Nikmatnya Berburu PKI

Ceritera kekerasan di Indonesia sering mengundang tepuk tangan dan gelak tawa. Coba bandingkan, para hakim di pengadilan Nurenmberg yang menginterogasi jenderal NAZI bagaimana cara mereka membunuh Yahudi. Para elite NAZI ini tutup mulut. Salah seorang diantaranya mengatakan “kami akui telah membunuh banyak Yahudi, tapi kami merahasiakan bagaimana cara membunuh mereka, lets thats part of our dirty little secret (biarlah itu tetap menjadi rahasia kecil kami yang kotor). Bandingkan dengan Indonesia. Di film Jagal besutan Joshua Oppenheimer. Ketika Anwar Congo diwawancarai oleh host perempuan dari TVRI Medan, metode menghabisi kaum komunis, Anwar menjelaskan dengan detail cara membunuh komunis. Ia menggunakan kawat, kayu, papan, bahkan ia menunjukan dengan gamblang bagaimana cara memperkosa perempuan sebelum membunuhnya. Host TVRI Medan terpesona “luar biasa, cara membunuh dan memperkosa yang sangat efektif dan efisien sekali”. Audiens merespons dengan tepuk tangan antusias dan penuh rasa puas. Senyum dan tawa itu kadang merupakan pertunjukkan dari perasaan kita yang buas.

(Berburu celeng, karya Djoko Pekik)

Kenikmatan itu menurut saya sesuatu yang mengerikan. Ia tidak seperti dalam argumen Ariel Heryanto (Identitas dan Kenikmatan, 2015) yang menggambarkan kenikmatan pasca orde baru dalam wajahnya yang riang. Ariel menggambarkan kenikmatan dalam rupa budaya pop seperti nikmatnya ekspresi kealiman (piety) di ruang publik hingga munculnya korean pop pasca Orde ‘jagal’ Baru. Saya berpandangan sebaliknya, kenikmatan itu justru muncul dalam tindakan yang brutal dan berbahaya. Senyum dan tawa riang justru adalah ekspresi dari sifat manusia yang buas.

Motif dari memburu dan membunuh PKI adalah untuk memproduksi kenikmatan. Seperti teori makan enak, durian, jengkol atau seafood. Tindakan kenikmatan selalu datang bersamaan dengan rasa berdosa, misalnya ketakutan akan meningkatnya kolesterol atau darah tinggi. Dalam konsep tentang guilty pleasure, tanpa kenikmatan, rasa berdosa itu tidak ada, dan sebaliknya, rasa berdosa selalu muncul setelah kenikmatan. Karena itu, Tuhan perlu dilibatkan untuk menghilangkan rasa berdosa. Saya membayangkan perbincangan antara Soeharto dan Sarwo Edhie, panglima kopasandha, ketika memutuskan untuk menyapu simpatisan PKI dari Jawa sampai Bali. Soeharto memerintahkan membunuh semua tertuduh simpatisan PKI tanpa diadili. Sarwo bertanya “Pak To, belum tentu semua orang yang kita tahan sekarang adalah adalah benar-benar anggota PKI?. Dengan enteng Soeharto menjawab “Sudah, bunuh saja semuanya, nanti di akherat biar Tuhan yang memilah-milah, mana yang PKI, dan mana yang bukan”. Maka pembantaian yang nikmat pun mulai dilakukan.

Memburu sesuatu yang kita belum tentu tahu atau sesuatu yang sama sekali tidak ada itu memang nikmat. Slavoj Zizek, seorang filosof yang rock n roll pernah memberi contoh begini. Seorang perempuan mengajak mampir teman kencannya ke kos nya. Si perempuan dengan erotisnya menawarkan “yuk mampir ke dalam minum ‘kopi’ bentar”. Si cowok dengan lugunya menjawab “oh sorry, aku nggak suka kopi”. Si perempuan membalas “oh iya, kebetulan aku juga ga punya kopi”. Anda bisa bayangkan betapa erotisnya ketika dua insan ini memasuki kamar kos meski sebenarnya ‘kopi’ tersebut tidak ada, tapi ia adalah bentuk kenikmatan, having fun, yang lain. Berburu pada sesuatu yang fiksi atau tidak riil memang menyenangkan. Having fun ditingkatan politik, saya harap anda masih ingat, adalah ketika Donald Rumsfeld menteri pertahanan Amerika Serikat mengajak Inggris untuk menyerbu Irak dengan alasan mereka mempunyai senjata pemusnah masal. Inggris, seperti cowok lugu yang pada awalnya tak suka minum kopi akhirnya mau dibujuk menyerang Iraq. Seperti kopi, senjata pemusnah masal itu ternyata tak ada. Namun ada kenikmatan yang didapat. Membunuh warga sipil Iraq, memecah belah sunni dan syiah, bisnis senjata meningkat dan kenikmatan berpuncak pada pemasangan pipa gas alam dan minyak yang dialirkan ke Inggris dan Amerika Serikat. Di Indonesia, kenikmatan memburu yang tidak riil/fiksi inilah yang terjadi pada saat ini. Kita memburu PKI, meski PKI, seperti contoh kopi atau senjata pemusnah masal diatas, sebenarnya tidak ada. Tapi ada kenikmatan-kenikmatan lain yang kita dapat dari perburuan hantu fiksi tersebut. Mungkin, salah satu puncak kenikmatan yang didapat adalah kejatuhan Jokowi sebagai presiden.
Filosof yang namanya susah disebut, Quentin Meillasoux menyebut perburuan pada hal yang fiktif ini sebagai “spekulatif realism”. Kita butuh figur fiktif, seperti PKI untuk dicurigai, tentunya dengan tujuan untuk mempertahankan ideologi yang selama ini dirindukan, yakni Orde Baru. Kecurigaan terhadap bangkitnya komunisme di Indonesia sudah pada tahap patologis. Meski jutaan komunis sudah dibunuh, kecurigaan itu tidak juga hilang. Kecurigaan ini persis rasa cemburu berlebihan bahwa istrimu tidur dengan orang lain. Meski terbukti benar istrimu tidur dengan orang lain, cemburumu itu tidak akan hilang. Ia terus ada. Kalau mengacu pada teori kecemburuan Sigmund Freud tentang homoseksualitas, jangan-jangan kamu merasa cemburu bahwa istrimu tidur dengan orang lain karena si cowok itu bukannya menidurimu tapi tidur dengan isterimu. Atau dengan kata lain, jangan-jangan dibalik kecurigaan terhadap PKI, kita justru merindukan sisi positif dari ruh komunisme (egalitarian dan kesejahteraan bersama). Karena itulah kita cemburu kenapa PKI tidak tidur dan bergumul bersama kita.
Pada saat ini kita sudah hidup di pasca ideologi. Ideologi-ideologi besar seperti komunisme, sosialisme telah mati sejak akhir 1980an. Sekarang ini, ideologi adalah pilihan pada praktik kita sehari-hari. Cara ideologi bekerja pada saat ini sepeti Pokemon-go. Atau lebih tepatnya kita sekarang menganut ideologi pokemon-go.Orang-orang yang curiga terhadap kebangkitan PKI itu seperti bermain Pokemon Go. Agar hasrat hidupya lebih atraktif, mereka mencari realitas tambahan (augmented realites) yang muncul di sekitarnya (popping up all around), seperti:  Komunis, PKI, Cina, Yahudi, Kafir, Syiah dll, untuk diburu dan dibunuh. Persis dalam game Pokemon Go berburu realitas tambahan adalah kenikmatan surplus bagi si pemburu.
Berbeda dengan game lama yang hanya mengandalkan PC komputer, game pokemon-go ini dimainkan oleh mobile phone sehingga kita bisa langsung berinteraksi dengan dunia luar. Game berbasis PC komputer hanya memainkan imajinasi kita dari dalam ruangan, sedangkan game pokemon go, dibantu dengan sistem GPS dan kamera, memunculkan pertempuran virtual diatas lokasi yang riil. Pemain game bergerak bersama avatarnya menembakkan realitas-realitas tambahan di dunia sekitarnya. Dari interaksi dengan dunia luar, pemburu objek musuh dalam pokemon (baca: memburu PKI) bukan hanya meningkatkan hasrat untuk membunuh kebosanan tapi juga sekaligus hasrat merasa menemukan kebenaran. Kenikmatan menjadi berganda karena di game pokemon-go, musuh yang anda buru juga mempunyai plot untuk menghindar dari serangan dan justru memukul balik anda. Disinilah anda semakin yakin bahwa, PKI, Yahudi, Cina, Kristen juga mempunyai agenda konspiratif yang juga mampu menyerang balik anda.

Kenikmatan, lantas menjadi surplus karena dibarengi dengan keyakinan akan rasa takut. Tanpa rasa takut, kecurigaan hanya menghasilkan kenikmatan, tapi dibarengi dengan ketakutan, kenikmatan menjadi surplus. Manusia pada umumnya mempunyai rasa takut. Takut hantu, takut hutan, takut Tuhan. Dan seterusnya. Modal dasar ketakutan ini menjadi ideologi dengan cara menciptakan objek buruan. Jika takut Tuhan, maka PKI dijadikan objek buruan karena PKI dianggap anti Tuhan. Tidak seharusnya PKI berani sama yang ditakuti oleh manusia. Jika takut rasa pelit, objeknya adalah etnis Cina karena mereka dianggap biangnya orang pelit. Kita takut pada modal besar dan orang pintar, Yahudi kita proyeksikan sebagai pokemon kapitalis yang mempunyai modal besar dan orang pintar tersebut. Demikianlah cara ideologi bekerja.
Pertanyaannya kemudian mengapa kita memerlukan PKI sebagai objek yang diproyeksikan? Jawabannya ada dua.

Pertama, selain rasis, kita memang manusia yang suka berputar-putar tidak langsung ke titik permasalahan. Sebagai misal, jika anda baca sejarah, tujuan utama Hitler sebenarnya adalah melawan kapitalisme, namun dia justru membantai Yahudi. Kenapa Hitler tidak langsung melawan kapitalisme saja tanpa harus membantai Yahudi? Disinikah kita bisa simpulkan bahwa tingkat rasisme tertinggi ketika orang mendudukkan anti kapitalisme sama dengan anti Yahudi. Persis saat ini di Indonesia, anti etnis Cina merupakan keharusan dari perjuangan anti kapitalisme. Demikian pula, pada saat ini, dibalik berburu hantu PKI, yang kita rindukan sebenarnya adalah sejarah ekonomi Orde Baru, yakni beras murah, bensin murah, lowongan pekerjaan PNS gampang. Lantas kenapa kita tidak menuntut  langsung ke permasalahan itu, tanpa harus berbelok jauh dengan menjadikan PKI sebagai objek? Basa-basi dan berputar-putar memang nikmat.
Kedua, dengan menjadikan PKI sebagai objek, kita mampu melampiaskan ketakutan yang seringkali tidak konsisten sekaligus menciptakan surpus kenikmatan. Mengacu pada konsep ahli linguistik, Ferdinand de Saussure, PKI adalah signifier yang telah kehilangan signifiednya. Misalnya begini, jika anda mendengar kata “kursi”, acuan signifiernya jelas, yakni benda yang terbuat dari kayu dan mempunyai empat kaki ramping. Sedangkan kata PKI, penamaan (signified) tidak mengacu pada penanda (signifier) secara pasti. Kata PKI mengacu pada apa saja yang anda tidak sukai. Ia bergantung pada mood anda. Misalnya, jika seseorang terlalu kritis, terlalu politis atau terlalu banyak pertanyaan, atau anda melihat petani yang tak mau menyerahkan lahannya untuk pembangunan, anda bisa langsung menuduhnya sebagai, PKI. Nikmat bukan? Itulah ideologi anda pada saat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s