Krisis ekonomi dalam Filsafat antropologi

12498808_940266846089297_210996551_n

 

J

 

 

 

 

 

 

 

Janet Roitman adalah seorang Foucauldian tulen. Bukunya Anti Crisis (2014) mengulas definisi dan cara mengukur krisis melalui diskursus kekuasaan. Para ahli ekonomi politik mendefinisikan krisis ke bahasa general dengan menggunakan berbagai topologi, probabilitas, dan logika model matematika. Sedangkan, Roitman memahami istilah krisis sebagai narasi yang membentuk realitas baru. Periode krisis didesain untuk membuat semacam “momen kebenaran” dalam menentukan titik balik yang disebut “anti krisis” atau masa normal. Krisis menjadi momen penting untuk membangun kesadaran baru. Tujuan dari pengumuman krisis adalah untuk membuat perbedaan antara masa lalu dan masa krisis, dan bertujuan untuk membuat keputusan berbeda tentang masa depan. Dengan kata lain, krisis memproduksi momen penilaian atau penghakiman untuk memproduksi sebuah pengetahuan baru.

Roitman menarik ke abad pertengahan hingga krisis terbaru yang melanda Amerika Serikat pada tahun 2007. Ia menelusuri definisi krisis yang secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, artinya “memisahkan, memilih, menentukan dan menghakimi” (hal 15). Krisis bukan hanya seperti definisi penyakit dalam gambaran Foucauldian, namun juga upaya untuk menemukan keputusan alternatif terhadap momen ketidak-normalan atau momen-momen ketika masyarakat mengalami “sakit”.

Sebagai antropolog filsafat, Roitman banyak menggunakan ide dari Reinhart Kosseleck seorang sejarawan Jerman berpengaruh pada abad 20. Kosseleck melakukan studi linguistik dan sejarah epistemologi mengenai munculnya konsep-konsep penting dalam peradaban masyarakat. Kosseleck juga tertarik pada kuasa semantik dari sebuah konsep. Berangkat dari Kosseleck, Roitman hendak melihat apa yang muncul dari masa setelah krisis dan bagaimana kekuasaan mendefinisikan krisis.

Roitman juga menelusuri istilah krisis khususnya pada tafsir teks Kristen dan tata bahasa medis. Di masa pertangahan Eropa, krisis tidak mempunyai kategorisasi waktu tertentu. Krisis tidak mengacu pada tanggal dan waktu. Namun di abad delapan belas, krisis didefinisikan sebagai masa yang bertentangan dengan linearitas sejarah dan kemajuan manusia. Munculnya temporalisasi sejarah mentransformasi makna krisis dari yang sebelumnya bersifat profetik dan eskatologik menuju ke hal-hal yang bersifat prognosis. Dengan kata lain, parameter krisis sebelumnya bersifat keagamaan. Krisis diidentifikasikan dengan datangnya wabah, banjir bandang, dan kelaparan, seperti dalam cerita-cerita kenabian. Namun di abad 18, makna krisis berubah menjadi seperti sebuah penyakit yang perlu diantisipasi oleh para ahli, seperti dokter dan ekonom. Pasca abad 18, muncul kesadaran bahwa sejarah mempunyai kualitas waktunya tersendiri. Manusia mulai melakukan tuntutan untuk me-linearkan waktu dengan cara meningkatkan produktivitas. Di abad ini, krisis lebih bersifat sekuler dengan tidak melibatkan campur tangan Tuhan dan agama.

Istilah krisis juga datang dari pemisahan antara hukum dan agama. Roitman mengikuti Kosseleck, berpendapat bahwa “civil conscience” atau kesadaran sipil dari masyarakat menciptakan validitas hukum yang tidak didikte oleh ketakutan terhadap Tuhan. Validitas hukum muncul dari kesimpulan opini-opini yang bersifat subjektif dari masyarakat sipil. Ini adalah momen dimana “civil conscience” atau kesadaran sipil menjadi kesadaran publik, sedangkan kesadaran agama atau “religious conscience” mulai diletakkan di ranah privat. Kesadaran subjektif, sebagai prinsip etis, digeneralisasikan sebagai permintaan publik dan politik yang didasarkan pada asumsi-asumsi tentang kebebesan diri (inner freedom). Dalam hal ini Kosseleck mengikuti ide Thomas Hobbes yang berpendapat bahwa kesadaran subjek atau private conscience-lah yang menciptakan semacam persetujuan atau kontrak antara masyarakat dan Negara.

Pandangan prognosis percaya bahwa manusia menjadi faktor dari berbagai kejadian yang ada disekitarnya. Manusia sesungguhnya dapat memproduksi dan mengatasi krisis dalam dirinya sendiri. Salah satu contohnya adalah Revolusi Perancis, dimana manusia mempunyai kesadaran untuk menghancurkan masa lampau dan menciptakan pencerahan baru. Dari pandangan inilah Roitman percaya bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan narasi-narasi baru. Tentu saja, Roitman dipengaruhi oleh pandangan Michel Foucault yang berasumsi bahwa krisis adalah wacana tentang situasi dimana kemajuan mengalami kemacetan (hal 34). Sebagaimana dijelaskan di paragraf awal, istilah krisis mempunyai potensi dan prasyarakat untuk menciptakan bentuk baru sejarah dan transformasi kebijakan.

Krisis merupakan momen untuk memproduksi kebenaran yang dicapai dengan menggunakan beragam sistem aturan sesuai prosedur yang memproduksi regulasi, distribusi, sirkulasi dan beragam operasi pernyataan. Bagi kalangan politisi, krisis diperlukan untuk memproduksi kesadaran kritis tentang kekininan (a critical consciousness of the present). Dalam menciptakan momen kebenaran, krisis sering menjadi penanda atau titik penting bagi Negara untuk melakukan deskripsi, kategori dan evaluasi terhadap berbagai kebijakan ekonomi. Serupa dengan pandangan Elizabeth Povinelli, antropolog dari Columbia University, Roitman berpendapat bahwa krisis merupakan momen politik untuk melegitimasi kebijakan atau aksi baru. Krisis menjadi momen untuk melakukan reorganisasi relasi antara masyarakat, Negara dan pasar. Krisis moneter di Indonesia misalnya, merupakan legitimasi untuk membuka pasar lebih luas di berbagai daerah di Indonesia melalui kebijakan desentralisasi. Krisis juga menjadi legitimasi untuk mengurangi subsidi Negara ke sektor-sektor publik, seperti pendidikan, kesehatan, transportasi dan dana pensiun. Serupa dengan Povinelli, Roitman percaya bahwa neoliberalisme bekerja dengan cara melakukan kolonisasi pada makna-makna dan dengan cara mengurangi nilai-nilai sosial ke nilai market semata.

Namun demikian, krisis bukan hanya membuka jalan ke arah baru neoliberalisme seperti yang dialami oleh Indonesia. Melainkan krisis menciptakan beragam pilihan dan sudut pandang untuk menyelesaikannya, mulai dari perspektif neoliberal, neo-Keynessian hingga Neo-Marxis bahkan populisme yang muncul belakangan ini. Krisis melegitimasi pengambilan keputusan dan justifikasi pada konstitusi dan sudut pandang apa yang harus diambil. Kasus Yunani adalah contoh jelas yang berbanding dengan contoh krisis di Indonesia. Krisis menghasilkan pilihan politik baru, seperti pembatalan hutang IMF, penghentian dana talangan kepada pihak swasta, hingga munculnya perdana Menteri dan menteri keuangan yang beraliran “kiri”. Demikian pula, di kawasan timur tengah, seperti Mesir, krisis pasca jatuhnya rejim Husni Mubarak membuka pintu anak-anak muda untuk mengatahui kajian-kajian kiri. Krisis menjadi momen Negara untuk melakukan devaluasi dan rekapitalisasi. Negara mempunyai legitimasi untuk menciptakan regulasi lainnya dan serangkaian inovasi keuangan dengan cara pandang yang berbeda dari penawaran sebelumnya.

Krisis merupakan momen penting bagi para filosof. Mereka tidak mampu membangun landasan kritiknya tanpa momen-momen di luar kewajaran. Bagi para filosof, krisis menjadi pintu gerbang munculnya kekritisan, karena krisis mengungkapkan berbagai momen-momen baru yang menjadi ladang subur refleksi dan komparasi dengan masa normal. Krisis adalah momen paradoks dimana antara realitas (is) dan ekspektasi (could be) tidak terhubung satu sama lainnya. Kontradiksi-kontradiksi antara teori dan praktik, hingga antara kepemilikan uang dan inflasi mendorong dialektika dan pencarian solusi. Kontradiksi mendorong munculnya dialektika. Dengan demikian, krisis tidak hanya muncul dari kontradiksi antara krisis versus non krisis melainkan muncul dari transendensi dialektika antara pengetahuan dan pengalaman antara subjek dan objek dan dialektika antara masa lalu dengan masa kini. Krisis muncul dari sistem referensial diri dalam mengevaluasi berbagai nilai dan tanda yang paradoks dalam suatu kondisi sosial. Ia menjadi titik hitam yang mampu memproduksi pengetahuan baru karena subjek mampu memahami makna dari tanda-tanda sosial.

Contoh Krisis

Krisis pada tahun 2007 muncul dari kegagalan dalam mengkalkulasi model dalam memprediksi masa depan (Roitman, hal 63). Parameter krisis adalah ketika terjadi paradoks antara janji (could be) dan realitas (is) pada kasus mortgage. Krisis di Amerika yang terjadi pada tahun 2007 dimulai dari over akumulasi modal dalam kasus mortgage (hipotek/surat gadai), dan menumpuknya jumlah penghutang gagal bayar (sub prime borrower). Jumlah sub prime borrower mencapai lebih dari dua juta. Mereka tidak mampu membayar cicilan rumah karena bunga yang meningkat tidak berimbang dengan pemasukan. Namun demikian, krisis tetaplah fenomena yang tidak terlihat. Tingginya tingkat suku bunga dan meningkatnya persentase jumlah cicilan menyebabkan nilai rumah pada tahun 2007 menurun. Dan ini membuat debitor tidak dapat membayar cicilannya. Ketika nilai rumah menurun, bank mulai melakukan penyitaan terhadap kepemilikan properti. Titik penurunan harga properti menjadi parameter krisis.

Bagaimana cara mengukur krisis? Roitman melihat parameter krisis pada volatilitas harga dari sebuah aset. Krisis terjadi ketika terdapat kesalahan menilai resiko dan aset. Kesalahan terhadap penilaian dua hal ini mengakibatkan gejolak di tingkatan finansial dan ketidakpastian terhadap nilai komoditas. Dalam krisis finansial kontemporer, ketidakpastian (uncertainty)  didesain sebagai sebuah resiko. Pasar finansial mencoba mendesain manajemen resiko sebagai teknik untuk mengurangi kerugian. Baik di sektor publik maupun swasta, konsep “resiko” menjadi momok yang harus diwaspadai. Karena itu, resiko menjadi komoditas tersendiri baik dalam pasar saham ataupun dalam sistem ekonomi riil. Untuk melindungi resiko, pelaku pasar menggunakan hedging atau lindung nilai ketika melakukan investasi. Asuransi adalah contoh yang paling jelas dalam mengkomodifikasikan resiko. Kecelakaan, kebakaran, kerusuhan/huru-hara, banjir adalah hal-hal yang paling dihindari, karena itu manusia sudi membayar lindung nilai terhadap “krisis” yang tidak diinginkan ini. Lindung nilai juga dilakukan dalam pembelian saham hingga kegiatan ekspor impor. Tujuannya adalah menghindari krisis yang ditandai dengan melemahnya mata uang, anjloknya harga saham dan properti secara tidak terduga.

Setelah deklarasi krisis, kredit diberikan berdasarkan model-model manajemen resiko. Roitman juga mengacu pada sosiolog Michel Callon dan Fabien Muniesa yang berpendapat bahwa model finansial, berbagai instrumen dan metodenya menggunakan bermacam perangkat bantu bertujuan untuk memformat model sosial. Hal ini berbanding terbalik dengan metode sosial yang beroperasi mengikuti konteks yang ada. Dengan kata lain, dalam sistem ekonomi, resiko adalah kondisi yang dapat dihindari dengan menggunakan perangkat-perangkat pasar (market devices) yang mampu untuk mengevaluasi dan melakukan standardisasi produk-produk finansial. Contoh yang paling jelas tentu saja pada sirkuit subprime mortgage yang menyebabkan krisis di Amerika belakangan ini. Firma-firma swasta mampu mengakses resiko dengan cara mengembangkan metode penetapan harga dan perdagangan resiko, dibanding hanya menseleksi pinjaman yang berkualitas tinggi (rendah gagal bayar) sebagaimana yang diprasyaratkan oleh pemerintah.

Dua Hal yang patut kita Khawatirkan

Pertama, narasi krisis membuat kita hidup di dunia yang non-riil karena terjebak dalam narasi-narasi yang belum tentu sesuai dengan realitas yang ada. Hal ini tentu benar adanya. Cobalah datang ke pasar-pasar tradisional atau pedagang berskala kecil yang tidak terhubung dengan mode perdagangan ekspor-impor. Mereka cenderung panik ketika televisi memberitakan bahwa nilai satu dolar telah mencapai 15 ribu. Padahal, banyak jasa dan perdagangan yang cenderung “berdaulat” dan tidak terkena imbas langsung dari melemahnya nilai tukar, seperti tukang cukur rambut, ahli pembuat lemari kayu dan berbagai aktivitas ekonomi yang bahan bakunya di dapat di dalam negeri. Tapi narasi bahwa nilai rupiah yang melemah menjadikan masyarakat membuat kesadaran bersama bahwa mereka “berada di ambang krisis”. Di sinilah narasi memanipulasi fakta sosial yang sesungguhnya dalam mempengaruhi kepercayaan orang terhadap adanya krisis.

Kedua, yang patut dikhawatirkan narasi yang menggiring kita pada definisi krisis dengan menggunakan parameter neoliberalisme. Kita patut sadar bahwa definisi dan ukuran krisis yang digunakan dalam “civil conscience” atau kesadaran masyarakat sipil sekarang menggunakan parameter neoliberalisme. Krisis didefinisikan karena menentang ide linearitas pembangunan dan monetisasi. Krisis memproduksi model “finansialisasi” baru yang merangsek ke ranah-ranah sosial atau ranah non-moneter.

Hatib Kadir (hakadir@ucsc.edu)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s