihat kepulauan di bagian Seram Tenggara, khususnya Pulau Gorom dan Pulau Geser yang mempunyai peranan penting dalam sejarah Maluku. Sebagai antropolog lingkungan yang telah lama meneliti lanskap kepulauan Maluku, Ellen percaya bahwa faktor non manusia, seperti ekologi, perubahan musim, tata bintang, habitat, hingga perilaku binatang mempunyai relasi yang kuat dengan pembentukan pola pikir manusia dalam membentuk sistem sosial. Sebagai, musim angin barat menimbulkan hasil tangkapan laut yang berbeda dengan angint timur (hal, 46-8, 54)

Perdagangan yang dapat didefinisikan sebagai proses sosial interaksi dan pertukaran barang, bertujuan untuk mengintegrasikan ekonomi antar pula. Pulau-pulau kering yang tidak mempunyai tanah subur tidak begitu produktif dalam menghasilkan tanaman konsumsi, seperti Pulau Banda, yang sangat bergantung pada suplai sagu, buah-buahan, sayuran, dan beras dari pulau-pulau di sekitarnya. Sebaliknya, pulau yang menghasilkan sumber non-pangan, memproduksi kayu bakar dan jenis kayu bangunan ke pulau lainnya. Hukum permintaan dan pemberian melalui perdagangan dan penangkapan ikan ini mengintegrasikan formasi-formasi sosial melalui aliansi politik ikatan kekerabatan, pernikahan antar pulau. Ellen menyebutkan kepulauan Maluku di bagian Tenggara Seram sebagai “small-scale states”, atau Negara-negara kecil yang peraturannya didasarkan pada unit-unit kekerabatan dan pernikah yang muncul dari sistem pertukaran. Konsekuensi lain dari jaringan perdagangan di zona lokal ini adalah terdistribusnya penutur bahasa Seram Tenggara atau yang ia sebut sebagai Southeast Seram Littoral (SSL) sebagai bahasa pemersatu (lingua franca) yang mengindikasikan skala radiasi dari jaringan perdagangan. Masyarakat di kepulauan Tenggara Seram mempunyai bahasa yang sama, dimana pada beberapa pulau hanya dibedakan berdasarkan dialek dan fonologi.

Sedangkan Pulau Banda sendiri dapat melakukan produksi dan ekspor rempah-rempah, seperti cengkeh dan pala, tidak lain karena keberadaan masyarakat di kepulauan sekitar Banda yang mensuplai kebutuhan subsisten masyarakat di Pulau Banda Island. Masyarakat di Pulau Banda, yang sangat memproduksi rempah-rempah, sangat tergantung pada suplai sagu dari kepulauan luar. Produksi rempah-rempah ke untuk pasar global, bukan hanya membuat Pulau Banda menjadi pusat dalam sistem perdagangan dunia, namun kesuksesan ini justru membuat masyarakat di pulau Banda sangat tergantung pada jaringan perdagangan dengan masyarakat di kepulauan Seram Tenggara, dan pedagang-pedagang Kei dan Tanimbar . Ketergantungan ini sudah terjadi jauh sebelum kedatangan VOC, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) di Banda pada tahun 1621. Kondisi Pulau Banda sangat cocok untuk berkembangnya tanaman pala karena sistem tanahnya yang bersifat arid atau kering.

Kondisi hidrografi juga mempunyai peranan yang sepenting topografi. Keadaan pulau Geser dan Gorom, dua pulau terpenting di Seram Tenggara, yang dikelilingi oleh karang, menjadi tempat yang ideal untuk kapal-kapal kecil menancapkan jangkarnya, khususnya disaat musim penghujan dimana justru banyak kapal dagang yang bersandar. Kondisi ini menguntungkan pemimpin lokal, atau yang disebut bapa raja untuk mengumpulkan pajak dari kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan-pelabuhan kecil. bapa raja, kepala soa (administrator) merekrut orang untuk bekerja di bawah area kekuasaanya. Sebagai gantinya, para pekerja ini berhak memanen sagu dari kawasan darat yang juga dikuasai bapa raja.

Kekuasaan raja tidak hanya pada satu pulau atau daratan. Tak jarang bapa raja menguasai beberapa pula. Masyarakat tidak dipisahkan oleh perairan. Karang dan kawasan pantai masih berada di bawah sistem kendali etar atau klan dan tidak berhak dimiliki secara individu. Permasalahan muncul ketika hasil laut menjadi komoditas. Konflik dan tuntutang hukum sering terjadi akibat pendefinisian batas dari perairan yang menggunakan penanda karang dan kawasan zona gelombang. Ketidak saling percayaan dan konflik juga terjadi akibat adanya pemancingan illegal, hutang mas kawin (dalam bentuk gong dan gading gajah), denda jangkar, ketidak sepahaman batas antar tanah diantara orang-orang kepulauan Seram Tenggara. Untuk menghindari konflik, orang-orang dari desa lain dan para pendatang seperti orang Cina, orang Arab, Makasar dan Buton, harus meminta ijin dari bapa raja. Khususnya ketika para pedagang ini hendak melakukan pertukaran dengan hasil panen laut. Pada tahun 1993, para pedagang pendatang ini diwajibkan mempunyai ijin penangkapan dan diharuskan membayar pajak untuk setiap sepuluh hingga dua puluh hari, yang berkisar antara 25 ribu -30 ribu rupiah. Hasil panen dan keuntungan dibagi antara bapa raja, kepala soa dan beberapa pekerja. Bapa raja juga mempunyai kekuasaan untuk mengklaim terhadap setiap kapal yang karam dalam radius lima kilometer dari bibir pantai.

 

Ruang politik dan Organisasi Sosial

Mengingat dari kondisi topografi dan hidrografi yang terpisah, Ellen menyebutnya kawasan kepulauah Seram Tenggara ini sebagai “federasi yang longgar” “loose federation”. Konsep kekuasaan pusat dan periferi bersifat dinamis dan tidak stabil jika dibandingkan dengan sistem politik masyarakat agraris di Jawa misalnya. Pusat kekuasaan sangatlah rentan dengan turbulensi politik, perang dan wabah. Di samping itu, sistem pusat kekuasaan sangat rapuh karena tidak adanya kawasan produksi makanan pokok dan tanaman komersial pada saat yang sama.

Daerah periferi seperti kepulauan Seram bagian tenggara terisi dari organisasi-organisasi politik yang berubah setiap waktu. Raja, kepala wilayah, mentransfer kekuasaannya melalui pernikahan antar klan. Raja, sebagai ketua, mendukung adanya aliansi dan integrasi dengan kekuatan dari pihak luar. Dengan kata lain, pusat kekuasaan bersifat tidak stabil karena pergantian kekuasan dan kekerabatan berubah seiring dengan pernikahan antar kerabat. Hal ini berakibat pula pada relasi pemberian atribut, penaklukkan dan aliansi, dan di beberapa tempat juga berubahnya pola pusat kependudukan. Raja tidak harus tinggal di tempat ia berkuasa. Sistem hukum dan kekuasaan raja dapat meluas ke kepulauan yang lain berdasarkan ia tinggal. Salah satu contoh adalah Raja Kelu yang mempunyai kontrol terhadap Seram Laut, namun ia memilih untuk tinggal di Pulau Geser (Ellen, hal 92-3).

Ellen memfokuskan penelitiannya pada kepulauan Seram Tenggara karena pulau-pulau di daerah tersebut mempunyai peranan penting. Pertama, Kepulauan Seram bagian tenggara bersifat mandiri, dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Kedua, kepulauan di daerah ini mampu mensuplai keperluan makanan pokok untuk orang Banda. Dalam jaringan perdagangan kontemporer, Ellen menunjukkan bahwa tujuan paling intensif untuk kapal-kapal di pelabuhan Banda ke Geser, sebuah pulau di Seram Tenggara.

Tidak seperti Ternate, Tidore dan kepulauan Banda, pulau-pulau di Seram bagian tenggara kurang begitu terintegrasi dengan perekonomian dunia dan kurang begitu bergantung dengan barang-barang impor modern. Masing-masing pulau secara resiprokal mensuplai kebutuhan pokok dan makanan, seperti produk-produk berkebun, kayu bakar sayuran, buah-buahan dan sagu. Orang Tidore dan Seram mempunyai organisasi perdagangan dan mode operasi politik yang berbeda. Sementara orang Tidore menggunakan tribute dan dominasi politik terhadap orang Papua, masyarakat di kepulauan Seram tenggara melakukan perdagangan secara egaliter. Karena orang Seram tidak mempunyai status-status warisan kebangsawanan seperti orang Tidore, pernikahan dengan orang Papua terjadi karena terjalinnya jaringan perdagangan. Orang Seram tidak menggunakan politik penyerangan (raid). Pernikahan juga tidak untuk menggabungkan orang-orang Papua ke dalam subjek politik yang lebih luas seperti yang dilakukan oleh kerajaan Tidore.

 

Kondisi Perdagagan di Banda dan Sekitarnya

Ellen mencermati dua skala aktivitas perdagangan pendek dan panjang. Perdagangan skala panjang terjadi di Pulau Banda yang berkonsentrasi pada produk untuk sistem perdagangan dunia, namun secara paradoks membuat pulau ini tergantung pada suplai makanan dari perdagangang lokal dengan kepulauan sekitar. Di sisi lain, sejak Banda menjadi pusat produksi remah, jumlah penduduk menjadi padat dan menciptakan kompleksitas pembagian kerja.

Orang Maluku mengaku skala perdagangan yang ditentukan oleh ukuran populasi, kuantitas barang, dan tipe perahu. Kondisi-kondisi ini menentukan skala perdagangan yang didasarkan pada zona perdagangan jarak jauh, pendek dan menengah. Masing-masing zona mempunyai karakteristik jaringan yang berbeda. Maluku bagian Utara meliputi Ternate, Tidore dan Halmahera. Sedangkan zona perdagangan bagian tengah adalah kepulauan Ambon dan Lease, dan Zona bagian selatan dan tenggara meliputi kepulauan Banda, Tanimbar and Kei. Khususnya di zona bagian selatan dan tenggara mempunyai relasi pertukaran yang kuat dengan masyarakat Papua di bagian tenggara. Pada periode awal, orang-orang Papua mengekspor produk hutan dan budak, khususnya sebelum budak dilarang pada tahun 1851. Namun kini zona tenggara menjadi transit perdagangan komoditas seperti pala, damar, obat-obatan yang terbuat dari kulit kayu (medicinal barks) dan minyak kayu putih. Sebagai ganti pertukaran, para pedagang di kawasan tenggara mensuplai beras, barang-barang manufaktur, ikan asin, ayam, gula, kopi, hingga dendeng rusa ke masyarakat Papua di bagian tenggara.

Pada dasarnya ada lima komoditas yang dipertukarkan di Maluku bagian tenggara. Pertama adalah sagu yang biasanya dipertukarkan dengan ikan. Banyak pulau kecil di Seram bagian tenggara bersifat mandiri (self-sufficient island) karena tanahnya memproduksi sagu yang cukup untuk kebutuhan pangan. Sedangkan ikan kering juga diproduksi dan didistribusikan oleh para pedagang Cina dan Buton. Kedua, para pedagang skala kecil memproduksi makanan subsisten seperti buah, sayur dan produk horticultural lainnya. Yang mengejutkan adalah kepulauan Seram justru mempunyai peranan defisit dalam memproduksi produk makanan pokok ke pulau-pulau kecil di Seram Tenggara karena babi liar menjadi predator memakan produk-produk di kebun. Sedangkan kebanyakan orang Seram adalah Muslim yang tidak memakan babi dan hal ini menyebabkan mereka hanya menanam pohon sagu. Kepulaun kecil di Seram tenggara juga memproduksi kayu bakar yang didapat dari hutan bakau. Kualitas kayu hutan bakau ini sangatlah bagus untuk arang karena membakar cukup lama dan pelan.

Ketiga, komoditas trepang, agar-agar, penyu dan sirip hiu menjadi produk ekspor utama masyarakat Seram Tenggara. Produk ekspor ini banyak ditangani oleh pedagang-pedangang Cina dan Buton. Keempat, komoditas pohon, seperti cengkeh yang menghasilkan nilai jual tinggi. Ellen mengindikasikan bahwa satu pohon cengkeh mampu menghasilkan 10 kilogram dan masing-masing orang mempunyai sekitar 200 pohon. Bahkan pada tahun 1981 hingga 1986 sebuah rumah tangga mempunyai pemasukkan antara 0,5 hingga 3 juta perbulannya (Ellen, 2003: 205). Kelima, perdagangan manufaktur. Menariknya, kepulauan Seram Tenggara juga memproduksi tekstil dan pakaian tenun untuk ekspor. Bahkan masyarakat di kepualauan Gorom juga memproduksi jaring ikan untuk kebutuhan nelayan.

Struktur dari sistem lima jenis perdagangan diatas mudah berubah struktur dan sistem jaringannya dikarenakan beberapa faktor. Misalnya seperti meningkatnya monopoli perdagangan pada orang-orang tertentu, menurunnya interaksi pertukaran antara masyarakat di daerah pedalaman dengan masyarakat di kawasan pantai, semakin cepat dan langsungnya koneksi dan frekuensi pertukaran antara kawasan pusat di Ambon dengan periferi dengan menggunakan perahu mesin. Hal yang perlu dipertimbangkan adalah sentralisasi ekonomi politik melalui tekanan administrasi Negara yang menyebabkan masyarakat di periferi harus bernegosiasi dengan otoritas pusat. Tambahan lainnya, semenjak cengkeh juga mulai ditanam secara luas di hampir setiap pulau di Indonesia, otomatis meningkatkan produksi tanaman ini sekaligus menurunkan posisi pulau-pulau di Maluku sebagai pusat produksi.

 

Uang dan Hutang: Transformasi di Geser dan Gorom

Ellen juga menunjukkan bahwa uang kas cenderung baru beredar dalam masyarakat di kepulauan Seram Tenggara. Hingga abad Sembilan belas, Alfred Wallace melaporkan bahwa di Maluku uang tidak dikenal. Benda seperti pisau, pakaian, dan arak menjadi medium pertukaran dengan tembakau dan koin-koin kecil terbuat dari tembaga. Untuk mengatasi hutang dari pertukaran, masyarakat cenderung melakukan pertukaran antar barang. Tidak ada penawaran dalam barter karena ekuivalensi didasarkan pada kuantitas barang yang berbeda. Istilah barter ini dilakukan dalam sistem sosolot. Masyarakat cenderung tidak melakukan barter dengan orang asing, karena dianggap membahayakan dan tidak terjalin kepercayaan sebelumnya. Sosolot pada dasarnya untuk menjaga ikatan kekeluargaan dimana transaksi melibatkan keluarga, kerabat, anggota rumah tangga dan satu wilayah kepulauan.

 

Seperti dalam teori sejarah ekonomi di Indonesia, orang Cina selalu punya peran membawa uang kas. Karena barter dianggap membahayakan dan penuh dengan intrik penipuan, orang Cina memilih untuk membawa uang kas. Datangnya pedagang migran dan broker keturunan Cina mengubah mentalitas pertukaran dalam kekerabatan masyarakat di kepulauan. Pertukaran uang memerlukan kontak sosial yang sangat minim. Demikian juga, produk barang mulai dinilai berdasarkan kesatuan simbol mata uang. Uang membawa rasionalitas tersendiri. Jika sebelumnya, sosolot dapat menjaga rejim nilai benda-benda, sedangkan uang memicu semua benda ke dalam inkorporasi simbol satuan mata uang secara pasti.

Sosolot adalah institusi perdagangan eksklusif antara orang-orang di kepulauan Seram bagian tenggara dengan masyarakat Papua bagian selatan. Orang-orang di kepulauan Geser dan Gorom membawa barang-barang seperti tekstil, bahan baku besi, manik-manik, alat kayuh perahu, beras, dan sebagai gantinya masyarakat di Papua bagian tenggara menukarkannya dengan pala, kayu manis, beragam jenis burung dan mutiara[1]. Selama kunjungannya ke Papua, orang-orang Seram Tenggara membangun rumah-rumah temporer, karena mereka harus menunggu berbagai produk hutan untuk dipanen. Sebelum than 1851, budak yang diimpor dari Papua tidak digunakan untuk mengembangkan otoritas politik yang terpusat seperti di kerajaan Tidore, melainkan para budak yang didapatkan dari perairan pantai selatan Papua ini dipekerjakan di kebun dan kru kapal. Para budak ini diberi dua puluh lima hingga tiga puluh pakaian dan sepuluh pisau.

Pemerintah Belanda di Ambon secara resmi melarang perdagangan budak pada tahun 1850 dan di Banda dilarang pada tahun 1860. Monopoli sistem perdagangan melarang perbudakan menjadi salah satu penyebab yang menurunkan pertukaran perdagangan sistem sosolot. Menurunya tradisi pertukaran sosolot juga diiringi dengan masuknya orang Cina dan Arab yang mengambil alih sistem pertukaran dengan menggunakan uang. Datangnya orang-orang Cina juga bersamaan dengan administrasi Belanda yang secara efektif mengubah mode pertukaran antara orang-orang di Seram Tenggara dan Papua. Pedagang-pedagang Cina datang dengan membawa volume komoditas yang besar dibanding pertukaran dalam sosolot. Masuknya KPM pada tahun 1891 menggeser mode transportasi sosolot antar pulau yang sebelumnya hanya menggunakan perahu atau kora-kora.

 

Orang-orang Cina di pinggiran Pulau Banda

Sebelum merangsek ke Geser dan Gorom, para pedagang Cina telah menguasai sepenuhnya bandar-bandar di Makassar. Dalam sejarahnya, kebanyakan masyarakat Cina dan Arab mulai membanjiri kawasan Geser dan Gorom setelah pembukaan Kanal Suez. Mereka datang ke Ambon dan Seram Tenggara di bawah era pasar bebas dan ketika Belanda mulai mengoperasikan kapal uap. Ketertarikan utama pedagang-pedagang Cina adalah Trepang yang menjadi kuliner mahal untuk orang-orang Cina.

Tidak seperti orang Cina, Arab dan Buton, masyarakat lokal cenderung hanya mendominasi pertukaran pada skala kecil. Mereka biasanya hanya mempunyai perahu yang sangat kecil (lepa-lepa) dengan tidak lebih dari dua belas kru didalamnya. Dan para kru ini masih mempunyai relasi kerabat satu sama lainnya. Kapal-kapal ini digunakan untuk perdagangan zona jarak menengah. Sebaliknya, orang Cina adalah pedagang-pedagang yang mempunyai modal menengah hingga besar. Mereka juga mempunyai kios dan toko, tempat dimana berbagai transaksi dilakukan. Orang Cina mengembangkan modal dengan membeli alat-alat produksi seperti kendaraan dan kapal. Orang-orang Cina yang lebih makmur dibanding masyarakat pribumi mempunyai kapal-kapal mesin atau jonson dan kapal-kapal yang berukuran lebih besar dengan kru yang lebih besar. Kapal-kapal besar ini sangat sesuai untuk perjalanan panjang ke Sulawesi dan Jawa. Bos pemilik kapal membagi pendapatnnay dengan kapten atau nakhoda, kru dan para pedagang. Meskipun motorisasi kapal telah terjadi dan mengambil alih peran perahu, namun kapal-kapal besar ini sangat tergantung dengan harga bensin dan peralatan kapal/spare part yang sangat dipengaruhi oleh harga global.

 

Orang-Orang Buton di Geser dan Gorom

Disamping orang-orang Cina, klas menengah Buton juga melakukan perdagangan jarak jauh. Para pedagang Buton berlayar membawa berbagai barang kelontongan (mixed peddling cargo) ke berabagai pulau di luar Maluku. Ellen mencatat bahwa pada tahun 1978, dari 69 jumlah kapal, orang Buton memiliki sekitar 45 jumlah kapal dan sisanya dimiliki oleh orang Arab dan Cina.

Perdagangan merupakan aktivitas yang memicu masyarakat untuk tinggal di Maluku. Para pedagang Buton yang dipimpin oleh kru dan kapten mulai membeli atau menyewa tanah-tanah di kawasan partner dagang mereka. Para pedagang Buton juga mulai berbisnis cengkeh dan beragam hasil kebun lainnya. Namun demikian, mereka perlu mendapatkan ijin dari Raja jika hendak melakukan transaksi jual beli tanah. Raja juga tidak mengijinkan transaksi yang bersifat pelelangan atau pembelian di depan terhadap panen cengkeh dan pala terhadap para pedagang migran seperti Buton, Makassar, Arab dan Cina. Meskipun demikian, kedatangan para pedagang Migran ini menguntungkan Raja, karena mereka mendapatkan suplai barang modern dan keuntungan komersial lainnya.

 

Jaringan Dagang, Pernikahan dan Kios

Ellen mengindikasikan bahwa kepemilikan properti dan mode produksi berhubungan erat dengan kehidupan sosial ekonomi, seperti etnisitas dan sistem pernikahan. Dominasi aktivitas perdagangan berkaitan dengan latar belakang etnis. Sebagai misal, orang-orang Minangkabau cenderung mendirikan rumah makan, orang Bugis menspesialisasikan pada bisnis tekstil, orang Buton mempunyai transportasi perahu, orang Arab berbisnis teripang dan mutiara, sedangkan orang Cina mendominasi penjualan kebutuhan sehari-hari. Penggunaan jejaring antar keluarga tidak hanya membentuk kebudayaan lintas generasi, namun juga membentuk spesialisasi jenis pekerjaan berdasarkan etnisitas.

Banyak dari pedagang Arab dan Cina kini berada pada generasi ketiga dan seterusnya. Di Pulau Banda, banyak dari para keturunan Arab adalah kaum migran dari Hadramaut, Yaman yang datang sekitar tahun 1900an. Pada tahun 1980an, jumlah mereka mencapai 2,830 kepala keluarga dari total populasi orang Arab Banda sebanyak 14, 275 (Ellen, 2003: 252). Setelah menstabilkan jaringan bisnis mereka, orang Arab kebanyakan menikah dengan perempuan lokal Banda. Jenis pernikahan ini disebut dengan etar, yang berarti “campuran Arab dengan non Arab”. Dalam hal ini agama menjadi penting dalam membentuk perkawinan campur antar etnik. Orang Arab pria cenderung menikah dengan perempuan lokal dari kampung-kampung Islam, sedangkan orang laki-laki Cina cenderung menikah dengan perempuan lokal dari kampung-kampung Kristen.

Di akhir abad Sembilan 19, di berbagai pulau, telah banyak pernikahan dengan masyarakat lokal, khususnya pernikahan masyarakat lokal dengan pedagang migran, pernikahan dengan para budak dari Papua dan pernikahan dengan orang-orang Eropa. Pernikahan campuran ini membentuk kebudayaan kreole yang unik di Maluku. Kultur kreole ini disebut sebagai “peranakan. Leonard Andaya, sejarawan peneliti dunia Maluku dan Melayu, menggambarkan bahwa pernikahan campuran menjadi alat penting bagi perempuan lokal untuk mendapatkan barang-barang mewah yang dihasratinya dan memudahkan bagi pedagang migran untuk mengekspansi jaringan perdagangan mereka. Roy Ellen memberi contoh misalnya Le Geok Chew (LGW) adalah seorang peranakan Cina-Buton dari pernikahan Le Chung Beng dan Jaima La Pandongon dari Buton. LGW menikah dengan seorang perempuan Cina Bugis, Lie Bun Song. Mereka mempunyai tujuah anak, tiga laki-laki dan empat perempuan. Lie Geok Nio, anak perempuan LGW menikah dengan pemilik Jan Bin Jek yang memiliki kios di kota Ambon. Anak perempuan lain LGW lainnya menikah dengan Ui Chang, pemilik Toko Penghibur di Pulau Geser. Di pulau-pulau kecil di Maluku Tengah, seperti Pulau Geser, peranakan Cina mendominasi jaringan perdagangan melalui aliansi pernikahan. Ellen menunujukkan bahwa pada tahun 1986 terdapat sekitar dua puluh hingga tiga puluh keluarga memilih tiga puluh dua toko dan delapan kios (Ellen, 2003: 257). Korelasi antara pernikahan dengan masyarakat lokal dan meningkatnya jaringan perdagangan sangatlah tingi. Pernikahan antar etnis sesungguhnya juga bertujuan untuk menciptakan dan mengamankan properti toko. Dengan kata lain, pernikahan para pedaganng migran juga dapat dilihat sebagai pernikahan yang menciptakan toko atau pernikahan antar toko.

Sedangkan pada beberapa kasus pedagang Arab, seperti klan Alkatiry misalnya, cenderung melakukan praktik pernikahan endogami, sehingga semua harta dan properti klan tidaklah keluar dari kepemilikan klan ini. Sehingga, semua klan Alkatiri dapat menjalankan toko mereka sepenuhnya. Namun tidak semua keturunan Arab melakukan praktik endogami, misalnya klan Ba’adilla, Al Hamid, dan Attamimi cenderung melakukan praktik pernikahan antar etnis. Pernikahan antar pulau dengan sesama latar belakang etnis ini membuka kemungkinan untuk ekspansi perdagangan antar pulau. Melalui pernikahan, para pedagang migran memperkuat posisi mereka di tingkatan ekonomi politik dan kehidupan sosial. Sesama anggota kerabat percaya satu sama lain, bukan hanya karena mereka mempunyai kesamaan identitas, namun yang terpenting relasi kepercayaan dibangun melalui jaringan antar toko.

Para pedagang yang mempunyai toko lebih besar mensuplai kios kios yang dimiliki oleh saudara sedarah (siblings) dan saudara perkawinan (affines). Sebagai misal adalah Umar Al Bayiri, dia adalah pedagang keturunan dari Hadrami Arab. Umar memiliki toko yang diwarisi dari ayahnya. Ia mensuplai kopra dan gula merah ke Surabaya, dan saudara laki-lakinya di Surabaya menangani semua produk ini. Umar juga mempunyai saudara laki-laki di Tual, Maluku Tenggara yang mensuplai berbagai produk laut seperti teripang dan mutiara dari Tual untuk ia jual di Maluku bagian tengah. Saudara umar di Tual ini menikah dengan seorang pedagang Cina. Kasus lainnya adalah Mohammed Baadilla yang menikah dengan soerang Arab Banda. Baadilla dan saudara perempuannya mempunyai usaha restoran dan kios pakaian di Banda Neira. Seperti kasus Umar Al Bayiri, Baadilla mendapatkan stok pakaian dari saudaranya yang berjualan pakaian retail di kawasan Glodok Jakarta. Ba’adilla mengklain bahwa ia masih bersaudara dengan ipar dengan Des Alwi, seorang tokoh elit Banda yang terkenal di jaman Orde Baru. Melalui pernikahan, dengan sesama pedagang migran, Baadilla dapat memperluas koneksinya.

Tidak sedikit keturunan Maluku Cina yang juga menikah dengan etnis yang sama. Willhelminus Sauhupala (Willy) misalnya, berasal dari keluarga pedagang Maluku Cina. Willy menikah dengan perempuan beretnis Cina dari Makasar, Sulawesi Selatan. Keduanya kini mempunyai toko di Pulau Banda. Ibu Willy menikah dengan seorang Maluku asal Saparua, Maluku Tengah. Dari pernikahan inilah Willy mendapatkan marganya. Willy diajarkan cara berdagang oleh ayahnya. Ia mengikuti ayahnya berdagang dari kawasan Maluku Tengah hingga ke Fak-Fak Papu. Mereka membeli hasil darat seperti kopra dan pala. Ibu Willy mempunyai tiga saudara perempuan. Mereka melakukan migrasi dari Cina untuk menemani kakeknya. Sedangkan Willy mempunyai dua saudara perempuan dan tiga saudara laki-laki. Salah satu dari saudara laki-lakinya mempunyai beberapa toko di Banda Neira. Dua dari saudara perempuan Ibu Willy mempunyai kios permanen di beberapa pulau sekitar Banda. Dari jaringan perdagangan Will dengan keluarganya ini, ia dapat menyewa kapal besar untuk menjual hasil bumi dalam skala besar ke Surabaya, ibukota provinsi Jawa Timur. Di Surabaya, ia kemudian membeli barang-baran gmodern, seperti minuman beralkohol, rokok, barang-barang manufaktur, peralatan elektronik dan berbagai barang yang tidak dapat diproduksi di Maluku.

Pernikahan antar etnis memang membantu terbukanya jaringan dan ekspansi dagang. Aliansi antar pedagang misalnya, memperkokoh sistem jaringan toko yang dimiliki dari dua pasangan. Fredy Rumau misalnya mempunyai orang tua yang beretnis Cina. Ia memiliki toko di beberapa pulau di Banda Neira. Saudara perempuan tertuanya menikah dengan Joni Rumoi yang memiliki Toko Baru, sebuah toko besar di Pulau Banda. Teng Ming adalah contoh lainnya. Ia mempelajari perdagangan dari orang tua dan saudara laki-lakinya. Teng adalah generasi kedua etnis Cina. Tidak seperti Wilhelminus pada contoh kasus sebelumnya, orang tua Teng adalah Cina, karena itu ia tidak mempunya nama marga. Ibunya adalah orang Maluku asli dari Pulau Banda. Teng mempunyai empat saudara laki-laki dan dua saudara permepuan. Saudara laki-lakinya mempunyai Toko Subur Jaya di Pulau Geser. Salah satu laki-laki Teng adalah seorang pedagang kecil yang mempunyai kios. Sedangkan satu saudara Teng, menikah dengan orang Ambon Cina yang mempunyai sebuah toko besar di kota Ambon, bernama Toko Kenalan. Teng juga mempunyai saudara laki-laki di Sorong, Papua. Ia bekerja sebagai seorang pedagang kayu. Teng menikah dengan seorang Cina Maluku dari Dobo, Maluku Tenggara, mereka kini mempunyai toko, bernama Toko Suru di Banda Neira.

Beragam contoh pernikahan dan perdagangan diatas menunjukkan bahwa ekonomi selalu tertanam dalam relasi-relasi sosial. Ekonomi tidak berjalan sendiri melalui proses permintaan dan penawaran semata seperti yang digambarkan oleh para ekonom neoklasik. Melainkan, jaringan sosial yang bersifat non-moneter, seperti pernikahan, etnis, nama marga, justru menjadi modal utama dalam melakukan ekspansi perdagangan. Meski demikian, sistem ekonomi di pinggiran Banda tidak berakhir dengan gurita kapitalisme dan monopoli ekonomi seperti pada masyarakat Barat. Mengingat sistem ekonomi tertanam dalam relasi sosial, maka alokasi keuntungan tidak semata-mata ditujukan untuk menambah skala modal, melainkan juga dialokasikan ke hal-hal yang sifatnya non-ekonomi, seperti kebutuhan sosial keluarga besar, ritual, pembangunan masjid dan sebagainya. Dari gambaran Roy Ellen tentang orang-orang Banda ini, kita dapat mengambil satu kesimpulan bahwa selalu ada model alternative dalam membangun jejaring ekonomi yang tidak harus berakhir dengan ekspansi kapitalisme dan monopoli besar-besaran.

 

[1] Ellen melaporkan bahwa hingga tahun 1986, orang-orang Geser dan Gorom masih menerima pertukaran pala dari orang Papua. Produk pertukaran lainnya adalah kopra dan berbagai hasil laut seperti trepang, lola, batu laga, sirip hiu, agar-agar. Sedangkan orang Geser dan Gorom mengimpor damar, dan beberapa kulit kayu untuk obat, minyak kayu putih, minyak kelapa, dan lola dari Sorong dan Fak-Fak (Ellen, 146-7).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s