Sapi Sebagai Modal Sosial: Sebuah Pandangan Antropologis

Pada masyarakat tradisional di Indonesia, sapi tidak digunakan sebagai investasi ekonomi. Ia tidak dijual karena nilai antara uang tunai dan ternak tidak dapat dipertukarkan secara bebas (not freely interconvertible). Uang tunai dapat dikonversikan ke ternak, namun tidak semua ternak dapat dipertukarkan dalam uang tunai kecuali pada kondisi-kondisi tertentu. Fungsi ternak sapi tidak untuk mendapatkan pemasukan (generate income), tapi lebih sebagai penyimpanan (store of assets). James Ferguson, antropolog yang meneliti pembangunan di Lesotho menyebut ternak sapi sebagai ‘rural bank’ atau bank pedesaan. Sapi bukan merupakan properti yang menjadi sumber utama dalam pemasukan uang tunai atau barang subsisten, melainkan berfungsi sebagai cadangan kekayaan (store of wealth). Dibanding uang sebagai aset yang mudah menguap, ternak menjadi aset investasi untuk pensiun. Ternak terus berproduksi, mampu menjadi modal untuk membangun patronase karena ternak juga mampu melahirkan dan membantu pekerjaan. Ternak juga merupakan “mata uang sehari-hari” atau everyday currency yang dapat digunakan untuk membayar sekolah, pajak, membeli pakaian. Namun demikian, ternak juga digunakan untuk memenuhi kewajiban sosial, seperti disembelih untuk ritual.

Sapi merupakan simbol sosial yang dapat dibagikan dan menjalin relasi struktur dalam pertukarannya. Pada sebagain masyarakat dj Sumatera, Toraja, Sumba, hingga Papua, ternak merupakan alat pembayaran perkawinan, yang dalam bahasa antropologisnya adalah bridewealth. Pertukaran ternak dalam bridewealth menunjukkan transaksi sosial. Ternak menjadi tanda kekayaan publik dan merupakan mata uang terhadap bridewealth yang mampu menjaga kehormatan sosial. Seseorang yang mempunyai ternak banyak menunjukkan ia mempunyai jaringan sosial dan kekerabatan yang luas. Sebaliknya ketika ternak dijual, demi mendapatkan uang semata, fungsinya menjadi tereduksi karena uang hanya berguna untuk dirinya sendiri dan tidak mencerminkan simbol relasi sosial secara luas. Mereka yang menjual ternak hanya untuk mendapatkan uang dianggap sebagai cerminan gestur anti sosial karena mereduksi properti ke individu. Orang yang mempunyai ternak, cenderung dihormati daripada mereka yang kaya dengan uang dan barang-barang konsumen seperti pakaian, radio dan furnitur.

Mempunyai ternak dapat membantu keseluruhan komunitas. Sedangkan orang yang mempunyai uang tunai dipandang lebih rendah karena ketika ia memberikan kebaikan berupa pinjaman, pasti mempunyai bunga didalamnya. Mengumpulkan uang tunai dipandang egois karena uang tidak dapat memberikan susu dan membajak sawah. Ferguson menyebutnya sebagai bovine mystique karena ternak mempunyai kualitas tertentu yang membuat seseorang menjadi berharga, menyenangkan dan dihormati dalam komunitasnya. Ternak sapi pmempunyai fungsi sebagai gengsi simbolik yang dapat dipertunjukkan pada komunitasnya. Berbeda dengan uang yang dapat disembunyikan, ternak adalah alat pertunjukkan kekayaan (wealth of display). Gengsi simbolik ini sekaligus menjawab pertanyaan mengapa pada masyarakat tertentu masih membiarkan dan tidak menjual ternak mereka bahkan ketika musim kering dan banyak ternak yang mati.

Dengan ternak seseorang menjadi patron. Ternak merupakan investasi penting karena kemampuannya dalam mendirikan ikatan sosial antara si pemilik dengan komunitas yang lebih luas. Hampir semua properti termasuk ternak adalah bentuk yang tertanam dalam relasi sosial pada komunitas pedesaaan. Karena dengan ternak, seseorang dapat dianggap menjadi bigman dengan cara membangun relasi clientele dan meminjamkan ternak mereka untuk pembiayaan upacara atau meminjamkan untuk membajak. Dengan mempunyai ternak, seorang mertua dapat mentransfer ternak sapi nya kepada anak menantunya.

antarafoto-potensi-peternakan-ntb-100417-as-1
Sumber: https://ekonomi.bisnis.com/read/20190821/99/1139473/papua-miliki-potensi-besar-untuk-pengembangan-ternak

Sapi dan Bias Gender

Namun demikian, pandangan dominan melihat ternak sebagai aset terpenting dibanding uang tentu bias laki-laki, karena dengan ternak, laki-laki mampu menjaga prestise sosial dan patronasenya. Bagi perempuan, uang mempunyai posisi aset lebih penting dibanding ternak. Ternak bisa saja pada suatu waktu mati atau dicuri orang. Jika memilih ternak atau uang tunai, perempuan lebih pada pilihan kedua karena uang tunai dapat pula ia simpan di bank. Perbedaan pandangan ini kerapkali menimbulkan ketegangan diantara suami istri, khususnya pada pengaturan properti ternak. Perempuan kerapkali frustasi dengan jumlah ternak yang demikian banyak, namun mempunyai kualitas yang buruk. Hal ini dipandangnya tidak efektif. Selain perempuan, tentu juga anak muda yang mempunyai kepentingan dan struktur berbeda dalam komunitas. Perubahan pandangan ternak sebagai modal sosial terus berubah. Para anak muda melakukan renegosiasi terhadap tradisi memelihara ternak. Mereka lebih mengalokasikan uangnya untuk membangun rumah atau pengeras suara bersuara stereo.

Permasalahan Finansialisasi Sapi

Program pembangunan Bank Dunia menekankan bahwa ternak sebagai modal sosial dan bank desa adalah konsep pra modern. Bagi pandangan ekonomi utilitarian, menempatkan ternak sebagai fungsi sosial tidak rasional dan tidak efektif. Bank Dunia berambisi mengkomersialkan semua properti/aset di desa, termasuk sapi agar menjadi modal, aset yang dapat dilikuidasi dan mempunyai harga di pasaran. Praktik menempatkan ternak sebagai ‘rural bank’ hanya digunakan ketika masyarakat belum begitu memahami dan percaya dengan uang kertas dari Negara. Program pembangunan internasional menekankan ternak sebagai mata pencahariaan alternatif, selain bertani yang bertujuan untuk alat peningkatan pemasukkan. Seiring masuknya proyek komersialisasi sapi yang didanai oleh Bank Dunia seringkali terjadi pertengkaran dalam rumah tangga khususnya mengenai polemik komersialisasi ternak ini.

Salah satu contoh proyek yang finansialisasi sapi yang didanai oleh Bank Dunia adalah proyek Thaba Tseka. Tujuan Proyek Thaba Tseka menekankan perubahan pada masyarakat yang dianggap terbelakang karena kurangnya perputaran uang tunai. Caranya mengubah sistem ternak ke pengaturan yang lebih kapitalistik dengan mengevaluasi ternak berdasarkan untung-rugi moneter. Sayangnya, peningkatan uang tunai yang dipromosikan oleh lembaga swadaya masyarakat dibawah pendanaan Bank Dunia justru selalu bernuansa anti sosial, karena uang, berbeda dengan ternak. Uang adalah benda yang dapat disembunyikan. Proyek yang melakukan komersialisasi pada ternak demi meningkatkan pendapatan uang tunai jusrtu menimbulkan bencana di kondisi lainnya.

Berbagai cara yang dilakukan dalam melakukan finansialisasi sapi adalah dengan menekankan hal teknis seperti meyakinkan petani tentang pentingnya pemasaran ternak, meningkatkan produktivitas rumput yang sesuai untuk ternak dengan cara mengurangi area tanah subur yang hanya digunakan untuk tanaman konsumsi subsisten, namun meningkatkan area tanah subur untuk tanaman pakan hewan. Tujuannya meningkatkan produksi ternak selama masa-masa tertentu. Namun demikian, proyek Thaba Tseka bermasalah karena di akhirnya, pemilik ternak justru melakukan privatisasi tanah rumput untuk beternak dan pemagaran pada batas-batas tertentu (enclosure) hingga seluas 1,500 hektar. Akibatnya menimbulkan kemarahan masyarakat lainnya.

Selain itu, para pemilik ternak yang bergabung dalam proyek ini yang dianggap gagal terancam dikeluarkan dari pagar yang telah dibuat. Sementara, pegiat LSM yang bergabung dalam proyek Thaba Tseka justru orang-orang yang tidak kualified dalam memelihara ternak dan tidak mempunyai ikatan kuat dalam memandang ternak sebagai modal sosial seperti yang saya gambarkan diatas. Mereka juga tidak melihat prinsip kesepakatan bahwa tanah adalah properti yang dimiliki bersama (sechaba) bukan milik individu tertentu. Ternak adalah properti sosial, yang menjadi domain kekayaan untuk dibagikan dan bukan domain privat, dan individualistik. Proyek komersialisasi sapi juga mengalami kegagalan karena alihbalih sukses memfinansialisasi sapi, komunitas mengalokasikan keuntungan menjual ternak untuk membeli makanan, pakaian dan biaya sekolah. Tiga tujuan ini menunjukkan bahwa finansialisai ternak tidak berhasil melakukan ‘take off’ atau tinggal landas melainkan akumulasi keuntungan secara ekonomi sebatas untuk pemenuhan kebutuhan individu sehari-hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s