Dari Sagu ke Sarimi: Enam perubahan sosial di Pulau Seram

 

Jika kita menelusuri laporan antropologi dan sejarah tentang pulau Seram, maka perubahan sosial yang paling nampak di pulau ini adalah meningkatnya perpindahan dari masyarakat gunung ke pesisir. Penduduk di Kairatu, Seram Selatan misalnya, mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat setelah abad 19. Layaknya studi-studi dikotomi dataran tinggi dan rendah, orang yang tinggal di gunung dianggap masih memegang adat dan belum punya agama. Inilah ukuran ketertinggalan. Roy Ellen dalam bukunya Nuaulu Settlement and Ecology (1978) mencatat bahwa tujuan orang-orang seram dipindahkan, sejak jaman kolonial, ke dataran rendah agar mereka mudah dikontrol.
23845212_1551130101669632_1465711386_n
(Acara makan bersama setelah kerja gotong royong/Masohi)

Saya menyimpulkan dari berbagai catatan para antropolog dan sejarawan tentang masyarakat Seram yang mengafirmasi kemajuan. Pembangunan negara bagi orang Seram diserap seperti logika konsumsi. Pasar dan konsumsi pakaian, makanan instan sarimi, televisi, hingga kendaraan roda dua dibeli dengan antusias, seperti juga ketika masyarakat menerima bantuan material pembangunan untuk rumah, masjid, gereja dan baileo (rumah adat). Keduanya mirip. Keinginan untuk terlihat maju dan modern inilah yang membuat kondisi masyarakat Seram berubah.

Di tulisan ini saya mencatat enam unsur yang paling jelas dalam melihat perubahan sosial di Seram, Pertama anak muda dan hirarki politiknya. Kedua rumah. Ketiga Pakaian. Keempat Makanan. Kelima pengelolaan tanah dan tanaman komersial. Dan keenam, agama dan pernikahan.

  1. Anak muda, hirarki dan politik:
Banyak anak muda yang sudah tidak begitu mengenal nenek moyang mereka dan tidak mau dianggap primitive. Tapi mereka sangat percaya terrhadap kutukan dan ilmu ghaib. Hal yang paling terlihat adalah anak tidak begitu memahami tabu dan larangan pada hutan. Pada beberapa larangan memetik buah bahkan mulai dipasang dengan ancaman “matakau lepra” karena banyaknya pencurian. Matakau adalah ajimat (charms) yang biasanya disebar di pohon-pohon dan kebun yang dilindungi.

Sejak Orde Baru hingga kini, yang tidak berubah adalah terus adanya program “pembangunan”. Raja atau kepala desa memegang peranan penting dalam mengatur semua aliran dana dan rapat-rapatnya. Namun, raja dihormati karena klaim otoritasnya yang lebih dekat dengan nenek moyang, penjaga moral dan mempunyai kekuatan gaib di kampung. Namun, anak muda yang mengenyam pendidikan tinggi paham bahwa raja juga agen politik. Raja dan para tetua kampung yang putus asa menerima banyak uang dari investor untuk memajukan desanya. Pilihan ini merupakan cerminan di masyarakat Indonesia, bahwa ekonomi kita sangatlah liberal, tapi masyarakatnya sangatlah konservatif.

Namun anak muda tetap menghormati raja sebagai “orang tua tua”. Karena itu kritik anak muda seringkali tidak disampaikan secara terbuka kecuali melalui rapat rapat formal di balai desa atau di gedung dewan perwakilan daerah. Rapat dan pertemuan dibuat seperti ritual dimana para tetua kampung mendapatkan kesempatan berbicara di awal dengan sangat panjang.

Sejak kampung menerima uang yang melimpah dari investator dan bantuan pemerintah, desakan transparansi penggunaan dana semakin menguat. Mereka yang mendesak datang dari kalangan muda. Untuk mengantisipasi gejolak di kampung, beberapa anak muda kini dilibatkan dalam administrasi kampung karena mereka dianggap punya ide-ide cemerlang dan lebih jujur. Perubahan ini sekaligus menunjukkan lembaga-lembaga adat juga mau berubah dan transparan karena desakan demokrasi. Tidak lagi seperti dalam laporan seorang etnolog bernama Frank Cooley dalam bukunya Altar and throne in central Moluccan societies (1966) ). Secara kaku ia mempertentangkan lembaga desa administrasi sebagai institusi modern dengan lembaga adat sebagai institusi  tradisional yang mementingkan kerabat terdekat. Padahal, saat ini, institusi-institusi adat mempunyai kehendak untuk transparan dan akuntabel seperti yang diinginkan oleh semangat demokrasi.
Anak muda juga sangat menghormati guru dan pemuka agama beserta keluarga mereka. Alasan paling utama tentu karena mereka tidak terlibat politik seperti raja. Sedangkan untuk pemuka agama, pendeta atau bapa imam lebih dihormati karena mereka dianggap dekat dengan Tuhan.

  1. Rumah:
Jika kita bandingkan dengan laporan perjalanan Jensen seorang etnolog Jerman di Seram barat pada tahun 1948, rumah-rumah di Seram saat ini sudah begitu berubah. Banyak yang tidak lagi terbuat dari bahan sagu. Material rumah sudah modern terbuat dari jendela kaca dan batu batako. Beranda lantai dan ruang tamu terbuat dari ubin yang dingin di siang hari. Seringkali orang tidur siang di beranda lantai karena cuaca yang panas.

Dapur tidak lagi terbuat dari bambu dengan kayu sebagai bahan bakarnya. Beberapa rumah tangga masih menggunakan kayu sebagai cadangan minyak tanah. Dapur dibuat berukuran luas karena disinilah tempat yang paling intim untuk berbincang. Tamu yang formal duduk di ruang tamu, sedangkan tamu yang dekat secara emosional seringkali langsung menuju pintu dapur. Laki-laki menguasai ruang tamu. Namun perempuan menguasai dapur yang justru menjadi sentrum relasi sosial dan keintiman.
Banyak pemilik rumah yang menunjukkan relijiusitasnya dengan memasang gambar agama di dinding ruang tamu. Tuan rumah Muslim memasang gambar Ka’bah. Sedangkan tuan rumah Kristen memasang figur Yesus. Di akhir konflik agama tahun 2004, warga kampung juga memasang foto mereka  dengan tentara yang pernah bertugas di daerahnya. Mereka menyebutnya sebagai “anak piara”.

Dari relasi dalam rumah kita juga ketahui bahwa kekuasaan tidak lagi seperti dalam catatan Frank Cooley, dimana laki-laki memberi komando dan menjadi kepala rumah tangga. Ruang dalam rumah menunjukkan bahwa kekuasaan dibagikan secara otonom. Laki-laki di ruang tamu, dan perempuan di dapur. Demikian juga, rumah yang dulunya sering diwariskan kepada laki kaki karena perempuan menikah keluar (eksogami), dan tinggal mengikuti suami dari luar kampung. Namun kini, siapapun yang bekerja keluar, yang tinggal di rumah dan punya banyak waktu menjaga tua orang tua, berhak mewarisi rumah. Mereka yang mewarisi rumah, otomatis juga mewarisi kebun. Sistem ini saya temukan di wilayah riset saya di Seram Selatan, khususnya di perkampungan Buton. Sedangkan di desa Kristen, Kampung Soahuku misalnya, warisan kepada garis laki-laki masih sangat kuat karena para petani Buton telah bekerja dengan tunah tanah Kristen sejak dari orang tua hingga anak laki-lakinya.

  1. Pakaian:
Tidak ada lagi orang berpakaian seperti dalam tulisan lawas para etnolog yang menggambarkan orang Seram dan Maluku Tengah meggunakan tree bark atau pakain dari kulit kayu. Pakaian modern tentu dapat dilihat pada anak muda kristen yang ke gereja, apalagi dari mereka yang berstatus masih single (jomblo). Salah satu tujuan berpakaian dengan baik bagi para jomblo adalah untuk menarik perhatian rekan di usia merema. Pakaian mulai berwarna-warni dan tidak ada lagi yang bertelanjang kaki ke geraja atau hanya berpakaian hitam putih seperti dalam gambar sejarah orang Maluku yang ke gereja diawal abad 20. Anak muda tidak lagi mengunyah sirih pinang, melainkan “rokok buah” atau rokok bungkus yang bermerk. Namun ketika mereka tak punya uang, anak muda ini menggantikannya dengan tembakau gulung yang harganya berdasarkan berat/gram.

Sejak penekanan kaya miskin didasarkan pada konsumsi, banyak orang yang mengejar konsumsi secara mencolok. Berbagai observasi yang saya amati, konsumsi meningkat ketika panen cengkeh atau pala terjadi. Tiga atau dua bulan sebelum panen, para pedagang dari kota telah meletakkan barang-barang mereka di warung-warung dadakan di daerah penghasil cengkeh seperti Manipa  dan Olas di Seram Barat dan Laimu di Seram Timur. Bedak, lipstik dan parfum dijajakan hingga ke kampung-kapung. Ia menjadi hutang di kalangan ibu rumah tangga muda. Bahkan seorang tetua kampung di tempat penelitian saya berseloroh ‘Beta ini heran dengan kamong e (para perempuan), katong tinggal di desa sunyi begini, for apa beli parfum dengan kosmetik segala? mau kasih tunjuk buat siapa?”

  1. Makanan:
Hal yang paling mencolok adalah masyarakat tidak lagi menggunakan minyak kelapa olahan sendiri. Mereka lebih memilih minyak kelapa kemasan yang sudah tersedia di toko. Hampir tiap-tiap desa di Seram memproduksi sopi dan sageru sendiri. Minuman dikonsumsi secara masal ketika ada acara pesta. Sedangkan daging buruan seperti babi hutan dikonsumsi di daerah kristen, khususnya ketika sidi atau pengukuhan iman di gereja. Banyak pendeta yang melarang pesta dengan babi hutan karena dianggap hura hura dan memakan biaya banyak. Meski sangat menghormati pendeta, larangan ini seakan tak diindahkan. Babi hutan dan kuskus (marsupial cuscus) adalah buruan paling umum. Saya melihat beberapa pemburu kuskus menyajikan binatang ini untuk tentara yang bertugas di kampung perbatasan. Bersama sopi, daging ini dikonsumsi untuk menghormati tamu yang hendak berpisah.

Teh dan gula menjadi bahan paling dasar untuk ramah tamah menyambut tamu. Kadang disajikan dengan kadar manis yang tinggi. Manis adalah tanda modern karena semakin manis seperti menunjukkan keramah tamahan kepada tamu. Gula sangat penting karena ia juga menjadi bahan dasar membuat kue, pisang goreng dan roti yang dicampurkan dengan terigu. Penggunaannya semakin tinggi ketika hari raya iedul fitri atau ketika natal. Beberapa kampung yang masih mempunyai bahasa lokal, mempraktikkan bahasa mereka ketika berbicara tentang gula, beras dan uang. Tujuannya agar tidak diketahui oleh orang lain tentang stok barang-barang rumah tangga mereka. Sebagai misal, tuan rumah laki-laki menggunakan bahasa Buton Siompu bertanya pada istrinya apakah persediaan gula masih ada, karena ada tamu yang harus disuguhi dengan teh manis.

Rumah tangga desa mempunyai ternak minimal ayam yang dibiarkan berkeliaran. Di malam hari. Ayam ayam ini tidur di ranting-ranting pohon. Beberapa ayam dijual ketika pemilik membutuhkan uang kas secara cepat. Satu atau dua ayam dipotong ketika ada tamu penting atau untuk pesta perpisahan. Makan besar diadakan ketika tamu, seperti saya, pergi meninggalkan riset lapangan. Tanpa membeli, tuan rumah tinggal memilih ayam-ayam yang sudah berusia tua untuk dipotong.

Sagu menjadi makanan penting selain beras. Juga swami buat orang keturunan Buton. Swami adalah olahan dari ubi kayu yang diperas dan diambil sarinya. Proses pembuatannya mirip dengan sagu. Di beberapa daerah, padi endemik telah tumbuh dan dikerjakan komunal. Laporan klasik De Vries pada tahun 1927 dan Jensen pada tahun 1948, mencatat adanya padi ladang di Seram Selatan. Namun jenis padi ladang ini telah punah, dan saya hampir tidak menemukannya selama penelitian. Karena itu, konsumsi beras masih mahal karena ia diimpor dari Makasar, Jawa dan Buru. Masyarakat seringkali mengkonsumsi secara berkala, sagu dan ubi kayu atau disebut kasbi, dan ketela atau patatas. Makanan ini dimakan dengan ikan dan sambal (cili) dan tomat. Untuk umbi-umbian orang Seram tinggal mengambilnya di kebun. Begitu juga dengan daun pepaya, bambu muda untuk rebung, varian jamur, labu, dan daun kelor.

Masyarakat juga mulai mengonsumsi mi instan yang dicampurkam dengan telor dan ditaruh diatas nasi. Hal ini adalah sesuatu yang baru. Konsumsi mie instan meningkat seiring dengan tingkat perputaran uang kas di desa yang mengalir deras. Bergantinya lahan garapan ke cashcrop, atau tanaman komersial seperti kopi dan coklat, menyebabkan orang harus membeli beberapa kebutuhan dipasar, seperti sayur bayam dan sawi, dan bahkan mie instan.

  1. Tanah, kebun dan Tanaman komersial
Jika merujuk pada catatan Ellen (1978) hingga tahun 1970an akhir, orang tua-tua di Seram tidak begitu mengenal batas-batas dan ukuran tanah secara pasti. Bahkan ketika saya melakukan kunjungan ke Desa Sepa di tahun 2015, raja dan saniri negeri (dewan) baru saja mengukur luas desa mereka dan batas-batas tanah yang disewakan kepada pengusaha kayu. Batas-batas hanya ditandai oleh pohon besar ataupun aliran sungai.

Tanah digarap secara komunal berdasarkan keturunan kerabat. Siapapun dapat membuka hutan menjadi kebun. Mirip dalam gambaran Tania Li di bukunya Land’s End (2014) tentang petani di Lauje, Sulawesi Tengah, di Seram, mereka yang membuka hutan pertama kali, dan menanam, berhak mempunyai tanah tersebut. Di beberapa kampung Kristen, misalnya Soahuku, saya mendapati bahwa kebun diwariskan kepada anak laki-laki. Sedangkan istri atau anak perempuan hanya mempunyai hak guna, bukan hak memiliki. Kebun juga diwariskan ke anak mantu laki laki karena ia juga berkewajiban bekerja di kebun, berburu dan memukul sagu sebagai pelayanan, atau dalam bahasa antropologinya disebut bride service. Lantas, harapannya cucu laki-laki akan melanjutkan pengerjaan kebun tersebut. Karena itu, kebun menjadi alat perekat hubungan antara ayah dan anak laki laki atau dengan cucu laki laki. Sedangkan si anak mantu akan berpindah membuat rumah sendiri setelah sekitar dua tahun atau kurang. Dengan demikian tugas bride servicenya sudah selesai.

Pada beberapa kampung Buton, harta warisan lebih fleksibel. Jika saudara laki-kaki mendapatkan pekerjaan sebagai tentara, guru atau pegawai negeri, saudara perempuan dapat mengurusi kebun. Konflik tanah antar saudara jarang terdengar karena orang tua mewariskan masing masing kebun secara terpisah.

Tanaman-tanaman komersial seperti coklat dibuka bukan dari hutan, namun dari kebun yang sebelumnya telah digunakan menanam kopra atau pala. Tanaman komersial ini menunjukkan bahwa petani pada saat ini responsif terhadap permintaan pasar dan tentu tujuan mereka adalah untuk memaksimalkan keuntungan. Niat menanam tanaman komersial berawal dari motif rumah tangga individu secara otonom dan bukan hasil dari indoktrinasi pemerintah. Tanaman komersial menjadi basis material agar petani dapat memenuhi kehidupan mereka dan memenuhi konsumsi yang identik dengan masyarakat modern. Untuk mendapatkan uang kontan secara cepat, petani juga menanam sayuran dan kacang. Cengkeh dan pala sudah menjadi tanaman yang tak dapat diandalkan hasilnya dalam waktu cepat. Tanaman ini hanya panen satu kali dua atau tiga tahun. Sukur-sukur bisa panen setahun sekali seperti di daerah Olas, Seram Barat dan Laimu di Seram Timur.

Perempuan teribat dalam kegiatan kebun untuk urusan tanaman jangka pendek. Dengan demikian sistem kerjasama terjadi dalam ekonomi rumah tangga yang mencampurkan antara tradisi subsisten seperti menanam ubi kayu dan sagu, sekaligus modern, seperti tanaman komersial. Kinerja ini sekaligus membantah pandangan sosiolog Weberian dan Giddens yang cenderung meng kotak-kotakkan dunia tradisionalisme dan modern. Di Seram, ia tercampur dalam satu aktivitas di kebun.
23804685_1551130111669631_1526963492_n
(Kebun biasanya ditanami tanaman umur pendek, seperti sayuran, sedangkan dusun ditanami dengan tanaman jangka panjang seperti kelapa dan cengkeh)

Dengan demikian, secara mayoritas, pemilik kebun mempunyai tiga jenis varian tanaman. Pertama tanaman komersial seperti cengkeh yang dipanen tahunan atau dua tiga tahun sekali jika musim sedang buruk.  Beberapa petani mengganti cengkeh dengan, tanaman komersial seperti coklat yang dipanen enam bulan sekali. Kedua, tanaman kelapa yang bisa dipanen tiga kali dalam satu tahun dapat mendatangkan uang kas per-tiga bulanan. Ketiga, sagu dan ubi kayu sebagai bahan pangan dan tidak dijual dipasar. Selang seling dan percampuran penanaman komersial modern dan tradisional ini yang membuat petani Maluku bukan hanya bertahan hidup tapi sekaligus mampu membiayai anak-anak mereka hingga pendidikan tinggi.

  1. Agama dan pernikahan:
Ellen dalam laporan terbarunya, “Pragmatism, Identity and State” (2014) menunjukkan tentang masyarakat pedalaman di Nuaulu yang memeluk kristen. Salah satu alasannya adalah untuk kemudahan administrasi. Banyak orang Nuaulu yang berpindah Muslim jika ia menikah dengan orang dari kampung Islam di dataran rendah, misalnya Rutah dan Harua. Demikian pula studi Grzimek, “Social Change in Seram” (1991) menunjukkan orang-orang Ahiolo dan Abio di daerah Kairatu yang mengganti nama mereka dengan nama Kristen. Banyak juga yang memeluk Kristen ketika menikah dengan orang-orang di Hunitetu, kampung di dataran rendah Seram Selatan.

Pernikahan adat dan pernikahan agama tampak sekali kontradiksinya. Agama menyederhanakan ritual ritual dalam lingkaran kehidupan (life cycle). Selebrasi pernikahan misalnya yang pada awalnya sangatlah mahal, baik oleh Kristen dan Islam disederhanakan. Uang sebaiknya tidak habis untuk pesta secara berlebihan. Namun sistem kawin masuk tetap diterapkan. Ini yang membiat biaya nikah menjadi besar. Namun selebrasi pernikahan tergantung juga dengan kondisi ekonomi. Semakin tinggi latar belakang ekonomi seseorang, ia akan mencampurkan tradisi adat dan agama dalam selebrasi pernikahannya.

Anak muda yang berpacaran kadang tidak diketahui orang tua. Namun jika orang tua setuju, mereka bisa langsung menikah jika sudah mampu secara mental dan ekonomi. Saya jarang mendengar pertunangan sebelum menikah, mungkin karena memang di dalam agama tidak dianjurkan. Demikian juga, saya hampir jarang mendengar baik Kristen maupun Islam yang menerapkan poligami. Beberapa pejabat pemerintahan memang ada yang menikah dengan lebih dari satu istri. Namun lebih memilih ‘jajan’ atau bermain perempuan ketika mereka ditugaskan diluar Pulau Maluku. Saya sering mendengar cerita ini dari beberapa rekan pegawai kantoran.

Namun ada banyak hal yang sering luput dari kontrol agama, misalnya minuman keras dan relasi seks antar anak muda. Untuk yang terakhir ini, saya menemukan beberapa hubungan tidak mengikat antara anak muda Kristen dan Islam, karena untuk menikah hampirlah tidak mungkin.

Aturan kampung masih men-tabukan menikah dengan perempuan yang kampungnya mempunyai relasi pela darah atau relasi kampung yang dianggap saudara. Larangan menikah antar desa pela darah setara dengan incest. Namun setelah konflik agama di tahun 2004, orang lebih melarang menikah antar beda agama. Padahal, Roy Ellen menunjukkan bahwa sebelum konflik pernikahan antar Islam dan Kristen sangat bisa diterima (acceptable).

Orang Kristen yang tidak menjalani sidi pada saat ini boleh menikah di gereja. Peraturan ini sebelumnya dilarang oleh gereja sehingga mereka hanya menikah secara adat. Namun pernikahan administrasi negara juga membolehkan mereka sehingga nikah gereja bukan satu satunya cara melegalkan hubungan.

Secara keseluruhan, dibanding masjid di kampung Islam, gereja mempunyai struktur yang jauh lebih rapi. Di gereja semua aktivitas sosial dijalankan. Mulai dari sasi, donasi memakmurkan gereja, pelelangan barang, hingga aktivisme menjaga lingkungan. Aktivis gereja juga diisi oleh generasi muda yang progresif karena latar belakang pendidikan yg lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Masyarakat di kampung Kristen juga menyediakan waktu luang dan tenaganya untuk kerja gotong royong atau masohi di bawah komando gereja. Gereja Protestan Maluku atau GPM di Kairatu misalnya juga mengalokasikan tanahnya untuk para jemaatnya atau juga sebaliknya, para jemaat memberikan tenaga mereka untuk gotong royong menanam tanaman di lahan gereja. Lahan-lahan ini secara bersama ditanami tanaman komersial sehingga gereja mendapatkan pemasukkan dari penjualannya. Kerapian dan kemajuan kampung-kampung Kristen inilah yang seringkali membuat orang di kampung Muslim pasca konflik, mempunyai tiga perasaan sekaligus. Kagum, iri sekaligus curiga.
23805468_1551130118336297_1876063981_n
(Masohi, kerja bersama)
Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s