Ambon dalam Api dan Bara: Fragmen-fragmen pasca konflik

Tepat ketika konflik agama di Ambon mereda di tahun 2004. Saya magang dengan salah satu LSM bernama Lappan yang mendampingi pengungsi anak-anak dan perempuan. LSM ini terletak di sebuah perkampungan padat bernama Waihaong. Para pengungsi bertahun-tahun hingga 2007 menempati kawasan ini. Tidak jauh dari Waihaong terdapat tempat sampah. Selama konflik digunakan untuk pembuangan mayat. Beberapa anak tinggal di kamp pengungsian mempunyai memori membuang mayat. Beberapa mayat juga teridentifikasi orang Kristen yang nyasar ke kampung Waihaong. Atau salah turun di pelabuhan Muslim. Tepat di belakang kampung ini terletak pelabuhan besar. Seringkali korban Kristen yang dibunuh adalah mereka yang turun di pelabuhan Muslim ini. Begitu banyaknya mayat sampai beberapa dari orang dewasa menyuruh anak-anak membopong dan membuangnya di tong sampah. “Hey kamong-kamong daripada seng ada kerja, pigi bantu buang mayat sana” begitu kenang Ridwan yang juga pernah tinggal di kamp pengungsian. Ia dan berenam anak seumuran membopong mayat yang dibungkus dalam karung. Begitu dilemparkan ke bak sampah, bagian kepala mayat mendesak keluar, dan matanya terbuka dengan mulut yang sedikit menganga. “Lariiiii… ” Kenang Ridwan dengan rasa seram. Namun ia bercerita dengan tertawa mengenang masa kecilnya ini.

545781_10151097028923107_857499596_n

(Dipotret oleh Irfan Ramli, pada tahun 2005. Lokasi: Waihaong)

Di awal pasca konflik, begitu banyak anak muda yang mempunyai luka di bagian tubuhnya. Di siku, perut, pelipis. Beberapa dari mereka saya temui di biro pers di jalan AY Patty tempat para jurnalis muda Kristen dan Islam berkumpul. Selebihnnya di saat malam hari. Lampu-lampu lebih banyak matinya. Balap liar menjadi hiburan akhir pekan. Anak-anak muda menunggangi motor yang telah dimodifikasi. Beberapa bagian sayapnya telah dihilangkan agar laju kendaraan lebih ringan. Lampu bagian depan juga diredupkan. Mereka menancap gas dari ujung jalan AY Patty dan berakhir di ujung seberang. Sementara beberapa polisi berdiri di sepertiga akhir jalan sembari membawa rotan dan tongkat. Suasana menjadi dramatis karena lampu kota seringkali mati diatas jam 8 malam. Polisi hanya menangkap cahaya motor yang melaju dengan kecepatan tinggi. Mereka harus pandai memilah-milah antara motor yang melaju diatas rata-rata dan yang bukan termasuk dalam liar. Ketika motor balap mendekat, polisi mulai siap-siap memukulkan tongkat ke bagian badan pembalap. Ada yang berhasil menjatuhkan anak-anak belia ini, tapi lebih banyak yang lolos. Sebagian hanya terhuyung saja. Penonton bersorak riuh rendah. Yang lolos, berputar ulang ke arah start dan mengulangi lagi. Di ujung jalan, mereka bertaruh, jika lolos dari pemukulan polisi, pembalap mendapatkan uang taruhan yang lebih.

Saya menangkap masih ada sisa energi anak muda yang belum terlampiaskan di tahun tahun ini. Jalan raya adalah tempat yang paling ekspresif mewakili berbagai macam kegeraman. Di beberapa tahun setelah konflik saya masih menyaksikan jalan yang rusak, dan lampu lalu lintas yang tidak berfungsi. Seorang kawan mengatakan bahwa kerusakan lampu lalu lintas lebih banyak di kawasan Muslim daripada Kristen. Alasannya “orang Islam kalau sudah ngamuk, lebih senang melukai dirinya sendiri daripada musuh”. Mungkin benar, karena ketika musuh tidak dikenai, dirinya sendiri yang dijadikan objek. Secara simbolik, kita bisa saksikan itu pada ritual-ritual Muslim yang melukai dirinya sendiri, seperti pukul sapu di Mamala Morella, Dabus Abdau di Tulehu hingga cakalele di Haruku. John Sidel (2007) dalam pidatonya terbaru di LSE menunjukkan bahwa jumlah korban Muslim di Maluku lebih banyak dibanding Kristen. Hal ini berkaitan dengan konsep ‘Jihad’ yang dipegang oleh Muslim. Mati membela agama di medan perang adalah sangat terhormat.

Kembali ke jalan raya, jalan menjadi simbol maskulinitas bagi banyak anak muda. Motof paling favorit bagi mereka adalah Yamaha, bukan Honda. Banyak yang percaya bahwa Yamaha lebih lajunya lebih kencang, sedangkan Honda adalah motor untuk yang berperilaku santai. Amir, seorang bekas kombatan, berpendapat “kalau di Jawa itu motor buat unik-unik, kalau disini buat gagah”. Dan motor paling favorit bagi mereka adalah Yamaha RX King. Dengan gas ringan, motor ini bukan hanya dapat melaju kencang, tapi koplingnya sekaligus mampu untuk menggertak. Saya pernah dibonceng Amir, ia seorang yang begitu disegani khususnya di Waihaong, Soabali dan sekitarnya. Orang segan karena perannya selama konflik. Kalau ada kejadian tegang, ia berdiri paling depan dan merangsek hingga ke perbatasan kampung kampung Kristen. Saya amati, tiap kali naik motor, ia berbelok tanpa menggunakan lampu penanda. Saya dengan tergugupnya memberi tanda setiap kali ia membelok ke kanan atau ke kiri. Mengetahui itu, ia dengan spontan menyeletuk “kasih lighting macam perempuan naik motor saja”.

Di tahun 2007 saya menyelesaikan skripsi yang kemudian terbit menjadi buku etnografi, Bergaya di Kota Konflik (2009). Ketika buku ini terbit, segregasi antara Islam-Kristen mencapai puncaknya. Para pengungsi tidak dikembalikan ke asal, melainkan mereka menempati rumah-rumah baru. Kawasan perbukitan Kebun Cengkeh yang dulunya kosong dan penuh dengan hutan cengkeh, dibabat habis untuk pemukiman. Banyak dari pemukim baru adalah mereka yang dulunya tinggal di kampung Kristen, seperti Bentas, Paso ataupun Karang Panjang.

Tahun 2009 saya kembali bertemu Ridwan. Ia yang dulunya tinggal di kamp pengungsian Waihaong telah kembali ke kampungnya asalnya. Ridwan sempat bergabung dengan Laskar Mujahidin. Pasukan Muslim versi lain dari Laskar Jihad yang sangat terkenal itu. Ridwan adalah orang yang cukup waspada. Beberapa kali komando menyuruh anak buahnya menyerang, ia berlari di bagian paling belakang. Namun ia dapat menyaksikan betapa manusia seperti layang-layang yang mudah diputus nyawanya. Setiap desingan peluru dari penembak jitu, dengan mudahnya merobohkan pasukan-pasukan laskar yang nekat merangsek ke pertahanan Kristen.

Di tahun 2013. Saya ingin tinggal di kawasan Kristen. Kali ini saya tinggal di Passo. Di daerah ini, terdapat beberapa kampung Muslim. Batu Gong  dulunya adalah kampung Buton. Salah seorang dari mereka kini tinggal di Waiheru. Ia mengingat cara bertahan di tengah gempuran orang-orang yang tak dikenal. “Kalau tetangga itu baik semua, banyak dari mereka yang lindungi katong“. Cerita ini mengingatkan saya pada pola penggerudukan tahun 1965. Untuk memudahkan eksekusi, korban yang dianggap PKI tidak dibantai oleh tetangganya sendiri, melainkan dari tetangga kampung yang tidak mengenalnya. Pola ini terjadi kembali dalam mengusir Muslim di kampung Kristen, dan sebaliknya pula, Kristen di kampung Muslim. Peristiwa 1965 dan konflik Ambon menyisakan kemiripan yakni, sama-sama digerakkan oleh tentara.

Tahun 2013 adalah tahun perkembangan pesat bagi Passo. Ciputra membangun mall besar di kawasan ini. Demikian juga terminal besar yang terletak di samping pasar baru. Dalam pandangan antropologi, infrastuktur diterima baik oleh masyarakat karena ia selalu menjanjikan pengharapan yang lebih baik. Harapannya, masyarakat akan sejahtera dan terkena imbas dari akses-akses jalan yang dibangun. Tapi hal tersebut tak sepenuhnya terjadi. Terminal passo mangkrak karena dikorupsi pihak pengembang melibatkan oknum pemerintah kota. Sedangkan pasar Passo, sebagaimana pasar lainnya dikuasai oleh pedagang keturunan Buton dan Bugis. Mereka sukses dalam melakukan lobi ke kantor perwakilan daerah untuk mendapatkan tempat di pasar ini.

Kembali ke jalan raya. Pernah suatu waktu saya pulang dari pasar Mardika menuju Ambon. Hari sudah mulai larut, jam 9 malam, namun kondisi kota masih ramai. Saya naik angkutan kota terakhir menuju Passo. Kali ini cukup beruntung karena duduk di depan dekat dengan supir. Tentu saja, angkutan kota yang juga lebih dikenal dengan sebutan oto sudah penuh dengan penumpang. Ketika melaju hingga di pertengahan jalan, saya baru sadar bahwa lampu oto tidak berfungsi. Oto ini hanya mengikuti kendaraan di depannya yang mempunyai cahaya lampu lebih terang. Namun supir sama sekali tidak mengurangi kecepatannya. Ia berlari layaknya kendaraan lainnya. Saya lalu langsung gusar bertanya “hei bapa, oto lampu mati ka? Dengan percaya diri bapa supir membalas “Nyong, tenang saja, beta ini mata masih sehat, hanya rambut saja yang rusak“. Pungkas supir dengan yakin.

Berkendara dengan penuh resiko sebenarnya hal biasa. Saya pernah naik angkutan desa dari Masohi ke tempat penelitian di sebuah kampung Buton. Dalam oto terdapat seorang mama yang tengah menyusui bayinya. Supir memasukkan bensin pesanan warga kampung, hingga penuh ke dalam oto. Di tengah perjalanan, si supir melarikan kendaraan cukup laju. Ia kemudian menyulut rokoknya sembari menyetir. Beberapa abu dari rokoknya terbang ke bagian belakang mobil. Saya memprotesnya karena membahayakan kami penumpang yang dikepung dengan bensin dalam jurigen, beserta ibu yang tengah menyusui bayinya. Si supir akhirnya mematikan sisa rokoknya. Dengan sedikit menggrundel “katong ini supir, kalo seng rokok ngantuk abang“.

Saya banyak menghabiskan waktu di Passo. Dan beberapa kali singgah ke Ambon. Orang-orang mulai baku masuk. Baku artinya saling. Mereka memaknai saling masuk antar agama lebih bersifat transaksional. “Uang itu seng kenal agama” demikian  ujaran yang sering saya dengar dari pedagang. Beberapa kali saya mengunjungi pasar yang tumbuh di berbagai sudut. Studi antropologis dari Jeroen Adam (2008) misalnya telah menunjukkan peran penting mama-mama, sebutan untuk perempuan paruh baya, dalam menjadi benteng perekonomian ketika terjadi krisis. Suatu waktu saya mengunjungi pasar Wayame. Wayame adalah tempat yang tidak terlibat konflik pada tahun 2000. Hal ini karena pemuka agama mempunyai peranan penting dalam mendamaikan masyarakatnya. Pasar Wayame, seperti pasar lainnya dikuasai oleh pedagang keturunan Buton. Di pasar ini saya berbincang dengan beberapa pedagang pakaian. Para pedagang keliling dari kampung-kampung Kristen bagian Laha datang ke Wayame. Pedagang Buton memberikan pakaian untuk dijual di kampung-kampung Kristen. Para pedagang dari Laha mengambilnya dan mama-mama Buton mencatat uang yang seharusnya dibayar melalui nota. Relasi antar agama justru terjadi melalui interaksi piutang. 

Di tahun 2014, saya kembali ke Ambon. Anak-anak yang dulu bergabung dengan laskar telah beranjak dewasa. Kali ini saya tinggal dengan seorang guru agama di jazirah Lei Hitu atau sekitar 20 kilometer dari Ambon. Guru tersebut juga pernah bergabung dengan laskar Mujahiddin. Suatu waktu, ia menawarkan saya untuk mem-videokan beberapa senjata simpanan sisa konflik. “Tapi kalau bisa videokan saja bagian paling rendah. Shooting paling tinggi di bagian kaki ya, nanti biar senjatanya ditaroh di lantai saja” ia menawarkan. Saya tersenyum menolak ajakan karena saya tidak tahu hendak diapakan video tersebut jika saya simpan. Mungkin berguna suatu saat nanti jika saya hendak membuat video pendek dokumenter. Tapi saya urungkan ajakan Pak Guru tersebut.

Di mata beberapa orang Kristen, Pak Guru adalah sosok yang dianggap radikal dalam beragama. Ia bukan hanya pernah terlibat dengan laskar, namun pandangan-pandangannya cukup tajam dalam menyikapi ketimpangan pembangunan berdasarkan latar belakang agama. Suatu kali saya bertemu dengan Usi Rani, seorang aktivis Kristen heran kenapa saya harus tinggal dengan Pak Guru. Ia orang yang terkenal keras dalam beragama. Sedangkan Usi Rani mungkin sudah lama menilai saya sebagai orang yang cukup moderat bahkan mungkin tak terlalu ambil pusing dengan agama.

Tapi Pak Guru bukan orang yang tertutup. Ia pernah mengikuti kursus keagamaan di Jogja. “Sangat membuka cakrawala” katanya. Ia orang yang cukup terbuka dengan perubahan dan mau berdiskusi secara baik. Ia bilang bahwa memang anak muda Ambon itu perlu buang diri jauh-jauh kalau mau sekolah. Jangan nanggung. Pak Guru sangat dekat dengan ustad terkenal dari Jakarta. Ustadz Yusuf Mansur (Sebut saja YM). Ustadz ini juga tengah mengembangkan bisnis di Ambon, salah satunya adalah perumahan Muslim dengan pesantren di tengah-tengahnya.

Suatu waktu, Ustadz YM datang ke Ambon. Ia datang disaat puncak musim hujan di bulan Agustus. Ustad hendak memberikan ceramah wisuda untuk anak-anak TK yang khatam Al Quran. Saya menghadiri acara di lapangan Merdeka yang terletak di pusat kota. Karena ikut berpakaian putih-putih dan berkenalan baik dengan beberapa tokoh pemuda Muslim, saya mendapatkan tempat yang tidak jauh dari kursi para pejabat. Tepat dua kursi di depan saya, duduk gubernur Maluku, walikota Ambon dan Ustadz YM. Para elit ini duduk menghadap sekitar sepuluh ribu anak TK yang akan diwisuda. Acara akbar ini telah diumumkan melalui surat kabar lokal secara masif. Seperti biasa, upacara sangat resmi dan kaku. Penuh dengan kata sambutan. Mendung semakin menggelayut, langit sepertinya sudah tidak kuat menampung air hujan yang akan turun. Ketika gubernur Said Assagaf, keturunan arab Banda memberikan kata sambutan, gerimis mulai turun. Kemudian ketika walikota, Richard Louhenapessy memberikan sambutan, hujan deras disertai angin kencang menyerang. Hampir sebagian anak TK yang berdiri dilapangan kocar-kacir. Banyak yang berteduh dan mengindahkan pidato walikota. Tatkala tiba pada puncak pidato bintang tamu, Ustad YM. Cuaca tetiba terang. Hujan seketika berhenti. Seperti Yesus, ustad dengan tangan kirinya mendiamkan ribuan anak-anak TK yang mirip domba di lapangan. Ia melafalkan doa bukan dalam bahasa arab yang fasih, namun bahasa gaul betawi ” Ya allah, ijinin ye. Ini mo ada upacara khataman anak-anak yang udah pada hafal kitabmu Allah. Tolong dong ya Allah, ujannya diberehentiin bentaaar aje“. Ajaib, hujan seketika berhenti di bagian tengah lapangan dan hanya mengguyur bagian pinggir dengan deras. Selanjutnya, anak anak TK kembali berbaris rapi di tengah lapangan.

Mengetahui mukjizat tersebut, beberapa orang di belakang menyeletuk “heii, sebentar lagi pa walikota masuk islam ini” beberapa orang di belakang tertawa mengangguk. Khalayak yang menyaksikan berhentinya hujan, di tangan seorang dai, seperti memperkuat kebenaran Islam terhadap Kristen.

Masyarakat pasca konflik tidak hanya masih curiga antar kalangan beda agama, tapi konflik telah memunculkan harapan-harapan agar pihak lawan mensubtil menjadi seperti dirinya. Tidak heran, jika pasca konflik, kaum Muslim mempunyai harapan agar walikota masuk Islam, setelah melihat mukjizat ustad YM. Harapan juga dihadirkan terhadap pahlawan-pahlawan Maluku sebelumnya. Patimura adalah seorang Muslim, Christina Martha Tiahahu adalah perempuan dari kampung Muslim, dan masih banyak harapan lainnya yang mengimajinasikan agar semua penduduk melebur menjadi satu agama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s