Jahatnya Kredit Mikro terhadap Perempuan

Lembaga internasional seperti Bank Dunia dan USAID melanjutkan skema-skema Konsensus Washington pasca perang dunia kedua, yakni demokratisasi finansial. Salah satu pasalnya menegaskan bahwa tiap orang ‘berhak mempunyai hutang’ dan berhutang bagian dari hak asasi manusia. Roy menyebut kredit mikro dalam skema Konsensus Washington ini sebagai ‘poverty capital’ yakni status sebagai orang miskin saja sudah cukup sebagai modal untuk berhutang. Dan hutang bukannya mengentaskan perempuan dari kesusahan, namun menjerat mereka selama bertahun-tahun untuk tetap berada dalam kemiskinan. Hutang mengalami feminisisasi dan penemuan jenis kelamin sebagai aktivitas perempuan, karena target hutang secara global pada saat ini adalah perempuan.

98282714_691467961655634_3810160265324920832_n

Dengan memegang uang dan mengatur finansial, berbagai bantuan luar negeri percaya bahwa perempuan dapat membebaskan dirinya dalam struktur patriarki yang timpang. Di era neoliberal, modal justru dikembangkan dengan memonetisasi kondisi non ekonomi. Adat, kebiasaan, nilai, kepercayaan atau keimanan, solidaritas sosial, keintiman, strutkur kekerabatan, etnisitas, dan relasi gender dalam keluarga. Karakter non-ekonomis dari perempuan, seperti disiplin, kemampuan mengontrol hasrat dipandang oleh lembaga kredit internasional sebagai berpotensi untuk dikucurkan dana pinjaman. Kreditor menggunakan kepercayaan kultural dan tekanan sosial bahwa hutang secara moral memang harus dibayar.  Kredit muncul karena ketakutan manusia terhadap hutang itu sendiri yang secara moral harus dikembalikan. Rasa takut ini menjadi modal oleh berbagai organisasi mikro kredit dalam mendisiplinkan peminjamnya.

Praktisi usaha kredit yang paling terkenal adalah seperti Muhammad Yunus dari Bangladesh. Ia menjalankan bisnis hutangnya yang terkenal dengan sebutan kredit mikro (atau disebut juga microfinance atau microentrepreneurship). Yunus menempatkan perempuan sebagai agen utama peminjam uang. Bagi Yunus, berhutang dianggap mampu membebaskan perempuan dari kemiskinan. Para feminis Barat melihat perempuan miskin di dunia Selatan ‘korban’ utama dari globalisasi. Salah satunya adalah Ananya Roy, feminis pascakolonial, urbanis, dan ahli pembangunan.

Studi Roy tentang kredit mikro atau kredit usaha kecil menunjukkan bahwa perempuan miskin yang hidup dalam struktur patriarki di Bangladesh, Afganistan dan bahkan Mesir menjadi target utama dalam sistem mikro kredit ini. Salah satu upaya membebaskan perempuan dari struktur patriarki dan ketertindasan pasca perang, perempuan diberikan kredit dengan bunga pinjaman namun mensyaratkan pembayaran ulang dengan penuh kedisiplinan. Mereka yang terlibat dalam kredit mikro diharuskan berdisiplin mengatur finansial dan bertanggung jawab membayar hutang. Jika tidak, hutang terus dijadwal ulang. Disiplin adalah bagian dari kinerja (performativity) yang harus ditampilkan perempuan. Kemampuan menampilkan disiplin menjadi semacam portofolio terhadap kreditor untuk mengucurkan dana.

Muhammad Yunus merupakan pelaku yang menganjurkan untuk mengkonversi aset non ekonomi dan relasi sosial ke dalam bentuk-bentuk modal. Yunus mempunyai visi bahwa justru orang miskin sangat menarik untuk dijadikan modal dalam penanaman kredit. Ia kemudian memanfaatkan relasi jender dimana perempuan dimanfaatkan untuk memonetisasi kredit.

Alasan kreditor seperti Muhammad Yunus meminjamkan uang adalah untuk membebaskan perempuan dari relasi patriarki dalam struktur budaya mereka. Namun demikian, manajer peminjam rata-rata adalah laki-laki dan subjek hutang adalah perempuan. Struktur baru yang terbangun adalah ketergantungan dan eksploitasi hutang antara kreditor laki-laki dan perempuan penghutang. Struktur ini menggantikan relasi patriarki yang lama. Struktur baru dalam kredit mikro justru bersifat lebih menyengsarakan. Perempuan dikejar hutang dan mereka diharuskan membayarnya secara disiplin kepada kreditor laki-laki, bukan suaminya, melainkan datang dari lembaga penghutang.

Roy juga melihat bahwa berbagai agenda pembangunan global memanfaatkan kekhawatiran masyarakat di dunia Selatan terhadap uang gratis (free money), uang yang didapatkan secara cuma-cuma tanpa beban kerja apapun. Uang seperti ini dianggap dekat dengan dosa. Karena dorongan etos kultural tersebut, masyarakat cenderung mendisiplinkan dirinya untuk membayar hutang. Roy melaporkan bahwa bentuk pinjaman di Mesir misalnya, melalui institusi kredit mikro seperti Al-Tadamun dengan bantuan dari dana USAID justru mempunyai kasus gagal bayar rendah. Di balik rendahnya gagal bayar, para perempuan pengusaha kecil dipaksa untuk mendisiplinkan kinerjanya dalam membayar. Syarat ini merupakan tuntutan institusi pasar bebas macam USAID sebagai penyelia pinjaman. Namun demikian, sistem kredit baru ini berbeda dengan sistem hutang tradisional, dimana hutang pada kondisi tertentu bisa gagal bayar dan mendapatkan pengampunan.

Neoliberalisme ekonomi justru tidak mempertentangkan antara kapitalisme modern dengan nilai-nilai tradisional. Roy menunjukkan bahwa lembaga-lembaga mikro kredit di dunia Arab seperti Mesir dan Lebanon justru merekonsiliasikan dalil-dalil Islam dengan nilai kapitalisme. Lembaga-lembaga mikro kredit berbasis Islam, seperti yang diciptakan oleh Hezbollah, milisi agama Lebanon yang didirikan pada tahun 1984, berkembang laiknya bank konservatif. Ketika jumlah klien mereka berkembang, bunga mulai diterapkan dan peminjam wajib berdisiplin membayarkan hutangnya. Tujuan utama gerakan mikrokredit Hezbollah adalah untuk memakmurkan kaum-kaum tertindas (mustadaafin) yang semuanya tergabung dalam satu konsep bernama ummah. Dengan menggabungkan pendekatan agama, wajah uang dan hutang kemudian dapat tampil lebih ramah.

Demokrasitasi kapital terhadap perempuan di Bangladesh didukung oleh industri finansial di Amerika. Salah satu cara untuk meningkatkan kredit adalah melalui proses sekuritisasi yakni kumpulan kertas piutang milik debitor dijual untuk jaminan kredit. Dengan melakukan sekuritisasi dari rata-rata kertas hutang milik perempuan di Bangladesh, Grameen bank mampu meningkatkan pinjamanan baru hingga 4,3 juta USD dollar pada tahun 2008. Grameen foundation milik Muhammad Yunus berkolaborasi dengan Citigroup dalam memobilisasi modal. Idenya tentu untuk meningkatkan modal dalam institusi kredit mikro. Grameen bank berkembang pesat dan mempunyai sistem informasi teknologi berbasis di Seattle. Sekuritisasi ini kemudian meningkatkan perkembangan kapital dan menyediakan jaminan kualitas hutang prima, AAA, yang dijalankan oleh para pialang saham di Wall Street.  Disini dapat kita lihat bahwa pasar finansial di belahan dunia utara adalah hasil dari keringat perempuan-perempuan belahan dunia Selatan yang bergelut dengan kejaran lembaga-lembaga kredit mikro di tingkatan lokal.

Yunus melakukan komersialisasi kredit mikro dengan cara menciptakan hutang suprima yakni hutang yang diberikan secara serampangan kepada orang-orang yang tidak mempunyai tradisi berhutang atau catatan hutang yang buruk. Kredit Suprima ini seperti yang diberikan kepada para penghutang kredit rumah di Amerika Serikat yang kemudian macet dan pada akhirnya beresiko memunculkan krisis. Gagal bayarnya kredit suprima di tingkatan bawah berimplikasi pada bankrutnya bank-bank yang melakukan sekuritisasi dengan cara menjual kumpulan surat hutang mereka CDO (collateral debt obligation) mereka.

Studi Roy ini menunjukkan bahwa demokratisasi finansial membuat orang berhutang  cukup dengan identitas dirinya, yakni miskin dan perempuan. Menjadi miskin adalah modal, demikian juga menjadi perempuan. Dua identitas, non ekonomi ini yang kemudian diakumulasi oleh lembaga finansial global menjadi modal.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s