Para Antropolog dalam Kericuhan Politik: Kasus Huru-Hara Thailand

 

29193_390169768106_579331_nHuru hara di Thailand yang sering terjadi diakibatkan oleh ketidakpuasan para “red shirts” adalah hal biasa yang terjadi di Bangkok. Kudeta, penggulingan perdana menteri, hingga pembunuhan jenderal pangkat menengah bukanlah kabar baru lagi. Tulisan Ben Anderson “Withdrawal Syndrom” dalam bukunya Spectre of Comparison menunjukkan kericuhan di Bangkok yang digawangi oleh jenderal-jenderal kanan dan menyerang kampus “beraliran kiri” Thammasat University. Menariknya, pemerintah kemudian menggunakan para antropolog untuk menekan aksi, agar tidak terjadi perlawanan yang meluas.

Banyak antropolog senior Amerika ahli Thailand telah terlibat dalam berbagai kericuhan ini, hampir semua bekerjasama dengan US Defense Department. Para antropolog ini bukan hanya menyediakan data etnografi mengenai masyarakat Thai yang tinggal di perbatasan Kamboja dan Vietnam semata, namun juga memproduksi informasi militer dan pemerintahan Thailand. AAA (American Anthropological Association) kemudian mengirim dua anggotanya, yakni Eric Wolf dan Joseph Jorgensen untuk mengusut para antropolog ahli Thailand yang terlibat dalam dukung-mendukung politik dan kebijakan anti “komunis” ini, seperti Michael Moerman, Herbert Phillips, Steven Piker, dan Lauriston Sharp. Mereka ini juga menjadi partisipan aktif di Thailand Study Group (TSG) pada tahun 1967. Studi grup ini diberi dukungan dana oleh IDA (The Institute of Defence Analyses), sebuah organisasi riset yang berada di bawah asuhan Pentagon. Tujuannya adalah untuk menggunakan antropologi sebagai analisis untuk rencana-rencana militer di Thailand, membangun kerjasama di bidang administrasi dan pedesaan utara Thailand. Juga terdapat bukti-bukti bahwa Department of Defence’s Advanced for Research Project Agency (ARPA) yang beroperasi di Bangkok dari tahun 1962 hingga 1972 dan the American Institute for Research (AIR) menyewa para antropolog sebagai konsultan dan penasehat politik untuk Thailand. Lembaga-lembaga ini secara langsung terlibat dalam meredam gerakan perlawanan dari kelompok kiri Thai dan partai Komunis yang marak pada pertengahan tahun 1960an. Beberapa lembaga yang didirikan oleh USAID bermarkas di Bangkok juga “diamankan” oleh para antropolog Amerika yang bergerak dalam menahan gerakan mahasiswa kiri agar tidak merambah dan merusak gedung-gedung perkantoran milik Amerika Serikat.
Keterlibatan para antropolog ini memicu munculnya komisi etika terhadap ilmuwan sosial. Bukan hanya dipicu oleh kasus keterlibatan para antropolog di Bangkok, namun juga para antropolog Amerika Serikat mulai terseret dalam agitasi politik dalam kampusnya masing-masing. Banyak yang berpartisipasi dalam gerakan hak-hak sipil, penentangan terhadap keterlibatan Amerika dalam perang Vietnam dan keterlibatan pemerintah dalam penentangan aksi-aksi politik di kampus. Para antropolog dengan sangat intensif bergabung dengan aktivisme anti perang. Sebagai misal, di Universitas Michigan, Eric Wolf dan Marshall Sahlin adalah penggerak dalam demonstasi tahun 1965. Protes-protes anti perang membakar para mahasiswa dengan meminta melakukan reformasi di wilayah universitas, dari gerakan pidato bebas di Berkeley hingga pendudukan terhadap bangunan-bangunan administrasi di banyak kampus. Sedangkan berbagai fakultas kemudian terbelah, baik mereka yang mendukung atau justru mendisiplinkan para mahasiswanya.

Dalam profesi antropologi, krisis mulai memanas ketika ditemukan bahwa para ilmuwan sosial, termasuk para antropolog, mulai direkrut untuk kerja sebagai mata-mata politik. Pertama adalah dengan Proyek Camelot, yakni misi tentara Amerika untuk membantu pemerintahan yang lebih ramah dalam bernegosiasi dengan berbagai permasalahan aksi-aksi penentangan politik di kampus, khususnya dalam isu “anti sosialisme“ di Amerika Latin. Berbagai protes dari kalangan akademisi menetang proyek tersebut, namun AAA kemudian mulai bergerak memperhatikan isu-isu etika dalam penelitian. Meskipun profesi antropologi dalam beberapa hal dibagi untuk membantu perang dan dengan tujuan untuk membantu standarisasi upaya-upaya pemerintah pada berbagai negara belum berkembang, AAA sepakat dengan mengacu pada petunjuk-petunjuk etis.

Permasalahan kemudian menjadi meruncing pada tahun 1970 ketika para anggota komite etika menunjukkan bukti-bukti bahwa sejumlah antropolog diduga terlibat dalam kerja-kerja aksi penentangan politik di kampus dalam kasus penelitian di Thailand. Eric Wolf, sebagai ketua komite, mengundang nama-nama antropolog tersebut untuk meresponnya. AAA kemudian menghadapi berbagai kontroversi. Margaret Mead, antropolog senior yang paling dihormati dihadirkan untuk menjadi kepala komite luar biasa untuk menginvestigasikan tuduhan-tuduhan ketelibatan para antropolog ini. Laporan komite yang dipimpin Mead pada esensinya kemudian justru menghukum balik komite etika dengan menjustifikasi balik semua tuduhan-tuduhan komisi ini. Pada pertemuan AAA selanjutnya, para anggota secara empatik menolak laporan Margaret Mead, khususnya dalam menolak merendahkan beberapa figur yang dicurigai melakukan kerjasama dengan pemerintah militerisme “Kanan“ Thailand tersebut.

Kejadian-kejadian diatas kemudian menciptakan berbagai pembelahan dalam profesi antropologi dan dalam beberapa hal menyebabkan perbedaan teoretikal, dan mempunyai efek-efek akhir, seperti memunculkan ekspresi ketidaksepakatan yang kontroversial dan menyebabkan antropolog mulai malu untuk bekerja pada hal-hal yang mempunyai implikasi politik secra luas. Beberapa saran juga muncul bahwa sebaiknya antropolog kemudian menarik diri dari hal-hal berbau kepentingan sepihak yang lebih kuat. Inilah kisah-kisah keterlibatan dan perselingkuhan para antropolog dengan kekuasaan. Lantas, dalam kasus Thailand kini, adakah para antropolog yang masih terlibat pada kekuasaan yang lebih kuat dan meredam mereka yang lebih lemah? Tampaknya Rejim Abhisit Vejjajiva kali ini lebih memilih langsung tindakan-tindakan militer, ketimbang menggunakan para antropolog yang telah “bertapa dan menjauh“ dari hal-hal politik selama lebih dari tiga dekade ini.

Hatib Kadir

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s