Rasisme yang Menyakitkan

Kemarahan warga kulit hitam terhadap kematian George Floyd bukan yang pertama kali. Tidak terhitung jumlah warga kulit hitam tak bersenjata yang dibunuh oleh polisi. Beberapa bulan ketika saya tiba di Amerika, 2012, terjadi penembakan terhadap pemuda Trayvon Martin oleh polisi. Seorang pemuda yang jalan kaki mondar-mandir hanya karena menggunakan hoody. Serangkaian penembakan akhirnya menimbulkan kemarahan dan gerakan yang kemudian dikenal dengan “blacklivesmatter”.

IMG_8911_1024
Lukisan komunitas kulit hitam di rumah induk semang

Rasisme terhadap kulit hitam telah berjalan dalam sejarah panjang dan disolidifikasikan dalam struktur pemerintahan Amerika Serikat. Sepanjang musim panas 2016, saya pernah tinggal di kawasan Frenchtown, Tallahassee, Florida. Daerah ini dikenal mempunyai angka kriminalitas dan kekerasan cukup tinggi. Meskipun menurut orang Frenchtown sendiri, di komunitas mereka tidak demikian. Itu hanya persepsi orang dari luar saja.

Seperti di distrik kota-kota besar, Brooklyn New York atau Misssion District di San Francisco, Frenchtown di Tallahassee adalah kawasan mayoritas kulit hitam yang sedikit demi sedikit mengalami gentrifikasi. Tiap hari selalu ada mobil berseliweran dengan jendela setengah terbuka. Mereka adalah keluarga kulit putih yang mengincar membeli rumah rumah lapuk berisi para lansia. Di Frenchtown terdapat taman dengan danaunya, Carter-Howell Park. Saya pernah melihat maket pemasaran untuk kawasan ini. Dalam maket tersebut tampak gambar keluarga kulit putih berjemur dengan anak-anak mereka yang tengah bermain angsa di pinggiran danau. Ini adalah gambaran utopia Tallahassee 2020 yang nantinya digentrifikasi oleh kelas menengah kulit putih seluruhnya. Sedangkan realitasnya ketika saya melihat danau ini dipenuhi dengan orang-orang kulit hitam, gelandangan (homeless) dan anak muda yang kadang sembunyi-sembunyi melakukan transaksi obat-obatan terlarang.

IMG_8559_1024
Frenchtown, lingkungan African American yang terabaikan.

Rasisme di depan mata

Persis kota-kota mayoritas kulit hitam lainnya di Amerika, anak muda biasa melakukan transaksi obat-obatan terlarang di ujung-ujung gang. Mobil patroli polisi seringkali berkeliling memeriksa semua keamanan di kawasan ini. Seperti di seluruh kota-kota Amerika, polisi sangat mencurigai kegiatan kumpul-kumpul warga kulit hitam. Suatu waktu, kami pernah berkumpul menunggu bus untuk berkunjung ke museum. Mayoritas dari kami adalah perempuan dan anak-anak. Namun mobil patroli polisi berkeliling tak henti-hentinya berbicara di balik jendela kaca mobilnya yang setengah terbuka dengan handie talky. Seolah-olah kami hendak melakukan kesepakatan jahat dalam skala besar. Sebaliknya, juga menjadi pemandangan umum di Amerika, bahwa jika orang-orang kulit putih berkumpul, baik pada pesta minum bir maupun festival musik, mobil patroli polisi dipastikan tidak berkeliling demikian intensifnya.

IMG_8678_1024
Menemani anak-anak berkunjung ke John G. Riley Center & Museum of African-American History and Culture

Diskriminasi sudah demikian terstruktur. Pernah suatu waktu saya berlima dengan empat perempuan African American. Kami duduk duduk di taman balai kota yang demikian luas. Tepat di bawah pohon oak. Polisi berangsur mendekati kami dan meminta kami untuk pergi. Alasannya, pohon oak tersebut sangat rapuh dan kami akan terluka jika pohon tersebut patah. Kami berdebat dengan polisi bahwa hal tersebut tidak masuk akal, sebelum akhirnya kami angkat kaki. Namun apa yang terjadi, lima menit kemudian, datang segerombolan anak-anak kulit putih dengan riangnya berayun-ayun di ranting pohon oak yang renta tersebut. Polisi itu tidak datang dan mengusir mereka. Disinilah saya melihat, bahwa rasisme tepat telanjang di mata kami.

Suatu waktu Tallahassee pernah hujan badai. Seperti di berbagai berita, negara bagian Amerika bagian tenggara dari Florida hingga New Orleans adalah kawasan yang sangat mengerikan jika terkena badai. Badai Katrina adalah salah satu yang paling terkenal. Saya menyaksikan kilat bersahut-sahutan membentuk garis horizontal tepat di atas jalanan aspal. Sore ketika badai mulai reda, induk semang saya menelpon pemerintah kota untuk membersihkan pohon-pohon tumbang akibat badai. Anehnya, mobil pengangkut pohon baru datang pada hari ketiga. Padahal hari pertama dan kedua mobil sudah melewati pemukiman kulit hitam berulang kali dengan sirinenya yang memekakkan. Nampaknya mobil menuju ke Midtown, kawasan kulit putih dulu untuk dibersihkan pohon-pohon tumbangnya.

Induk semang saya mengatakan, itu bukan hal baru. Polisi mengidentifikasi dan memprioritaskan penanganan bencana dan kriminalitaa berdasarkan kode pos. Kode wilayah ini bukan saja menunjukkan perbedaan kelas, tapi juga pemukiman berdasarkan ras.

Mengatur Diri Sendiri

Akibat diskrimansi ras yang sistemik, masyarakat kulit hitam memutuskan untuk mengatur dirinya sendiri. Lingkungan kulit hitam miskin jauh dari supermarket lengkap yang menjual sayuran dan daging segar. Kawasan seperti ini disebut dengan food desert (gurun pangan), yakni area yang mempunyai akses makanan bernutrisi sangat terbatas. Sedangkan yang tersedia dalam kawasan food desert hanya mini market menjual makanan kaleng, sosis, snack seharga satu dolaran yang berisi penuh MSG, kadar gula tinggi, dan bahan pengawet. Tidak mengherankan jika presentasi generasi kulit hitam yang mengalami diabetes dan gagal ginjal sangat tinggi. Para aktivis kulit hitam akhirnya membentuk gerakan pertanian urban (urban farming) untuk mengatasi kondisi gurun pangan ini. Mereka bertani di tanah milik gereja yang dibayar sewanya cukup rendah, 300 dolar pertahun. Tiap masing-masing kepala rumah tangga atau indIvidu dapat menanam di kawasan ini dengan harga sewa per bedeng juga sangat rendah, 20 dolar perbulan.

Dari kebun pertanian urban ini masyarakat kulit hitam dapat memenuhi kebutuhannya sendiri berupa sayuran organik, tanpa pupuk dan pengawet, seperti okra, kacang-kacangan, sayuran hijau, labu, tomat, cabe, hingga madu. Mereka mendapatkan pupuk organik melalui kerjasama dengan berbagai restoran di tengah kota. Sisa makanan restoran diambil dan dijadikan sampah organik. Sampah ini ditumpuk hingga enam bulan menjadi kompos. Lantas kompos tersebut dibungkus per 10 kilogram dan dijual ke koperasi pertanian.

IMG_9156_1024
Petak petak yang ditanami masing-masing keluarga

Pola pertanian urban ini persis pula saya temui di Bronx, New York. Bronx merupakan salah satu kota di New York yang paling mempunyai tingkat kriminalitas tinggi. Di Amerika, pertanian urban lebih merupakan upaya mengatur diri sendiri, berdaulat pangan. Menariknya kawasan yang melakukan pertanian urban secara kolektif terorganisi adalah daerah kawasan kulit hitam yang mengalami diskriminasi dan pemiskinan.

IMG_9036_1024
Membalik bagian bawah pupuk kompos yang telah tertimbun selama lebih dari 3 bulan.

Rasisme Sistemik

Apa yang saya gambarkan di Frenchtown adalah pola umum yang terjadi di keseluruhan kota di Amerika bagian manapun. Adu tembak antar geng, judi bola basket sampai malam sampai transaksi narkotika. Namun jika kita mengatakan bahwa kekerasan adalah esensi dari orang kulit hitam, pandangan ini sangatlah rasis. Eric Klinenberg, sosiolog urban Amerika melihat pemiskinan di lingkungan kulit hitam bersifat sistemik. Pemerintah kota mengurangi berbagai subsidi untuk kepentingan publik di kawasan kulit hitam, seperti kesehatan, fasilitas transportasi, pemukiman, supermarket, hingga pendidikan. Karena mahalnya sistem pendidikan di Amerika saya menemukan, sangat umum di Frenchtown orang tua mengirimkan anak perempuannya sekolah perawat ke Havana, Kuba. Florida dan Kuba berhadap-hadapan, sehingga memungkinkan siswa dari Florida pulang pergi tiap liburan.

IMG_8925_1024
Seorang anak muda berusia 21 tahun baru saja mati tertembak oleh geng lawan di lokasi ini

Kemarahan dan kerusuhan yang melanda Amerika saat ini adalah tumpukan frustasi dari diskriminasi ras secara sistematik dan panjang. Rasisme terjadi pada hal paling kecil namun telanjang di depan mata hingga ke kebijakan publik. Penembakan demi penembakan tragis terhadap kulit hitam terus terjadi tanpa penyelesaian secara adil. Pembunuhan berbumbu rasisme terhadap George Floyd semakin menyulut kemarahan karena terjadi di tengah penanganan Covid 19 yang buruk, presiden Amerika yang semakin sinting, hilangnya pekerjaan selama wabah dan frustasinya warga Amerika karena lockdown. Jika tidak ditangani dengan adil, kerusuhan di kota-kota Amerika akan menjadi terbesar sejak dibunuhnya Marthin Luther King 1968.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s