Bahayanya Menjadi Entrepreneur

Pasangan suami istri, Esther Duflo dan Abhijit Banerjee, peraih nobel ekonomi tahun 2019, dalam bukunya Poor Economic menceritakan kisah Ibu Tina, seorang perempuan yang tinggal di Cicadas Bandung. Ia membangun usaha garmen bersama suaminya. Ketika mulai punya tiga karyawan, ia tertipu oleh rekanan bisnisnya yang memberikan cek palsu sebesar 20 juta rupiah. Ibu Tina mengurus penipuan ke polisi. Agar polisi sudi mengurus kasusnya, ia harus menyuap 3 juta rupiah. Kasusnya terkatung karena Ibu Tina juga harus membiayai ibunya yang sakit tua. Belum lagi ia harus membiayai sekolah tiga anaknya.

9d0e5f5bd5e43706e7daf37d65ae94b2-1
Staf khusus presiden yang selalu menggaungkan creativepreneur. Padahal membuka usaha bukan persoalan kreatif, tapi keberanian mengambil resiko

Ibu Tina adalah contoh dari sekian ratus usaha kecil menengah yang kandas di Indonesia karena bermacam alasan. Resiko menjadi pengusaha kecil di Indonesia, persis seperti petani miskin yang bisa kapan saja gagal panen karena wabah, harga pupuk atau komoditas yang tiba- tiba naik atau anjlok, serta ketakmenentuan perubahan iklim seperti sekarang. Itulah kemudian, kata Duflo dan Banerjee, wirausaha maupun petani di Indonesia persis pialang di bursa saham (hedge fund managers), nasib usaha mereka sangat fluktuatif dan resiko mereka tidak dilindungi oleh standar program asuransi yang disediakan oleh Negara.

Enterpreneurisme belakangan ini menjadi wacana publik yang dianggap mampu menjadi hero dalam mengakselerasi terhadap tantangan ekonomi ke depan. Presiden Jokowi menempatkan ikon kesuksesan wirausaha dengan merekrut para staf khusus kepresidenan yang diisi oleh anak muda milenial, seperti Putri Tanjung dan Adamas Belvara, mantan CEO Ruang Guru. Pertanyaannya, apakah kesuksesan entrepreneur di sekitaran Jokowi mencerminkan realitas usaha masyarakat di tingkatan bawah? Apakah menjadi entrepreneur adalah benar-benar mimpi anak muda Indonesia? Mengapa pemerintah demikian getol ingin mengubah status warganegara (citizen) menjadi wirausaha (entrepreneur)?

Enterpreneuralisme di tingkat bawah sulit naik kelas (upward mobility) telah disinyalir dalam studi ekonomi masyarakat Jawa sejak tahun 1960 oleh Clifford Geertz (Penjaja dan Raja) dan juga oleh Jennifer Alexander (Trade, Traders and Trading in Rural Java, 1987). Dua peneliti ini menunjukkan bahwa kultur pedagang kecil tetap mewarisi mental agraris petani. Pedagang tidak mengalokasikan untuk pembelian mesin produksi yang mampu membuat bisnis berkembang pada skala lebih besar, namun lebih memilih membagi resiko dan keuntungan dengan merekrut anggota keluarga rumah tangga (household) sebagai bagian dari pekerja (labor). Hal ini tentu berbeda dengan gambaran enterprenurisme ala Putri Tanjung dkk, yang bias kelas menengah, yakni mandiri, individual, kreatif, dan bebas atau terlepas dari ongkos-ongkos sosial.

Keengganan Berwirausaha
Dalam buku Banerjee dan Duflo yang terbaru, Good Economic for Hard Times (2019), menunjukkan warga di negara miskin justru mempunyai jumlah entrepreneur lebih tinggi dibanding negara berkembang. Di negara-negara OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) rata-rata hanya 12 persen yang bekerja sebagai wirausaha. Banerjee dan Duflo menunjukkan bahwa hanya dua pertiga dari usaha kecil di Indonesia bertahan sampai lima tahun, yang bertahan lebih dari itu, hanya mempunyai satu karyawan. Laporan berbagai Negara miskin menunjukkan bahwa wirausahawan terjerat mikroredit yang nyatanya tidak pernah mentransformasi skala bisnisnya secara radikal meski telah berjalan belasan tahun. Ada banyak alasan mengapa skala bisnis cenderung tetap.

Faktor lainnya adalah soal mentalitas dan kultur. Usaha masih mencampurkan antara biaya bisnis dan biaya rumah tangga. Banyak mikro entrepreneur yang telah menjalani program pelatihan regular tentang pengetahuan bisnis dan pembukuan keuangan, namun tidak dapat mengubah penjualan dan keuntungan. Alasannya bukan di pengetahuan, namun pada antusiasme. Banerjee dan Duflo menunjukkan bahwa jalan menjadi wirausaha bagi orang Indonesia adalah pilihan terakhir setelah pilihan utama mereka untuk bekerja di sektor pemerintahan gagal, seperti menjadi PNS, tentara, guru, atau dokter. Dengan kata lain, pilihan menjadi entrepreneur lebih dikarenakan tidak adanya opsi lain lagi. Ia dijalankan sebagai bagian dari pilihan terakhir untuk bertahan hidup, dan bukan dilakukan karena bakat, keahlian dan hasrat untuk menerima resiko sebagai tantangan. Bahkan orang tua wirausaha menyekolahkan anaknya untuk berharap dapat bekera di sektor pemerintahan di masa depan, daripada menjadi wirausahawan. Bagi orang Indonesia, pekerjaan yang baik adalah yang berpenghasilan stabil meski bergaji kecil. Penghasilan stabil membuat dapat membayar pinjaman kredit dengan disiplin dibanding usaha kecil yang mempunyai pemasukkan tidak tetap.

Beberapa usaha kecil juga tidak mendapatkan akses kredit dari bank karena bank khawatir akan tingginya gagal bayar (credit default). Bank juga tidak terlalu antusias mengatur rekening para pedagang kecil yang jumlahnya kecil. Sedangkan dari pihak pedagang kecil, mereka enggan meminjam atau menabung di bank karena urusan administrasi yang pelik dan biaya administrasi yang tinggi. Karena itu, pedagang kecil memilih peminjam keliling. Karena itu, sangat jamak kita temui di pasar-pasar tradisional dimana pedagang diberi pinjaman oleh peminjam keliling. Terlihat bunga yang diberikan sangat kecil karena dibayar harian atau bulanan. Jika pinjaman usaha terkena bunga bulanan rata-rata adalah 4-5%, maka dalam satu tahunnya ia sudah hampir 50%. Bandingkan dengan rata-rata bunga pinjaman di Amerika Serikat yang rata-rata hanya 20% pertahun. Di beberapa kasus, tidak heran jika bank swasta dan perusahaan pinjaman di Amerika tertarik mengucurkan dana kredit mereka di negara miskin untuk mendapatkan bunga usaha dari entrepreneur kecil ini yang ternyata lebih besar dua kali lipat. Bunga dari peminjam keliling tinggi karena dua hal pertama, peminjam keliling juga berhadapan dengan resiko gagal bayar dari para pedagang kecil yang rata-rata memang berlatar belakang masyarakat miskin. Kedua, mereka menawarkan fleksibilitas pengembalian kredit bagi peminjam yang terkadang mempunyai kebutuhan tiba-tiba seperti membayar uang sekolah anak atau orang tua yang tiba-tiba masuk rumah sakit.

Saya ingin memperluas penemuan dari Banerjee dan Duflo tentang Indonesia ini ke permasalahan kebijakan. Pembangunan menekankan pentingnya wirausaha, BUMDES adalah contoh dari wirausaha desa yang banyak kita temui gagal di lapangan karena secara alami dan bakat, masyarakat tidak mempunyai antusiasme menjadi entrepreneur. Semua individu, desa, institusi universitas pada saat ini harus bersemangat entrepreneur, padahal kerja ini memerlukan keberanian menerima resiko, bukan pada soal kreativitas. Kultur entrepreneur muncul ketika Negara mulai melepaskan tanggung jawab sosialnya dalam memberi subsidi, asuransi dan pensiun. Setiap warganegara (citizen) diwajibkan berjuang sendiri mememuhi kebutuhan hidupnya dengan mengubah dirinya menjadi enterpreneur. Namun, tidak semua orang mampu melakukan bisnis meskipun mereka telah diberi modal, bahkan tak jarang menimbulkan kemarahan karena mereka kalah seperti Ibu Tina diatas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s