Efek Donald Trump terhadap Mahasiswa Muslim Internasional

Satu hari tepat pasca pelantikan Trump, saya berada dalam demonstrasi solidaritas untuk perempuan, “Women’s March”, di Oakland dan San Fransisco. Ratusan ribu manusia mendemonstrasi ucapan, tindakan dan perlakuan Trump yang mengancam kaum perempuan, LGBT dan kaum Muslim di Amerika. Beberapa hari kemudian, atau tepatnya hanya dalam waktu dua minggu, Trump membombardir dengan beragam perintah eksekutif (Executive Order), diantaranya deregulasi, kaji ulang akses pipa Dakota, memorandum soal tembok Meksiko, dan yang paling menghebohkan adalah perintah eksekutif pelarangan perjalanan (Travel ban) tujuh warga negara mayoritas Muslim (Iran, Iraq, Libya, Somalia, Sudan, Syria, dan Yaman ) memasuki Amerika.

Orang-orang di Balik Trump

Trump benar-benar mengeksuksi semboyan kampanyenya, “America First” dan ini menjadi alasan diberlakukannya Travel ban. Perintah eksekutif yang bertujuan menunjukkan identitas nasional Amerika ini diinisiasi oleh orang-orang di sekitar Trump yang terkenal nasionalis berbias kulit putih, konservatif dan sangat anti Islam, seperti Steve Bannon dan Stephen Miller. Sarah Posner jurnalis yang khusus mengangkat isu agama dan politik pernah melakukan wawancara dengan Steve Bannon yang kini menjabat sebagai Chief Strategist di Gedung Putih. Posner mengungkapkan sebuah data yang bocor berjudul “Establishing a Government-Wide Initiative to Respect Religious FreedomBannon sedang mengajukan draft perintah eksekutif kepada Trump tentang hak-hak minoritas dan penghormatan terhadap kebebasan beragama yang intinya membawa semangat white nationalist movement, yakni pengutamaan terhadap umat Kristen dan kaum kulit putih. Selain itu pelarangan pelayanan kesehatan dan pelarangan pengembalian pajak (tax return) terhadap LGBT.

Dalam wawancara Posner terhadap Bannon selama masa kampanye Trump bulan Juli 2015, Bannon mengungkapkan bahwa ia melihat Islam tidak lebih dari sebuah ideologi politik dan bukan agama. Definisi Bannon ini sekaligus menyelamatkan ia dari anggapan melanggar Undang-Undang Dasar Amerika (first amendment to the US constitution) soal perlindungan terhadap semua agama. Karena Islam tidak dilihat sebagai agama bagi pemerintahan Trump, maka masyarakat Muslim di Amerika terancam hak warga negaranya. Sekaligus, Islam pada saat yang sama dilihat sebagai ideologi politik seperti Komunisme dan Nazisme yang dianggap sebagai musuh Barat. Dalam wawancaranya, Bannon juga mengakui bahwa kaum kanan jauh (far right movement) di Eropa, seperti Geert Wilders di Belanda dan Marie Le Pen dari Perancis sebagai template gerakannya.

Orang-orang di sekitar Trump inilah yang lebih berbahaya karena mereka terkenal sangat konservatif. Sebaliknya, Trump sendiri cenderung atheis. Ia bukan seorang Kristen evangelis atau konservatif Katolik. Trump juga tidak punya catatan melarang LGBT dan ia bahkan cenderung tidak melarang aborsi (pro-choice kepada perempuan). Trump lebih dikenal sebagai bintang reality show dan raja casino. Ia cenderung mengubah haluan politiknya pada tahun 2011 hanya demi mendapatkan simpati dari audiens evangelical Kristen yang sangat berpengaruh dalam memberikan suara politiknya. Dengan demikian, Trump tidak lebih dari seorang politisi yang menjijikkan. Steve Bannon disinyalir sebagai aktor di balik layar yang mempengaruhi Trump mengeluarkan keputusan travel ban dan mengabaikan kedaulatan pemerintah federal/negara bagian maupun Department of Homeland Security yang mengurus soal green card dan status kaum migran. Akibat dari travel ban terdapat ratusan ribu orang dari tujuh Negara ini yang kemudian menggagalkan perjalanan mereka meskipun telah mendapatkan visa dan mempunyai green card, status sebagai penduduk tetap (permanent residence). Efek perintah eksekutif ini tentu saja juga menimpa mahasiswa internasional dan dunia kampus secara khusus.

Mahasiswa Internasional dan Dunia Kampus  

Secara keseluruhan, sumber dari IIE (Institute of International Education) pada musim gugur (fall) 2015, menyebutkan setidaknya terdapat satu juta mahasiswa internasional di tingkat S1, (undergraduate student) dan mahasiswa pasca sarjana (graduate student level) di Amerika, dengan tiga terbanyak berasal dari Cina, Brazil dan Saudi Arabia. Secara keseluruhan mahasiswa internasional memenuhi 5 persen dari bagan (student body) keseluruhan populasi mahasiswa di amerika. Travel Ban ini tentu saja merugikan pangsa pasar universitas. Mahasiswa internasional membayar dua kali lipat biaya kuliah. Misalnya seperti saya. Sebagai mahasiswa doktoral di University of California, saya membayar uang kuliah (tuition fee)10,000 US dollar per quarter/empat bulan sekali, dibanding mahasiswa Amerika yang hanya membayar 5,000 US dollar per quarter. Bisa dibayangkan, ada banyak kampus yang merugi dengan keputusan Trump ini. Misalnya Florida Institute Technology adalah kampus yang paling beragam. Kampus ini mempunyai mahasiswa undergraduate dari 170 negara dan mempunyai sekitar 111 mahasiswa dari tujuh Negara yang dilarang  masuk ke Amerika.

Koran terkemuka yang selalu meliput dunia kampus Amerika dan pasar kerja mahasiswa, The Chronicle of Higher Education pada bulan September 2016, musim pendaftaran mahasiswa, mengabarkan bahwa ketertarikan mahasiswa dari Cina, Brazil dan Saudi Arabia misalnya turun hingga lima persen ketika Donald Trump menjadi kandidat kuat untuk presiden Amerika Serikat. Tentu saja, hal ini mengancam menurunnya kualitas pendidikan di Amerika yang selalu membanggakan keberagaman mahasiswanya yang datang dari berbagai Negara.

Beberapa mahasiswa dari Cina misalkan mengkhawatirkan bahwa perintah eksekutif Trump ini membuka peluang munculnya rasisme terhadap mahasiswa Asia yang berpenampakan lebih feminin dan lemah di mata “stereotype” masyarakat Amerika. Saya sering mendengar bahwa Asia adalah ras yang dianggap terlemah karena itu sering jadi objek kekerasan dan perampasan. Seorang teman perempuan saya keturunan Vietnam bahkan pernah dipukuli oleh tiga orang kulit hitam berusia 13-15 tahun. Tas dan dompetnya tidak dirampas. Ia dipukuli hanya karena terlihat “Asia”.

Universitas di Amerika mempunyai reputasi sebagai surganya penelitian, pengajaran dan riset kolaborasi. Kampus di Amerika menjadi indah bukan saja karena pemandangan dan gedung-gedungnya semata, tapi begitu banyak mahasiswa internasional yang datang dari beragam Negara dan budaya membuat dunia kampus menjadi lebih berwarna dan berwawasan internasional. Di hampir setiap kampus terdapat acara pertemuan bulanan antar mahasiswa internasional, dan ada beragam cerita menarik disana tentang masing-masing budaya dari beragam Negara. Rekan saya dari Tunisia misalkan, ayahnya menjual tanah demi konser seorang artis terkenal Umi Kulthum di Kairo, Mesir pada tahun akhir tahun 1970an. “Mesir menjadi Negara yang selalu panutan dari Negara Arab lainnya, namun justru Tunisia-lah yang menginspirasi gerakan Arab Spring ke Negara-negara Arab lainnya, termasuk Mesir”, ujarnya bangga. Demikian pula, saya baru berteman dengan seorang kawan yang negaranya baru saya dengar, Swaziland. Negara monarki super kecil di ujung selatan Afrika yang digulingkan oleh anak-anak mudanya yang demokratik. Selain dari pemasukan (revenue), keragaman (diversity) mahasiswa internasional ini menguntungkan universitas karena salah satu alasan college atau universitas menduduki ranking tertinggi adalah semakin beragam latar belakang identitas mahasiswanya, baik etnis, ras, dan bahkan orientasi seksual.

Selain itu, kinerja mahasiswa international di Amerika diatas rata-rata dibanding mahasiswa Amerika. Dari awalnya, ada banyak tuntutan untuk bisa diterima di sebuah kampus di Amerika yang harus dilewati mahasiswa internasional, sedangkan tidak menjadi wajib bagi mahasiswa Amerika sendiri, misalnya TOEFL, GRE dan pengalaman kerja yang lebih. Banyak pula mahasiswa PhD khususnya dari jurusan engineering, matematika dan teknik informatika yang pada akhirnya menetap di Amerika. Mahasiswa migran di California misalkan, pada akhirnya bekerja di kawasan industri teknologi start-up di Siliccon Valley. Mahasiswa internasional, migran dan dunia teknologi di California sangat berhubungan erat, karena lebih dari 40 persen co-founder di Siliccon Valley adalah migran atau anak dari seorang migran. Kita bisa lihat banyak contohnya, ayah Steve Job adalah seorang migran dari Syria, ayah pendiri Ebay adalah migran dari Iran, ayah pendiri Reddit, jaringan berita web ternama bahkan seorang imigran gelap (undocumented worker) dari Armenia, dan masih banyak contoh lainnya.

Terdapat kurang lebih 120 public colleges dan universitas Negeri dan sekolah tinggi lainnya mengeluarkan pernyataan mengutuk travel ban ini. Respon yang dilakukan oleh University of California terhadap travel ban ini adalah kantor hubungan Internasional mengeluarkan memo dalam bentuk anjuran untuk mahasiswa dari tujuh Negara ini tidak melakukan perjalanan ke luar Amerika, dan lebih baik jika tidak keluar Amerika hingga lulus. Sepuluh cabang University of California (UCLA, UC Berkeley, UC Santa Cruz, UC Davis, UC Riverside, UC Irvine, UC San Diego dst) juga menegaskan tetap menjadi sanctuary campus (kampus yang melindungi/memberikan suaka kepada minoritas dan bahkan imigran gelap). Namun kampus-kampus Negeri ini cenderung rentan dari ancaman Trump, karena ia telah mengeluarkan pernyataan akan memblok dana subsidi untuk kota dan kampus yang mendaku dirinya sebagai sanctuary dan memberikan perlindungan kepada imigran gelap dan minoritas lainnya. Karena itu, sanctuary campus jauh lebih mudah dilaksanakan di universitas swasta dibanding universitas negeri.

Efek pada relasi dengan Islam

Jika presiden sebelumnya, Barrack Obama mengumumkan musuh mereka kepada teroris, perintah eksekutif Donald Trump menunjukkan kebencian Trump kepada Islam secara general. Padahal jika kita mengecek pada data sekuritas nasional di website terpercaya, New America, menyebutkan bahwa jumlah orang mati di Amerika dikarenakan kaum jihadist teroris Islam dalam 10 tahun terakhir jauh lebih kecil (9 orang) dibanding halilintar (31 orang) dan mesin pemotong rumput (69 orang). Dan tentu saja jumlah orang mati di Amerika paling banyak dikarenakan penggunaan senjata api, 11 ribu orang mati dalam satu dekade 2005-2014, dan pelakunya adalah orang kulit putih yang mempunyai kelainan mental.

Perintah eksekutif menunjukkan betapa pemerintah Amerika bukan hanya phobia terhadap Islam namun juga terlalu generalis dalam melihat keragaman sejarah dan konteks warga dari Negara mayoritas Islam. Pelarangan terhadap Syria dan Iraq misalnya. Nyatanya, sepanjang 2016, ratusan pengungsi dari dua Negara ini yang masuk ke Amerika adalah beragama Kristen karena mereka lari dari rejim Bashar Al Ashad dan ISIS. Yang tak kalah menarik adalah dari Iran. Dari tujuh warga negara yang dilarang masuk Amerika ini, Iran merupakan yang paling banyak warganya melanjutkan studi doktoral di Amerika. Jika saya perhatikan, rata-rata dari mereka yang memutuskan meninggalkan Iran adalah anak muda yang sekuler bahkan tak sedikit atheis. Mereka benci identitasnya ditentukan atas nama agama dan sangat tidak suka dengan pemerintahan konservatif Islam Iran. Pada 2012, tahun pertama saya di Amerika, berteman dengan seorang mahasiswi Iran dari teknik kimia. Ia sangat ter-Baratkan, tiap hari selalu ke pusat kebugaran (fitness center) dan sangat tidak percaya dengan institusi pernikahan. Kenalan Iran saya lainnya adalah lulusan informatika. Saat ini tengah membuka usaha start-up tech tentang edukasi bisnis untuk anak-anak sekolah dasar. Ia seorang Iran yang sangat kritikal, tidak percaya agama, namun percaya pada pasar bebas.

Muslim di Amerika sendiri sangat beragam. Selain seperti yang saya gambarkan diatas, orang Islam di Amerika cenderung berasal dari klas menengah, banyak dari mereka adalah pengacara, dokter dan akademisi. Hal ini karena mereka telah lama menjadi bagian dari Amerika, bahkan lebih tua dari usia Negara Amerika sendiri. Hal ini tentu berbeda dengan migran Muslim di Eropa Barat yang rata-rata berasal masih baru dari Maroko, Turki, Aljazair dan menjadi klas pekerja kasar bahkan tidak terdokumentasi. Mereka tidak terintegritas dengan baik, tampak dari banyaknya migran di Eropa Barat yang tak dapat berbahasa Negara yang ditempatinya.

Efek Perintah Eksekutif

Sebagai penutup, efek pemerintahan Trump menunjukkan tiga hal penting. Pertama, warga Amerika menjadi sadar bahwa agama adalah hal yang penting. Seorang mahasiswi S1 berasal dari Ohio bertemu kepada saya pada jam kantor (office hour). Ia mengatakan “sebelumnya saya tidak pernah sadar bahwa agama itu ada karena saya dibesarkan di dunia yang sama sekali tidak pernah membincangkan Agama. Agama menjadi ada justru sejak pemerintahan Trump ini“.

Kedua, dunia universitas dan Negara bagian adalah yang paling merugi terhadap munculnya travel ban ini. Wall Street Journal menyebutkan ada sekitar 17 ribu mahasiswa di college dan universitas yang berasal dari tujuh Negara ini. Dan menurut perhitungan IIE, mahasiswa ini memberikan pemasukkan 556 juta USD kepada universitas. Ini baru pada sebatas pembayaran uang semester, belum lagi efek ekonomi lokal pada kota-kota yang mempunyai kampus besar (college town) karena mahasiswa membelanjakan uangnya sehari-hari sekaligus membayar uang sewa kos bulanan.

Ketiga, kembali pada cerita saya di awal. Ratusan ribu orang yang melakukan demonstrasi pada hari pertama kerja Trump menunjukkan bahwa kini ada gerakan masyarakat yang membedakan dirinya dengan identitas pemerintah. Jika pemerintahan administrasi Trump menghendaki nasionalisme eksklusif khusus kaum Kristen kulit putih, masyarakat menghendaki berbeda. Mereka ingin Amerika tetap terbuka, melindungi kebebasan beragama dan kebebasan orientasi seksual apapun. Dua minggu awal pemerintahan Trump ini menunjukkan bahwa ia sedang membuka front baru, bukan hanya kepada Islam tapi juga kepada warganya sendiri.

Shepard-GreaterThanFear-Flag-Hijab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s