Dari Agen ke Struktur: Mitos dan Rumor di Maluku

Tulisan ini berawal dengan antusiasme saya membaca disertasi Dieter Bartels, antropolog yang telah menghabiskan waktunya meneliti Maluku selama kurang kebih 40 tahun. Bartels menyelesaikan studi doktoralnya dari Universitas Cornell pada tahun 1977. Disertasinya setebal 370 halaman membahas tentang aliansi antar kampung dan relasi orang Islam dengan Kristen. Disertasi yang baru saja dibukukan ini menarik karena kuatnya kepercayaan orang Maluku terhadap mitos dan sejarah oral yang diturunkan antar generasi. Hingga di daerah perkotaan, anak-anak muda Maluku sangat percaya dengan mitos-mitos dari generasi yang lebih tua. Karena itu, saya mempertanyakan bagaimana mitos tersebut ditransformasikan menjadi kepercayaan masyarakat urban dan menjadi praktik politik yang mempunyai kekuatan konkrit.

Dengan menganalisis genealogi mitos dalam ceritera rakyat, kita dapat menelusuri rumor dan gosip yang terjadi di ranah orang maluku modern. Lantas apakah mitos dan rumor itu? Dalam pandangan saya, rumor adalah harapan seseorang. Misalnya, jika seseorang menyebarkan rumor bahwa A dan B akan bercerai, bukan masalah rumor itu benar atau tidak, atau kebenarannya tertunda. Melainkan, rumor adalah harapan orang yang menyebarkan dan mewacanakan rumor tersebut bahwa A dan B sebaiknya bercerai. Karena itu, mitos bahwa orang Maluku berasal dari satu asal usul (gunung, gua dll) adalah harapan bahwa mereka berasal dari satu saudara kandung. Sedangkan rumor soal perpecahan, misalnya Islam-Kristen, adalah kepercayaan bahwa mereka memang mempunyai nenek moyang yang dulunya terpisah karena kepercayaan yang berbeda. Dengan demikian, melalui mitos dan rumor, kita dapat melihat dialektika antara persaudaraan dan konflik yang ada pada orang Maluku.

Figur dalam Perang dan Saudara:

Genealogi mitos di Maluku selalu dimulai dengan sejarah antar dua subjek. Mitos kemudian menyebar menjadi struktur secara luas. Hampir semua cerita rakyat orang Maluku dimulai dua subjek yang berasal dari satu wilayah (gunung, gua, batu) yang terpisah karena bencana alam, banjir, atau karena perselisihan paham. Subjek/individu mempunyai peran dalam menginisiasi munculnya struktur marga, agama dan nama sebuah tempat. Kemampuan mengubah ini saya sebut agen. Figur agen juga dapat mengubah sktruktur dalam masyarakat. Saya ambil contoh, muasal antara Hitu dan Nusaniwe yang dinisiasi oleh dua saudara laki-laki dan satu perempuan dari Tuban, Jawa Timur yang bermigrasi ke Maluku. Dua laki-laki ini memutuskan tinggal di Hitu, sedangkan saudara perempuan mereka tinggal di Nusaniwe. Mereka berjanji untuk tidak menikah. Struktur kemudian berkembang, Hitu menjadi Muslim dan daerah Nusaniwe adalah representasi Kristen. Kisah ini mirip dengan tiga tempat di Pulau Ambon, yakni Hative Besar, Hila dan Wakal adalah berasal dari dua saudara laki-laki dan satu perempuan yang memutuskan berpisah. Hampir semua kampung di Maluku Tengah, seperti Haria, Siri-Sori, Hutumuri dan Waai juga digambarkan demikian. Nenek moyang mereka adalah figur yang bermigrasi dari Seram. Hampir semua laki-laki memeluk Muslim, sedangkan saudara perempuan memeluk Kristen. Di wilayah Hatiwe besar misalnya, mereka memeluk Katolik.

Cerita yang mencolok lainnya adalah tentang Tuwa Saija dari Waetui, Pulau Seram. Ia dan enam saudara laki-lakinya bermigrasi dari pedalaman Seram. Masing-masing dari mereka tinggal terpisah dan mendirikan kampung baru seperti Aboru, Tihulale, Hualoi di Pulau Seram. Sedangkan sisanya berlayar dan tinggal di Pulau Haruku, seperti di Aboru, Kariuw, Haria. Dan saudara yang paling bungsu mendirikan kampung Booi di Pulau Saparua. Perang menjadi rumit ketika terjadi antar klan dan kampung yang masih bersaudara. Satu sama lain harus mendukung saudara, meski sebenarnya saudara mereka berada dalam posisi salah. Tuwai Saija pernah marah dengan anak perempuan Sultan Amaika, karena menolak proposal pernikahannya. Penghinaan ini akhirnya melibatkan enam saudara yang tinggal di kampung berbeda untuk mendukung perang dengan Tuwa Saija. Sedangkan Sultan Amaika didukung oleh tiga kampung: Amakihu, Riumete dan Asalaloi.

Yang menarik dari orang Maluku, baik Kristen maupun Islam, meskipun kultur pernikahan mereka bersifat exogami (pernikahan keluar kampung), ironinya, hampir semua cerita rakyat di Maluku justru dipenuhi dengan perang antar kampung. Perang menunjukkan bahwa pernikahan antar kampung tidak selalu memuluskan aliansi dan mengintegrasikan budaya Maluku dalam kesatuan harmoni. Padahal, pernikahan endogami (antar klan atau satu kampung) justru tidak dianjurkan karena hal tersebut mencegah terbukanya pertukaran dan aliansi antar kampung. Secara teoretis, tentu kita bisa mengacu pada pandangan antropolog Marilyn Strathern, yang meneliti masyarakat Melanesia dalam buku The Gender of the Gift (1988). Strathern menyebutkan tubuh individu terdiri dari “partible” atau sebagian komposisinya juga mewakili sebagian komunitas. Individu mendapatkan bagian dari komunitas tercapai melalui pertukaran sosial dengan masyarakat lainnya. Contoh paling gamblang adalah pertukaran pernikahan di Maluku yang bersifat eksogami. Karena itu, Strathern juga menyebutnya sebagai “colelctive individual”. Individu adalah bagian dari komunitas kolektif yang dicapai melalui pertukaran. Teori ini cukup menjelaskan munculnya mitos dan rumor, sekaligus model konflik komunal yang sering terjadi di Maluku.

Bartels juga menunjukkan sebuah definisi pela yang sangat menarik. Istilah pela-gandong muncul dari kultur perang yang demikian intensif antar kampung. Di beberapa tempat seperti Nalahia, Titawai, Amahai dan Kailolo, mereka mendifiniskan pela sebagai “cukup sudah”, “selesai sudah”, “mulai berbenah”. Pela didefinisikan sebagai awal pembenahan kampung setelah perang. Pela bertujuan untuk mencapai keseimbangan hidup dan perdamaian, dan struktur dialektisnya dilalui melalui perselisihan dan negosiasi. Dan jika kita mengacu pada daerah-daerah diatas yang mendefinisikan pela sebagai “cukup sudah” adalah daerah-daerah yang dulunya terisolir dan  mempunyai kultur pemburu kepala (headhunting).

received_1526815064101136.gif

(Peta jaringan pela di Maluku. Nunusaku project)

Melalui disertasi Dieter Bartels pula kita tahu bahwa cerita rakyat orang Maluku penuh dengan peperangan antar kampung atau antar klan dimulai dari peran individu dan berakhir dengan perjanjian pela, misalnya antara orang Akoon dari Nusalaut dengan Apisano dari seram. Nalahia dari Nusalaut dengan Waraka dari Seram. Pelaku perang juga sering menjadi korban perang sehingga melibatkan kampung dimana individu berafiliasi.

Bahkan asal usul sebuah tempat dipercaya dari hasil konflik dua kampung yang berkepanjangan. Sebagai misal, sebuah kawasan bernama Tala di Kairatu, Seram Barat adalah tempat dimana orang-orang pindah dari Honitotu karena perang yang berkepanjangan dengan orang-orang Ahiolo dan Noloth di Pulau saparua. Individu dianggap mewakili kesatuan kampung. Dua individu secara metafora disimbolkan oleh dua identitas yang beroposisi biner, hitam putih, laki-laki perempuan. Mereka biasanya adalah dua saudara kandung yang pada akhirnya berpisah karena melakukan migrasi. Untuk menjadi kelompok yang kuat, masing-masing individu mencari aliansi dengan individu lainnya. Sebagai misal, munculnya kawasan tua, Amahusu dan Hatalai, yang teletak di barat laut Pulau Seram dimulai dari pola diatas. Duel berdarah terjadi sebelum akhirnya dua wilayah ini mencapai kesepakatan damai dan membangun relasi.

Mitos lainnya adalah tentang penguasa gelap dan putih. Maatitah meten (penguasa gelap) misalnya, mengacu kepada orang-orang Amahusu dan mereka merepresentasikan dirinya sebagai laki-laki sekaligus saudara tua. Sedangkan Maatitah putih (penguasa putih) mengacu pada orang-orang Hatalai dan aliansinya yang sekarang tinggal di sebuah tempat yang dinamakan Urimessing. Cerita berdarah kembali berlanjut ketika seorang kapitan dari Soya menuntut dendam terhadap anak perempuannya yang diambil oleh seorang kapitan dari Urimessing. Karena itu, konflik dan perdamaian merupakan relasi yang terus berdialektika dan selalu bergulir.

Sebelum menyebarnya perang antar klan, peperangan antar individu juga sering disebabkan oleh masalah cinta antara seorang istri dengan orang asing dari klan luar, atau perkelahian antar dua kapitan yang mempunyai kekuatan seimbang. Perang antar kampung juga disebabkan permasalahan klaim wilayah hingga soal mempertahankan kehormatan dari klan lainnya.  Sebagai misal adalah cerita perkelahian dua wilayah bertetangga antara seorang dari Kilang yang menghamili seorang anak perempuan dari Hukurila, dan laki-laki Kilang ini memperlakukan perempuan ini dengan sangat buruknya. Untuk mencapai perdamaian, orang-orang Hukurila mengadakan perang dan membantai orang-orang dari Kilang. Dalam cerita lainnya, perang serupa juga terjadi antara orang-orang Oma di Pulau Haruku dan Kulur di Pulau Saparua.

Figur di rumor terkini: 

Mitos perang dalam cerita rakyat ini tidak hanya terjadi di masa prakolonial. Saya akan tunjukkan bahwa pola dari individu ke struktur ini persis seperti antar agama di tahun 1999. Hampir semua konflik dimulai dari individu yang kemudian merepresentasikan kolektif etnis, agama, dan yang lebih belakangan ini adalah konflik antar kampunh. Pencetus konflik 1999 misalnya, ia hadir seperti pola cerita rakyat diatas yang kemudian dua pelaku ini kabur perannya ketika konflik menjadi terstruktur.

Pada sebuah sore, Januari 1999, seorang anak muda Muslim dari kampung Batumerah memalak seorang sopir Kristen bernama Jopie Saiya. Seperti biasa, setiap sopir harus membayar ke preman setiap kali memasuki terminal. Kali ini Jopie tidak memberi karena pemalak tersebut meminta uang lebih. Jopie lantas dipukul dan ditikam. Ia sempat lari, kemudian mengadu kepada beberapa teman. Mereka kembali ke tempat kejadian dengan membawa parang, namun disana telah disambut dengan rombongan Muslim yang justru kembali mengejar Jopie hingga daerah berbatasan dengan Kristen, Mardika. Ketika perseteruan melebar hingga menjadi konflik komunal, figur Jopie dan preman pemalak hilang.

Narasi diatas, kalau diperbandingkan, mempunyai struktur yang serupa dengan kisah cerita rakyat, Tuwa Saija yang berkonflik secara personal, hingga akhirnya melibatkan beberapa kampung Kristen versus kampung Islam. Persis juga dengan asalah usul terpisahnya dua orang dan terciptanya dua kampung, dan terciptanya pela. Meski menurut berbagai surat kabar, preman pasar dan Jopie telah diproses di pengadilan. Tidak lagi banyak yang menaruh perhatian pada cerita konflik antar dua individu ini. Ia telah kabur dan hilang seiring perang terlanjur membesar dan terstruktur.

Selama perang, subjek yang memulai konflik berpindah menjadi mitos dimana orang hampir tidak bisa membuktikan, kecuali percaya melalui kata-kata dan rumor yang tersebar. Dalam hal ini, figur yang menjadi subjek cerita kemudian hilang menjadi agen yang seringkali disebut provokator. Meski provokator sering disebut penyebab konflik, namun ia hampir tidak pernah tertangkap dan terbukti menjadi pelaku yang sesungguhnya. Meski demikian, orang percaya bahwa mereka eksis. Tanpa figur provokator, hampir tidak ada jalan orang mengekspresikan kemarahan secara komunal. Ketika kepercayaan telah menjadi komunal, orang tidak perlu pembuktian. Dengan kata lain, konfirmasi hanya menimbulkan kekhawatiran terhadap validasi kepercayaan. Khususnya kepercayaan terhadap mitos yang meleganda, yakni cerita antara dua orang yang berpisah/bertengkar, namun memungkinkan mereka membentuk komunitas berbeda. Dua individu membentuk kampung-kampung, asal-usul orang Maluku pada saat ini. Dari sana orang Maluku mengartikulasikan identitas dan ekspresi emosinya sebagai fakta yang objektif.

Sistem kerpecayan dalam konflik yang dimulai dari individu adalah konvensi sosial. Ia seringkali berulang dalam sejarah. Orang Maluku percaya bahwa mereka berasal dari satu perut, meskipun nantinya identitas mereka terpisah karena oposisi dari dua individu. Perpisahan dua individu mempunyai fungsi membentuk kepemilikan identitas kolektik. Karena itu, jika kita perhatikan, dalam konflik, individu yang memulai konflik tidak dilihat sebagai orang yang mengancam kolektivitas atau komunitas kampung. Individu ini justru dianggap sebagai bagian dari kerangka besar kosmologi yang mengafirmasi kepercayaan terhadap mitos pembentukan identitas kelompok, misalnya kampung kampung Islam dengan Kristen.

Namun demikian, meski agen menyebabkan perpecahan antar klan, ketika terjadi janji aliansi seperti pela, semua kepentingan individu menjadi hilang. Tujuan dari pemudaran peran agen yang menjadi penyebab perpecahan adalah untuk memudahkan konsolidasi komunal berdasar kesatuan kampung atau agama.

Sebagai penyeimbang, saya tidak mengatakan bahwa semua aliansi dan persahabatan di Maluku dimulai dari konflik. Tentu salah besar. Dalam pela, ada begitu banyak perjanjian yang tidak dimulai dari perang berdarah-darah. Khususnya dalam “pela barang” dan “pela gandong”, pela yang baru ditemukan pada abad 19, merupakan reaksi sesama orang Maluku untuk tolong menolong menentang monopoli perdagangan Belanda. Pela juga muncul dari saling menolong warga kampung yang terkena bencana, saling menukar produksi makanan. Banyak pula pela yang muncul karena seseorang kehabisan makanan atau haus di tengah perjalanan di laut yang kemudian ditolong oleh warga kampung lain. Dengan demikian, saya tidak bermaksud menyajikan warna yang mendung dan pesimistik tentang relasi orang Maluku. Namun dengan melihat agen dan struktur sangat bermanfaat untuk menelusuri pola konflik yang berlaku di masa lalu dan kemungkinan terjadi di masa depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s