Masyarakat Rizomatik

Membaca atraksi pemikiran Gilles Deleuze and Felix Guattari bukanlah hal yang mudah. Dalam pandangan saya, dua tandem filosof dan psikoanalis ini adalah yang paling sulit dicerna setelah sirkus pemikiran Martin Heidegger. Namun, selama anjuran penjarakan sosial (social distance) dan mengurung diri di rumah, saya memutuskan membuka ulang buku Delezue dan Guattari, A Thousand Plateaus. Merebaknya virus Korona yang menjadi pandemik global membuat saya lebih memahami beberapa konsep teori yang dikembangkan oleh filosof Perancis dan psikoanalis dari Italia ini. Beberapa antropolog, seperti James C Scott menggunakan teori Deleuze dan Guattari dalam melihat masyarkat nomaden Zomia di dataran tinggi Burma. Demikian juga antropolog Clara Han menerapkan konsep Deleuze dan Guattari pada operasional hutang di Cile. Hutang pada awalnya hanya bisa diakses oleh laki-laki, klas menengah atas, kulit putih kemudian menyebar ke perempuan miskin, kulit berwarna hingga ke negara Miskin.

Frase menarik yang digunakan dalam buku A Thousand Plateaus adalah “rhizome” atau akar rimpang. Akar rizoma tumbuh menjalar di bawah tanah dan menghasilkan tunas akar baru yang kemudian membentuk batang. Rizoma tumbuh dan menghubungkan bersama antara pusat dan periferi. Namun demikian, relasi antara pusat dan periferi tidak bersifat hirarkis, melainkan tumpeng tindih, saling menghimpun (assemblage) dan menggandakan dirinya (multiplicity). Inti dari rizoma adalah keterhubungan. Satu poin terhubung dengan poin lainnya. Koneksi antar poin tersebut tidak ada pusat. Dalam relasi rizomatik tidak ada rejim yang mensubordinasi satu dan lainnya. Tidak ada keistimewaan dari satu terhadap lainnya. Cara kerja rizoma ini persis seperti kinerja otak, dimana jaringan otak saling terhubung satu sama lain diantara satu titik ke titik lainnya. Karena keterhubungan ini, Deleuze dan Guattari menyebut sifat dari rizomatik ini sebagai multiplisitas. Keterhubungan antar poin menciptakan penggandaan yang makin luas dan pada akhirnya membentuk satu kumpulan rakitan yang disebut assemblage.

Deleuze and Guattari memberi contoh relasi tawon dan anggrek. Dua titik ini saling terhubung secara terus menerus. Angrek menarik tawon untuk hinggap mengambil serbuk sarinya. Kemudian tawon tersebut memuat (carries) serbuk sari ke organ reproduksi tawon perempuan. Konektivitas rizomatik antara tawon dan anggrek juga menjelaskan konsep Deleuze dan Guattari selanjutnya tentang de-territorialization dan re-territorialization (Deleuze, 2005: 10). Anggrek berhasil mende-teritorialisasi tawon sebagai bagian dari alat reproduksinya sendiri. Kemudian tawon mencoba untuk melakukan re-teritorialisasi terhadap anggrek dengan mengusung serbuk sari.

Dalam prinsip persebaran Bahasa, rizomatik adalah contoh tepat menggambarkan bagaimana Bahasa mereorganisasi dan mereformasi dirinya setelah ia keluar dari pusatnya, seperti seekor tawon yang keluar dari teritorinya dan menyebar melakukan de-territorialization di tempat lain. Bahasa, baik itu Sanskrit, Inggris maupun Arab di re-kode dalam fungsi dan konteks yang berbeda ketika ia menyebar ke wilayah lain, seperti Asia Tenggara. Penerapan Bahasa justru makin beragam karena persentuhan dengan kekuasaan lokal hingga dengan sejarah kolonialisme. Itulah kenapa Bahasa di kawasan pinggiran semakin beragam dari Bahasa aslinya karena terjadi proses multiplikasi.

Lantas apa hubungannya dengan Virus? Seperti sebuah cabang pohon atau akar rizomatik yang membentuk batang baru dari ruas-ruasnya, virus menyebar membentuk de-territorialization baru di kawasan yang baru. Pandangan Deleuze dan Guattari ini sekaligus menentang konsep hirarki dualisme atau oposisi biner, seperti pandangan Hegel atau dalam model antropologi klasik, Levi-Strauss. Kinerja virus tidak mengenal hirarki pusat dan periferi. Sifat rizomatik virus ada dua. Pertama, secara sosial geografis. Kawasan Cina yang dianggap sebagai epicenter virus pada saat ini telah mengalami fase penyembuhan. Sebaliknya, tawon-tawon (manusia) yang membawa virus ke tempat lain, seperti Italia dan Indonesia menjadikan virus memultiplikasi dirinya dan semakin kompleks. Alasannya karena antara virus, keyakinan agama, kultur kolektivitas (yang menentang penjarakan sosial/social distance), politik lokal dan nasional, adalah kumpulan rakitan (assemblage) membuat persebaran virus menjadi kompleks dari kawasan asalnya/pusatnya di Cina. Di kawasan periferi, ia membentuk realitas baru karena konteks lokal menguntungkan virus berkembang lebih biak.

Kedua, secara biologis. Jeff Wise, seorang jurnalis sains, dalam tulisannya “How the Coronavirus Could Take Over Your Body (Before You Ever Feel It), NewYork Magazine, mendeskripsikan dengan apik. Sifat virus itu sendiri mampu memultiplikasi dirinya dalam tubuh manusia. Jika anda  terindikasi positif membawa virus Korona, bisa saja tubuh anda mempunyai 43.654 partikel virus. Ia mengendap di atas lapisan tenggorokan dan menciptakan tetesan lendir yang sarat virus dan tak terlihat ketika melayang ke udara. Beberapa juga menempel di jari-jari. Pada saat anda selesai berjabatan tangan dengan seseorang, angka virus tersebut telah mencapai 312.405 dan menyebar ke tangan orang tersebut. Setelah empat hari demam berkecamuk, anda merasa sakit di seluruh tubuh, dan tubuh anda terguncang dengan batuk kering yang begitu keras. Dengan berjuang untuk bernafas, anda mulai memesan kendaraan online (grab atau gocar) menuju Instalasi Gawat Darurat. Pada saat itu tubuh anda meninggalkan 376.345.090 partikel virus yang teroles pada berbagai permukaan mobil dan 323.443.865 lainnya mengambang di udara.

Sebagai realitas rizomatik, virus tidak mengenal pusat. Ia bekerja membentuk rantai tanpa aturan hirarkis terpusat dan ketat. Sifat transmisinya, seperti tawon dan anggrek, yakni pada awalnya relasi trans-spesies, dua spesies yang berbeda berinteraksi bersama membentuk multiplisitas (yaitu satu kesatuan yang berlipat ganda dalam dirinya sendiri) kemudian menyebar, keluar dari teritori pusatnya, dan melakukan hibridisasi ketika transfer gen horizontal antar manusia terjadi melalui, tetesan cairan, udara dan berbagai benda mati. Jikapun telah ditemukan anti-virus/penangkalnya, hal tersebut tidak mematikan esensi virus itu sendiri yang bergerak rizomatik tidak mempunyai awal dan akhir, sifatnya nomadik, terus berpindah, tumbuh dan menyebar.

20200321_234600Ilustrasi transpesies

Sifat virus ini persis dalam kondisi masyarakat saat ini. Saya menyebutnya sebagai masyarakat rizomatik. Masyarakat ini tercermin dalam ke-anti-an terhadap stabilitas sistem yang hirarkis. Demokrasi liberal mengajarkan kita was-was terhadap orang yang mempunyai otoritas, orang di tampuk pimpinan politik, para ahli, hingga pemuka agama yang benar-benar paham agama. Masyarakat Rizomatik adalah bagian dari fase Posmodern yang mengambrukkan semua narasi tunggal dan otoritatif. Pengetahuan dan pendidikan yang pada awalnya hanya dimiliki oleh orang yang mau menjadi pakar, saat ini seperti akar rizomatik, semua orang bisa mengaksesnya. Implikasinya, saat ini semua orang bukan hanya punya pengetahuan dan boleh bicara, bahkan lebih dari itu. Semua orang boleh menentang dan mempertanyakan keahlian para ahli.

Munculnya pandemik virus korona, adalah hasil dari gerak dan ideologi yang kita anut belakangan ini. Seperti virus, liberalisme mengajarkan kita untuk anti kemapanan, kestabilan dan singularitas. Kita memuja kedinamisan, terobsesi dengan keterburuan, keterhubungan, dan menghujat tradisi yang kita anggap statis. Virus mengikuti subjek yang terus bergerak melakukan mobilitas, konektivitas melampaui batas negara melalui berbagai pintu masuk. Dan seperti dalam prinsip demokrasi liberal, virus juga tidak memandang hirarki, semua orang berhak terinfeksi olehnya, tanpa pandang bulu. Kebebasan mendorong manusia untuk terus melakukan penaklukkan pada alam, disrupsi teknologi, dan ekspansi infrastruktur telah mendeteritorialkan virus ke arah transpesies seperti yang kita derita sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s