Moralitas: Fondasi yang kini terabaikan dalam Ilmu Ekonomi

newsokezone.com
Ekonomi adalah ilmu tentang perilaku manusia yang dilandasi pada prinsip motivasi mencapai suatu tujuan atau kepentingan. Dibandingkan dengan ilmu fisika yang basis risetnya di laboratorium, ilmu ini semakin mendekati akurasi dalam menjelaskan fenomena alam. Sedangkan ilmu ekonomi, justru jauh panggang dari api. Ilmu ekonomi justru menciptakan model atau rumus yang kemudian relasi sosial manusia harus menyesuaikan dengan model tersebut
Di sisi lain, pada saat ini ilmu ekonomi seringkali diekspresikan dengan bahasa yang hampir semua orang tidak dapat memahami. Misalnya istilah blackscholes, austerity, derivative market, hingga economic bubbles. Waktu kuliah di Amerika Serikat, saya pernah mengambil satu mata kuliah berjudul ‘rethinking capitalism’ atau kaji ulang kapitalisme. Salah satu yang saya pelajari adalah blackscholes model, soal sekuritas dari opsi jual beli saham yang naik turun (volatile). Rumusnya sulit dipahami oleh mereka yang mempunyai disiplin di luar ilmu ekonomi. Model ini diciptakan agar realitas yang harus menyesuaikan dengan model. Tak heran jika semakin rumit teori ekonomi, semakin ia jauh dari realitas.

Ilmu ekonomi perlu melakukan formulasi ulang dengan mendekatkan diri pada apa yang disebut sebagai ‘antropologi ekonomi’, yakni melihat model dari sifat manusia yang menjalankan ekonomi. Bukan manusia yang harus menyesuaikan dengan model ekonomi yang hari ini semakin terkunci dalam rumus rumus matematis. Ekonomi bukan ilmu murni matematika, namun studi tentang praktik perilaku pertukaran, kerjasama, dan unsur sosial lainnya yang sangat beragam. Memang ada pendekatan baru bernama behavioral economics misalnya seperti yang dipopulerkan oleh oleh Steven Dubner dan Levitt di buku mereka yang populer Freakonomics (2005), namun hal ini saja tidak cukup karena melihat ekonomi pada model kausalitas perilaku. Sedangkan ada hal yang patut diberi porsi perhatian, misalnya soal kepercayaan dan ideologi, simpati dan internal feelings (perasaan dalam manusia). Meski demikian, saya harus akui bahwa ekonomi juga memerlukan pendekatan pada tiga perspektif yang saat ini semakin penting, yakni evolutionary biology, neuro science (ilmu yang mempelajari bagaimana otak bekerja) dan filsafat.

Dalam antropologi ekonomi, praktik moralitas terlihat jelas pada teori-teori pertukaran. “Saya mendapat seperti yang saya beri dan saya tidak melakukan apa yang merugikan atau mencurangi kamu karena saya juga tidak ingin dirugikan olehmu”. Atau, “saya ingin berbuat baik atau tidak ingin mencurangi kamu karena saya tidak ingin orang melihat saya buruk”. Aturan ini dikenal pula dengan istilah “resiprositas”. Relasi ‘dyadic’ ini persis dalam teori equilibrium atau keseimbangan. Baik atau curangnya relasi dalam pertukaran tergantung perilaku yang kita berikan kepada orang lain. Memang ada yang tidak sesuai dengan model resiprositas ini. Mereka adalah orang-orang psikopat, atau mempunyai sifat personality disorder yang tidak mempunyai simpati kepada orang lain. Misalnya adalah para aristokrat, bos CEO atau kepala negara yang mengejar keuntungan untuk dirinya sendiri/ keluarga. Kekuasaan memang cenderung mengkorupsi moralitas seseorang. Semakin berkuasa semakin mengurangi resiprositas. Pertukaran diatur agar tidak saling merugikan. Hasil sosialnya memang berbeda, ada yang berkompetisi satu sama lain, ada yang saling bekerja sama (cooperative) namun tidak jarang pulang yang saling menipu (mutual cheat). Namun, disinilah moralitas berjalan. Moralitas, dengan demikian, adalah sesuatu yang ditanamkan. Ia tidak hadir dengan sendirinya atau ada di suatu tempat begitu saja.

Dengan demikian, pada saat ini, hal yang diabaikan dalam ilmu ekonomi adalah soal moralitas. Moralitas adalah konsep yang telah banyak dibahas dalam tubuh pengetahuan ilmu sosial. Mulai dari filsafat kuno Aristoteles yang membahas etika kebaikan. John Locke tentang kontrak sosial dimana ia membangun asumsi bahwa pada dasarnya manusia tidak mempunyai trust atau kepercayaan satu sama lain, sehingga, tujuan membangun moralitas agar manusia tidak saling merugikan dan merusak. Karena itu, Leviathan pun percaya bahwa untuk menegakkan moralitas perlu hukum besi yang dijalankan oleh Negara. Saya mendefinisikan moralitas sebagai “perasaan berkewajiban untuk mendukung motivasi sosial”. Moralitas bukan sekedar daftar ‘do’ and ‘dont’ dan serangkaian tabu lainnya. Tentu saja agama mempunyai moralitas karena tugasnya adalah menginstitusikan moral dalam bentuk kode kode (moral codes). Budhisme, Kristen hingga anjuran sepuluh perintah (ten ammandement) dalam agama Yahudi juga mempunyai aturan aturan penting tentang etika mencapai kesuksesan, menghadapi kegagalan dan cara mencapai keadilan sosial.

Banyak yang salah mengartikan bahwa ekonomi adalah ilmu kompetisi seperti digambarkan oleh Adam Smith. Namun, Adam Smith tidak pro sosial dan ia tidak terlalu khawatir dengan moralitas ekonomi, melainkan ia menganjurkan kepentingan kepentingan individu yang bertujuan untuk meningkatkan produktvitas masyarakat. Di buku klasiknya Theory of Moral Sentiments (1759), Smith beranggapan bahwa sentimen moral atau perasaan, sebagaimana dalam judul bukunya, mengacu pada pemikiran individu yang lebih perduli dengan “reputasi diri” dibanding moralitas. Motivasi terhasap reputasi diri ditentukan oleh siapa yang menilai anda. Hidup jadi seperti performance atau tampilan di atas panggung. Individu bergerak karena dinilai oleh individu lain yang menilainya. Namun dalam pandangan saya, kebaikan untuk diri sendiri ternyata tidak cukup. Fenomena belakangan ini menunjukkan bahwa individu yang mengejar maksimalisasi dan reputasi diri justru berakhir dengan kesepian, depresi dan bunuh diri. Dalam perspektif makro, maksimalisasi pertumbuhan ekonomi, justru bertentangan dengan efek sosial. Jika kita perhatikan, fenomena kebahagiaan dan kesepian yang belakangan ini tidak linear dengan pertumbuhan ekonomi.

Saya percaya pandangan bahwa manusia adalah hewan sosial (social animal). Hanya Tuhan yang penyendiri tapi manusia tidak. Jika kita merujuk pada berbagai studi evolusi manusia sebagai cabang dari hominid sejak 5 juta tahun yang lalu, kita  dapati bahwa manusia adalah makhluk sosial. Jika kita lihat hominid paling dekat dengan manusia, Simpanse misalnya, adalah makhluk yang saling bekerjasama. Evolusi manusia berkembang dari cara mereka bekerjasama membentuk bahasa, kekerabatan, pertukaran, organisasi sosial hingga pendirian Negara. Berbagai studi juga menunjukkan bahwa suatu kelompok  yang sukses adalah mereka yang mampu bekerja sama dengan baik dan solid. Meskipun saya juga tidak menafikkan bahwa kelompok yang mampu bekerjasama dengan baik menggusur komunitas-komunitas yang tidak mempunyai kerjasama secara solid dalam bekerja sama, kolonialisme adalah contoh yang paling gamblang.

Saya melihat, beberapa kecenderungan saat ini adalah, kemakmuran ekonomi justru terjadi karena memanfaatkan faktor non-ekonomi. Keinginan mengekspresikan semangat sosial (non ekonomi), seperti perasaan simpati, perasaan berdosa, berbagi duka atau suka bersama dan perasaan ingin memberikan (altruisti)  justru menjadi alasan manusia untuk mengalokasikan uang mereka. Hal ini nampak pada massifnya proyek-proyek humanitarian berskala global mengatasi malaria hingga pengungsi dan tingginya volunterisme atau kerja-kerja sukarela. Pada skala kecil, kerjasama terlihat pada lingkar kekerabatan. Masing masing ego bertindak baik dan dermawan dalam relasi antar keluarga. Dengan demikian, saya percaya bahwa prinsip moralitas jika diterapkan dalam praktik ekonomi mempunyai implikasi yang berbeda. Ekonomi, bukan upaya maksimalisasi dari sumber-sumber daya yang terbatas. Pendapat ini adalah mitos tak berguna karena tujuan dari ekonomi adalah untuk menciptakan kesejahteraan manusia secara bersama dan dilandasi pada motivasi yang pro sosial.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s