Angka dalam Kebudayaan

Sangat sedikit antropolog peduli dengan angka-angka yang digunakan dalam masyarakat, dan sedikit pula ahli matematika peduli dengan angka dalam kognisi kebudayaan. Buku Thomas Crump (The Anthropology of Numbers, 1997) berpendapat bahwa kognisi berperan penting dalam menentukan angka karena ia telah terintegrasi ke dalam kebudayaan. Kognisi masyarakat tradisional dalam menghitung angka belum tentu berdasar sains modern, namun lebih pada pendekatan praktik keseharian dan kosmologi metafisik. Di setiap kebudayaan, Bali misalnya, mulai dari sabung ayam, perhitungan kalendar, permainan musik, perempuan hamil hingga praktek irigasi banyak menggunakan sistem penghitungan angka. Sistemnya tentu tak semata angka matematis yang abstrak, melainkan mengekspresikan kognitif sistematis dan praksis karena terhubungkan dengan berbagai objek secara konkrit, kosmologi kepercayaan dan sistem mata pencaharian dan pertanian.

20180729_063922.png

Setiap kebudayaan mengenal sistem ordinal dan cardinal. Angka ordinal untuk penghitungan 1,2,3,4,5 sampai 10, atau pertama, kedua, ketiga. Asal usul angka bisa dilacak pada cara dalam membuat urutan. Di masyarakat Indonesia, hireraki lebih didasarkan pada urutan usia daripada perbedaan gender. Masyarakat Jawa misalnya, mempunyai urutan penanggalan pasar berdasarkan siklus mingguan per lima hari. Lima hari ini mempunyai karakternya masing-masing dan terhubung dengan soal kepercayaan baik buruk, untung rugi. Selain itu, mengacu pada prinsip isomorfisme atau kemiripan, urutan berguna untuk menunjuk dan mengatur sistem hirarki dan struktur sosial, mengukur urutan pertama, tengah, akhir. Sistem ini juga digunakan untuk menunjukkan rangking atau hirarki. Misalnya seperti dalam lomba, olahraga, ujian dan rangking sekolah. Bisa dibayangkan, sistem tanpa hirarki menjadikan struktur sosial sangat tak berarti (meaningless). Masyarakat Bali mempunyai nama yang berkorespondensi dengan tahap kelahiran, dan angka ordinal ini bersifat siklikas namun bukan bersifat hirarkis. Tatanan siklikal merepresentasi garis numerikal dan watak dari masing-masing urutan anak. Nama anak Bali diambil berdasarkan tatanan lingkaran empat elemen. Paling pertama adalah Wayan. Anak kedua Nyoman. Anak ketiga Made dan Anak keempat Ketut. Anak kelima akan kembali bernama Wayan, dan seterusnya. Nama-nama ini mengacu kepada anak dan nama keluarga sekaligus menunjukkan peran mereka secara kultural. Siklis empat tahap menunjukkan bentuk replikasi yang tidak pernah usang. Secara fisik, manusia bersifat sementara, namun secara sosial, personal manusia adalah sama selamanya.

Sedangkan angka cardinal lebih menggambarkan pada sifat dan makna dari angka tersebut. Dengan kata lain angka ini mengacu pada jumlah benda atau objek. Satu apel, dua apel, empat puluh apel. Satu kilogram beras, lima kilo, sepuluh kilogram beras. Dalam operasionalnya, angka cardinal berguna untuk melakukan pertukaran, transaksi, dan hutang. Selain untuk pembukuan, angka cardinal digunakan untuk melakukan kalkulasi terhadap hal yang lebih abstrak, seperti relasi sosial, kosmologi dan waktu. Penggunaan angka cardinal dalam ekonomi diterapkan pada penghitungan jumlah penduduk, hasil panen, kuantitas jagung, padi dan berbagai hal berkaitan dengan birokrasi dan kebijakan publik. Di ranah pembangunan, angka cardinal berperan signifikan dalam melakukan sistem pengawasan dan mengarahkan alokasi bantuan secara tepat.

Di bab 3 buku ini, angka dan bahasa (number and language) adalah bahasan paling menarik. Angka adalah konsep abstrak tanpa direlasikan dengan susunan numerikalnya. Misalnya, ketika malam para petugas ronda memukulkan kentongan atau tiang listrik sesuai dengan angka jam pada waktu itu. Beberapa kali ketukan kentongan merupakan kode waktu yang ditunjukkan kepada khalayak. Angka menjadi bahasa ketika ia mempunyai susunan numerikal nominal dan operasional. Semisal, kata “lima batu bata” berarti angka lima menjadi konkrit karena ada material batu bata yang lebih dari satu, dua, tiga..dan kurang dari enam. Angka juga berelasi dengan kosakata karena ia diekspresikan dalam kata. Noam Chomsky salah satu pemikir terkemuka linguistik melihat angka seperti bahasa karena ia mempunyai struktur gramatikal yang bersifat universal. Ia dapat ditranslasikan ke dalam berbagai bahasa. Sebagaimana bahasa, perbandingan ukuran mempunyai nilai ekuivalensi yang universal. Kita masih mempunyai bayangan tentang satu pound di Amerika karena nilai ukurnya dapat dibandingkan setara dengan enam belas ons di Indonesia.

Dalam domain kognitif, keberagaman unit ukuran merupakan representasi pemikiran matematis abstrak yang dipraktikkan dalam pertukaran. Contoh paling sering digunakan adalah soal ukuran berat timbangan dalam jual-beli, dari ton, kilogram, gram, ons dan seterusnya. Ukuran ini berfungsi untuk memastikan satuan atau volume komoditas agar ia dapat dipertukarkan dengan komoditas lainnya yang mempunyai volume berbeda. Selain itu, penggunaan keberagaman unit ukuran juga untuk memecah satuan komoditas unit yang lebih kecil. Namun uniknya, sebagaimana bahasa, angka membahasakan beret dan satuan komoditas agar dapat ditranslasikan atau mempunyai nilai ekuivalen dengan komoditas lain di tempat lain. Demikian juga pada ukuran berat, jarak, dan suhu. Kognisi manusia mampu menciptakan komoditas terbandingkan sekaligus terstandarisasi. Angka juga mempunyai relasi dengan morfeme pada setiap bahasa, misal 1, 2,3, yang bisa diucapkan dalam kata menjadi satu, dua, tiga dst. Dalam tata bahasa, jumlah angka menentukan sebuah kalimat menjadi plural/jamak atau singular/tunggal atau bahkan tidak dapat dihitung.

Manusia banyak menggunakan angka untuk mengatur kehidupannya. Angka digunakan dalam kosmologi agar hidup tidak semrawut, melainkan punya ritme dan tatanan. Sebagaimana lawan kata dari cosmos adalah chaos (ketidakberaturan). Praktik penggunaan angka seringkali digunakan masyarakat agraris untuk menghitung cuaca dan musim. Misalnya, kalendar pertanian merupakan refleksi kosmologis yang dihitung secara matematis, gunanya disesuaikan dengan musim tanam. Selain berkaitan dengan ekologi, prinsip-prinsip aplikasi numerik juga digunakan dalam menghitung siklus hidup, seperti wanita hamil, usia melahirkan, usia anak hingga penghitungan hari pasca kematian. Hitungan kosmologis menunjukkan bahwa masyarakat tradisional mempunyai pendekatan etnosains, yakni pengklasifikasian berbagai hal dalam kognisi yang kemudian dipraktikkan dalam bahasa numerologis. Pada masyarakat Jawa, hitungan pasaran mempunyai oposisi biner dengan hitungan hari sakral. Misalnya, pada hari Kamis Kliwon atau Kamis Legi, para pedagang keliling tidak berjualan karena dianggap hari tidak baik untuk pasaran. Selain itu, tidak semua tatanan kosmologis berkaitan dengan etnosains, tapi juga dengan kepercayaan mistis. Kebudayaan Cina di Asia Tenggara percaya angka-angka tertentu sebagai keberuntungan seperti 8, atau angka sial seperti angka 4 dan 13.

Hubungan manusia selalu terkait dengan soal ukuran perbandingan dan persamaan (comparison and ekuivalens). Dalam kebudayaan, manusia mempunyai instrumen untuk mengukur waktu, jarak, kecepatan, dan berat. Masyarakat Kedang, Flores Timur mempunyai instrumen untuk mengaplikasikan urutan yang dapat dihitung. Mereka menggunakan konsep ‘ka’ yang berarti pertemuan sebuah objek dengan sebuah titik pada sekuens yang digunakan untuk menghitung panjang dan durasi. Secara kuantitatif, mereka menerapkan standar gading yang dipoles (munaq) dalam menentukan mas kawin. Nilainya dapat dibandingkan dengan objek-objek lainnya yang berharga. Sebelum munculnya pasar dan beredarnya uang tunai secara luas, gading menjadi standar ukuran terhadap objek-objek lainnya dalam pertukaran. Sebagai ukuran perbandingan, angka digunakan untuk melakukan kompensasi ternak terhadap pembunuhan atau pernikahan. Antropolog Inggris, Evans Pritchard menggambarkan masyarakat Nuer di Sudan berdasarkan hitungan numerik, ternak yang paling tinggi produktivitasnya digunakan untuk membayar harga pernikahan (bridewealth).

Buku ini terbit pertama kali di tahun 1990. Pada era tersebut, penulis belum menyadari bahwa angka menjadi model penting digunakan untuk mengukur praktik kehidupan manusia seperti saat ini. Mesin algoritme yang menjalankan Big Data misalnya, digunakan sebagai analisis sistem komputasi dalam mengungkapkan pola, tren, dan kecenderungan manusia. Analisis data ini diambil dari pembacaan terhadap semua praktik manusia menjadi angka-angka yang terukur dan terpola. Mesin algoritme bahkan jauh lebih paham dari diri kita sendiri. Di era kapitalisme mutakhir ini, kosmologi dan kognisi kebudayaan manusia terhadap angka justru menjadi modal paling efektif untuk melakukan komersialisasi.

Namun dapatkah kita mempercayai angka dalam algoritme? Apakah algoritme tidak mempunyai biasnya tersendiri? Algoritme menjadi mesin penghitung untuk memprediksi pasar, yang justru mensortir manusia berdasarkan klas, kemampuan ekonomi, bahkan berdasarkan ras. Data algoritme mensortir orang-orang yang menang dan kalah, yang berhak mendapatkan kredit dan mengkodifikasi siapa yang berhak mendapatkan resiko asuransi (good insurance risk) dan yang bukan. Di Amerika misalnya, data algoritme membuat orang kulit hitam justru membayar asuransi lebih dibanding kulit putih. Alasannya karena riset menunjukkan angka harapan hidup  orang kulit putih lebih panjang dan mereka lebih sedikit terlibat tindakan kriminal. Angka ini tentu mengandung rasisme karena input yang dimasukkan terkadang bias, sehingga hasil/outcomes juga bias. Misalnya, dalam kasus kriminalitas, orang kulit hitam atau kulit berwarna seringkali ditangkap dibanding kulit putih. Sehingga data yang tercatat lebih banyak adalah orang kulitm hitam terlibat dalam kriminalitas.

Dalam melihat cara kerja data algoritme, manusia terjebak pada perasaan auhority of inscrutable dimana kita merasa terintimidasi jika tidak paham agar kita tidak berhak untuk mengkomplain tentang sesuatu. Angka dalam data bahkan digunakan untuk membully orang lain. “Lihat data ini kalau kamu tidak percaya!!!” Kalimat ini disebut juga dengan “math washing” yakni membunuh argumen lawan bicara dengan data angka yang digerakkan oleh mesin algoritme. Padahal, angka dalam kebudayaan dihasilkan dari intuisi dan pengalaman manusia sehari-hari sehingga menjadi kepercayaan dan tradisi. Namun demikian, pada saat ini intuisi dan emosi tidak dilihat mempunyai presisi yang tepat dan kuantifiable. Angka dalam statistik misalnya tidak membuat seseorang mampu melihat konteks dirinya secara pribadi dalam data karena angka-angkanya mencerminkan kecenderungan secara berkelompok. Di era kini, angka yang dulunya melekat dalam kebudayaan justru dipisahkan dan dihilangkan dari konteks semangat kebudayaan. Pertanyaannya kemudian, dapatkah kita mempercayai angka yang terlepas dari kebudayaannya?
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s