Indikator Kebahagiaan: Mengapa orang Maluku paling ‘happy’ Se-Indonesia

Beberapa hari lalu BPS mengeluarkan data bahwa Maluku Utara dan Maluku secara berurutan menjadi provinsi paling bahagia se-Indonesia secara berurutan. Namun ukuran yang tersaji cenderung obscured (kabur) antara lain: perasaan, kepuasan dan makna hidup. Oleh banyak pihak, laporan BPS ini dianggap berlawanan dengan kondisi perekonomian di Maluku. Laporan BPS yang dilansir Januari 2018 menunjukkan provinsi Maluku sebagai provinsi termiskin nomer empat di Indonesia. Sebanyak 331,79 ribu orang atau 19,26 persen berada di bawah garis kemiskinan. Sedangkan secara statistik, jumlah orang miskin di Maluku Utara jauh lebih rendah, 6,44 persen. Kondisi yang berlawanan antara ‘miskin’ dan ‘bahagia’ ini direspon oleh gubernur maluku secara kontroversial. ‘Biar miskin asal bahagia’ ujarnya dalam suatu wawancara. Responnya menuai banyak kritik karena pemerintah dipandang fatalistik dalam melihat kondisi ekonomi di provinsi kepulauan ini.

Sesungguhnya pernyataan gubernur ada benarnya juga, cuma mungkin dia tidak tahu saja bagaimana mengukur indikator kebahagiaan. Standar kemiskinan berdasarkan ekonomi memang tidak berkorelasi dengan indikator kebahagiaan.  Namun, kebanyakan para ekonom abai dalam melihat indikator kebahagiaan karena mereka hanya fokus pada sistem moneter yang memang pada dasarnya mudah diukur.

7da970b3-8d73-4a83-9792-adf2650d7888-599e87e5e728e42ffd3d8cf2
Pernyataan gubernur yang dianggap kontroversial

Jika kebahagiaan paralel dengan ekonomi, mengapa banyak orang kaya tidak bahagia? Mengapa banyak artis terkenal dan hidupnya glamor berakhir dengan depresi? Mengapa orang yang mempunyai kemampuan daya beli tinggi justru tidak puas dan semakin terbebani dengan barang-barang yang dimilikinya. Itu mengapa anda sering memaki dan membanting hape anda yang semakin lambat, karena kepemilikan barang tidak selalu paralel dengan kepuasan. Kebahagiaan juga tidak dapat diukur dari pemasukan (income) karena ketidakpuasan selalu muncul di akhir bulan. Kebahagiaan yang semata diukur dari pendapatan dan kepemilikan properti bukan hanya proyek ekonomi liberal dan rasionalistik modern, tapi juga korelasi antara keduanya cenderung bertentangan.

Mengapa negara kaya dan GDPnya (Gross Domestik Product) tinggi, angka depresi dan tingkat bunuh diri penduduknya juga cenderung tinggi?GDP berkorelasi dengan kemajuan (progress) dan pembangunan (development), namun kata kemajuan menjadi problematis jika masyarakat sendiri tidak puas dengan perubahan yang diakibatkan kemajuan dan standar-standar yang diterapkan dalam kemajuan. Salah satu ukuran GDP adalah perdagangan internasional khususnya ekspor, sehingga tujuan GDP adalah untuk kemajuan ekonomi Negara bukan ekonomi rumah tangga atau ekonomi bersama (common economy). Dua hal yang berbeda.

Ekonomi sekali lagi tidak berkorelasi dengan kebahagiaan. GDP Cina misalkan meningkat, tapi untuk mencapai itu, pemerintah membutuhkan kestabilan ekonomi dengan cara mengekang kebebasan ekspresi dan tidak mengakui agama-agama secara resmi. Warga negara Cina tidak boleh menghina para pemimpinnya dan semua perilaku sosial dinilai dalam skor-skor kuantitatif. Jika memang ukuran kekayaan adalah ekonomi, mengapa banyak warga Amerika yang gelisah dan harus meminum pil tidur atau alkohol dalam jumlah banyak sebelum beranjak ke ranjang? Di beberapa negara seperti Afrika Selatan, GDP mereka meningkat, namun kesetaraan gender tidak terjadi. Hal ini tentu tidak membuat kaum perempuan khususnya menjadi lebih bahagia. 

Demikian pula, di daerah-daerah Maluku yang mengalami pertumbuhan ekonomi selalu paralel dengan eksploitasi sumber daya alam, seperti Sepa di Seram Selatan dan Pulau Gebe di Maluku utara, membuat masyarakatnya terlihat lebih muram dan depresi. Dengan demikian, mengukur kebahagiaan manusia dari tolok ekonomi terlalu menyederhanakan masalah dan terburu-buru. Mengukur kebahagiaan dari pendapatan (income) adalah indikator paling mudah, tapi pendapatan bukanlah keseluruhan cerita dari kehidupan kita.

 

27067782_10211184826483216_1157387688864967546_n

Lantas, Mengapa orang Maluku Bahagia? Saya mempunyai enam indikator berbentuk narasi, yang sebenarnya bisa kita uji ukurannya dengan mengkomparasikan pada provinsi lain.

Pertama, kebahagiaan adalah soal kondisi emosional (emotional wellbeing) dan kesejahteraan sosial. Sebagai misal, orang bahagia jika ia bebas dari ancaman kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba. Karena itu mempunyai serikat kerja menjadi salah satu indikator kebahagiaan. Di Maluku, memang jarang ada serikat kerja karena baik Maluku Utara maupun Maluku bukan daerah berbasis industri yang merekrut buruh dalam jumlah ribuan. Sistem ekonomi digerakkan oleh sektor-sektor industri rumah tangga. Sebagai misal, perekrutan pegawai di toko-toko di perkotaan Ambon dan Ternate, pemiliknya mengutamakan anggota keluarga mereka sendiri. Upahnya bermacam-macam, selain uang saku, ada pula si pekerja disekolahkan dan diberi uang transportasi ke kampus. Ancaman pemecatan sepihak sangat kecil terjadi karena beresiko merusak hubungan antar keluarga besar. Pendapatan (income) tidak menjadi ukuran kebahagiaan, tapi kemampuan untuk direkrut dalam pekerjaan (employability) lah yang menjadikan mereka bahagia.

Kedua, Renggangnya pengekangan (less constrain). Kultur masyarakat Maluku cenderung egalitarian, terbuka, dan tidak terikat oleh aturan yang kaku. Hal ini membuat mereka mampu mengungkapkan ekspresinya secara langsung tanpa harus disembunyikan. Di Maluku, sangat lumrah melihat mama-mama mencaci maki petugas pemerintah yang datang memberi bantuan karena bantuan sering tidak tepat sasaran. Bandingkan dengan kultur keraton Mataraman yang terlalu banyak pengekangan, bahkan untuk menunjuk dengan jari telunjuk saja dianggap ‘tidak elok’. Di Maluku, ekspresi-ekspresi ketidaksukaan diungkapkan secara langsung, dan tidak menggunakan majas atau simbol-simbol penuh sindiran.

Ketiga, lebih dekat dengan alam (closer to the nature). Lanskap kepulauan di Maluku membuat jarak antara pantai dan gunung tidak berjauhan. Hal ini memungkinkan masyarakat rural Maluku mempunyai dua model mata pencaharian di kebun dan di laut sekaligus. Dualisme ekonomi pedesaan tidak seperti gambaran sejarawan ekonomi, J.H Boeke (1956) tentang petani Jawa yang kaki kanannya ditaroh di sawah dan kaki kirinya di pabrik. Tetapi, kaki kanan petani Maluku ada di kebun, dan kaki kirinya di laut. Petani kopra atau cengkeh dipastikan mempunyai sampan. Jika musim kering berkepanjangan, dan produksi pertanian kopra menurun, para petani masih mempunyai sampan untuk mencari ikan. Demikian pula sebaliknya, para nelayan juga mempunyai lahan garap di kebun. Jika musim sedang tidak baik di laut, mereka mempunyai petak-petak tanah yang ditanami tanaman jangka pendek (lombok, ketimun, kacang panjang) atau juga memanen kopra dengan sistem bagi hasil. Ketahanan pangan berkaitan dengan kedekatan kondisi geografi sehingga membuat mereka tidak cemas terhadap ketidak menentuan ekonomi. Kombinasi antara gunung dan pantai ini menyebabkan rendahnya orang kampung di Maluku Utara dan Maluku mengalami disposesi tanah di kampung sendiri dan akhirnya menjadi migran di Malaysia, Hongkong atau Arab Saudi.

Keempat, lebih dekat dengan keluarga (stay close to the family). Bagi orang Maluku, keluarga dan marga menjadi tali pengikat paling kuat. Ikatan dalam marga atau antar komunitas menjadi jembatan untuk melebarkan jaringan-jaringan sosial dan ekonomi. Meskipun disisi buruknya, ikatan ini dirajut menjurus ke bentuk nepotisme di kantor-kantor pendidikan dan birokrasi. Sebagai misal, saya pernah mengurus surat ijin penelitian di kantor gubernur Maluku. Hanya karena saya masih ada keturunan dari suatu marga, surat ijin menjadi dipercepat, yang pada awalnya sengaja diperlambat. Di kasus lain, ada banyak pegawai negeri yang ditempatkan di daerah lain, ingin melakukan mutasi ke pulau lain dengan alasan utama agar lebih dekat dengan keluarga. Para pegawai di Ternate misalnya, enggan dipindahkan ke kantor gubernur baru di Sofifi, karena mereka lebih dekat dengan keluarga di kota Ternate. Dengan saling berdekatan antar keluarga, orang Maluku terhindar dari epidemi masyarakat modern yang saat ini sudah akut, kesepian!

Kelima, seringnya ke tempat ibadah (going to the church/mosque often). Dengan beragama, orang bukan hanya mempunyai makna dan tujuan dalam hidup, tapi juga kegembiraan. Tahun 2014, saya melakukan riset di Passo, sebuah kawasan dengan mayoritas penduduknya Kristen. Di hari minggu, saya terkesima dengan hampir tidak adanya pedagang yang berjualan di pasar tradisional. Mereka beribadah di gereja. Siangnya, baru warga Paso berbelanja di pasar kampung sebelah, seperti Suli dan Waiheru. Kedekatan dengan Tuhan inilah yang membuat orang Maluku mempunyai harapan melalui doa-doa yang sepenuhnya mengandung energi positif. Studi Marianne Hulsboch (2014) menunjukkan bahwa, selain tempat ibadah, gereja di Maluku menjadi tempat informasi dalam busana termodern. Di kalangan Muslim, mesjid di hari Jumat menjadi tempat silaturahmi dan pertemuan rekan-rekan bisnis hingga rapat-rapat komunitas. Muslim manula, meningkatkan kualitas imannya dengan sering-sering ke mesjid/musholla. Ditempat ini mereka sekaligus menghabiskan waktu luangnya dan saling berbagi kabar antar manula. Itulah mengapa, di kantor-kantor, di mall, di hotel, di kampus, di hotel, di pasar harus ada musholla? Karena dengan demikian orang Maluku bisa bahagia. Saya rasa, hanya di Pulau Tidore, dimana masjid dibangun dengan jarak saling berdekatan (radius 100-300 meter) dan masing-masing masjid dibangun dengan arsitektur mewah.

Keenam, faktor-faktor sosial lainnya (assorted social factors) tidak berhubungan langsung dengan faktor ekonomi adalah: Orang Maluku lebih bahagia karena mereka tidak bercerai (dibanding yang bercerai). Kebahagiaan juga didapat jika mempunyai teman kaya, karena jika ia sendiri yang kaya akan menjadi beban untuk dirinya sendiri. Beberapa informan dalam riset saya soal ekonomi etnis juga menunjukkan bahwa kaum migran Buton bahagia ketika mendapatkan gelar pendidikan yang lebih tinggi. Karena itu, saya mendapati pedagang di Pasar Mardika misalnya, mereka masih melanjutkan studi S2 di kampus-kampus macam Universitas Darussalam maupun Universitas Pattimura. Di pedesaan Maluku, khususnya di tempat penelitian saya di Seram Selatan, seorang tua yang saya temui mengatakan bahwa ia lebih bahagia karena soal imun sistem (baca: kesehatan) dalam tubuhnya yang masih baik dan kedekatannya dengan cucu-cucunya.

Selain itu, orang kampung juga lebih bahagia ketika mereka gotong royong (masohi) membangun rumah. Isi perbincangan selama masohi jauh lebih menunjukkan ekspresi bahagia dibanding isi perbincangan para pedagang di Pasar Mardika yang penuh dengan kompetisi. Dan tak kalah penting, isi perbincangan mereka tidak terinterupsi dengan kesibukan bermain smartphone dan media sosial. Para petani memang mempunyai telpon genggam, tapi dalam bentuk sederhana dan semata digunakan untuk menelpon bos-bos Cina untuk menjemput komoditas pertanian siap jual.

Sekali lagi, mengukur kebahagiaan memang tidak mudah, apalagi mencapainya. Pada masyarakat modern, tujuan mengkonsumsi segala jenis obat-obatan terlarang, sebenarnya adalah untuk mendapatkan kebahagiaan (diwujudkan dalam bentuk ketenangan atau juga keriangan). Dalam bahasa Inggris, kebahagiaan itu bersifat ‘fleeting/ephemeral’ atau sementara. Ia didapat seperti orang yang habis mencetak gol dalam sepakbola. Detik-detik luapan kebahagiaan hadir sebentar saja, lalu para pemain kembali harus berjuang lagi agar bisa membuat gol, sekaligus agar tidak kebobolan. Mengukur kebahagiaan adalah indikator pembangunan manusia yang penting, karena selama ini kita hanya menekankan pengukuran melalui indeks pertumbuhan ekonomi. Implikasinya, banyak orang yang marah, terasing, merasa kalah, dan kesepian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s