Dialektika ‘Baku Masuk’ Islam-Kristen di Maluku

Hubungan masyarakat di kawasan Indonesia Timur berbasis dualisme simbolik yang bersifat sangat dinamis dan interaktif. Antropolog klasik Belanda misalnya, F.A.E Wouden, (1968) dalam disertasinya “Types of Social structure in Eastern Indonesia, memperkenalkan konsep “dyadic structure” atau struktur sosial yang mendua pada masyarakat NTT dan Timor. Di Maluku, relasi dyadic ini sangat umum ditemukan misalnya relasi antara Ternate dan Tidore. Meski dua kerajaan ini mempunyai sejarah panjang saling perang, namun Ternate adalah penerima istri (wife taker) dari Tidore sebagai pemberi (wife giver). Sedangkan pada masyarakat Maluku Tengah, relasi hirarki dan simetris melalui jaringan pertukaran yang diproduksi dari dual organisasi tampak pada konfederasi siwa dan lima. Siwa adalah aliansi dari sembilan konfederasi yang kemudian berafiliasi kepada Kristen, sedangkan lima adalah aliansi dari lima konfederasi wilayah yang kemudian memeluk agama Islam. Dua sistem ini saling bertentangan namun saling melengkapi.

Studi antropologi kekinian tidak lagi melihat dual relasi yang saling beroposisi biner. Tim Ingold misalnya, mengkritik ide “assemblage” yang melihat relasi masing-masing elemen saling bertumpuk dan saling menambahkan. Relasi manusia tidak seperti rakitan/susunan antar komponen seperti yang diibaratkan oleh Bruno Latour. Namun Ingold melihatnya seperti garis seperti berikut ini:

28035961-music-notes-on-a-stave-or-staff-consisting-of-five-lines-curving-into-the-distance-with-diminishing--2561659185.jpg

Masing-masing elemen garis ini saling berjalan seperti dalam bentuk musik polifonik, suara yang terdiri dari beberapa bunyi. Setiap suara dalam instrumen musik mengusung garis melodinya sendiri. Masing-masing garis ini saling berkoresponden satu sama lain. Di dalam musik, relasinya bersifat kontrapuntal, yakni dua atau lebih nada dimainkan pada saat yang sama. Serangkaian gerakan kontrapuntal ini bukan hanya mengusung garisnya masing-masing, namun di partikel tertentu mereka membentuk rakitan. Dengan demikian, berbeda dengan operasi assemblage yang menggambarkan relasi A dan B dan C. Ingold melihat relasi bersifat A dengan B dengan C dengan seterusnya. Kata “dengan” disini menggambarkan koresponden dari masing-masing garis. Ide korespondensi adalah tentang saling membalas antar subjek, atau yang disebut juga intersubjektivitas.

Relasi polifonik berjalan terus-menerus tidak membentuk solidaritas, melainkan vitalitas dialektika. Jalannya korespondensi berdasarkan kepentingan yang saling menguntungkan (mutual interests). Terinspirasi dari konsep pemberian (gift) dari Marcell Mauss, Ingold melihat bahwa relasi saling memberi bersifat terus-menerus sehingga membentuk korespondensi dan membentuk realitas baru.

Dalam metode sosiologi, Durkheim membuat analogi antara timah dan tembaga yang meleleh bersama membentuk entitas baru bernama perunggu. Seperti halnya, di masyarakat, individu A bertemu dan berkorespondensi dengan individu B dengan cara melakukan kontrak bersama, saling memberi, sehingga membentuk suatu realitas baru.

Baku Masuk

Istilah ini mengacu pada interaksi Muslim dengan Kristen. Praktik baku masuk menyerupai simpul tali yang mengikat satu sama lain. Analogi praktik baku masuk dapat kita lihat dalam cara menenun yang menggabungkan garis dari masing-masing benang dari arah yang berlainan. Di ranah relasi etnis dan agama, masing-masing konstituen mempunyai garisnya. Namun demikian, simpul masing-masing kelompok saling mengikat dan membentuk perbedaan yang terus berkelanjutan. Menenun menggabungkan berbagai garis benang yang berbeda, namun tujuannya untuk mengikat rapat dan saling bersambungan.

Untuk mencapai koherensi sosial, simpul harus mencari celah untuk menautkan dan mengikatnya dirinya satu sama lain. Demikian pula, dalam relasi etnis dan agama, masing masing garis konstituen mencari celah untuk mengikatkan diri dengan yang lainnya. Kompleksitas sulaman dalam tenunan, seperti pula sendi dalam rangka tubuh manusia, atau juga seperti rakitan batu dalam sebuah candi, dimana masing-masing bagan mempunyai celah perbedaan atau yang disebut Ingold sebagai “Interstitial differentiation”. Celah perbedaan ini secara berkelanjutan muncul di tengah-tengah bergabungnya dua relasi yang berkelanjutan.


Dalam relasi material, analogi menenun (knotting) sangat paralel dengan apa yang dikatakan Marcell Mauss dalam bukunya, The Gift, tentang komitmen dalam pemberian di ranah relasi sosial yang sifatnya dialektis dan terus menerus. Tiap agency atau individu wajib memberi, menerima, dan membayar ulang. Keperluan untuk menenun relasi sosial dalam baku masuk, dikarenakan adanya transaksi sosial ekonomi yang melibatkan berbagai unsur etnis dan agama berbeda. Karena itu, riset saya dalam pertukaran dan pasar di Maluku menunjukkan bahwa ada banyak relasi piutang dan pemberian antara orang Maluku dengan orang Buton, orang Buton dengan etnis Cina Maluku, dan Muslim dengan Kristen. Relasi-relasi ini merupakan celah dari tenunan baku masuk yang sekaligus membantah bahwa pasca konflik orang benar-benar tersegregasi. Mengacu pada konsep hau, atau ruh yang melekat pada benda yang diberikan atau dipiutangkan, ketika etnis Cina Maluku memberikan hutang kepada orang Buton misalnya, atau ketika tuan tanah Maluku memberikan lahan garap kepada orang Buton, maka penerima menyimpan komitmen dan pikirannya kepada si pemberi karena ia juga mempunyai kewajiban untuk mengembalikannya. Baku masuk, dengan demikian, seperti menenun, menyimpul tali, atau bersalaman.

Dalam relasi baku masuk tidak menunjukkan soliditas, melainkan cair dan mengalirnya relasi sosial. Relasi baku masuk tidak pernah selesai karena mereka saling menyimpul satu sama lain. Karena itu, sebagaimana dalam sifat pemberian yang digambarkan Mauss, simpul relasi Islam dengan Kristen di Maluku bersifat dialektis, dan juga penuh dengan paradoks. Ia dijalin dengan kasih sayang, tapi juga ada curiga. Dengan demikian, baku masuk bukanlah harmoni, melainkan dialektika.
Selama saya melakukan penelitian di Maluku (2015-2017), sangat umum masyarakat mengatakan bahwa mereka telah “baku masuk”. Konsep ini mengacu pada penetrasi manusia menyeberangi garis dari orang-orang yang dulunya menjadi tetangga mereka kemudian menjadi musuh dalam konflik, yang kemudian menjadi klien kembali dalam berbagai pertukaran pasca konflik. Proses penetrasi dengan orang lain bertujuan membangun relasi mutual yang mengikat dan dijalankan juga dengan suasana ketegangan dan terkadang ketidaksepahaman. Mengacu pada ide korespondensi Tim Ingold[2], koresponden ini seperti pertukaran dalam kata-kata di dalam percakapan, dimana secara literer, satu sama lain saling menjawab secara terus menerus.

Ingold membedakan korespondensi dengan interaksi. Interaksi mengacu pada dua titik atau poin yang bolak balik saling berhadapan dan bertatap muka terus menerus. Sedangkan korespondens bukanlah koneksi antara dua poin melainkan dua garis yang mengikat secara bersama-sama dan berjalan seiringan. Ketika berbicara tentang relasi jaringan antar aktor (actor network of relationship), Latour cenderung membagikan agency ke dalam lingkaran-lingkaran atau titik (dots) yang kemudian digabungkan. Di masing-masing titik tersebut kadang juga diberi tanda panah untuk menggabungkan dengan titik lain sebagai cara untuk menggambarkan interaksi dalam jaringan. Namun, interaksi tidak hanya disimpulkan dalam jaringan semata, ia terus menjadi dan menjalani proses berkelanjutan. Dunia baru dari interaksi tercipta melalui garis-garis seperti diatas. Garis A, dan B, dan C berjalan satu sama lain beriringan. Perbedaan tidak ditemukan karena mereka tidak saling berhadapan, namun lebih karena respon terhadap apa yang ada didepannya. Dalam konsep antropologi hal ini disebut “exposure”. Sebagai misal, Muslim bertentangan dengan Kristen bukan karena mereka saling berhadapan. Melainkan, kesadaran akan perbedaan terjadi karena respon mereka terhadap exposure yang dilihat didepannya. Muslim secara politik sadar berbeda dengan Kristen dalam pilihan politik misalnya. Islam Maluku berafiliasi terhadap Gerindra, partai politik baru yang didirikan oleh Prabowo. Sedangkan Kristen Maluku lebih berafiliasi pada PDI-P, partai yang nasionalis sekuler yang dipopulerkan oleh Megawati.

Namun, karena relasi Islam-Kristen seperti musik polifonik daripada terbentuk dari serangkain rakitan (assemblage), relasi bersifat kata kerja karena ia terus berproses. Banyak pandangan melihat bahwa Islam dan Kristen mengalami segregasi pasca perang. Namun, karena relasi bersifat kata kerja yang terus menerus membentuk hal baru, ada banyak peristiwa baku masuk yang menjadikan Islam Kristen terlibat dalam kontak bersama. Misalnya di pasar, toko, dan di pedesaan Seram, dapat ditemukan dalam kerjasama mengatasi meningkatnya populasi babi hutan. Ingold menyebut realitas ini dengan “meshwork”. Realitas dalam relasi bersifat cair dimana setiap orang dapat bekerjasama, tapi di tempat lain saling berkompetisi dan terpisah. Dalam prinsip meshwork, garis-garis bergabung seperti dalam musik polifonik, dimana harmoni dibangun melalui perubahan-perubahan tensi dan resolusi antar nada. Garis nada bergabung satu sama lain kemudian merenggang dan kembali merepat, demikian seterusnya.

Relasi etnisitas dan Agama di Maluku tidak didasarkan pada konsep harmoni seperti dalam imajinasi politik Jawa terhadap Indonesia, dimana keragaman etnis dan agama harus dicampurkan dalam kesatuan yang harmonis (Bhinneka Tunggal Ika). Di Maluku, relasi etnis dan agama lebih bersifat dialektis. Perdamaian terjadi karena adanya konflik, dan sebaliknya, konflik terjadi justru terjadi ketika orang sudah demikian bersatu sehingga tidak dapat dibedakan kembali. Sebelum terjadi konflik di Maluku 1999, Muslim dan Kristen telah mencapati titik kulminasi yang sama. Muslim, layaknya Kristen tidak hanya tinggal di kampung-kampung yang sama, tapi mereka juga sama-sama mampu mengakses dunia birokrasi dan pendidikan. Konflik terjadi justru ketika orang sudah demikian terlihat sama (proximity and propinquity) Demikian pula, pasca konflik, saya tidak menganggap bahwa pasar dan pertukaran merupakan sarana paling damai dalam menyatukan antar agama dan etnis. Karena, justru pertikaian sering dimulai dari daerah ini pula. Ingat awal mula terjadinya konflik di Ambon adalah di pasar. Dengan demikian, jikapun korespondensi mengacu pada konsep harmoni, namun ia selalu dilandasi dengan ketegangan dan resolusi untuk mengatasinya.

[1] Cek gambaran terbaik tentang upaya orang Jawa menjaga harmoni kultural dan politik di Clifford Geertz. The Religion of Java. Glencoe, IL: The Free Press, 1960, pp 12-14; 58-84; John Pemberton. 1995. On the subject of “Java”. Ithaca, N.Y.: Cornell University Press

[2] Cek selanjutnya di Tim Ingold, “On Human Correspondence”. Journal of the Royal Anthropological Institute (N.S.) 23, 9-27

 

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s