Ubi Kayu, Konflik Sosial, dan Daulat Pangan Petani Buton-Maluku

Meluasnya tanaman ubi kayu (kasbi), berkaitan dengan munculnya pemukiman-pemukiman petani ladang keturunan Buton di Maluku. Ketika orang Maluku memberikan tanah kepada peladang Buton, di paroh abad sembilan belas, kasbi adalah yang pertama kali ditancapkan sebelum kemudian menanami cengkeh, pala dan kopra. Meskipun telah mengalami banyak perubahan sosial dan mobilitas, keturunan Buton Maluku, khususnya di perkampungan masih dipandang sebagai warga kelas dua. Petani Buton-Maluku tidak mempunyai hak petuanan di kampungnya. Mereka dapat memilih raja (kepala kampung) namun tidak dapat dipilih dan duduk di dewan saniri Negeri (semacam Lembaga permusyawaratan desa). Di beberapa wilayah di Maluku yang berpulau kecil, semacam Saparua dan Gorom-Geser, raja tidak mengijnkan mereka untuk menanam pohon berumur panjang karena dikhawatirkan menimbulkan kekisruhan terhadap kepemilikan tanah.

Terdapat beragam sistem pemanfaatan lahan. Ada kampung yang menyewakan lahan untuk digunakan dengan sistem bagi hasil seperti di Tehoru. Sedangkan dusun yang ukurannya lebih kecil dengan jumlah penduduk lebih padat, telah menggunakan sistem sewa kontrak berdasarkan waktu. Petani ladang yang saya ikuti ada di kategori ini.  Petani melakukan sewa lahan adalah satu sampai dua tahun.

Berbeda dengan cengkeh dan pala, pada umumnya kita ketahui sebagai komoditas utama di Maluku, para petani ladang ini lebih menanam kopra sebagai komoditas di pasaran, dan singkong karet atau kasbi racun (Manihot glaziovii) sebagai makanan sehari-harinya. Berbeda dengan kasbi tidak beracun (Manihot esculenta), jenis kasbi beracun ditanam selama 8 bulan. Namun orang Maluku menyebut kedua jenis ini dengan kasbi. Antropolog Hermien Soselissa dan Roy Ellen juga menemukan bahwa masyarakat bagian Maluku Tenggara, di Kepulauan Kei, juga mengolah kasbi racun ini. Jenis tanaman ini memangdapat tumbuh di daerah tandus sekalipun.

Kasbi adalah tanaman yang biaya perawatannya paling murah. Keuntungan dari menanam kasbi adalah ia tidak memerlukan pupuk penyubur dan air yang banyak seperti ketika menanam tanaman hortikultura. Kasbi juga dapat tumbuh tanpa perlu diperhatikan dengan seksama. Petani terkadang tidak perlu membersihkan rumput liar yang tumbuh disekitarnya. Satu ladang yang disewa, dengan ditanami Kasbi dapat menjadi cadangan makanan hingga satu tahun ke depan.

Konsumsi Kasbi menjadi benteng makanan ketika terjadi krisis di sekitar kampung. Para nelayan mempunyai ladang yang ditanami kasbi. Ketika hasil tangkapan minim selama angin kencang, pada musim Juni-Juli, atau disebut angin timur, Nelayan memilih berkebun. Dibanding mencari ikan, menanam kasbi tidak membutuhkan minyak dan solar serta pembiayaan spare part perahu. Kasbi juga menjadi komoditas yang aman dikonsumsi ketika petani memutuskan untuk menghemat membeli beras karena kebutuhan lainnya, seperti membangun rumah atau membeli perahu.

Kasbi Suami

Kasbi racun biasa ditanam menjelang musim hujan yakni di bulan Juni. Berbeda dengan kacang tanah yang biasanya ditanam menjelang akhir musim hujan, yakni November. Akar kasbi menyimpan cadangan air selama musim penghujan agar ia mampu bertahan selama musim kering. Selain merawat kopra sebagai tanaman jangka panjang, para petani juga menanam kacang panjang, buncis, sawi dan kangkung. Harga tanaman ini fluktuatif di pasaran, namun cepat dalam mendapatkan uang tunai.

Orang Buton Maluku mempunyai makanan populer yang disebut suami. Makanan ini dibuat dari kasbi beracun. Seperti status paria orang Buton Maluku, makanan ini dipandang sebelah mata. Ia menempati kasta terendah dari makanan Maluku seperti ikan olahan, sagu, kue, bahkan nasi.

Cara membuat suami dimulai dengan memarut kasbi beracun. Untuk meluruhkan racunnya, ia harus direndam beberapa jam dalam baskom. Setelah itu kasbi dicuci dengan air laut dan diparut dengan mesin. Tidak semua rumah tangga mempunyai mesin pemarut kasbi. Masih banyak yang menggunakan alat parut tradisional yakni pendongkrak untuk menjepit kasbi parutan. Alat tradisional ini dilekatkan antara batu dengan batang pohon. Sisa pengolahan meninggalkan limbah yang tidak dapat dipindahkan dari sekitar pohon.

Picture1
Hamparan singkong karet dan kelapa kopra di pedusunan Buton Maluku

Para peladang yang ingin memarutkan kasbinya di mesin harus membayar sekitar dua ribu lima ratus rupiah. Karena bukan jumlah yang besar, para tetangga membayarnya dengan cara dirapel. Biasanya hingga empat kali pemarutan. Parut tradisional membutuhkan dua jam untuk meluruhkan tiga sak kasbi. Namun semenjak mesin pemarut diperkenalkan, hanya dibutuhkan 10 menit untuk menyelesaikan proses pemarutan. Ukuran kasbi racun ini lebih besar dari kasbi biasanya. Setelah diparut kasbi ini kemudian diperas airnya dan dikeringkan. Cara memerasnya adalah dengan memasukkan ke dalam karung dan menjepitnya dengan balok-balok kayu yang telah disusun diatasnya. Kemudian pengait besi menjepitnya hingga air perasan keluar ke bagian bawah. Setelah itu sari kasbi dicetak, kemudian dikukus dan dibentuk mengerucut seperti tumpeng dalam bentuk mini.

Picture1
(Proses pemarutan kasbi dengan mesin)
Picture1
Kasbi yang sudah diparut dan dijepit dalam sak

Satu baskom kasbi berisi tiga sak karung yang setelah diproses dapat dikonsumsi sekitar dua hingga tiga minggu. Ketika kehabisan stok, para petani tinggal mengambil di ladang kembali. Untuk memenuhi satu karung, petani cukup mencabut tiga sampai lima pohon kasbi.

Seperti juga sagu yang telah mengalami komersialisasi, kasbi beracun juga demikian. Satu kali gepe, harga kasbi adalah 25 ribu (tahun 2016/2017). Satu gepe diameternya berbentuk antara 20-30 centimeter dan tebal sekitar 10 centimeter. Setiap satu gepe bisa menghasilkan 35-50 pasang kasbi suami berbentuk kerucut dengan diameter sekitar 5 cm dan tinggi 7 cm. Beberapa rumah tangga yang membutuhkan uang tunai dapat menjualnya ke tetangga desa. Jika mereka membuat sepuluh gepe, maka ia sudah mendapatkan uang 250 ribu.

Kasbi dalam Krisis Politik

Kasbi adalah tanaman yang sangat diandalkan selama krisis politik dan sosial. Berbeda dengan padi yang lumbungnya disimpan di dilangit-langit dapur, lumbung kasbi ada di dalam tanah dan dapat bertahan hingga bertahun-tahun. Beberapa kesaksian peladang mengatakan, para pelarian RMS di tahun 1950an mampu bertahan di hutan-hutan Seram karena mereka menancapkan batang kasbi, dan meninggalkannya begitu saja untuk dicabut kelak. James C Scott menyebutnya sebagai “hidden transcript’ atau transkrip tersembunyi. Berbeda dengan padi, tanaman ini tidak dapat dipajaki karena tumbuhnya tidak terlihat, berada di bawah tanah.

Para petani ladang selalu makan kasbi suami sebelum berangkat kerja. Saya mengikuti La Ode di area bekerjanya. Seperti petani ladang lainnya, ia hanya makan nasi usai bekerja. Alasannya “makan nasi mudah bikin lapar, tapi cukup dengan kasbi suami, potongan kelapa dan ikan saja sudah tahan lama di perut sampai hampir sore”.

Para petani ladang yang mengungsi ke Buton karena kerusuhan di Maluku, 1999, menanam kasbi. “Ini adalah tanaman yang paling bisa bertahan di batu karang dan tanah tandus di Pulau Siompu, Kaledupa, dan di seluruh Pulau Buton. Tanah kering ini salah satu alasan yang bikin nenek moyang kami tinggalkan Pulau Buton” ujar La Ode yang sering saya ikuti.

Usai konflik agama mereda di tahun 2003, peladang keturunan Buton kembali ke Pulau Seram. Namun kali ini mereka menghadapi permasalahan baru. Para peladang kampung Muslim di Yainuelo dan Tamilow menemui populasi babi hutan semakin bertambah. Hampir semua modal bertani mereka habiskan untuk merawat pagar seng di sekeliling kebun. Tujuannya melindungi serangan babi yang suka menggasak tanaman kasbi dan hortikultura di malam hari.

Peladang di kampung Muslim menyesal. Semenjak tetangga kampung Kristen terusir, populasi babi hutan semakin tidak terkendali. Orang-orang dari kampung Kristen inilah yang mampu mengontrol populasi babi hutan karena mereka mengkonsumsinya. Biasa untuk pesta atau acara gereja seperti sidi, peneguhan iman Kristen. Usai konflik Maluku, kampung-kampung Muslim yang diserang babi liar, membeli kasbi di kampung-kampung yang babi liarnya tidak begitu banyak karena dekat dengan petuanan kampung Kristen. Misalnya orang di kampung Yainuelo dan Rutah membeli komoditas kasbi di Kampung Buton Aira yang menjadi anak dusun kampung Kristen Soahuku.

Beberapa perkembangan juga mencampur suami ini dengan gula merah. Selain itu ada pula yang menggorengnya dengan mentega sehingga rasanya seperti nugget. Mereka memakannya dengan kopi di malam hari. Di perkotaan, suami menjadi makanan umum orang Maluku. Seperti nasi, makanan ini digunakan sebagai sarapan, makan siang, dan makan malam. Ia biasa dimakan dengan ikan, sayuran maupun telur. Karena telah terjadi kawin campur antara keturunan Buton dengan Maluku, hidangan suami sangat umum ditemukan di atas meja. Namun saya tidak menemui hidangan ini pada meja-meja orang Maluku yang tidak mengalami kawin campur. Mereka mempunyai kebiasaan meletakan sagu yang ditutup dalam toples gelas berukurang besar.

Screen Shot 2020-05-10 at 11.41.05 PM
Suami, ikan pedas, ketupat dan sayur nangka.  Kuliner ini saya temukan di Pasar Wajo, Buton Selatan. Menu ink serupa dengan yang ada di Maluku.

Suatu daerah didefinisikan miskin jika pertukaran uang tunai sangat rendah. Pembangunan petani selama ini hanya mengandalkan pada tanaman komoditas ekspor. Tujuannya agar petani mendapatkan uang tunai. Selayaknya standar pertumbuhan ekonomi, patokannya adalah kepemilikan terhadap uang tunai. Namun pandemi covid 19 ini telah menunjukkan bahwa kampung-kampung di Maluku yang selama ini dianggap miskin, justru mempunyai ketahanan pangan yang lebih dibanding kawasan perdesaan yang telah mengalami komersialisasi sepenuhnya. Padahal, ketahanan pangan adalah soal keragaman dan jaminan pangan yang tersedia selama krisis. Potongan kecil dalam riset saya mengenai makanan pokok suami ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak berkaitan dengan kurangnya uang tunai, kurangnya pasar, hingga kurangnya penggunaan pupuk. Melainkan pada bagaimana petani mempunyai daya tahan hidup dalam menghadapi krisis politik, dan ketidakmenentuan ekonomi.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s