Munculnya Zaman Kemarahan

Argumen utama dalam buku Age of Anger (Penguin Books, 2017) ini adalah, lompatan kemajuan dalam modernitas meninggalkan kemarahan, rasa takut dan cemas pada orang-orang yang merasa ditinggalkan dalam kemajuan tersebut.  Di bidang ekonomi misalnya, kemajuan diukur dari perspektif ekonomi negara, pasar, dan ekonomi rumah tangga (household economy). Namun yang terabaikan adalah ekonomi bersama (common shared economy). Untuk maju, Negara melakukan komodifikasi sumber-sumber ekonomi bersama, seperti air, sungai, lautan dan tanah. Keputusan ini menyisihkan banyak orang yang kecewa dan marah karena hilangnya sumber ekonomi bersama. Tak heran jika, mereka yang merasa tertinggal dalam kemajuan pembangunan, memilih hirarki-hirarki model lama yang didasarkan pada kekuatan agama, etnisitas dan semangat nasionalisme sebagai upaya untuk mewadahi kemarahan dan rasa kecewa dari janji-janji kemajuan modernitas.

Buku ini muncul bersamaan dengan gejala terpilihnya pemimpin demagog dan populis di dunia, seperti Narendra Modi dan Donald Trump. Pandangan bahwa orang-orang yang memilih Trump dikatakan sebagai rasis adalah menyederhanakan masalah dan tidak akurat. Hasil dari pemilihan pada pemimpin populis adalah karena banyak orang yang merasa tidak mempunyai kekuatan (feeling of powerlessness) untuk mengontrol hidup mereka sendiri. Sebaliknya, teknokrat dan elit memandang dirinya rasional justru menjauh dari kredibilitas dan representasi keinginan massa. Sebagai misal, krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2008 dan melanda hingga wilayah pertanian, justru diatasi dengan rumus-rumus finansial derivatif oleh Wall Street yang sama sekali tidak dipahami oleh kalangan petani di pedesaan seperti Texas dan Arkansas.

Sebagai seorang jurnalis, Mishra banyak melakukan interseksi dengan berbagai referensi khususnya para pemikir yang mengkritik janji kemajuan dalam modernitas, seperti filosof Nietzsche, Sosiolog Emile Durkheim dan sastrawan Dostoyevsky. Para intelektual ini membaca paradoks dalam zaman modern. Misalnya Negara maju, ditandai dengan rendahnya fertilitas, tingginya taraf ekonomi, teknologi komunikasi, literasi dan kebebasan individu, justru paralel dengan meningkatnya rasa keterasingan, kecemasan dan bunuh diri, dan takutnya klas menengah terhadap menurunya mobilitas sosial mereka.

Liberalisme dan Individualisme 

Mengacu pada gagasan Nietzsche, tak selesainya isu peradaban dapat dilihat dari keberlanjutan debat antara Voltaire dan Rousseau. Semangat Voltaire diikuti oleh ide tentang persaingan pasar bebas Adam Smith, rasionalisme Emanuel Kant, dan evolusi Darwinisme. Para filosof ini mendukung upaya individu untuk berkompetisi dan memaksimalkan keuntungan individual. Orang modern mempunyai hasrat yang sama, memiliki rumah, mobil cepat, dan perangkat elektronik paling mutakhir, karena itu, manusia harus berkompetisi memenuhi hasratnya, yang sebenarnya juga bagian dari hasrat orang lain.

Sebaliknya, Mishra mengacu pada Rousseau. Buku ini tidak mengajak kita untuk anti terhadap kemajuan (progress) dan kita harus tinggal kembali di gua. Namun yang ditolak adalah tata aturan liberal (liberal order)  dan kapitalistik. Mishra mensinyalir bahwa wanti-wanti akan munculnya kebencian terjadi sejak munculnya semangat liberalisme dan rasionalitas individual di abad 19. Dalam kenyataannya tidak semua kompetisi diawali dengan aturan permainan yang adil. Sebagai misal, dalam sejarahnya, ide tentang kesetaraan dalam revolusi perancis (egalite), dan UU kemerdekaan Amerika (all men are created equal) berlaku pada semua hal, kecuali soal kepemilikan properti dan alat produksi. Ketidak seimbangan alat produksi inilah menyebabkan ketimpangan dan kekecewaan.

Salah satu semangat Darwinisme sosial yang dikembangkan neoliberalisme adalah fantasi bahwa setiap individu harus menjadi entrepreneur dan terus melatih dirinya dalam perkembangan ekonomi yang dinamis. Setiap orang harus terus membranding dirinya, mendekorasi warungnya, dan mengalahkan orang lain dalam persaingan. Kompetisi menyebabkan rasa marah, malu dan hina terhadap mereka yang kalah. Era modern justru menyebabkan banyak orangtertinggal dalam kemajuan. Peradaban selalu ditujukan pada klas elit yang sedikit, tapi tidak untuk masa yang banyak. Semua janji-janji manis di papan iklan bukan lagi milik orang kebanyakan yang melihat iklan tersebut. Hasrat yang dibangun dari hasrat orang lain, tidak mampu dipenuhi. Tiap individu bersaing satu sama lain, dan persaingan menghilangkan ‘solidaritas’ antar sesama.

Buku ini memberikan banyak contoh detail tentang berbagai peristiwa kebencian sehingga terkadang argumentasi-argumentasinya tenggelam dalam beragam contoh kasus. Selain itu, Mishra tidak seimbang memberikan contoh pencapaian-pencapaian positif dari kemajuan modernitas. Sehingga pembaca mendapatkan kesan kemarahan tersendiri dalam buku ini terhadap kemajuan pembangunan, dan pesan perang terhadap ide-ide dari kubu Voltaire.

Kebencian yang direplikasi

Mengacu pada konsep Rene Girard ‘appropriative mimicry (hal, 62) Mishra berargumen bahwa perasaan frustasi dan kecemasan bukan hanya dapat diakumulasi, tapi juga dapat ditularkan dengan mudah hingga menjadi epidemi global. Contoh favorit Mishra adalah Timothy Mc Veigh, seorang teroris domestik yang melakukan pengeboman di Oklahoma, AS di tahun 1995. Ia menewaskan 168 jiwa. Demikian pula kasus Andres Behring, yang membunuh hampir 200 orang di Norwegia pada tahun 2011. Veigh adalah figur frustasi dan paranoid terhadap pesatnyabperkembangan industri Amerika, namun pada saat yang sama banyak klas pekerja yang mengalami stagnasi upah. Banyak pula pengangguran yang sulit mencari pekerjaan terhormat. Karena kebencian yang mudah menular, ia dapat ditukarkan kepada orang-orang yang mengalami stagnasi akibat kemajuan modernitas, terlepas identitasnya yang berbeda.

Kebencian pada kasus Mc Veigh dan Behring ini direplika oleh banyak teroris Muslim dengan juga menyerang orang-orang Barat. Ramzi Yousef mencoba mengebom WTC di tahun 1993 (hal 284). Ketika Mc Veigh didakwa mati, Yousef membuat kesaksian “saya tidak pernah mengetahui di dunia ini yang mempunyai kemiripan hidup dengan personalitas yang saya miliki” (hal, 288). Demikian pula, tindak kekerasan Behring di Norwegia terinspirasi dari genosida kaum ultra nasionalis Hindu India terhadap minoritas Muslim. Tindakan terorisme Behring ini juga menginspirasi terorisme remaja keturunan Iran-Jerman yang menembak mati 9 orang di tahun 2016. Kekerasan adalah alternatif orang lemah yang tidak mempunyai visi alternatif dalam menyikapi realitas politik di tingkatan global dan lokal.

Kebencian bukan hanya menular melalui ruang berbeda, namun juga melintasi rentang waktu. Mishra memberi contoh panjang tentang figur Savarkar (h, 255-266), seorang ultra nasionalis Hindu di era Gandhi. Lahir dari kelas menengah dan sempat mengecap pendidikan di Italia, Savarkar demikian membenci minoritas Muslim di India. Seperti Hitler di Jerman, ia menyalahkan keterbelakangan di India lebih dikarenakan oleh minoritas Muslim yang sulit untuk diajak bekerjasama. Semangat kebencian Savarkar ini kemudian dilanjutkan oleh Narendra Modi yang memanipulasi emosi umat Hindu berkaitan dengan krisis ekonomi dan relasinya dengan Muslim.

Di era kebencian, identitas adalah kepribadian yang dapat dipertukarkan. Ia bisa direplika dari belahan dunia manapun. Dan pada saat ini sudah demikian dekat dengan kita di Indonesia. Belajar dari buku ini, jika kita mengabaikan rasa frustasi dan kemarahan massa terhadap ketertinggalan yang dialaminya, maka akan muncul para elit demagog yang memanipulasi emosi massa ini dengan cara membangkitkan hirarki 26940664_1607402652709043_748143242_nlama yang telah ditinggalkan oleh kemajuan, seperti agama, pribumisasi etnis dan supremasi ras. Nampaknya kita telah sangat dekat dengan era tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s