Trump, Covid 19 dan Mahasiswa Internasional di Amerika

Larangan perjalanan (Travel Ban) dan Covid19 yang menghalangi masuknya mahasiswa internasional ke Amerika tentu saja merugikan pangsa pasar universitas. Mahasiswa internasional membayar dua kali lipat biaya kuliah. Misalnya seperti saya. Sebagai mahasiswa doktoral di University of California, saya membayar uang kuliah (tuition fee)10,000 US dollar per quarter/empat bulan sekali, dibanding mahasiswa Amerika yang hanya membayar 5,000 US dollar per quarter. Bisa dibayangkan, ada banyak kampus yang merugi dengan keputusan Trump ini. Contoh lain, Florida Institute Technology adalah kampus yang paling beragam. Kampus ini mempunyai mahasiswa undergraduate dari 170 negara dan mempunyai sekitar 111 mahasiswa dari tujuh Negara yang dilarang masuk ke Amerika.

IIE (Institute of International Education) menyebutkan pada musim gugur (fall) 2015, menyebutkan setidaknya terdapat satu juta mahasiswa internasional di tingkat S1, (undergraduate student) dan mahasiswa pasca sarjana (graduate student level) di Amerika, dengan tiga terbanyak berasal dari Cina, Brazil dan Saudi Arabia. Secara keseluruhan mahasiswa internasional memenuhi 5 persen dari bagan (student body) keseluruhan populasi mahasiswa di Amerika

Selain Covid, sebenarnya minat mahasiswa internasional ke Amerika telah menurun sejak terpilihnya Donald Trump sebagai presiden. Koran terkemuka yang selalu meliput dunia kampus Amerika dan pasar kerja mahasiswa, The Chronicle of Higher Education pada bulan September 2016, musim pendaftaran mahasiswa, mengabarkan bahwa ketertarikan mahasiswa dari Cina, Brazil dan Saudi Arabia turun hingga lima persen ketika Donald Trump menjadi kandidat kuat untuk presiden Amerika Serikat. Tentu saja, hal ini mengancam menurunnya kualitas pendidikan di Amerika yang selalu membanggakan keberagaman mahasiswanya yang datang dari berbagai Negara.

Beberapa mahasiswa dari Cina misalkan mengkhawatirkan bahwa perintah eksekutif Trump ini membuka peluang munculnya rasisme terhadap mahasiswa Asia yang berpenampakan lebih feminin dan lemah di mata “stereotype” masyarakat Amerika. Saya sering mendengar bahwa Asia adalah ras yang dianggap terlemah karena itu sering jadi objek kekerasan dan perampasan.

Universitas di Amerika mempunyai reputasi sebagai surganya penelitian, pengajaran dan riset kolaborasi. Kampus di Amerika menjadi indah juga bukan karena pemandangan dan gedung-gedungnya semata, tapi begitu banyak mahasiswa internasional yang datang dari beragam Negara dan budaya membuat dunia kampus menjadi lebih berwarna dan berwawasan internasional. Di hampir setiap kampus terdapat acara pertemuan bulanan antar mahasiswa internasional, dan ada beragam cerita menarik disana tentang masing-masing budaya dari beragam Negara. Selain dari pemasukan (revenue), keragaman (diversity) mahasiswa internasional ini menguntungkan universitas karena salah satu alasan college atau universitas menduduki ranking tertinggi adalah semakin beragam latar belakang identitas mahasiswanya, baik etnis, ras, dan bahkan orientasi seksual.

Selain itu, kinerja mahasiswa international di Amerika diatas rata-rata dibanding mahasiswa Amerika. Dari awalnya, ada banyak tuntutan untuk bisa diterima di sebuah kampus di Amerika yang harus dilewati mahasiswa internasional, sedangkan tidak menjadi wajib bagi mahasiswa Amerika sendiri, misalnya TOEFL, GRE dan pengalaman kerja yang lebih. Banyak pula mahasiswa PhD khususnya dari jurusan engineering, matematika dan teknik informatika yang pada akhirnya menetap di Amerika. Mahasiswa migran di California misalkan, pada akhirnya bekerja di kawasan industri teknologi start-up di Siliccon Valley. Mahasiswa internasional, migran dan dunia teknologi di California sangat berhubungan erat, karena lebih dari 40 persen co-founder di Siliccon Valley adalah migran atau anak dari seorang migran. Kita bisa lihat banyak contohnya, ayah Steve Job adalah seorang migran dari Syria, ayah pendiri Ebay adalah migran dari Iran, ayah pendiri Reddit, jaringan berita web ternama bahkan seorang imigran gelap (undocumented worker) dari Armenia, dan masih banyak contoh lainnya.

Terdapat kurang lebih 120 public colleges dan universitas Negeri dan sekolah tinggi lainnya mengeluarkan pernyataan mengutuk travel ban yang pernah dikeluarkan Trump pada tahun 2016. Respon yang dilakukan oleh University of California terhadap travel ban ini adalah kantor hubungan Internasional mengeluarkan memo dalam bentuk anjuran untuk mahasiswa dari tujuh Negara ini tidak melakukan perjalanan ke luar Amerika, dan lebih baik jika tidak keluar Amerika hingga lulus. Sepuluh cabang University of California (UCLA, UC Berkeley, UC Santa Cruz, UC Davis, UC Riverside, UC Irvine, UC San Diego dst) juga menegaskan tetap menjadi sanctuary campus (kampus yang melindungi/memberikan suaka kepada minoritas dan bahkan imigran gelap). Namun kampus-kampus Negeri ini cenderung rentan dari ancaman Trump, karena ia telah mengeluarkan pernyataan akan memblok dana subsidi untuk kota dan kampus yang mendaku dirinya sebagai sanctuary dan memberikan perlindungan kepada imigran gelap dan minoritas lainnya. Karena itu, sanctuary campus jauh lebih mudah dilaksanakan di universitas swasta dibanding universitas negeri.

Efek pada relasi dengan Islam
Jika presiden sebelumnya, Barrack Obama mengumumkan musuh mereka kepada teroris, perintah eksekutif Donald Trump menunjukkan kebencian Trump kepada Islam secara general. Padahal jika kita mengecek pada data sekuritas nasional di website terpercaya, New America, menyebutkan bahwa jumlah orang mati di Amerika dikarenakan kaum jihadist teroris Islam dalam 10 tahun terakhir jauh lebih kecil (9 orang) dibanding halilintar (31 orang) dan mesin pemotong rumput (69 orang). Dan tentu saja jumlah orang mati di Amerika paling banyak dikarenakan penggunaan senjata api, 11 ribu orang mati dalam satu dekade 2005-2014, dan pelakunya adalah orang kulit putih yang mempunyai kelainan mental.

Perintah eksekutif menunjukkan betapa pemerintah Amerika bukan hanya phobia terhadap Islam namun juga terlalu generalis dalam melihat keragaman sejarah dan konteks warga dari Negara mayoritas Islam. Pelarangan terhadap Syria dan Iraq misalnya. Nyatanya, sepanjang 2016, ratusan pengungsi dari dua Negara ini yang masuk ke Amerika adalah beragama Kristen karena mereka lari dari rejim Bashar Al Ashad dan ISIS. Yang tak kalah menarik adalah dari Iran. Dari tujuh warga negara yang dilarang masuk Amerika ini, Iran merupakan yang paling banyak warganya melanjutkan studi doktoral di Amerika. Jika saya perhatikan, rata-rata dari mereka yang memutuskan meninggalkan Iran adalah anak muda yang sekuler bahkan tak sedikit atheis. Mereka benci identitasnya ditentukan atas nama agama dan sangat tidak suka dengan pemerintahan konservatif Islam Iran. Pada 2012, tahun pertama saya di Amerika, berteman dengan seorang mahasiswi Iran dari teknik kimia. Ia sangat ter-Baratkan, tiap hari selalu ke pusat kebugaran (fitness center) dan sangat tidak percaya dengan institusi pernikahan. Kenalan Iran saya lainnya adalah lulusan informatika. Saat ini tengah membuka usaha start-up tech tentang edukasi bisnis untuk anak-anak sekolah dasar. Ia seorang Iran yang sangat kritikal, tidak percaya agama, namun percaya pada pasar bebas.

Muslim di Amerika sendiri sangat beragam. Selain seperti yang saya gambarkan diatas, orang Islam di Amerika cenderung berasal dari klas menengah, banyak dari mereka adalah pengacara, dokter dan akademisi. Hal ini karena mereka telah lama menjadi bagian dari Amerika, bahkan lebih tua dari usia Negara Amerika sendiri. Hal ini tentu berbeda dengan migran Muslim di Eropa Barat yang rata-rata berasal masih baru dari Maroko, Turki, Aljazair dan menjadi klas pekerja kasar bahkan tidak terdokumentasi. Mereka tidak terintegritas dengan baik, tampak dari banyaknya migran di Eropa Barat yang tak dapat berbahasa Negara yang ditempatinya.

Dunia universitas dan Negara bagian adalah yang paling merugi terhadap munculnya travel ban ini. Wall Street Journal menyebutkan ada sekitar 17 ribu mahasiswa di college dan universitas yang berasal dari tujuh Negara ini. Dan menurut perhitungan IIE, mahasiswa ini memberikan pemasukkan 556 juta USD kepada universitas. Ini baru pada sebatas pembayaran uang semester, belum lagi efek ekonomi lokal pada kota-kota yang mempunyai kampus besar (college town) karena mahasiswa membelanjakan uangnya sehari-hari sekaligus membayar uang sewa kos bulanan.

Ketiga, kembali pada cerita saya di awal. Ratusan ribu orang yang melakukan demonstrasi pada hari pertama kerja Trump menunjukkan bahwa kini ada gerakan masyarakat yang membedakan dirinya dengan identitas pemerintah. Jika pemerintahan administrasi Trump menghendaki nasionalisme eksklusif khusus kaum Kristen kulit putih, masyarakat menghendaki berbeda. Mereka ingin Amerika tetap terbuka, melindungi kebebasan beragama dan kebebasan orientasi seksual apapun. Dua minggu awal pemerintahan Trump ini menunjukkan bahwa ia sedang membuka front baru, bukan hanya kepada Islam tapi juga kepada warganya sendiri.

Hatib Abdul Kadir
Alumnus PhD University of California, Santa Cruz; Dosen Universitas Brawijaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s