Tetangga dan Pengungsi, problem kemanusiaan abad 21

Masih kuat dalam ingatan saya, bagaimana orang-orang di sebuah kampung kecil di Maluku Tengah bernama Ori menjelek-jelekken tetangga desa mereka, Kariu, yang kebetulan berbeda agama. Ori tepatnya berada di Pulau Haruku. Orang-orang tua di kampung Ori menekankan bahwa perilaku anak mudanya jangan menyerupai warga desa  Kariu. Mereka adalah orang yang jarang mandi, memelihara anjing, dan kotor. Stereotip tersebut tidak hanya berhenti dalam olok-olok. Ketika konflik Maluku pecah di tahun 1999, warga desa Ori menyerang orang-orang Kariu. Desa-desa muslim di sebelahnya seperti Pelaw dan Kailolo juga membantu penyerangan ke Kariu. Orang-orang Kariu lari pontang-panting dan desa mereka dibakar hingga hampir rata dengan tanah. Semua penduduknya mengungsi ke desa-desa Kristen terdekat, seperti ke Desa Oma dan Hulalui. Selama penyerangan ke desa Kariu, banyak dari orang Ori yang terkena panah dari warga desa sebelah, yang kebetulan sering berseteru, Desa Pelaw. Selain berseteru dengan tetangga desa, Kariu, nampaknya Ori mempunyai perselisihan panjang dengan desa lainnya, yakni Pelaw. Ori adalah desa Islam modernis yang memisahkan dirinya dari Desa Pelaw, Islam tradisionalis, pada tahun 1939. Dendam lama antar desa ternyata masih ada, dan secara sembunyi-sembunyi dilampiaskan dalam konflik 1999.
Relasi antar tetangga sangatlah rumit. Ia bukan hanya masalah perbedaan agama, tapi juga ideologi yang berbeda dalam satu agama, seperti yang saya gambarkan diatas. Perseteruan tetangga muncul dalam skala paling mikro, antar tetangga rumah, antar desa tetangga, hingga antar Negara. Anda bisa mengingat-ingat atau mencatat ada berapa banyak stereotip yang anda punya terhadap desa tetangga anda, supporter antar kota tetangga hingga cerita tentang bentrok antar etnis yang bersebelahan. Di tingkatan paling mikro, di perumahan, antar tetangga rumah sering terjadi baku pukul hanya karena salah satu tetangga membuang sampah di got, memasang pot bunga di dinding rumah anda tanpa ijin, atau memelihara hewan ternak yang baunya mengganggu. Demikian pula, riset saya di Maluku mencatat ada puluhan peristiwa perkelahian antar desa tetangga yang muncul pasca reformasi. Hualoy berkonflik dengan Sepa di Pulau Seram, Porto-Haria di Pulau Saparua, Hitu-Wakal, Mamala- Morela di Jazirah Hitu, Pulau Ambon dan seterusnya.
Dalam bahasa Melayu Ambon, kampung mempunyai arti “ketetanggaan”. Suatu kampung eksis karena ia berbatasan dengan tetangga kampung lainnya. Persoalan antar kampung seringkali dimulai dari iri hati, pemuda mabuk, hingga sengketa batas tanah. Pasca desentralisasi, tiap-tiap kampung terbuka kesempatannya untuk mengukur batas-batas tanah dengan kampung di sebelahnya. Hal ini tak pelak sering menimbulkan ketegangan. Jika anda berkesempatan mengelilingi desa-desa di Maluku, hampir semua perbatasan desanya berada dalam BKO (Bawah Kendali Operasi). Para tentara non-organik ini ditempatkan di pos-pos batas desa. Selama satu tahun tentara dari kesatuan yang berbeda secara bergiliran menjaga keharmonisan antar kampung/tetangga.
Kiekergaard, seorang filosof menyebut “tetangga yang baik adalah tetangga yang mati”, karena dengan demikian kita mempunyai cinta yang seutuhnya tanpa harus direduksi dengan keharusan menjaga resiprositas dan merasa berhutang dengan mereka. Di dalam agama-agama Semitik, Judeo Christian menyebutkan bahwa tetangga adalah monster kita karena ia begitu dekat dengan kita, tapi kita tak mampu mempenetrasinya. Demikian pula, Islam sangat menekankan pentingnya rahasia antar tetangga. Islam bahkan melarang kita untuk mengeluarkan asap masakan dari dapur, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan kecemburuan.
Pengungsi dan Krisis Ke-tetanggaan kita
Pada level krisis global, kapitalisme mutakhir terbukti menghasilkan krisis dalam bentuk pengungsi. Penanaman sawit secara massif di Somalia misalnya dan konflik sumberdaya alam berkepanjangan di Pantai Gading, telah menyebabkan krisis pangan, ketercerabutan orang dari tanahnya dan akhirnya, orang berbondong-bondong angkat kaki dari negerinya. Para pengungsi ini bergerak menuju benua terdekat mereka di Timur Tengah dan Eropa bagian selatan. Sedangkan di Timur Tengah sendiri, munculnya radikalisme ISIS dan campur tangan Amerika Serikat menyebabkan krisis paling buruk dalam sejarah modern Negara-negara Arab.
received_1508624162586893
Kini, kita tidak bisa berpikir bahwa pengungsi adalah fenomena nun jauh disana. Di Asia Tenggara, pemasangan pipa minyak dan gas bumi oleh investasi perusahaan Cina, telah menyebabkan terusirnya orang-orang Rohingya dari kawasan Rakhine, Myanmar. Pengungsi, yang pada awalnya jauh dari kehidupan kita, perlahan-lahan mulai mendekat. Orang Rohingya pada saat ini telah berada di Aceh.
Pengungsi sudah begitu dekat dengan kita. Bahkan di dalam negeri sendiri, Syiah dan Ahmadiyah yang terusir dari kampungnya di Madura juga berbondong-bondong menjadi pengungsi di sekitar Surabaya dan Sidoarjo.
Kita belum tentu mau menerima pengungsi sebagai tetangga, karena secara filsafati, tetangga adalah “monstrous other” (monster liyan). Mereka adalah orang lain yang kita belum tentu siap menerima semua sisi gelapnya. Yang berhubungan dengan pengungsi, kita tidak dapat memilih orang-orang yang terbaik sebagai tetangga kita. Tidak hanya itu saja, permasalahan tetangga, antara pengungsi dan masyarakat tuan rumah (host society) adalah perbenturan budaya yg paradoks. Misalnya, banyak dari pengungsi Muslim di Eropa mempunyai budaya menempatkan perempuan dalam tata aturan patriarkis. Sebaliknya masyarakat tuan rumah mempunyai kultur kebalikan, misalnya Jerman dan Belanda yang pro pernikahan gay, pro aborsi, dan kebebasan individual perempuan. Tentu saja dua kultur yang berbenturan ini susah untuk dipertemukan.
Tidak semua Negara mau menerima pengungsi. Dan tidak semua dari kita mau menerima tetangga yang berstatus pengungsi. Ratusan ribu pengungsi dari Suriah dan Afrika Utara pada saat ini telah memenuhi Eropa. Sementara tetangga-tetangga sesama muslim yang super kaya dan sesame ummah, seperti Qatar, Kuwait, dan Saudi Arabia, ironinya tidak mau menerima kaum pengungsi dari Negara-negara muslim yang didera konflik, seperti Suriah, Somalia hingga Pantai Gading. Padahal Negara Negara-negara kecil di Timur Tengah yang super kaya ini mempunyai GDP sama dengan Singapura. Justru Negara-negara yang sering kita anggap “kafir” seperti Jerman dan Italia yang membuka pintu untuk pengungsi Muslim. Demikian juga pengungsi Rohingya, Negara Bangladesh dan Malaysia pun cenderung menolak ratusan ribu pengungsi dari Myanmar ini. Tampaknya, konsep ummah, dalam Islam yang artinya kesatuan dan solidaritas antar Muslim, ternyata diciderai dengan berbagai kepentingan politik Negara.
Relasi tetangga dan pengungsi sekaligus menunjukkan bahwa toleransi mempunyai batas-batasnya. Tidak mudah menerima pengungsi. Karena itu, salah satu solusinya adalah hidup saling berdampingan (living koeksisten). Antar tetangga harus menjaga batas tanpa harus terhubung dengan erat. Relasi harus bersifat menjaga jarak tapi tetap saling hormat. Kalau dalam kehidupan sehari-hari, kurang lebih seperti relasi mertua menantu. Menjaga jarak, karena komunikasi yang intens dari dua budaya yang paradoks tak lain untuk mencegah timbulnya perang. Disinilah multikulturalisme mempunyai batasnya. Dua budaya tidak bisa dicampurkan begitu saja seperti dalam semangkuk salad (salad bowl).
Integrasi justru terkadang membawa persoalan lainnya. Kembali kedalam catatan riset saya misalnya, konflik di Maluku pada tahun 1999 menunjukkan bahwa perang terjadi ketika orang Ambon Islam dan Kristen sudah demikian bersatu dan hampir tidak terlihat berbeda. Keduanya sama-sama mampu mengakses pendidikan, kesehatan dan birokrasi. Dengan kata lain, konflik muncul justru ketika terjadi integrasi. Kalau melihat pada kasus serupa, generasi kedua Maluku di Belanda misalnya, dalam riset saya ( 2010), kekerasan tertinggi dengan masyarakat tuan rumah justru terjadi ketika generasi kedua orang Maluku di Belanda pada tahun 1970an. Generasi kedua bukan hanya kecewa melihat orang tua mereka, generasi pertama, yang diperlakukan buruk oleh pemerintah Belanda, tapi juga karena generasi kedua ini mulai memasuki fase integrasi dengan masyarakat Belanda.
Permasalahan abad 21 adalah pengungsi. Pada saat ini kita mengalami fenomena gelombang pengungsi terbesar pasca perang dunia kedua. Krisis kapitalisme global dan konflik karena invasi kapitalisme telah melahirkan jutaan pengungsi yang berpindah melintasi Negara. Dalam struktur sosial, pengungsi menempati satu klas baru yang paling rendah dari klas buruh sekalipun. Karena mimpi pengungsi adalah yang penting mendapatkan pekerjaan, sekecil dan se-buruh apapun di Negara tujuan. Bahkan, konflik yang seringkali terjadi adalah buruh klas Bawah berhadapan dengan pengungsi yang saling berebut pekerjaan. Pertanyaannya kemudian adalah, maukah kita menjadi tetangga dari para pengungsi ini? Kita sering menaruh simpati dan bahkan dukungan terhadap para pengungsi, tapi belum kita mau jadi tetangga dekat mereka.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s