Mengapa hantu Indonesia selalu perempuan?

14626-7-film-suzanna-yang-bikin-lo-nggak-bisa-tidur

Pertanyaan ini sebenarnya bukan hanya berlaku di Indonesia. Di berbagai kawasan Asia Tenggara, dari Malaysia, Thailand hingga Burma, dari ceritera rakyat hingga film-film horor, perempuan adalah figur yang paling mengerikan sebagai hantu. Di Indonesia, kita punya figur hantu Mak Lampir, Nini Pelet, Nyi Blorong, Sundel Bolong, Pontianak, sampai Nyi Roro Kidul adalah figur hantu perempuan yang paking ditakuti dalam ceritera rakyat. Di dunia perfilman,  Suzanna adalah ikon hantu paling mengerikan yang pernah ada dalam sejarah modern film horor Indonesia. Pertanyaannya mengapa perempuan? Mengapa hantu-nya bukan Zainal Abidin atau WD Mochtar, dua tokoh yang sering menjadi figur bapak otoriter dalam film jaman rejim Orde Baru?

Saya mempunyai beberapa penjelasan secara antropologis. Hampir semua struktur kekerabatan di Asia Tenggara dan Jawa bersifat bilineal. Dalam artian, dua kekuasaan diberikan seimbang antara laki-laki dan perempuan. Misalnya, untuk urusan harta warisan. Ini berbeda dengan tradisi Islam yang memberi warisan lebih kepada anak laki-laki. Perempuan mempunyai posisi tawar tinggi. Harta warisan rumah dan urusan domestik, biasanya diberikan kepada anak bungsu atau kepada perempuan, sehingga seringkali perempuan digambarkan menjadi penghuni rumah, bahkan kelak hingga ia mati, ia masih menghantui tata urusan warisan di generasi selanjutnya. Di beberapa perkebunan teh atau kopi di Jawa, klas hantu paling mengerikan selalu perempuan, karena dalam hidupnya, perempuan banyak mengurusi warisan dan properti yang dijatuhkan kepada mereka.

Pada struktur kekerabatan patrilineal, seperti di Batak dan Maluku, garis marga ditarik dari garis laki-laki. Sepintas, laki-laki tampak mempunyai kekuasan. Tunggu dulu, pada praktik keseharian, perempuan justru mempunyai kekuasaan yang lebih dibanding laki-laki. Memang yang menciptakan jodoh itu Tuhan, tapi mama/ibu lah yang mengaturnya. Coba perhatikan, ada berapa orang Ambon atau orang Batak, yang gagal menikah dengan perempuan yang dicintainya, hanya karena mama/ibu nya tidak setuju. Sedangkan si bapak selalu anteng-anteng saja dan cenderung mengikuti keinginan anak laki-lakinya. Ibu kemudian justru menjadi sosok yang ditakuti. Studi antropologi James Hagen (1996) di Seram Selatan, Maluku, menunjukkan bahwa banyak dari anak laki-laki yang membawa lari tunangannya hanya karena ibunya tidak setuju dalam hubungan mereka.
Dalam pandangan saya, struktur masyarakat orang Indonesia itu lebih didasarkan pada usia daripada perbedaan gender seperti dalam ideologi feminisme barat. Orang menghormati orang lain buka karena perbedaan jenis kelamin, tapi karena perbedaan usia. Itu kenapa, jika anda sering bercakap-cakap dengan orang asing di terminal atau di kereta, pertanyaan yang sering ditanyakan adalah “umurnya berapa mas?” Bukan, “jenis kelaminnya apa mas?” Karena dengan bertanya umur, si penanya dapat menempatkan dirinya, apakah ia tengah berbicara dengan orang yang lebih tua, muda atau yang sebaya dengannya. Begitulah orang Indonesia menempatkan kehormatan. Tidak heran jika semakin berusia seorang perempuan, semakin ia dihormati. Perempuan Indonesia dihormati ketika ia memasuki masa menopause. Berbeda dengan perempuan di Barat yang semakin sendiri dan kesepian dalam usia tuanya, perempuan di Indonesia justru semakin sibuk. Ia mengurusi cucu-cucunya dan semakin dihormati oleh anak-anaknya. Perempuan berusia lanjut, di Indonesia cenderung menghabiskan waktunya untuk beribadah. Perempuan berusia lanjut sangat dipatuhi dan tidak lagi bergantung pada suaminya (yang mungkin sudah meninggal). Perempuan berusia lanjut juga cenderung menjadi manajer di dapur ketika bekerja. Ia tinggal memerintah saja bumbu-bumbu apa saja yang harus dimasukkan dalam masakan. Perempuan mempunyai usia harapan hidup yang lebih panjang dibanding laki-laki, sehingga usia penghormatan terhadap dirinya juga jauh lebih panjang. Karena itu, figur perempuan bukan saja menjadi dihormati tapi sekaligus disegani dan dibentuk citranya menjadi menakutkan dalam berbagai mitologi.
Terlepas dari banyaknya diskriminasi terhadap perempuan, saya justru melihatnya dari sisi kacamata sebaliknya. Modernitas mengubah relasi jender dalam rumah tangga, dimana perempuan bisa menjadi kepala keluarga karena ia yang memasok kebutuhan ekonomi. Hal ini lah yang menimbulkan kecemasan laki-laki. Keberadaan hantu perempuan merupakan alam bawah sadar, ketakutan masyarakat modern terhadap perempuan. Perempuan mempunyai kuasa dalam properti, manajer di dapur, dan mengirim uang dari hasil kerja migran mereka (remittance). Dalam berbagai studi antropologi, perempuan mempunyai kekuatan lebih dibanding laki-laki dalam memendam hasrat mereka terhadap seks dan uang. Itu kenapa perempuan seringkali menjadi manajer dan pengaturan keuangan dalam rumah tangga.
Di perspektif yang berbeda, antropolog Aihwa Ong melihat perempuan dan hantu dalam perspektif ekonomi moral. Dalam studinya tentang buruh di Selangor dan Kedah, Malaysia (1987) ia menunjukkan bahwa perempuan buruh dianggap mempunyai moralitas yang longgar karena mereka jauh dari sanak famili, jauh dari kontrol saudara laki-laki, bisa pulang ke kos jam kapanpun dan tidak ada pengawasan yang ketat. Perempuan buruh juga menghabiskan uangnya untuk membeli pakaian dan kosmetik, tidak memenuhi aturan kampung dan mempunyai hubungan yang lintas batas ras dan etnis. Bahkan tak sedikit buruh perempuan yang berpacaran dengan etnis Cina. Karena itu, gambaran pengekangan terhadap perempuan sebenarnya menunjukkan moral anxiety atau kecemasan moral dalam struktur patriarki. Daerah buruh industri Malaysia, yang kebetulan dikuasai oleh partai konservatif PAS (Partai Islam se-Malaysia), mengharuskan perempuan baik-baik saja sesuai harapan laki-laki. Karena itu, perempuan yang moralnya lemah mudah sekali terkena hantu, atau kerasukan setan. Dibanding laki-laki, banyak buruh perempuan yang mudah sekali kerasukan jin/setan di sekitar wilayah pabrik.
 Picture1.png
(Bomoh, pengusir setan yang sering membantu buruh pabrik kesurupan. Fotonya sering dipajang di dinding-dinding pabrik)
Aihwa Ong mensinyalir histeria buruh perempuan yang kerasukan setan di kawasan pabrik ini karena dikekangnya kebebasan mereka. Buruh perempuan yang terasuki setan atau kena hantu adalah mereka yang mengalami masa transisi dari perdesaan ke wilayah urban. Mereka berpindah dari sistem pekerjaan desa yang santai menuju pendisiplinan pabrik.
Kerasukan setan juga sekaligus menunjukkan perlawanan terhadap otoritas laki-laki yang direkonstruksi dalam mode kapitalisme pabrik. Kerasukan setan, bahkan nantinya perempuan muncul sebagai wujud hantu merupakan kemarahan terhadap tekanan laki-laki, beban kerja yang tidak manusiawi, pelecehan seksual, dan upah yang tidak naik. Ditambah keharusan perempuan untuk mengirim remittance atau uang untuk menghidupi keluarga di desa asal mereka. Dengan kata lain, perempuan kerasukan setan/kena hantu di wilayah pabrik juga merupakan tindakan passive agresive atau perlawanan tidak langsung karena tingkat stress yang tinggi namun tidak dapat diekspresikan. Yang terpenting pula, perempuan kerasukan setan juga mempunyai irisan paralel dengan tidak adanya labor union atau sarekat kerja khususnya untuk perempuan, sehingga keluhan-keluhan buruh perempuan tidak dapat disampaikan dengan baik.
Hantu perempuan, lahir dari masa transisi kapitalisme dari masyarakat pertanian ke industri. Transisi ini menggiring ambiguitas laki-laki dalam melihat peran baru perempuan sebagai pekerja. Studi menarik dari Mary Beth Mills (1995) tentang serangan “Hantu Janda” (Phii mae maai) di Isan, Thailand Timur Laut menunjukkan sinyalir diatas. Isan adalah daerah miskin perbatasan Thailand dan Laos, yang paling banyak memproduksi buruh migran perempuan ke Bangkok. Bahkan mayoritas pekerja seks di Bangkok berasal dari desa Isan. Hal ini membuat frustasi bagi suami-suami yang ditinggalkan di desa yang  hanya bekerja sebagai petani. Pada saat yang sama, mereka tidak bisa menekan perempuan untuk bekerja di Bangkok, karena biaya hidup modern di Isan meningkat, seperti biaya sekolah, transportasi, kesehatan hingga pembelian pupuk untuk pertanian. Modernitas, kemudian berelasi dengan tingkat kecemasan bagi laki-laki yang tidak mampu menselaraskan biaya hidupnya.
Pada tahun 1990an, tingkat kecemasan dan kerentanan memuncak sehingga isu Phii mae maai atau serangan hantu janda sebagai roh jahat meruyak di segala penjuru desa Isan. Hantu janda ini digambarkan haus seks dan menyasar para perjaka di Isan. Untuk melindungi serangan hantu janda yang dipercaya mampu menyebabkan sakit dan kematian, warga kemudian memasang patung phallus (berbentuk kontol) terbuat dari kayu yang dipasang di depan gardu kampung. Untuk perlindungan, beberapa laki-laki juga menggunakan jimat kontol-kontolan ini di pergelangan tangannya, atau yang disebut dengan phalat khik. Menariknya, untuk menghindari serangan hantu janda, banyak dari laki-laki yang berdandan waria, seperti perempuan (male transvestite). Mereka mengenakan daster, bedak dan gincu agar Phii mae maai tidak tertarik.
received_1518017394980903.jpeg
(Phalat khik)
Kemunculan Phii mae maai adalah kecemasan dunia laki-laki terhadap perubahan modernitas di desa sekaligus kecemasan terhadap kekuatan perempuan yang mampu beradaptasi terhadap modernitas, dengan cara meningkatkan mobilitasnya sebagai buruh migran. Pemasangan phallus laki-laki ditujukan untuk memuaskan Phii mae maai yang digambarkan haus seks, tapi sekaligus digambarkan rakus terhadap dunia kerja modern. Namun, ketakutan terhadap janda haus seks ini merupakan kebalikan dari realitas  sebenarnya bahwa perempuan diharuskan pasif dalam seksualitas. Dalam realias keseharian, laki-lakilah yang aktif dalam hal seks, hingga sering jajan ke prostitusi kalau ada uang berlebih.
Studi Mary Beth Mills ini mirip dengan kajian Michael Taussig, The Devil and Commodity Fethisisim in South America (1980). Para petani di Kolumbia, berubah menjadi buruh perkebunan. Mereka mendapatkan uang dengan mudah, namun cepat sekali terjerat dengan hutang karena hasrat konsumsinya yang tinggi. Kapitalisme dan modernitas kemudian dianggap seperti hantu atau setan yang bukan hanya menimbulkan kecemasan, tapi juga kemelaratan. Melalui kepercayaan dan ritual terhadap setanlah, buruh perkebunan kemudian mengakui bahwa kapitalisme mempunyai kekuatan magis yang bahkan dapat membuat orang meninggal dalam keadaan melarat.
Mengapa figur hantu mengerikan selalu perempuan kini mulai terungkap. Ia hadir seiring dengan kecemasan laki laki dalam menyikapi transisi pra kapitalis ke industri kapitalisme. Figur hantu perempuan menunjukkan bentuk ketakutan masyarakat patriarki, sekaligus frustasi terhadap modernitas yang mewajibkan orang untuk harus selalu maju dan mampu bersaing. Terakhir, norma kecemasan ini diproduksi dalam ratusan film horor Indonesia  yang menggambarkan hantunya sebagai perempuan. Jika  pengusir hantu dalam film versi lawas Pengabdi Setan (1980) adalah seorang agamawan/ustad dan kini ia justru mati dibunuh oleh setannya (2017). Tapi ada satu hal yang belum berubah dan mungkin tidak akan pernah berubah, bahwa figur hantunya tetaplah perempuan.
Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s