Memahami Dunia Maluku

Apa yang menyebabkan bangsa Eropa ingin menjelajah ke dunia timur? Andaya, dalam buku Dunia Maluku (2016) melacaknya melalui berbagai sumber sejarah primer berbahasa Italia, Spanyol dan Portugis. Beberapa sumber Belanda juga ia munculkan dalam menggambarkan relasi orang-orang di Maluku Utara hingga abad 18. Andaya menunjukkan bahwa bangsa bangsa Eropa pada awalnya sangat tertarik dengan dunia timur yang digambarkan penuh dengan keliaran. Manusia-manusianya sama dengan binatang dan kumpulan flora dan fauna yang menjadi kegemaran orang Eropa untuk dikoleksi. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan pasca abad pertengahan, dunia yang misterius ini selalu memunculkan rasa penasaran yang mendalam untuk dipelajari sekaligus dijinakkan.

Perkembangan dunia sains di belahan bumi Eropa sekaligus memunculkan arogansi dunia Barat sebagai pusat dari dunia-dunia pinggiran lainnya. Dalam sistem kepemerintahan dan tata kelola bisnis, Barat memandang dirinya sebagai pusat yang menempatkan dunia pinggiran sebagai tempat pembuangan para pejabat yang tak bermoral namun bernyali tinggi. Tak heran bila rata-rata latar belakang pegawai VOC adalah pegawai yang bangkrut, juru sita, kasir yang licik, perantara yang licin, pelajar gagal, agen rahasia dan berbagai karakter jahanam lainnya (Andaya, 30). Andaya hendak menunjukkan bahwa untuk berhubungan dengan dunia yang misterius, maka orang-orang yang kasar perlu didatangkan, dan tak lupa pula misionaris agama. Dengan memeluk agama, dunia pinggiran diharapkan menjadi lebih beradab dan lebih jinak.

Kekuasaan dalam pandangan elite kesultanan bukan bersifat menaklukkan atau invasif seperti yang dilakukan dunia Barat, melainkan kekuasaan bersifat resiprositas dan atributif.

Dua Dunia yang Paralel

Dalam bab tentang “pertemuan”, ada kosmologi yang tidak mampu dipahami oleh bangsa Eropa dalam melihat relasi empat kesultanan Besar di Maluku Utara: Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan. Secara antropologis, dunia Maluku mempunyai relasi yg bersifat paralel, hitam putih, kontras namun tidak bertentangan, dan perpasangan namun sering bersitegang. Relasi-relasi yang ambigu ini tampak pada posisi kesultanan Tidore yang sebenarnya bersaudara dengan kesultanan Ternate. Tidore merupakan kakak tertua yang sering memberikan istri-istri (wife giver) kepada Ternate (wife taker). Sedangkan Bacan dan Jailolo adalah saudara-saudara muda yang sering mensuplai para istri tambahan kepada dua kesultanan ini. Daerah-daerah di sekitar dunia Maluku, adalah anak-anak mereka. Anak-anak KesultananTernate berada di bagian Barat dan Barat Daya, seperti Banggai, Buton, Sula, Makian, dan Selayar. Sedangkan Tidore lebih menjalin relasi dengan daerah pinggiran di timur seperti Halmahera dan Raja Ampat.

Dalam konsep antropologis, relasi ini disebut “moiety”, yakni pembagian ke dalam dua bentuk atau lebih yang saling melengkapi. Relasi Ternate-Tidore ini layaknya hubungan pela-gandong, Islam-Kristen, orang asli-orang pendatang. Meski relasi dua dunia ini bersifat moiety atau berpasangan dan saling melengkapi, namun seringkali juga sangatlah enigmatik (membingungkan) karena kerap terjadi perang dan ketegangan diantara keduanya.

Kekuasaan dalam pandangan elite kesultanan bukan bersifat menaklukkan atau invasif seperti yang dilakukan dunia Barat, melainkan kekuasaan bersifat resiprositas dan atributif. Rakyat membawa hasil bumi kepada para kolano (penguasa), seperti hasil hutan, perkakas kayu, sagu dan rempah-rempah hingga perempuan. Sebagai gantinya sultan sebagai kolano memberikan barang-barang mewah seperti porselen, besi, dan pakaian. Dalam pemberian barang ini, sultan juga meniupkan ruh atau spirit sekaligus. Yang tak kalah penting adalah, sultan memberikan gelar, lencana dan pakaian kebesaran kepada daerah-daerah pinggiran. Relasi relasi berpasangan ini juga terjadi antara bobato (dewan kesultanan) dengan sultan, sultan dengan sangaji (pemimpin daerah vasal), sangaji dengan raja-raja di daerah pinggiran dan seterusnya. Relasi ini saling melengkapi meskipun sering terjadi ketegangan dan perselisihan di dalamnya. Bagi VOC, pemeliharaan ikatan pusat-pinggiran yang bersifat moiety ini dianggap lemah karena pemerintah kesultanan tidak menggunakan unsur pemaksa melainkan hanya memainkan simbol dan mitos asal usul bersama yang bersifat kekeluargaan.

Tentang Perjumpaan dan Sejarah Kekalahan

Pengalaman perjumpaan dengan dunia Barat, tidak hanya mengubah jenis kepercayaan pada agama-agama besar. Di bagian bab 3 buku ini “Dunia maluku: pinggiran” menunjukkan bahwa sebelum datangnya koloni Barat, dunia Maluku tidak melihat tanah sebagai hal yang bernilai. Kekuatan kesultanan lebih didasarkan pada jumlah pasukan (entourage) daripada keluasan teritori. Daerah pinggiran dipandang bernilai bukan untuk diduduki teritorinya namun jumlah penduduk di dalamnya, seperti pria kekar untuk budak dan pasukan, dan perempuan-perempuan untuk diberikan ke pusat kekuasaan (Andaya, 228)

Di bab-bab besar tentang perjumpaan orang Maluku dengan koloni Barat, Andaya semakin mewarnai berbagai narasi sejarawan sebelumnya. Kisah tentang kesultanan di Nusantara selalu berakhir menyedihkan. Sejarah kesultanan mesti tentang intrik internal dan peperangan dengan dunia Barat. Sejarah tentang kesultanan adalah tentang kekalahan dan tidak berkelanjutannya masa kejayaan kesultanan dibawah generasi selanjutnya. Ternate misalnya, hanya mengalami masa kejayaan di bawah pemerintahan Sultan Baabullah (1570-1583) dan Tidore di bawah pemerintahan Sultan Nuku (1797-1805).

Sesudahnya, cerita tentang dunia Maluku adalah rentetan sejarah tentang perang saudara, konflik internal, berpindahnya agama dari Islam ke Kristen dan sebaliknya, memberontaknya vasal-vasal (kerajaan kecil) di daerah pinggiran, seperti Hoamoal di Pulau Seram, Hitu di Ambon dan Gorontalo di Sulawesi Utara yang tidak mau membayar pajak. Kesultanan Ternate kewalahan mengalami ancaman lepasnya vasal-vasal mereka, dan cara yang dilakukan adalah meminta bantuan Belanda. Secara politik, hal ini justru melemahkan daya tawar kesultanan itu sendiri. Sedangkan putra-putra mahkota setelah kepemimpinan Baabullah hingga abad delapan belas, tak lain adalah rentetan putera mahkota yang mempunyai jiwa kepempinan lemah. Ini tampak dari ketidaksanggupann para sultan mempertahankan kesetiaan vasal-vasal sebagai anak mereka. Banyak dari daerah pinggiran yang benci dengan kesultanan karena mereka tidak membagi secara adil kompensasi yang diberikan VOC atas hilangnya pendapatan perdagangan rempah-rempah di wilayah pinggiran.

Kekalahan beruntut dari kesultanan Tidore dan Ternate pada akhirnya menempatkan VOC sebagai orang tua yang dianggap mampu menyelesaikan semua permasalahan terhadap konflik berkepanjangan dua kesultanan ini. Dan titik terendah dari masa suram dunia Maluku adalah ketika hutan-hutan cengkeh dibakar dan dibabat habis. Tujuannya adalah utuk mempertahankan suplai agar harga komoditas rempah-rempah tidak anjlok dipasaran dunia (Andaya, 283-286). Pemusnahan ini sekaligus ditandai dengan monopoli perdagangan Belanda. Semua aktivitas ekonomi harus seijin Belanda, baik itu dalam bentuk jenis komoditas yang diperdagangkan, kuota dan tujuan transaksi. Ini adalah masa dimana potensi-potensi kekuatan pedagang pribumi dibunuh. Pada akhirnya, kehendak untuk menyatukan empat dunia Maluku: Kesultanan Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan dan berbagai vasal-vasal di pinggiran sebagai keluarga utuh, tak lebih dari sebuah utopia.

Namun demikian, tetap ada yang menarik dari dunia Maluku. Bab paling favorit dari buku ini adalah bagian ketujuh tentang Sultan Nuku dari Tidore. Bab ini menceritakan perebutan kekuasaan yang sangat unik. Beragam sejarah telah menceritakan sifat kudeta politik di Nusantara yang selalu berawal dari dalam istana. Sultan Nuku merupakan perkecualian. Ia melakukan kudeta terhadap kesultanan Tidore dari luar istana. Ia menggalang kekuatan dari berbagai vasal di Maluku bagian selatan hingga Papua bagian barat. Sebelum akhirnya merebut Istana Tidore, ia bergerilya mengumpulkam sisa sisa kekuatan pasukan di Halmahera, Seram Utara, Hitu, Hoamoal, hingga Raja Ampat. Ciri khas pemberontakan ini persis dalam gambaran antropolog Clifford Geertz di bukunya Islam Observed (1971) tentang kudeta kesultanan di Negara-negara Sub Sahara Afrika Utara seperti Maroko yang selalu dimulai dari luar istana.

Yang tetap berkelanjutan dan yang berubah:

Buku ini sekaligus menunjukkan tentang apa saja yang masih berkelanjutan dalam dunia Maluku dan apa saja yang telah berubah. Yang masih berkelanjutan tentunya adalah pandangan para akademisi hingga orang awam tentang dunia Timur sebagai kawasan yang penuh dengan kekerasan, kasar dan kurang terdidik. Pandangan-pandangan bersifat rasis ini masih terus terpelihara meski ilmu pengetahuan telah berkembang pesat dan sistem komunikasi telah demikian cepat dan terang benderang. Perang dan kekerasan memang bukan cerita baru di dunia Maluku. Andaya mencatat bahwa di abad 17, tiga perempat penduduk maluku tewas akibat kebiasaan baku bunuh, dan setiap desa memperlengkapi dengan kora-kora sebagai perahu perang yang siap menyerang daerah-daerah tetangga (Andaya, 228).

Yang berubah, buku ini bercerita tentang masa lalu dunia Maluku penuh kejayaan, ketika kesultanan menjadi pusat dari pemerintahan terhada kawasan kawasan sekitarnya. Realitas politik kekinian menujukkan dunia yang terbalik. Kawasan Maluku adalah daerah pinggiran yang mengalami marjinalisasi pembangunan. Dunia Maluku dari superior menjadi bangsa yang inferior dengan harus mengirimkan berbagai sumber daya alamnya (baca:upeti) ke pusat-pusat pemerintahan yang baru. Sejak bersentuhan dengan Belanda hingga ke pemerintahan Indonesia, Ternate dan Tidore mengalami ketertinggalan pembangunan infrastruktur, transportasi hingga reformasi birokrasi. Sebelum reformasi, pemerintah Indonesia menempatkan Ambon sebagai pusat pemerintahan baru yang menjadikan orang-orang Maluku Utara sebagai “warga kelas dua”, khususnya ketika berurusan dengan birokrasi. Dualias pusat dan pinggiran, antara dunia Maluku dengan pemerintahan Jakarta sebagai pusat superordinat, tampaknya tidak lagi dapat dilihat “seromantis” dalam relasi antara Ternate-Tidore dengan vasal-vasalnya pada abad-abad pra kolonial. Ada ketidakpuasan, perasaan tertinggal, dan merasa dianak tiri-kan yang jauh lebih besar dibanding rasa saling membutuhkan.

Hatib Abdul Kadir

Mahasiswa PhD Anthropology, University of California-Santa Cruz

Dosen Antropologi Universitas Brawijaya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s