Sepuluh Buku Terbaik Antropologi

Keputusan memilah 10 buku antropologi ini berdasarkan studi literatur yang paling mengesankan saya secara pribadi yang telah belajar antropologi selama lebih dari 10 tahun. Sepuluh buku ini juga sering menjadi bahan perbincangan dikalangan akademisi dan kolega, baik sejak di strata satu, antropologi UGM, maupun rekan-rekan doktoral saya di Amerika.

Selain itu, sepuluh buku paling berpengaruh ini tidak saja sering dikutip dalam berbagai penelitian, namun juga telah membangun teori-teori dalam antropologi, sekaligus mendobrak berbagai pengetahuan umum yang selama ini sering kita terima begitu saja.

  1. The Devil and Commodity Fetishism in South America, Michael Taussig

Jika Gabriel Garcia Marquez adalah salah satu sastrawan paling terkemuka di Amerika Latin, maka Buku Taussig ini adalah seri antropologi yang menyerupai Marquez. Sudut pandang yang digunakan oleh Taussig seperti “magic realism”nya Marquez. Taussig menggabungkannya dengan ide Marx tentang “commodity fethisism” ke dalam dunia yang sangat surealis. Buruh (labor) adalah pekerjaan baru yang muncul seiring dengan munculnya perkebunan di Columbia dan pertambangan di Bolivia. Bagi orang Bolivia, pasar dan kapitalisme adalah magic, karena ia menyebabkan proses pemiskinan yang tidak dapat dilihat (invisible) namun mereka merasa akibat-akibatnya. Semenjak menjadi buruh, orang-orang Bolivia, Columbia sangatlah terasing. Mereka tidak lagi mempunyai tanah seperti sebelumnya. Jikapun ada, tanaman yang ditanam bukan lagi untuk dimakan melainkan untuk dijual. Mereka terjerat hutang, hidup secara individualis, konsumtif, dan mengejar komoditas baru yang tak pernah usai jika terus diburu. Komoditas baru tersebut bernama uang. Hasrat untuk memburunya adalah bagian dari setan tersebut. Rasa tak pernah puas terhadap komoditas uang adalah sumber baru yang menyebabkan kaum buruh merasa dirinya selalu miskin.

146409

Kesimpulannya, pasar kapitalisme itu seperti Tuhan. Manusia menciptakannya sendiri, ia merasa sangat senang terhadap ciptaannya sendiri, lantas, ia sendiri akan merasa terasing dengan ciptaannya…Pada akhirnya, manusia sesungguhnya bermain dengan imajinasi kolektifnya sendiri. Buku ini sekaligus mengusung ide-ide perjuangan klas tanpa dimunculkan dengan vulgar dan penuh jargon. Melainkan ia disajikan dengan penuh metafora-metafora surealis. Seperti yang diinginkan oleh generasi sekarang….menampilkan kesedihan tapi dengan penuh keindahan dan metafora…

  1. Give a Man a Fish, James Ferguson

Buku ini bukan hanya sekedar teori. Dan buku ini bukan sekedar kritik terhadap pembangunan seperti yang telah banyak dilakukan oleh para antropolog, termasuk Ferguson sendiri dalam bukunya The Anti-Politics Machine. Hal terpenting dari buku Give a Man a Fish adalah menawarkan bentuk pembangunan yang seharusnya adil dan merata. Ferguson memberikan contoh-contoh “Welfare State” yang bukan dilakukan oleh Negara-Negara Eropa Barat atau Skandivania, tapi ini di Negara-negara yang notabene “miskin”, yakni di Afrika Bagian Selatan, seperti Namibia. Konsep paling penting dalam buku ini adalah “politik redistribusi”. Setiap warga Negara adalah pemegang saham, sehingga mereka berhak mendapatkan “basic income” sebagai bantuan tanpa syarat. Bagi hasil tidak diberikan kepada wage labor (buruh upahan) yang sudah bekerja, tapi citizen of the kinship/state (warga Negara) yang begitu lahir sudah harus diberikan haknya. Pandangan umum yang sinis selalu melihat bahwa penerima bantuan akan menggunakannya untuk mabuk-mabukkan atau berjudi, namun bukankah pandangan ini sangat bersifat paternalistik? Persis seperti ketika orang tua memberi uang kepada anaknya, pasti akan digunakan secara sia-sia. Ternyata tidak, studi-studi etnografis yang ditemukan Ferguson menunjukkan bahwa transfer uang tanpa syarat justru memunculkan semangat wirausaha di kalangan masyarakat kecil. Berbeda dengan bantuan Welfare State di Negara Eropa Barat, pemberian tranpa syarat dalam bentuk uang cash (UCT/unconditional cash transfer) di Negara-negara bagian Selatan Afrika tidak bersifat patriarkis. Uang tidak diberikan kepada laki-laki kepala keluarga, tapi juga diberikan kepada istri dan anak. Hal ini berakibat positif pada kesetaraan gender dan dalam skala luas adalah pengurangan ketimpangan. UCT juga tidak mengakibatkan inflasi karena uang yang diberikan adalah hasil pajak dari ekstraksi tambang dan pajak progresif dari orang kaya tentunya. Menariknya, Ferguson menunjukkan bahwa kewajiban dalam melakukan transfer redistribusi oleh Negara dengan merujuk pada contoh-contoh sistem bagi hasil masyarakat primitif dari berburu, yang mana sudah dilakukan sebelum adanya Negara.

imrs

Berbeda dengan pandangan Marxian yang melihat bahwa produksi adalah hal dominan, Ferguson melihat justru distribusilah yang menentukan produksi. Dari judul bukunya, Ferguson membalikkan logika, bahwa hal yang paling manjur justru memberi orang ikan daripada kail. Dengan memberi ikan, orang justru akan memanfaatkan ikan tersebut secara baik. Redistribusi “ikan” justru menunjukkan bahwa orang mampu melakukan reproduksi dengan sangat baik. Jika anda sudah lelah memaki dan mengkritik, buku ini wajib dibaca sebagai detoks pikiran anda dalam memberikan rekomendasi kepada sistem pemerintahan yang adil dan merata.

  1. Cows, Pigs, Wars and Withces, Marvin Harris

Buku ini menunjukkan bahwa Marvin Harris bukan seorang Marxis ortodoks. Ia menggabungkan pendekatan ekologi dengan kepercayaan/agama. Yang paling mengesankan dalam buku ini adalah soal teka-teki kebudayaan mengapa orang di Timur Tengah mengharamkan/membenci babi, sedangkan orang di pegunungan Papua tidak mengharamkan/menyukai babi. Harris melakukan penjelasan melalui pendekatan ekologi. Di Timur Tengah, babi adalah binatang yang jorok, selalu mengeluarkan keringat dan selalu berkubang di lumpur karena suhu yang panas. Babi juga tidak mempunyai fungsi seperti kambing. Ia tidak menghasilkan susu (tidak ada susu babi) dan babi adalah binatang yang tidak bisa diajak melakukan migrasi jauh (pernah lihat film-film kisah nabi kan, pasti diikuti oleh gembala kambing-kambing disekitarnya, bukan babi). Sebaliknya, babi di Pegunungan Papua tidak mengeluarkan keringat karena suhunya tidak sepanas di Timur Tengah. Di dataran tinggi Papua, Babi menjadi simbol pertukaran ekonomi yang penting.

51S+4PUloSL._SX313_BO1,204,203,200_

Harris juga menjawab teka-teki agama mengapa orang Hindu di India menempatkan sapi sebagai binatang yang suci? Harris berpendapat pemujaan dan pelarangan mengkonsumsi sapi berkaitan dengan alasan keseimbangan ekologi dan ekonomi. Pelarangan mengkonsumsi sapi khususnya terjadi pada musim kering, karena masyarakat akan tergoda untuk menjual atau menyembelihnya. Begitu musim hujan tiba, masyarakat akan kehilangan sapinya untuk membantu membajak tanah. Sapi juga mempunyai fungsi beragam, seperti susu, penggembur tanah, samak kulit dll.

Dengan menggunakan penjelasan material ekonologis, buku ini sangat penting untuk membongkar kesadaran palsu kita dalam beragama. Pengharaman konsumsi babi dalam Al Quran dan Taurat misalnya, adalah bagian dari kesadaran ekologis dibanding doktrin semata.

  1. Toward an Anthropoligcal Theory of Value, David Graeber

Ini adalah buku yang paling inovatif dalam membahas soal “teori nilai”. Selain menggabungkan berbagai penjelasan tentang apa itu nilai mulai dari pandangan Marx hingga kritik terhadap Pierre Bourdieu, buku ini juga mensuplai dengan berbagai kasus etnografi tentang hal-hal paling bernilai dalam pertukaran dan resiprositas . Graeber mendefinisikan nilai (value) sebagai sesuatu yang paling dihasrati/diinginkan oleh manusia.

Graeber dengan gamblang mendefinisikan nilai dari tiga kacamata. Pertama, Kaum formalis Antropologis dan kaum libertarian melihat nilai ada pada objek barang, harta dan properti. Kedua, nilai juga ada pada hal-hal yang tidak bisa dilihat seperti relasi sosial, penghormatan, dan rasa kebahagiaan. Pandangan ini diusung oleh kaum sosialis dan substantive Antropologis. Ketiga, nilai juga dapat dilihat pada kata-kata, pidato dan bahasa, do’a, dzikir, jopa-japu dan sejenisnya. Pandangan ini mengacu pada pendekatan Antropolog Levi-Strauss dan Saussurian. cover_43Sebagai seorang aktivis, Graeber kemudian melangkah lebih jauh bahwa sesuatu dapat dikatakan bernilai jika ia dimulai dengan praktik. Dengan melalui praktik, sesuatu menjadi dapat bernilai. Sebagai misal, aksi-aksi manusia melalui transaksi dan pertukaran membuat sebuah benda maupun kata-kata menjadi bernilai. Dengan melalui aksi kata-kata yang disampaikan oleh seorang figur yang mempunyai kualitas sebagai manusia, membantu menaikkan nilai (leverage) dari sebuah objek. Graeber tidak sepakat dengan kaum kognitif bahwa sebuah nilai hanya tertanam dalam kode-kode makna dan klasifikasi pemikiran. Kategori tidak hanya tertanam dalam otak, tapi dapat diejawantahkan melalui relasi sosial dan aksi-aksi.

  1. Sweetness and Power: The Place of Sugar in Modern History, Sidney Mintz

Yang menarik dari buku ini adalah Mintz menceritakan sejarah gula yang pada awalnya dipandang eksotis, dan masuk dalam kategori rempah-rempah yang setara dengan cengkeh, pala dan lada. Namun sejak diproduksi massal untuk kebutuhan klas Menengah Eropa yang meningkat tajam pada abad delapan belas, gula dikeluarkan dari klasifikasi rempah eksotis. Secara esensial manusia memang menyukai rasa manis, yang pada awalnya diproduksi dari buah dan madu. Semenjak tebu mulai diproduksi dalam perkebunan yang besar, di Karibia, di Sumatera, di Jawa dll ia mulai dikeluarkan dari kategori rempah yang eksotis.

Yang terpenting dari buku ini adalah, Mintz menunjukkan bahwa produksi tebu datang bersamaan dengan sejarah penaklukkan dan kolonisasi. Untuk menekan harga produksi banyak budak dan buruh murah yang dilibatkan dalam proses pekerjannya. Mintz, adalah sejarawan Marxis. Ia percaya bahwa perkembangan kapitalisme pasti dihasilkan dari sejarah eksploitasi budak dan buruh murah. Karena itu ia melihat bahwa sejarah tebu dan gula adalah eksploitasi melalui mekanisasi dan maksimalisasi kekuatan pekerja demi menghasilkan produksi massal. Produksi gula dihasilkan melalui pembagian divisi kerja dan konstruksi kesadaran waktu kerja buruh di perkebunan tebu. Karena dieksploitasi untuk kebutuhan pasar, secara ekologis, tebu sangat menyita air yang banyak dibanding padi sawah. Karena itu, daerah-daerah di sekitar perkebunan ini sangat rawan dengan penyakit seperti kolera dan malaria. Penyakit terakhir ini datang karena sifat tebu yang manis dan mengundang nyamuk.516HjA9zrhL._SX306_BO1,204,203,200_

Buku ini memberikan pelajaran yang sangat baik jika hendak meneliti komoditi yang sekarang tengah digandrungi klas menengah “ngehek”, seperti kopi misalnya. Periksa dibalik produksi kopi, ada sejarah eksploitasi buruh yang panjang. Buku ini menginspirasi banyak karya yang meneliti bagaimana sebuah komoditas dipasarkan tidak lepas dari proses kolonialisasi, pertukaran, pemiskinan Negara-negara di dunia selatan dan wabah penyakit yang dihasilkan. Para antropolog yang terinspirasi terhadap karya Mintz tentunya seperti Anna Tsing yang meneliti jamur, Tania Murray Li yang meneliti coklat/cocoa dan Sarah Besky yang meneliti teh di India. Jika anda hendak meneliti garam, cengkeh, lada, gandum, padi, atau komoditas lainnya yang kini tengah digemari secara global, buku ini patut jadi rujukannya!

  1. Stone Age economics, Marshall Sahlins

Apa itu kemewahan? Apa itu miskin? Buku ini memberikan jawaban reflektif dan philosofis dengan cara memberikan ratusan contoh etnografis di dalamnya. Jika indikator kemewahan adalah ketercukupan kalori, waktu luang yang melimpah dengan jumlah jam kerja yang tidak banyak perminggunya, serta kepemilikan ruang/tanah untuk mata pencaharian, Sahlins menunjukkan bahwa masyarakat primitif berburu dan meramu adalah masyarakat yang hidup dengan penuh kemewahan. Sahlins melacak asal-usul kemewahan ini dalam konsep yang ia sebut dengan “the original affluent society”. 61360-stoneageeconomicsbookcoverMasyarakat berburu dan meramu mempunyai beragam jenis pangan (diet). Mereka menempatkan beragam cadangan makanan di “alam” sehingga waktu bekerja untuk mendapatkannya tidak begitu banyak. Jika dihitung, jumlah waktu kerja (work) plus kerja di rumah (housework) mencapai antara kisaran 20-22 jam/miggu, bandingkan dengan masyarakat modern yang bekerja lebih dari 40 jam perminggunya. Namun demikian, masyarakat modern memandang mata pencaharian berburu dan meramu sebagai orang miskin karena mereka hidup secara subsisten dan tidak melakukan akumulasi sumber daya. Berbeda dengan orang modern yang selama ini didefinisikan “kaya”, masyarakat berburu meramu tidak mengalami kelangkaan pangan, kelaparan dan tercerabut dari sumber mata pencahariannya. Melalui buku inilah Sahlins kemudian disebut sebagai “Zen Marxism”. Sahlins berpendapat bahwa masyarakat berburu meramu mempunyai hasrat/keingingan yang sedikit dan terbatas, sedangkan masyarakat modern mempunyai hasrat terhadap berbagai hal yang tidak terbatas. Lantas jika orang kaya didefinisikan sebagai orang yang merasa dirinya “sudah berkecukupan” siapakah sebenarnya orang yang kaya tersebut? 

  1. Moral Economy of the Peasants, James Scott

Ini adalah buku yang sangat baik menggambarkan reaksi petani menghadapi perubahan besar. Munculnya Negara dan berubahnya relasi patron klien yang lama. Munculnya pajak, survey batas penggunaan lahan, mekanisasi dan penggandaan produksi (double cropping), munculnya jenis pekerjaan baru berupa buruh murah, hingga marketisasi pertanian, semua ini ditanggapi kaum tani dengan reaksi keras berupa pemberontakan dimana-mana. Depresiasi nilai-nilai tradisional dan munculnya patron baru menimbulkan banyak ketidakpatuhan dan perlawanan dimana-mana. Pemiskinan struktural tengah terjadi pada kaum petani, sehingga relasi yang dulunya berdasarkan resiprositas berganti menjadi relasi klas antara tuan tanah yang makin kaya dengan petani tak berlahan, pemilik mesin-mesin produksi tani dan buruh tani. Sistem buruh upahan membuat kaum tani membutuhkan uang kas. Petani diperkenalkan dengan berbagai macam kebutuhan baru, pasca revolusi hijau.41Y1tOHgS0L._SX315_BO1,204,203,200_ Membaca buku ini, saya berkesimpulan bahwa “we are all peasant, we are pushed to the limit of consumption”. Kita semua adalah petani yang ditekan hingga batas konsumsi dan hidup dalam subsisten. Semua kebutuhan dimunculkan, sehingga kita dibuat seperti petani, hidup dalam keadaan yang pas-pasan. Pemiskinan struktural bukan terjadi karena rendahnya pendapatan, melainkan karena sistem-sistem baru yang menyebabkan kita untuk terus harus berbelanja dan berbelanja….purchase and purchase….sehingga hidup dalam kondisi miskin dan pada akhirnya memberontak marah….

 

  1. The Nuer Evans Pritchard

Yang paling impresif dari buku ini adalah di bagian bab pertama ketika Evans Pritchard pertama kali datang ke Nuer di Sudan Selatan. Penduduk masih trauma dengan orang-orang kulit putih dan koloni Inggris. Pritchard harus mendirikan tenda berhari hari hingga akhirnya ia dapat melakukan wawancara. Ia seringkali hanya dimintai rokok, namun orang Nuer tidak memberikan informasi tentang apapun.245896 Secara teoretik, ini adalah buku etnografi paling berpengaruh yang pernah diterbitkan dalam dunia antropolog. Pritchard menunjukkan bahwa prototipe dari semua studi etnografi dapat menghasilkan teori didalamnya. Pritchard mampu menggambarkan keterkaitan antara mata pencaharian, kekerabatan dan ekologi dengan abstraksi tingkat tinggi. Pasang dan surutnya Sungai Nil, denyut naik turunya sungai tersebut mengakibatkan model perkumpulan dan persebaran tempat tinggal. Selain itu, konsep yang menarik adalah orang Nuer mempunyai pandangan ecological time yang unik. Dalam satu hari, waktu pagi adalah yang paling panjang dibanding sore, karena mereka disibukkan dengan mengurus ternak di pagi hari.

Buku ini menjadi bacaan wajib bagi teman-teman yang ingin belajar tentang relasi mata pencahariaan dengan ekologi, dan kekerabatan. Kesimpulan umum dari buku ini adalah masyarakat yang mempunyai mode produksi mata pencaharian berbeda akan mempunyai jenis organisasi sosial dan politik (baca:kekerabatan) berbeda, dan pada akhirnya membentuk pemikiran yang berbeda pula. Pritchard menggambarkan bahwa ternak menjadi mata pencaharian paling penting bagi orang Nuer, karena dari hewan ternak, semua pertukaran dapat dimungkinkan. Namun demikian, akumulasi ternak dipandang tidak ada gunanya, karena kelebihan ternak patut diberikan pada kerabat untuk digunakan pada pertukaran lainnya. Dengan demikian, konsep kepemilikan pribadi tidak dijalankan. Masyarakat hidup secara demokratis, pemimpin hanya muncul pada saat-saat tertentu, misalnya ketika terjadi konflik antar kerabat.

  1. The Great Transformation, Karl Polanyi

Buku ini secara cerdas menunjukkan tiga hal paling penting yang berubah sejak tahun 1900an, yakni uang, tenaga kerja dan tanah. Tiga hal ini mengalami apa yang disebut Polanyi sebagai “fictitious commodity”. Ia menjadi komoditas yang fiktif karena nilainya mulai diperdagangkan. Uang misalnya, pada awalnya hanya digunakan sebagai simbol pembayaran hutang dan alat tukar yang ekuivalen dengan barang lain. Tanah, tenaga kerja dan uang pada awalnya tidak diciptakan untuk pasar, melainkan untuk memenuhi kebutuhan pertukaran semata. Tiga hal ini bukan komoditas yang sebenarnya dan tidak diproduksi untuk dijual. Jika diperluas, pandangan Polanyi ini masih berlaku, dimana kita mulai menemukan banyak fictitious commodity yang sekarang diperjual belikan di pasar, seperti pendidikan, kesehatan hingga tempat tinggal.

polanyi-karl-the-great-transformation-v-1-0

Buku Polanyi ini masih relevan meski ditulis di penghujung perang dunia kedua. Transformasi tanah sebagai komoditas misalnya, di beberapa studi etnografi di Indonesia misalnya menemukan bahwa konsep tanah tidak dikenal sebelumnya sebagai komoditas. Orang-orang di Sulawesi Tengah misalnya, dalam studi Tania Murray Li menyebut tanah sebagai ruang. Di penelitian saya di Seram, Maluku, tidak ada istilah tunggal dalam menyebut tanah. Orang Seram menyebut tanah dengan dusun, lokasi, kebun, area, kinta. Sedangkan studi Nancy Peluso di Kalimantan Barat menyebutkan bahwa konsep “tuan tanah” baru-baru saja pada medio 1990. Slain tanah, studi etnografi Webb Keane menemukan bahwa orang Sumba, NTT, mulai menggunakan uang sebagai komoditas sehari-hari baru terjadi pada medio tahun 1995an. Tiga tahun sebelum krisis moneter 1998.

  1. The Gift, Marcell Mauss

Apa yang lebih politis dari memberi? Jika asal usul uang adalah dari hutang, maka asal usul hutang adalah dari memberi. Buku ini menegaskan bahwa tidak ada makan siang yang gratis bagi orang yang memberi. Memberi adalah asal usul dari sebuah relasi sosial dan politik. Tribute, adalah memberi dengan rasa hormat adalah asal-usul penjajahan, dimana bangsa-bangsa Portugis memberi benda-benda kepada kesultanan, sehingga pada akhirnya terjalin relasi yang asimetris. Demikian pula, dalam pandangan Hobessian, kita memberikan hak dan kewajiban sebaga warga sehingga tercipta Negara. Kata kuncinya ada di Memberi.

Orang yang memberi adalah mereka yang merayakan kemenangan karena menerima berarti harus membayar ulang apa yang telah diberi, demi kelanjutan relasi sosial, bahkan lebih besar dari yang diterimanya. Karena itu, memberi pada awalnya terlihat tulus dan membawa kedamaian, namun ia berakhir sangat politis. Mauss memperkenalkan konsep “hau” dalam bahasa Maori yang berarti spirit dari pemberi yang melekat dalam barang yang diberikan. Spirit inilah yang kemudian mengharuskan si penerima untuk mengembalikan pemberian tersebut baik secara spirit, maupun secara fisik.

349990

Mengapa kita memberi? Bagi Mauss, memberi adalah perekat atau pelumas relasi sosial. Memberi adalah syarat kohesi sosial yang menjadi kewajiban dalam hubungan. Untuk mencapai rekonsiliasi, seseorang harus memberi. Hukum pertama, untuk menunjukkan rasa hormat dan kebaikan maka kita harus memberi. Hukum kedua, seseorang harus menerima pemberian sebagai pembalasan rasa hormat. Dan hukum ketiga, si penerima harus  membayar ulang pemberian. Kegagalan dalam membayar pemberian sama dengan memutus relasi sosial. Hukum memberi dan membayar ulang ini seperti hukum gravitasi yang secara universal terjadi di semua budaya manusia.

Mauss, yang merupakan keponakan Emile Durkheim ini, secara brilian memberikan contoh pemberian pada masyarakat primitif Melanesia, Polinesia, Alaska hingga masyarakat modern Jerman. Buku ini menjadi salah satu yang kemudian menginspirasi David Graeber dalam bukunya “Debt”. Memberi, selayaknya juga hutang telah ada sejak jaman paling arkhaik manusia hingga politik modern kita pada saat ini. Dalam ekonomi modern, pemberian dalam bentuk bantuan, hutang, hingga donor tak bisa lepas dari pandangan Mauss ini, ia bersifat politis dan menguasai, meski terlihat menawarkan kebaikan. Bagi saya, The Gift adalah buku antropologi paling penting dan masih sangatlah relevan hingga abad ini.

Hatib Kadir (hakadir@ucsc.edu)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s