Liur Anjing Milik Para Ulama

9789971694067_1024x1024.jpeg

Ketika buku “Studies on Islam and Society of Southeast Asian Society“ ini diterbitkan pada tahun 2009, William Roff telah genap 50 tahun meneliti masyarakat Islam di Asia Tenggara. Guru dari mantan rektor UIN, Azyumardi Azra ini memulai karirnya pada tahun 1959, setelah belajar bahasa Indonesia selama satu tahun di Canberra Australia. Roff menceritakan bahwa pada awalnya ia tinggal di rumah Tuan Haji Abdul Karim yang mempunyai 50 anak perempuan di sebuah Kampung Jawa di Selangor Malaysia. Di lingkungan ini pula ia mulai berkenalan dengan budaya Islam Melayu, mulai dari kenduri , penanggalan Islam, tradisi sunatan, upacara pernikahan, pengajian Al Qur’an hingga bahasa Melayu yang dipelajarinya melalui anak-anak kecil. Di akhir tahun 1960an, Roff berkesempatan untuk mengajar di jurusan sejarah University of Malaya, Kuala Lumpur. Dari sanalah ia mendapatkan berbagai data mengenai sejarah Melayu Islam.

Dalam studi masyarakat Islam di Asia Tenggara, Roff menawarkan tiga pendekatan. Pertama, studi literatur terhadap karya-karya klasik yang berpengaruh dalam kancah kajian Islam di Asia Tenggara, seperti disertasi Taufik Abdullah dan Christine Dobbin mengenai Muslim di Minangkabau; buku Sayyid Naguib Al-Attas tentang Islam di Aceh; penelitian de Graaf dan Clifford Geertz mengenai Islam di Jawa; tulisan Virginia Hooker tentang Islam di Malaysia. Kegunaan dari studi pustaka untuk refleksi konstruksi Islam dan mengkritisinya kembali terhadap situasi kekinian. Pendekatan kedua, studi dengan menggunakan taksonomi nama-nama ( Onomastic ) masyarakat Muslim yang mengacu kepada sifat-sifat keTuhanan serta Rasul dan para sahabatnya. Taksonomi ini bertujuan untuk mencari korelasi ideologis dan keturunan biologis antara orang-orang Melayu dengan nenek moyang mereka di Semenanjung Arab dan daratan India Selatan.

Pendekatan ketiga, adalah melihat sejarah melalui gerakan Islam di Asia Tenggara yang mempunyai modus operandi dan dialektika dengan para ulama di Arab dan Mesir. Sebagai misal melihat jejaring gerakan intelektual Abdul Al Rauf Al Singkeli, ulama besar abad 17 dari Aceh yang belajar dari Ahmad Al Qashashi di Hejaz. Bukan itu saja, melalui pendekatan ini diharapkan mampu melacak munculnya gerakan radikalisme Islam yang berefek pada gerakan Padri di Minangkabau pada tahun 1830an. Metode ketiga ini juga digunakan oleh Roff dalam melihat gerakan intelektual Indonesia di Al Azhar yang mengusung nasionalisme dengan mendirikan jurnal terkenal Seruan Azhar . Pada bab “Indonesian and Malay Students in Cairo in the 1920s”, Roff menunjukkan cikal bakal nasionalisme dari perspektif orang-orang yang bukan Jawa dan bukan lulusan Belanda. Sekembalinya dari studi di Mesir, para pentolan aktivis Islam ini  dipenjarakan di Boven Digul, Papua, dan rata-rata dari mereka kemudian terlibat dalam gerakan negara Islam, seperti Kahar Muzakkar dan Muchtar Lutfi yang meninggal dalam pemberontakan Islam di tahun 1950an.

Roff memperlihatkan kedetailan dalam menggambarkan tumbuhnya intelektual Muslim Melayu dan masyarakat keturunan Hadramaut, Yaman, sebelum masuknya pemerintahan Inggris secara resmi di tahun 1901. Dua Ilmuwan yang paling mencolok pada waktu itu adalah Raja Ali Haji dengan berbagai karyanya seperti kompilasi Kitab Pengetahun Bahasa yang 75 tahun kemudian baru diterbitkan, tepatnya pada tahun 1858. Kedua adalah Abdul Kadir Munshi yang mempelopori munculnya kesusasteraan Melayu modern. Bahkan, dua putera Abdul Kadir Munshi, Mohd. Ibrahim Munshi dan Sayyid Mahmud bin Abdul Kadir membuat buku, Kamus Mahmudiyyah (1894). Ini adalah kamus paling ambisius yang pernah ditulis sepanjang sejarah awal masyarakat Melayu.

Di dunia intelektual dan wirausaha, hampir semua jurnal dan dunia penerbitan dijalankan oleh pengusaha kaya terkemuka keturunan Hadrami seperti Muhammad Alsagoff (yang kemudian dibunuh secara dramatis oleh seorang penganut Syiah pada suatu malam), Muhammad ibn Aqil ibn Yahya dan Alwi al Hadi. Al Imam adalah jurnal yang didirikan pertama kali oleh para intelektual Arab di Singapura, kemudian berlanjut menjadi nama madrasah pertama kali di Malaysia yang didirikan pada tahun 1908, pendirian ini diikuti dengan munculnya berbagai jurnal Islam berbahasa Melayu dan Arab lainnya yang berkembang pesat. Jurnalisme dan dunia kepenulisan mengalami masa keemasan sepanjang tahun 1930 an yang kemudian berkontribusi pada pentingnya pertumbuhan nasionalisme di semenanjung Melayu. Ide nasionalisme dan kesadaran politik masyarakat Melayu juga bukan didapat dari semangat Barat, melainkan dari pemikir-pemikir reformis Mesir seperti Rasyid Ridla dan Muhammad Abduh dan jurnal nasionalis Mesir seperti Al Mu’ayyad (1896) yang menentang berbagai kebijakan Belanda di Hindia Belanda (Indonesia).

Independensi jurnalisme ini juga diikuti dengan perkembangan intelektual Muslim melalui institusi yang disebut dengan pondok dan madrasah. Salah satu guru pondok paling awal adalah Shaikh Dawud Abdullah al Fattani, dari Thailand Selatan yang menyebarkan pendidikan Islam hingga ke Kelantan, Malaysia. Madrasah terus mengalami perkembangan hingga periode paska kolonial. Bahkan, selama kunjungan Roff pertama kali ke Mesir tahun 1968, ia menemukan fakta bahwa jumlah mahasiswi (perempuan) Malaysia yang melakukan studi disana, jauh lebih banyak dibanding mahasiswa (laki-laki). Namun demikian, dalam buku ini Roff tidak menjelaskan lebih lanjut bagaimana strategi kolonialisme Inggris dalam mengontrol dan melumpuhkan perkembangan intelektual Muslim di wilayah Semenanjung Melayu (Malaysia dan Singapura). Roff juga nyaris tidak menggambarkan ketegangan hubungan masyarakat Melayu Islam dengan dua etnis lainnya, Cina dan India, yang jelas-jelas tersegregasi. Kontestasi tentang munculnya nasionalisme Arab-Melayu dengan nasionalisme sosialis orang-orang Cina yang muncul bersamaan pada awal abad 20 di Singapura dan Malaysia juga tidak dibahasnya lebih lanjut, mengingat ini penting untuk mengetahui genealogi polarisasi etnis tersebut yang terjadi hingga sekarang.

Sampul buku ini sangatlah provokatif karena bergambar seorang Sultan Ibrahim, seorang Raja Kelantan yang juga ketua Majelis Agama Islam, tengah bersanding dengan anjing peliharaannya jenis Dalmatian. Terjadi perdebatan sengit diantara pakar hadis dan ahli fikih, apakah tujuan memfungsikan anjing sebagai penjaga rumah dan berburu menghilangkan sifat kenajisannya atau tidak. Di Bab empat, Roff menarasikan betapa kayanya argumentasi, mode pemikiran dan rasionalitas yang dimiliki ajaran Islam dari berbagai Mazhab, khususnya Mazhab Imam Maliki dan Imam Shafi’i dalam menghadapi permasalahan anjing. Setelah melalui perdebatan sengit, permasalahan ini diserahkan kepada komite fatwa Al Azhar, dan akhirnya fatwa majelis agama Islam mengijinkan Muslim untuk memelihara anjing sepanjang hewan tersebut mempunyai fungsi sebagai penjaga rumah. Seperti yang kita lihat di sampul buku ini, foto sang raja Kelantan dipublikasikan tampak dengan bangga menggenggam binatang kesayangannya pada tahun 1930an.

Dalam menganalisa orang naik haji di bab terakhirnya, Roff menggunakan teori ritual dari kacamata antropolog Arnold van Gennep yang melihat bahwa ketika naik haji, seorang Muslim berada pada tahap “liminalitas”. Upacara haji menempatkan Muslim berada pada situasi yang homogen, sakral, bercampur dari berbagai Negara dan ras dengan posisi yan setara di mata Tuhan. Bagi Muslim di Asia Tenggara, ritus haji di Mekah merupakan transisi untuk menjadi orang yang dipandang terhormat secara sosial di lingkungannya dan meningkat secara keimanan. Tak heran jika pada akhir abad Sembilan belas, 54% jumlah peziarah haji di Mekkah berasal dari masyarakat Melayu dan India. Meski wabah kolera, malaria, dan disentri menjangkiti peziarah di kapal-kapal dan kota Mekkah, namun tidak menghentikan semangat para Muslim peziarah ini untuk menjadi tamu Tuhan.

Buku yang terdiri dari berbagai kumpulan tulisan ini sebenarnya bukanlah ide segar yang ditampilkan oleh Roff, karena telah pernah diterbitkan dalam beberapa jurnal Internasional terkemuka, seperti jurnal Indonesia, milik Cornell University. Beberapa tulisan juga pernah dipresentasikannya di Universitas Oxford maupun di universitas Malaya, Malaysia. Ketika buku ini terbit, William Roff telah beranjak uzur dan pendengarannya terganggu. Usianya yang telah menginjak lebih dari 90 tahun menempatkan dirinya sebagai seorang begawan tentang studi Islam di Asia Tenggara. Dalam launching buku ini di National University of Singapore pada pertengahan tahun 2009, Vedy Hadiz, seorang intelektual terkemuka Indonesia menanyakan, “Roff, kepada ilmuwan siapa buku ini patut dibaca?“ Roff tercekat, ia tak mampu menjawab dalam hitungan detik. Apakah ini menunjukkan bahwa tongkat estafet tentang studi Islam di Asia Tenggara belumlah ada yang pantas melanjutkan?

Selamat Membaca dan Salam Anget

Hatib Kadir, NUS, 2009

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s