Dari agen CIA hingga Dukun Pelet: Lima Belas hal kamu temui ketika riset Antropologis

20170915_092031.png

 

Melakukan penelitian antropologis memang tidak mudah, tapi selalu menarik. Waktu yang lama, membuat peneliti bukan saja bosan dan kadang rindu dengan tempat asalnya, tapi ada banyak pengalaman yang tidak kita dapatkan jika hanya melakukan riset survey, sensus atau membuat laporan jurnalistik. Salah satu profesor saya misalnya, saking lamanya meneliti di suatu dataran di Kalimantan Selatan, pernah membantu anak tuan rumahnya melakukan persalinan. Sedangkan ada juga antropolog lainnya yang dikejar-kejar polisi karena keseringan ikut sabung ayam. Antropolog lainnya, ada yang diajak kampanye politik atau ikut tawuran menyerang kampung lain. Ini memang resiko tinggal lama dan ikut partisipatif bersama warga yang ditelitinya.

Pasca penelitian, banyak kisah sedih di lapangan, dan mungkin lucu jika dikenang. Bahkan banyak juga yang bahaya. Saya pernah memimpin sebuah riset kelompok di Karimun Jawa, yang satu sub kelompok hampir tenggelam karena perahu kecil yang ditumpangi terbalik dan banyak yang kakinya tersangkut di jaring nelayan. Untung si empunya jaring datang dan segera menyelamatkan. Sialnya, banyak yang tidak bisa berenang, dan lebih sialnya, dalam setiap riset kelompok, pasti ada saja anggota yang mudah kerasukan setan.

Lima belas daftar di bawah ini adalah rangkaian dari pengalaman penelitian yang sering dialami antropolog di lapangan. Menurut saya, banyak sebenarnya tidak lucu, melainkan menyedihkan. Namun, bukankah puncak dari kelucuan itu adalah sesuatu yang menyedihkan?

 

  1. Pertama kali tiba kamu dianggap mata-mata, entah mata-mata kepolisian setempat atau bahkan agen CIA. Mata penduduk melihatmu seperti tembus sampai bagian belakang tengkorak kepalamu. Menganga. Satu minggu pertama dalam penelitian adalah yang terberat. Kamu harus memperkenalkan dirimu berulang-ulang pada orang yang berbeda. Dan banyak dari mereka yang tidak paham apa itu “penelitian”, karena ini jenis pekerjaan paling asing buat penduduk desa.
  1. Kamu harus berhadapan dengan tidak adanya pembatasan privat dan publik yang tegas, mandi tanpa dinding dan kamar tidur yang terbuka dan tanpa kunci. Kamu diminta terbiasa mandi dengan posisi tuan rumah yang hanya membelakangimu dengan nyaris tanpa dinding pembatas.
  1. Kamu diperlakukan seperti anak kecil. Tuan rumah yang kamu tinggali sering cemas setiap kali kamu keluar rumah dan jika belum pulang hingga pukul 8 malam. Mereka tiba-tiba menganggap daerahnya berbahaya dan tidak aman bagi orang kota yang baru datang seperti kamu. Mereka juga menunjukkan bahwa mistik dan kekuatan hitam sangatlah kuat di daerah itu, maka kamu sebagai orang baru dianggap rentan terhadap santet, suanggi, doti-doti dan berbagai ilmu hitam lainnya yang bertebaran di malam hari. Jika kamu tidak jatuh sakit di tempat penelitian, tuan rumah sering yakin bahwa kamu memang punya ajimat sebelum masuk ke desa nya.
  1. Sinyal susah. Semakin susah sinyal semakin terkesan antropolog sejati. Apalagi jarang posting ke media sosial dan susah ditelpon. Setiap ditelpon berbunyi “maaf, nomor yang anda tuju, berada diluar jangkauan”. Teman-temanmu mengira bahwa kamu benar-benar melakukan penelitian, padahal belum tentu, kamu sedang kehabisan pulsa.
  2. Kamu mulai punya sahabat yg bertandang ke tempat kamu tinggal. Padahal ia jarang berkunjung sebelumnya ke tuan rumah tersebut. Tuan rumah yang kamu tinggali biasanya terkenal arogan atau sangat disegani sehingga membuat orang sungkan untuk mampir ke rumahnya. Namun berkat kehadiranmu, secara tidak langsung kamu membantu mencairkan hubungan antara tuan rumahmu dengan tamu-tamu yang juga menjadi teman barumu/informanmu. Ingat, tidak semua kehidupan warga desa itu harmonis dan saling gotong royong seperti dalam bayangan eksotis kaum urban atau di tayangan perjalanan wisata. Warga desa juga penuh intrik, iri hati bahkan saling memboikot.
  3. Kamu pernah ditaksir atau naksir masyarakat setempat. Dalam level yang paling ekstrim, kamu pernah mendapatkan upaya pelet atau guna-guna dari pemuda setempat. Sangat beresiko jila antropolog berstatus single. Beberapa peneliti perempuan berstatus singel bahkan harus menggunakan cincin palsu tanda ia sudah menikah. Atau, di minggu pertama, ia mengajak pasangannya terlebih dahulu, untuk memberitahu ke publik soal status si peneliti.
  1. Kamu sebenarnya tidak suka dengan orang-orang dimana tempat kamu tinggal, karena dalam beberapa hal mereka terbukti berbohong atau omong besar/berbual. Apa yang mereka bicarakan tidak sesuai dengan apa yang kamu lihat, apa yang mereka katakan tidak sesuai dengan apa yang ia lakukan. Mari berpikir positif, mungkin karena ingatan manusia pendek, tapi juga seringkali karena orang membual dan bercerita besar. Beberapa kali seorang warga desa mengatakan bahwa setiap kali Bupati lewat depan rumahnya, pasti mampir dan memberi salam, tapi ketika Bupati lewat dengan iring-iringan mobilnya, ia tidak sama sekali berhenti, dalam kenyataannya si informan jelas-jelas berdiri tepat di depan rumahnya.
  2.  Kamu pernah melakukan “dosa” seperti minum2 an keras, judi, makan daging anjing, babi, penyu, bahkan daging biawak. Itu biasa. Bahkan sambil makan daging babi atau minuman keras, kamu merasakan ada gurat kepuasan di wajah masyarakat yang kamu teliti. Dalam hati mereka berkata “ia sudah jadi bagian dari kami”
  1. Kamu mulai melakukan hal-hal diluar kebiasaanmu, seperti merokok atau makan pinang, bergadang hingga larut malam dengan penduduk, memancing, berburu atau membuat tanganmu kotor untuk bertani. Pekerjaan ini tidak pernah kamu dapati ketika di kota. Tanganmu yang halus hanya untuk mengetik tuts computer dan me-like facebook berulang-ulang.
  1. Kamu mulai belajar bahasa setempat, dan yang pasti masyarakat lokal mengajarimu dengan bahasa jorok terlebih dahulu seperi alat kelamin, rambut kemaluan, seks, kemudian baru bahasa-bahasa mendasar seperti ayo makan, selamat malam, gula habis dst. Ketika kamu dapat mengucapkan beberapa bahasa, wajahnya mereka tampak lebih puas dari poin nomer 8.
  1. Kamu mengubah gaya pakaianmu. Kamu tidak lagi sering menggunakan celana jeans, kacamata dan earphone seperti ketika berada di kota. Kamu mulai menggunakan sarung, tas terbuat dari kulit, celana pendek yang kumal, atau pakaian-pakaian tradisional lainnya, dan orang-orang yang kamu teliti tampak demikian gembira dengan ulahmu tersebut, tapi sebenarnya tampak merasa ganjil menatapmu.
  1. Kamu mulai belajar membagi waktu dengan bijak antara nongkrong hingga larut malam, menulis laporan dan membaca buku-buku laporan etnografi dan novel untuk mengasah wawasan dan kekayaan tulisanmu. Tapi jarang dari kita yang sempat membaca buku di lapangan. Kesannya, itu pekerjaan orang kota dan akademisi yang sangat individualis dan kamu akan merasa berdosa mencuekkin tuan rumah dengan bacaan-bacaanmu itu. Namun, jika kamu melakukan riset di Indonesia Timur: Ambon, Kei, Tual, Seram, juga kawasan Flores, siap-siap dengan budaya pesta joget memperingati wisuda, pernikahan, yang seringkali berakhir sebelum subuh, namun lebih sering sesudah subuh. Plus ditambah peserta joget pasti pulang dalam keadaan mabuk semua. Ingatan-ingatan akan isi wawancaramu mulai banyak yang berkurang. Ini resiko yang harus kamu jalani. Ingat, prinsip dasar metode riset antropologi 101, “jangan pernah menolak undangan, meskipun itu tidak kamu sukai, karena pasti ada peristiwa menarik disana”.
  1. Kamu mulai terlatih untuk menghapal. Ngobrol mulai pagi, siang sampai sore tanpa membawa catatan atau rekorder agar obrolan berjalan alami. Efeknya malamnya kamu harus menghapal semua hasil obrolan dan merangkumnya dalam catatan laporan yang detail dan menarik.
  1. Kamu mulai diserang penyakit serius ketika tengah riset dari dilapangan. Mulai dari demam flu, panas, demam berdarah, malaria, TBC, tipes, disentri atau penyakit paling ringan seperti panu dan kutu air di telapak kaki. Kamu harus berhadapan dengan terbatasnya persediaan obat karena suplai alat kesehatan dan obat dikorupsi oleh petugas-petugas kesehatan setempat. Beberapa orang akan menganggap bahwa kamu terkena “ilmu hitam” atau guna-guna atau kamu sakit karena mandi terlalu malam, atau bangun terlalu siang. Ada banyak hal yang kamu anggap tidak berhubungan sama sekali dalam logikamu, tapi itu harus kamu terima. Misalnya, ketika kamu terkena gejala tipes, kamu diharuskan mandi di air laut. Anggaplah penyakit ini sebagai berkah. Disiplin lain, semacam sejarawan, hampir tidak pernah tiba-tiba terserang malaria karena melakukan studi arsip di ruangan nyaman ber-AC.
  1. Usai penelitian lapangan, kamu mulai sadar bahwa nomor hapemu dipenuhi dengan nomor-nomor baru orang-orang ditempat kamu tinggal penelitian. Dan laptopmu lebih dipenuhi oleh foto-foto daripada catatan lapangan. Orang-orang yang kamu tempati mulai menelponmu, dan satu persatu meminta kamu membawakan oleh-oleh, seperti Jaket, handphone, bibit pertanian, hingga alat bantu seks dan pembesar kelamin. Tapi yang lebih serius, mereka menelponmu untuk membagi berbagai persoalan di kampungnya. Jika sampai itu terjadi, kamu bukan saja sudah berhasil membangun keintiman dengan warga kampung, tapi kamu telah dipercaya untuk berjuang mengatasi berbagai permasalahan. Maka dari sanalah maqommu sebagai antropolog sudah berbeda dengan wisatawan. Jika datang ke suatu tempat, wisatawan akan bertanya “mbak, bu, disini budayanya apa yang unik ya?”, sedangkan antropolog akan bertanya “apa yang bapak/ibu perjuangkan saat ini?”

Riset tergantung lapangan dan subjek yang diteliti. Jika kamu melakukan penelitian tentang internet dengan hanya duduk di depan layar sambil menonton facebook dan twitter, tentu kamu tidak akan mendapatkan lima belas pengalaman diatas. Demikian juga, lima belas pengalaman ini tidak akan kamu temui jika hanya melakukan riset dengan mewawancarai subjek informan di kafe-kafe nyaman di wilayah urban. Karena itu, turunlah ke lapangan, buatlah tanganmu kotor oleh tanah, dan berbincanglah dengan orang-orang secara riil.

Penulis adalah peneliti lapangan yang sedang bergulat menyelesaikan disertasinya tentang Maluku. Pernah sakit demam berdarah, dikira oleh penduduk kena santet (suanggi).

Advertisements

7 Comments

  1. Mantap, pengalaman lapangan adalah pengalaman yang takkan terulang kembali.
    Berkarya dari pengalaman sendiri itu sangat mengasyikkan bagi seorang “peneliti”.
    Mendapatkan data dari lapangan bukan hanya sekedar bagaimana mendapatkannya saja , tetapi dibalik mendapatkan data lapangan, ada sebuah “cerita” yang akan dituliskan oleh si “peneliti” dalam rupa “etnografi”.

    Like

  2. Mantap, pengalaman lapangan adalah pengalaman yang takkan terulang kembali.
    K dari pengalaman sendiri itu sangat mengasyikkan bagi seorang “peneliti”.
    Mendapatkan data dari lapangan bukan hanya sekedar bagaimana mendapatkannya saja , tetapi dibalik mendapatkan data lapangan, ada sebuah “cerita” yang akan dituliskan oleh si “peneliti” dalam rupa “etnografi”.

    Like

  3. Pada akhirnya, setelah berkali-kali berakhir, penelitian lapangan menjadi terasa liburan. Mengunjungi tempat-tempqt jauh dari kota, pantai, gunung, dst… Saya punya 1 alasan tegas menyukai ilmu antro: bekerja dan bertamasya selaligus.
    Selamat Pak Doktor (Cand)!
    Kalau ke Ternate lagi, mungkin kita bisa jumpa…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s