Perasaan (affect) dalam Studi Antropologi

Pada tahun 1967, anthropolog Renato Rosaldo dan istrinya, Shelly, melakukan riset di kawasan hutan hujan tropis di Philipina, masyarakat pemburu kepala, llongot. Di sebuah sore, Rosaldo memutar rekaman perbincangan orang Ilongot dalam tape rekorder. Ketika mendengar suaranya sendiri, orang Ilongot tersenyum geli. Namun, di beberapa bagian mereka mendengar suara salah satu tetua yang baru saja meninggal. Seluruh ruangan tetiba senyap. Bibir mereka terlipat, mata menyipit dengan muka yang menegang. Ini adalah pertama kali orang Ilongot mendengar suara mereka sendiri, juga mendengar suara orang mati dalam rekaman. Suasana menjadi tegang dan salah satu tetua Ilongot meminta Resaldo untuk segera mematikan rekamannya. Orang Ilongot menyebut perasaan yang bercampur ini dengan: liget. Pada awalnya Rosaldo mengira kata liget mengacu pada ledakan energi campuran antara perasaan rusuh dan amarah.

Rosaldo tidak menemukan makna liget, hingga pada suatu waktu nahas menimpa istrinya. Empat belas tahun setelah riset di Ilongot, ia dan Istrinya beserta dua orang anak lelakinya melanjutkan riset di Ifugao. Dalam perjalanan gelap menembus hutan terjal, Shelly, sang istri terjatuh di jurang sedalam 65 kaki dan tewas seketika. Mayatnya ditemukan di samping sungai. Rosaldo mengalami perasaan duka mendalam yang ia belum pernah alami sebelumnya.

Perasaan duka dan amarah dalam dirinya terus berkembang. Hingga pada suatu waktu, ketika sedang menyetir di jalan tol di kota kecil Palo Alto, California, ia tidak mampu lagi menahan perasaannya. Rosaldo kemudian meminggirkan mobilnya dan melolong sekeras-kerasnya. Dari sanalah ia kemudian memahami makna: liget. Rosaldo kemudian mendefinisikan liget sebagai: voltase tinggi. Energi yang begitu kuat keluar dari tubuh dan perasaan yang tidak dapat ditahan lagi. Untuk mengenang istrinya, Rosaldo mendokumentasikan emosinya ke dalam buku foto dan puisi The Day of Shelly’s Death (Duke University Press, 2013). Dari kata liget ini, Rosaldo memberi pesan bahwa ada banyak jenis perasaan dan emosi dalam berbagai kultur yang susah ditangkap maknanya. Emosi dalam kosakata masyarakat lokal tidak dapat ditranslasikan begitu saja ke dalam bahasa Inggris. Emosi seperti yang ditunjukkan Rosaldo bersifat sangat personal. Ia berkaitan dengan pengalaman individual. Namun demikian, emosi bisa dirasakan kolektif ketika ia berkaitan dengan hasrat atau sesuatu yang diinginkan. Secara kolektif, liget berguna untuk meningkatkan energi ketika orang Ilongot berburu dan memotong kepala.

renato-shelly-1_custom-e7ac921cb2618b5ffcf12ad53c363ddfb4fee568-s700-c85Renato Rosaldo kanan dan kiri, Shelly, Istrinya. Sumber:http://www.npr.org/an-anthropologist-discovers-the-terrible-emotion-locked-in-a-word

Hasrat Kolektif

Di suatu siang yang panas, ketika riset di Ambon, saya mengobrol dengan seorang pedagang ‘Ambon asli’ yang merasa tersisihkan dengan dominasi pedagang yang ia anggap sebagai ‘pendatang’. Sebut saja Bapa Hussein. Saya mendebat apa yang ia anggap pendatang sangat kontroversial karena seiring dengan waktu, pendatang tokh telah tinggal berpuluh bahkan beratus tahun di Ambon. Mereka juga sudah kawin mawin dengan penduduk Ambon. Lantas apa yang ia maksud dengan ‘orang Ambon asli’? Bapa Hussein menguraikan pandangannya:

“Menurut saya, adat istiadat sudah bisa campur, agama juga, kawin mawin juga. Tapi ada satu yang tidak (seng) bisa sama, yakni emosi. Katong punya emosi berbeda dengan mereka pendatang. Emosi ini misalnya rasa memiliki, rasa tersinggung dan kesamaan perasaan terpinggirkan”

Emosi Bapa Hussein adalah representasi dari hasrat kolektif orang-orang yang merasa dirinya asli. Hasrat ini kemudian diwujudkan dalam bentuk pilihan-pilihan politik, jaringan perdagangan, organisasi hingga pilihan pada institusi politik.

Dalam kacamata sosiologi agama, emosi memang dapat menyatukan orang. Saya mengacu pada karya klasik sosiolog Emile Durkheim mengenai munculnya agama (Elementary forms of religious lives, 1912). Satu konsep yang ia usulkan adalah “social effervesence” (SE) atau gelembung sosial. SE adalah gejala dimana orang berpikir dan beraksi pasa saat bersamaan. Biasanya ia muncul melalui ritual. Perasaan senang dan bergelora, tumbuh dan berkembang secara kolektif yang kemudian diejawantahkan ke dalam totem. Setiap orang mempunyai perasaan yang sama ketika melihat sebuah totem yang disepakati mengandung nilai sakral.

Sedangkan pada kajian politik, pendekatan pada emosi kolektif memberi alternatif dari rasa kaku dalam ilmu politik yang selama ini menekankan pada pendekatan sttuktural institusional. Institusi bisa jadi perasaan secara kolektif. Chantal Mouffe dalam pandangan terbarunya “The Role of Affects in Agonistic Politics” (2015), ia mulai mengamati bagaimana affect atau perasaan dipahami secara kolektif. Mouffe memperkenalkan istilah hasrat (passion) yang berbeda dengan emosi. Hasrat cenderung diperjuangkan secara kolektif. Ia menyebutnya sebagai “common affect” atau perasaan bersama. Sedangkan emosi adalah milik individu.

Common affect muncul dalam identitas politik berdasarkan etnis atau agama. Ia mengada karena benturan yang disebut Mouffe sebagai antagonisme. Yang menjadi masalah, pemimpin populis kerap menggunakan common affect  untuk memobilisasi hasrat kolektif, seperti perasaan akan kesamaan nasib klas, etnis dan agama ke dalam pertarungan politik. Munculnya common affect ini sekaligus menunjukkan ketidakmampuan sistem politik liberal yang mengedepankan persaingan antar individu namun mengabaikan hasrat kolektif.

Mouffe berbicara tentang perasaan sebagai pengalaman libidinal daripada institusional. Ia mengacu pada pandangan filosof, Spinoza. Affect adalah pengalaman ketubuhan yang bereaksi terhadap faktor-faktor eksternal. Affect atau perasaan antara lain melingkupi rasa marah, putus asa, khawatir dan perasaan merasa dekat dengan orang lain berdasarkan latar belakang tertentu.

Dalam melihat populisme, sedikit ahli politik yang menekankan pada peranan hasrat dalam politik. Padahal, hasrat dan emosi sangat lentur dan mudah dibentuk. Hasrat juga sangat mudah ditularkan ke berbagai arah. Ia memainkan peranan dalam membentuk identifikasi dan memobilisasi masa. Oleh para pemimpin populis, hasrat kolektif digerakkan untuk aksi-aksi politik.

Pemimpin populis memanfaatkan kegagalan liberalisme ekonomi yang telah mendorong finansialisasi kehidupan sehari-hari sehingga manusia kehilangan rasa kebersamaan (commonality). Kompetisi dalam ekonomi liberalisme membatasi negara sebagai wasit yang melindungi kaum lemah. Privatisasi dan deregulasi membatasi kepentingan-kepentingan negara dan masyarakat. Kegagalan kaum sosialisme demokrat dan matinya gerakan kiri telah diambil alih oleh pemimpin populis. Mereka mengalamatkan perasaan publik yang khawatir terhadap keamanan sosial karena terenggut oleh liberalisme pasar. Pemimpin populis tidak menjawab perasaan ketakutan terhadap dominasi modal dan ketidakpastian masa depan dengan solusi ekonomi, tapi memanfaatkan common affect masyarakat dengan menunjukkan penjelasan xenophobic, misalnya cina yang merebut lahan pekerjaan, yahudi yang mendominasi ekonomi dan seterusnya.

Affect mempunyai peranan penting dalam memproduksi politik identitas. Para pemimpin populis menggunakan common affect untuk memobilisasi hasrat komunal, seperti ketakutan terhadap kaum migran, kebencian terhadap Cina hingga kekhawatiran akan munculnya bahaya komunisme. Mouffe  menunjukkan bahwa common affect pada politik identitas adalah gejala pasca demokrasi dan pasca ideologi perang dingin. Antagonisme antara ideologi kanan dan kiri telah runtuh, dan ideologi beralih ke hal-hal yang sifatnya pada manipulasi dan mobilisasi perasaan komunal.

Brian Massumi, teoritisi sosial yang mengawali studi affect, Politics of Affect (2015) telah menjelaskan bahwa ketika orang tidak mengenal satu sama lain dalam sebuah ruangan, komunikasi yang menyatukan mereka pertama kali adalah perasaan, seperti rasa duka dalam merespon korban terorisme atau bencana, misalnya. Perasaan yang bersifat atomis ini saling terhubung dan berpotensi terbangun secara komunal.

Perasaan yang bersifat personal seperti pengalaman Renato Rosaldo di ceritera awal, mampu berubah ke arah yang membahayakan ketika ia menjadi kolektif dan dimanfaatkan oleh pemimpin populis. Ketika orang Ilongot merasa liget, mereka sangat produktif  mampu memotong beberapa potong kayu bahkan memenggal kepala. Emosi dan perasaan mempunyai energi. Ia juga mempunyai rasa duka dan kecewa. Tatkala digunakan untuk kepentingan politis, perasaan mempunyai kekuatan yang brutal dan mengerikan. Jadi, tidak ada yang tidak serius ketika kita bicara soal perasaan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s