Hidup di Masa Krisis: Sekuritas sosial orang Ambon

Franz von Benda-Beckmann tinggal di Hila, Pulau Ambon, beberapa tahun sebelum krisis ekonomi 1998 dan konflik menghantam Maluku. Buku ini kembali relevan ketika masyarakat mengalami ketidakpastian pekerjaan, hukum, mengalami sakit, dan pensiun, sementara bantuan sosial dari pemerintah sangatlah terbatas. Pada akhirnya masyarakat mencari jalan sendiri dengan membangun jejaring antar kerabat dan tetangga. Pandemi covid 19 memberikan pelajaran. Kita perlu menoleh kembali sekuritas sosial apa yang dimiliki orang Ambon mengatasi ketidakpastian dan krisis saat ini? Meski terkadang sekuritas sosial itu telah berubah/hilang seiring Ambon yang semakin modern dan gemerlap.

9783825807184

 

Krisis membuka kemungkinan orang untuk kembali menjalin jejaring sosial degan cara memperkuat dan menambah relasi antar keluarga. Indikator krisis adalah ketidak pastian akan masa depan. Berbeda dengan masyarakat di Barat dimana sistem ekonomi digerakkan oleh prinsip pasar yang rasional, di Ambon prinsip ekonomi dibangun berdasarkan kesadaran komunitas dan organisasi sosial dalam bentuk sistem kekerabatan dan patron-klien.

Berbeda dengan keamanan sosial pada masyarakat Barat yang dikelola oleh Negara, definisi sekuritas sosial disini mengacu pada jaringan sosial yang dibangun diluar intervensi negara (off state). Cara membangun sekuritas sosial adalah dengan saling membantu mengatasi kerentanan, kecemasan, perasaan tidak pasti karena krisis ekonomi, konflik, dan juga wabah. Sekuritas sosial terejawantahkan dalam dua hal, ketersediaan material, seperti tanah, rumah, makanan, uang.  Non-material seperti saling mendukung, membantu, dan peduli. Untuk mendapatkan sekuritas material, orang Ambon mendefinisikannya sebagai mancari, yang artinya mengubah tenaga dan keahlian menjadi uang. Mancari pada awalnya melibatkan keluarga, kerabat atau tetangga yang tinggal di dalam atau sekitar rumah. Untuk menjual hasil kebun misalnya, seorang perempuan mengandalkan suaminya memanen. Kemudian ketika di pasar, hasil kebun tersebut dijual oleh sepupu, keponakan atau tetangganya yang juga pedagang.

Demikian pula, mode produksi rumah tangga didasarkan pada saling membantu (mutual help) dalam keluarga. Ketika saya melakukan riset di Ambon, induk semang saya menjaga menjaga dua anak perempuan (cucu) dari anak lelakinya. Anak menantu perempuan turut bekerja, namun ia memberikan uang saku tiap hari untuk belanja masak ditambah uang bulanan untuk listrik dan air. Mereka yang bekerja di sektor domestik, menjaga anak dari saudara yang mancari dan mendapatkan uang saku tambahan.

Beckmann menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi berkorelasi kuat dengan organisasi sosial, kekerabatan, dan pola pemukiman. Karena itu, sebagai bentuk sekuritas sosial, antar saudara mempunyai jarak yang saling berdekatan, bahkan satu atap. Sangat umum ditemukan dalam satu rumah, terdapat dua hingga kepala rumah tangga dengan satu dapur yang digunakan secara bergantian. Pemerintah menganggap berbagi dapur termasuk kategori rumah tangga miskin, namun kedekatan ini bertujuan untuk membagi keintiman dan saling mendukung secara ekonomi.

Buku ini menunjukkan ada banyak hal yang telah berubah. Mereka yang mengalami kenaikan mobilitas sosial, mendirikan rumah sendiri, meski dengan mencicil. Telah banyak kredit perumahan rakyat yang diberikan. Namun hal tersebut tidak membuat orang Ambon menjadi atomik atau individual. Mereka yang naik kelasnya, misalnya menjadi pegawai negeri mempunyai kewajiban untuk memperhatikan saudara-saudaranya dengan cara menyediakan pekerjaan sampingan, menyediakan akses proyek atau membuka usaha kecil.

Munculnya Kerentanan di Ambon

Karena negara tidak menyediakan bantuan sosial secara memadai, patron klien di pedesaan Maluku menguat. Negara, misalnya tidak menyediakan jaminan asuransi untuk petani yang gagal panen. Di pedesaan, yang menjadi patron dalam hal ini adalah pedagang Cina Maluku. Dibanding koperasi unit desa (KUD), pedagang Cina Maluku menyediakan hutang secara fleksibel dan prosesnya mudah dibanding bank.

Ambon telah mengalami proses monetisasi sejak tahun 1970an. Definisi hidup “subsisten” dianggap sama dengan miskin. Orang Ambon sudah tidak melihat kebun ubi dan sagu sebagai sekuritas makanannya. Perubahan makna mancari adalah semata-mata mencari uang. Bukan lagi untuk mengamankan sekuritas pangan sagu karena telah tergantikan oleh program berasi-isasi. Beras tidak dapat tumbuh di pulau-pulau Maluku secara massif, akibatnya, masyarakat perlu uang kontan untuk membelinya. Padahal bagi orang Ambon di pedesaan, masa ekonomi lemah adalah ketika harga cengkeh dan pala jatuh. Masyarakat mengakalinya dengan mengintesifkan tanaman umbi-umbian di kebun, memancing ikan, dan membelah sagu di hutan. Namun pola ini sudah tidak berlaku umum lagi.

Ketika teknologi pemrosesan sagu mulai diperkenalkan pada pertengahan 1980-an, orang Cina Maluku mengalokasikan investasi mereka pada mesin pembelah sagu dan kemudian mendirikan pabrik-pabrik sagu. Di Pulau Seram, orang-orang lokal Maluku menjadi buruh di pabrik-pabrik tersebut. Padahal sebelumnya mereka bekerja untuk pohon sagu mereka sendiri. Beckmann melaporkan bahwa pada tahun 1984 orang Cina Maluku memiliki dua belas pabrik besar pengolahan sagu. Ketika sagu dikomersialkan, sistem kepemilikan tanah dan pohon berubah. Cina Maluku mempunyai 59% kepemilikan tanah. Perubahan kepemilikan tanah juga menunjukkan bahwa sistem hukum yang berkaitan dengan kontrol, produksi dan distribusi tanah cukup fleksibel ketika mereka berhadapan dengan komersialisasi dan monetisasi. Beckmann menunjukkan, pada tahun 1980an, hukum adat tidak memiliki aturan pasti khususnya ketika mengatur hak properti untuk melarang individu mengkomersialkan lahan sagu.

Komersialisasi sagu tidak menjanjikan karena hanya mengubah warga pedesaan menjadi buruh murah. Krisis lahan akibat komersialisasi sagu di pedesaan telah menyebabkan urbanisasi sehingga menumpuk konsentrasi kemiskinan di kota Ambon. Dalam surveinya, Beckmann menemukan 85% orang Maluku berkeinginan bekerja di sektor pemerintahan, seperti tentara, guru dan pegawai negeri. Sedangkan sisanya menjadi pedagang. Beckmann juga menunjukkan bahwa mereka yang telah lulus, memilih untuk tinggal di kota Ambon. Sebanyak 75% mendapatkan pekerjaan di kota, dan hanya 5% yang ingin kembali ke kampungnya.

Sedangkan di perkotaan maupun ibukota distrik, di masa-masa normal, para pegawai negeri adalah agen yang memanggul sekuritas sosial untuk kerabat/warga disekitarnya. Para pegawai dipandang mempunyai pemasukan stabil. Mereka menjadi broker, menyediakan proyek-proyek sampingan kepada saudara-saudaranya yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Pegawai negeri pula yang mempunyai akses bantuan langsung yang diberikan kepada warga biasa dan kerabat. Meskipun demikian, banyak kasus membuktikan bahwa relasi klientelisme pegawai negeri  kerap bermasalah. Nepotisme dan tidak transparannya anggaran yang ia bagikan kerap menjadi sumber korupsi.

Yang bisa dipelajari menghadapi Pandemi?

Meski kondisi pangan, pola pemukiman, dan mobilitas penduduk telah berubah, namun saya percaya bahwa pandemic Covid 19 yang diikuti dengan lemahnya ekonomi justru memperkuat ikatan-ikatan antar keluarga, kerabat, marga dan antar tetangga untuk saling membantu dan peduli. Dari buku ini kita bisa belajar sejarah, bahwa selama krisis, pasokan kebutuhan pokok akan langka di pasaran, jikapun ada, harganya tinggi. Masyarakat kemudian menguatkan ikatan dengan cara membangun kredit sosial. Dengan kata lain, intensitas saling mendukung dan saling berhutang akan semakin tinggi frekuensinya. Pada titik inilah klientelism atau relasi patron-klien akan kembali menguat. Ketika Negara hampir absen dalam menjadi “ayah” yang melindungi dan memberi bantuan kepada ‘warga’nya. Buku ini menunjukkan, sebagai ‘anak’, Orang Ambon mempunyai daya yang liat untuk terus saling menghidupi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s