Proyek Biomedis berbasis Etnisitas

Biopolis adalah institusi publik biomedis di Singapura yang juga menyerupai perusahaan laboratorium. Tugasnya melakukan riset tentang gen (genomic), sel induk (stem cells), nanoteknologi, ilmu saraf (neuroscience) dan berbagai penyakit tropis. Biopolis dibangun dengan menggabungkan semangat keamanan hayati (biosecurity), nilai-nilai komunal masyarakat Asia (Asian Values), serta semangat negara pascakolonial dalam membangun kedaulatan biologis (biosovoreignty).

978-0-8223-6264-7_pr

 

Yang menarik dari institusi ini adalah mengkonstruksi basis data “sidik jari” DNA berdasarkan etnisitas dan ras Asia (Cina, India dan Melayu) sebagai objeknya. Harapannya, sampel tersebut menghasilkan bio-informasi yang merepresentasi mayoritas populasi orang Asia di seluruh dunia. Pendekatan ini tentu berbeda dengan penerapan sains Euro-Amerika yang melihat DNA sebagai unit karakteristik yang bersifat individual. Riset biosains tidak dimulai dari pandangan bahwa tubuh adalah entitas universal, melainkan ia ditentukan secara spesifik oleh ikatan antara DNA leluhur dan etnisitas sejak awalnya. Mengacu pada konsep antropolog ekologi Gregory Bateson “the diference that makes a diference”, perbedaan biologis berlanjut ke arena sosial dan geografi. Perbedaan berkelanjutan ini semakin kompleks karena basis data biomedis Asia menempatkan etnisitas sebagai strategi cerdik untuk meningkatkan kekuatan gen selanjutnya, sekaligus membedakan data biomedik Asia dengan populasi Kaukasia. Namun demikian, sebagai antropolog, Aihwa Ong tidak mengklaim esensialisme etnis dalam biologi, melainkan ia melacak bagaimana praktik biosains dijahit bersama dengan identifikasi etnis Asia, kondisi geografi, politik dan etos kapitalisme Singapura.

Dengan menggunakan metafora kertas origami, Ong merujuk lipatan sistem kode yang berbeda (etnis, penyakit, geografi, dan pasar bisnis) ke dalam jaringan data yang saling berhubungan. Identifikasi biomarker “Asia” yang terhubung dengan jenis penyakit “Asia”, dihasilkan dari lipatan data yang mengaitkan antara objek (patogen, hewan, dan manusia) dengan ruang laboratorium riset dan pasar bisnis. Metode ini adalah intervensi baru untuk kedokteran multietnis, analisis ketidakpastian dan kerentanan dari kacamata biopolitik.

 

Perkawinan Biomedis, Semangat Wirausaha dan Politik Otoritarianisme

Proyek biomedis ini mencampurkan semangat kewirausahaan ilmiah (scientific enterpreneuralism) dengan menempatkan data DNA orang Asia (Cina, India, Melayu) sebagai aset yang dapat dipertukarkan dan digantikan (fungibility). Dengan menyimpan penemuan medis, Singapura juga dapat mendominasi penjualan obat mereka di negara miskin. Semangat kewirausahaan ilmiah sekaligus didorong oleh kecemasan untuk terus sukses. Biopolis juga bertanggung jawab publik untuk memantau kesehatan di jaman normal serta bersiap mengantisipasi ketidakpastian akan datangnya ancaman wabah (biothreats) dalam waktu mendekat seperti SARS yang menyerang pada 2012.

Berdasarkan perbedaan etnoracial dalam penelitian DNA, para ilmuwan Singapura dapat mengedarkan data dan aplikasi masing-masing populasi etnis. Penggunaan sampel DNA “etnis Cina” di Singapura dapat digunakan untuk merujuk secara merata kepada populasi etnis Cina di seluruh Asia Tenggara, daratan Cina, maupun di Amerika Serikat. Dengan menanamkan etnik dalam biostatistik, para peneliti Singapura meningkatkan kemampuan data genomic DNA menjadi lebih terstandarisasi, dapat dipertukarkan dan dipasarkan. Dengan demikian, etnisitas tidak hanya menjadi penanda perbedaan geografis, tetapi juga berfungsi sebagai kategori biomedis (biomarker) yang dapat diterapkan secara fleksibel pada kelompok berbeda di ranah transnasional. Ong Mengacu pada sifat uang, yang mempunyai daya tukar dan daya pecahnya ke satuan  paling kecil yang  disebut juga fungibility. Agar sebuah komoditas mempunyai nilai universal, ia harus bersifat fungibel atau nilai kuantitasnya dapat dipertukarkan dengan nilai kuantitas komoditas lainnya. Layaknya uang, para ahli medis di Singapore telah melakukan riset sel dan DNA agar menjadi fungible. Caranya adalah dengan mengembangkan sel sintesis artifisial yang ditransplantasikan ke dalam tubuh manusia yang mengalami sakit seperti TBC, sifilis, hingga kanker payudara.

Data biomedis berguna untuk menelusuri sejarah penyakit leluhur melalui prediksi gen dan fungsi metabolisme. Mendiagnosa penyakit dan tingkat imunitas, reaksi dan efek samping pasien dengan obat tertentu. Khususnya dalam pengobatan kanker, data biomedis menunjukkan bahwa ketika seseorang terkena kanker tulang belakang dan leukemia, penyembuhan melalui transplantasi hanya mungkin dilakukan dari keluarga atau kerabat yang dipilih karena mereka memiliki genetik dan DNA yang sama. Dengan mengetahui variasi geografis suatu kelompok etnis juga memungkinkan dokter mengantisipasi dan mengidentifikasi orang yang berisiko. Teknik biomedis yang menggunakan pendekatan biostatistik etnis, sampel dan data yang diambil dari “populasi Asia”mampu mengembangkan sistem peringatan dini datangnya wabah pada kawasan geografis tertentu sekaligus membantu mengembangkan vaksin.

Aspek yang menguntungkan dari ilmu genom adalah kemauan orang Singapura secara heuristik menyelidiki karakteristik biologis etnis mereka sendiri. Kesediaan heuristik ini bermanfaat mengatasi jenis penyakit tertentu yang terkait dengan etnisnya. Seperti etnik Cina, sebagian besar menderita gagal ginjal, dan hepatitis B. Etnis Melayu darah tinggi, dan etnis India menderita diabetes. Kepatuhan dan partisipasi etnis mendonorkan darah mereka untuk menguji DNA muncul dari persepsi bahwa sumbangan yang diberikan kepada sektor publik, yaitu rumah sakit dan klinik pemerintah, membuat mereka merasa terhormat. Prinsip ini sebagaimana dalam konsep “biopolitik” Michel Foucault, yakni kepatuhan warga yang dengan senang hati memberikan informasi agar dirinya (bahkan higga jaringan tubuh dan DNA nya) terlihat oleh pemerintah. Selangkah lebih depan, Ong melihat bahwa ketakutan akan rentannya tubuh terhadap penyakit dan harapan akan obat baru adalah faktor yang menentukan orang Singapura mau memberikan informasi tubuh mereka.

Selain itu, ketakutan muncul dari sifat virus itu sendiri yang “tidak mempunyai paspor”. Virus yang tertanam dalam binatang dan terinfeksi ke manusia adalah objek cair yang dapat berubah melintasi ceruk ekologis dan ruang-ruang geografis yang berbeda. Untuk menghadapi cairnya objek ini, Singapura menerapkan apa yang disebut Michel Foucault sebagai “spasialisasi” yakni klasifikasi medis, pengawasan dan penanggulangan dengan memisahkan dan mengontrol persebaran penyakit. Spasialisasi tidak hanya mengawasi pergerakan mikroba dan manusia, namun juga teknik pengetahuan sains dan pemerintahan. Ong menyebut gabungan dari teknik topologi keamanan hayati (biosecurity) ini sebagai “etno-zoonosis”. Teknik ini mengelola fluiditas mikroba, organisme, pengontrolan infeksi hewan apa pun yang menyebar ke spesies manusia, yang mengakibatkan penyakit menular mematikan yang bergerak dengan cepat, seperti SARS, AIDS, Ebola, dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS). Untuk menangkal virus mematikan yang mampu melewati batas-batas negara, politik otoritarianisme Singapura menerapkan etno-zoonosis. Ini adalah strategi regional batas Negara yang melibatkan perpaduan antara keahlian teknis badan-badan kesehatan, otoriterisme politik, farmasi besar, dan militer gaya Amerika.

Cina bagian selatan dan Asia Tenggara adalah pusat dari influenza dan penyakit pernafasan yang berpotensi fatal seperti SARS dan Covid 19. Penyakit yang memunculkan virus dengan potensi pandemi, terbentuk dari kombinasi sistem pertanian komersial dan percepatan transformasi ekonomi. Jika kita perhatikan, praktik-praktik pertanian Asia seringkali menggabungkan spesies yang berbeda. Hal ini memunculkan inang yang disukai oleh virus flu. Misalnya virus Sars yang ditemukan muncl dari kelelawar di Cina, namun di bawa oleh hewan lain seperti musang (civet cats) yang bertindak sebagai inang perantara di pasar hewan Guangdong yang mentransmisikan patogen kepada manusia. Mengingat rusaknya ekosistem dan laju urbanisasi yang cepat di seluruh dunia tropis, patogen yang dulu tinggal dalam organisme binatang yang terisolasi melompat dari hewan ke manusia dengan kecepatan yang mengerikan. Ada banyak lapisan zoonosis yang menghubungkan organisme non-manusia dan organ manusia menyebarkan infeksi mematikan.

 

Etnografi Multispesies

Buku ini merupakan studi perpotongan antara etnografi multispesies dengan studi antropologi mitigasi bencana non alam. Namun demikian, Ong tidak menjelaskan lebih lanjut apakah gen khususnya “etnis Cina” setelah berhasil mengatasi wabah, mendiagnosis penyakit melalui perkawinan batang sel induk akan menjadi ras superior pada akhirnya? Apakah studi genomic dengan dukungan biomedis akan mengarah pada perubahan atau reaksi lebih lanjut yang menghasilkan sistem politik kapitalisme baru berdasarkan ras? Meski demikian, buku ini menjelaskan dengan bagus kecemerlangan sains yang didukung oleh lipatan kapitalisme dan negara otoriter dibaliknya. Pertanyaannya, cocokkah hal tersebut dijalankan pula dalam sistem Negara kita yang saat ini mengalami wabah dan krisis kepercayaan terhadap pemerintah?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s