Mengapa Manusia Menikah dan Membayar Mahar yang Mahal

Prosesi antar mas kawin dalam perkawinan masyarakat suku Biak Saireri.
Sumber: https://jubi.co.id/kawin-adat-dan-uu-perkawinan-no1-tahun-1974-di-tanah-papua/

Antropolog struktural klasik, Claude Levi-Strauss mengatakan bahwa perkawinan adalah jalan utama untuk membuka resiprositas atau pertukaran dengan kelompok lain. Asumsi dasarnya, manusia secara alami mempunyai sifat untuk memberi sekaligus menerima. Berangkat dari asumsi ini, itulah mengapa di hampir semua kebudayaan, manusia tidak diperbolehkan mengawini saudara kandung perempuannya sendiri. Juga dilarang menikahi ibu kandung serta mengawini saudara-saudara kandung lainnya. Alasan utamanya tentu agar mereka dapat dikawinkan atau dipertukarkan dengan orang lain yang bukan dari saudara yang masih ada hubungan darah. Levi Strauss yang menekankan bahwa larangan inses atau mengawini saudara sedarah adalah struktur paling mendasar (elementary structure) untuk terciptanya kekerabatan sekaligus melalui praktik perkawinan, solidaritas dan jaringan pertukaran terjalin. Karena itu, tindakan inses hanya akan membawa reaksi kemarahan komunitas. Dengan demikian, dimulai dari prinsip pertukaran, anjuran eksogami dan pelarangan inses adalah aturan manusia dalam memenuhi nalurinya melakukan pertukaran, memberi dan menerima.

Sosiolog yang pada awal karirnya melakukan riset antropologi, Pierre Bourdieu, menggambarkan tentang pesta perkawinan orang Maroko. Bourdieu menunjukkan proses kedermawanan memberi dan menerima ditunjukkan melalui pesta perkawinan. Seremoni dalam pesta adalah momen penting untuk mendistribusikan makanan, daging dan berbagai pemberian lainnya. Perkawinan adalah momen untuk mendapatkan pengakuan. Identitas barang-barang yang diberikan bukan hanya sebagai komoditas, tapi pertunjukkan kedermewanan. Pemberian menjadi instrumen untuk mendapatkan pengaruh kekuatan, simpati, dan status. Pidato sambutan perkawinan ketika pihak pengantin perempuan tiba dibalas dengan ucapan-ucapan penghormatan pihak keluarga laki-laki, penerima istri. Saling berbalas dalam pidato seperti tindakan saling berbalas dalam memberikan hadiah. Kurangnya saling berbalas pidato, dianggap menunjukkan ketidaksanggunan memberikan penghormatan kembali. Reputasi tuan rumah sebagai pembawa kehormatan ditentukan oleh kemampuan mereka dalam memperlakukan tamu dengan gaya penyajian makanan melimpah, pesta meriah dan pidato dengan penuh kehormatan. Dengan mengikuti sosiolog Perancis, Marcell Mauss, Bourdieu melihat bahwa perkawinan adalah fase dimana manusia menjalankan mekanisme pemberian yang disebut Mauss sebagai memberi (prestations) dan membalas pemberian (counter prestations). 

Mengacu pada konsep human economy atau ekonomi manusia yang dipopulerkan oleh David Graeber, objek dalam perkawinan adalah manusia dengan manusia, dan tidak ada satupun objek yang mampu menyamakan dengan harga jiwa manusia. Objek-objek atau benda yang dipertukarkan seperti porselen dan gong adalah mata uang sosial. Objek ini berperan sebagai simbol ‘pengakuan’ terhadap manusia yang dipertukarkan dalam perkawinan. Dalam human economy, pertukaran perempuan terfokus pada barang yang menjadi simbol tertinggi dibanding perempuan itu sendiri sebagai objek. Tidak ada satu objek pun yang nilainya mampu disandingkan manusia. Namun dari kesadaran akan ketidakmampuan itulah kemudian menimbulkan perasaan ‘berhutang’ yang hanya bisa dibayar dengan memberi saudara perempuan sebagai gantinya untuk dikawinkan dengan pihak keluarga pemberi perempuan. Dengan demikian, tujuan dari satu marga memberikan anak perempuannya agar ia terus memberikan “rasa berhutang” terhadap keluarga pihak penerima istri. Dari perkawinan dan munculnya rasa berhutang inilah yang kemudian terjalin struktur dan relasi sosial.

Kekerabatan adalah bagian dari kebijakan manusia pada lingkungan sekitar.  Para antropolog juga menunjukkan bahwa sistem pertukaran juga ditentukan oleh populasi dan jumlah lahan produksi. Salah satunya adalah Jack Goody, dalam Comparative Studies of Kinship (1969/2004), menunjukkan bahwa daerah dengan penduduk padat cenderung menggunakan sistem dowry dan daerah jarang penduduknya menggunakan sistem bridewealth. Dua istilah berbeda ini mempunya definisi sama, yakni uang masuk, mahar, atau mas kawin. Perbedaannya adalah, di suatu tempat dimana populasi relatif sedikit dan tanah bukan sumber daya yang langka, sistem perkawinan adalah bagian dari mekanisme politis untuk mengendalikan tenaga kerja. Laki-laki membayar mahar kepada perempuan dan tinggal di wilayahnya. Sistem ini sangat umum saya temui di kawasan Papua Barat. Sebaliknya, di daerah yang populasinya padat dan ketersediaan tanah langka, keluarga perempuan menyediakan dowry untuk laki-laki. Menambahkan seorang perempuan ke rumah tangga baru berarti menambahkan mulut lain untuk diberi makan. Ayah pengantin perempuan diharapkan untuk berkontribusi sesuatu (tanah, kekayaan, uang) untuk membantu pengantin laki-laki. Sistem dowry sangat umum ditemukan di Asia Selatan, termasuk India. Di India kaum Brahmin menyembunyikan anak mereka untuk dikawinkan dengan anngota kelas yang sama. Tujuannya menghindari mereka jatuh ke dalam ikatan hutang. Sedangkan klas bawah menikah antar kelas yang sama sehingga mereka mengalami ketergantungan hutang secara sistemik dan struktural. Sistem dowry yang memberatkan juga sering menjatuhkan perempuan ke prostitusi, atau suaminya yang menjualnya menjadi prostitusi. 

Yang sering Disalahpahami tentang Mahar

Di masyarakat tradisional, meski perkawinan mempunyai kepentingan mendapatkan atau merawat properti, tujuan utamanya bukanlah untuk diakumulasi menjadi kapital, melainkan bagian dari merawat relasi sosial dan aliansi antar kerabat. Didasarkan pada perbedaan pandangan dan sejarah ini, banyak pandangan modern Barat yang salah dalam menilai mahar atau mas kawin.

Dalam konsep antropologis, terdapat dua perbedaan sistem pembayaran perkawinan, bridewealth dan brideprice meski keduanya mempunyai definisi yang sama yakni mahar atau mas kawin. Dalam masyarakat tradisional, partisipan perkawinan tidak menganggap bridewealth sebagai transaksi komersial. Bridewealth ditentukan pada nilai atau value yang dianggap paling tinggi, misalnya ternak, emas, piring keramik, gong, porselen, panah dan sejenisnya. Dalam perkawinan, perempuan harus “dibayar” karena pihak keluarga pemberi perempuan akan kehilangan pelayanan dalam keluarga. “Pembayaran” perkawinan persis pembayaran pada salah satu anggota yang meninggal atau mati karena terbunuh. Barang berharga, ternak, dibayarkan sebagai kompensasi terhadap sebuah kelompok karena kehilangan anggota keluarganya.

Pada masyarakat yang kekurangan sirkulasi uang (tidak berarti miskin), pertukaran antar barang lebih menonjol menggantikan peran uang. Bridewealth terjadi ketika tidak ada ‘pasar’ yang menukarkan uang modern di sebuah kampung. Riset saya di Warimak, Pulau Waigeo, Papua Barat misalnya, menunjukkan hal tersebut sehingga yang ditukarkan dalam perkawinan adalah piring keramik. Sedangkan brideprice menekankan pada harga (price) dimana uang menjadi ukuran alat tukar. Brideprice adalah istilah pembayaran perkawinan pada transaksi komersial ketika masuknya pasar. Istilah brideprice juga muncul seiring berbagai kritik feminis Barat yang memandang bahwa perempuan layaknya sebuah komoditas yang ada harganya. Karena itu terjadi desakan pengakuan untuk mengubah istilah bridewealth ke brideprice.

Yang membedakan uang primitif dengan uang modern adalah uang sekarang bersifat impersonal, sedangkan uang primitif bermuatan moral dan mempunyai konotasi emosional. Banyak dari masyarakat modern, khususnya kaum feminis, gagal memahami bridewealth. Kerbau, gelang dari kerang, mempunyai nilai ekuivalen dengan dolar, namun barang yang ditukarkan dalam perkawinan bukan untuk kepentingan-kepentingan komersial.

Donald Tugby (1977) dalam studinya tentang sistem mahar di Mandailing, Sumatera Utara, menjelaskan bahwa pengaruh dari resistensi Bonjol pada akhir abad 18 cukup memberi pengaruh warna Islam yang kuat terhadap perkawinan. Mereka mengenal istilah mahr (pembayaran). Mora pemberi perempuan (woman supply), dan boru adalah penerima istri (woman receiving). Terdapat dua sistem pembayaran yang diekspresikan dengan uang, yakni sere no godang, emas besar, dan sere na menek, emas kecil. Emas besar tidak akan pernah terbayar. Ia adalah hutang yang dalam perputarannya nanti digantikan dengan pasangan memberikan anak perempuan atau anak dari anak perempuan, cucu. Sedangkan emas kecil bisa dibayar dengan uang tunai oleh sang ayah dari pihak laki-laki. Uang emas kecil ini juga disebut uang hangus, karena bisa langsung cepat dibelanjakan. Ayah dari mora menggunakan uang kas tersebut untuk kepentingannya sendiri. 

Dalam hukum Islam, mahar adalah pembayaran yang tidak bisa dikembalikan ke suaminya. Dia adalah hutang, namun bisa terbayarkan jika terjadi perceraian. Mahar bisa juga berbentuk deferred payment atau hutang yang dibayar nanti jika mampu. Jika tidak, mahar akan ditagih lagi di akherat. Jika tidak, biasanya anak laki-laki yang membayarkan mahar kepada suami ibunya. Tipe mahar ditentukan oleh ayah perempuan dan ayah dari penerima perempuan. Mahar sepenuhnya milik perempuan. Ayah yang ketahuan meminta porsi mahar dianggap memalukan. Kecuali persetujuan dari perempuan. Mahar juga dapat dibayar atau ditunda karena untuk melihat kondisi jika perempuan melahirkan atau tidak. Dengan demikian, mahar bertujuan sebagai asuransi bagi perempuan yang ditinggal suaminya meninggal. Sekaligus stabilitas yang mengingatkan bahwa laki-laki akan terus berhutang, sehingga dia tidak dapat macam-macam (seperti selingkuh atau melakukan kekerasan domestik). Mahar, dengan demikian, bertujuan untuk mempertahankan stabilitas perkawinan. Pihak pemberi perempuan memasang mahar tinggi hingga mustahil dibayar oleh pihak laki-laki, tujuannnya adalah selama perkawinan pihak laki-laki akan terus merasa berhutang kepada pihak pemberi perempuan. Hal ini untuk menghindari tindakan sewenang-wenang dari laki-laki. 

Ekonomi mempunyai makna sebagai aktivitas yang melibatkan sumberdaya barang dan jasa. Dalam ekonomi, barang dan jasa dapat dipertukarkan atau diredistribusi, tapi tidak berarti komersial. Karena itu, perkawinan mempunyai unsur ekonomi, betul, tapi belum tentu ia komersil. Saya memberi cincin kawin atau hadiah kepada calon istri saya, tidak berarti istri saya kemudian saya jual agar nilainya lebih. Dengan demikian, nilai ekonomi dalam perkawinan berbeda dengan pertukaran pasar komersial. Karena itu, perkawinan dan prostitusi di tingkat permukaan hampir mirip karena keduanya melibatkan jasa pelayanan seks setelah dilakukan pembayaran material (dalam bentuk uang). Namun demikian yang membedakan pernikahan dengan prostitusi adalah panjangnya relasi, orang-orang yang dilibatkan, dan yang terpenting adalah perkawinan bersifat “resiprokal” sedangkan prostitusi bersifat “transaksional”. Dalam prostitusi pertukaran antara pembeli dan penjual bersifat random. Penjual tidak mengenal pembeli dengan baik. Sedangkan dalam perkawinan tidak demikian. 

Mereka yang menentang sistem perkawinan tentu mengabaikan relasi sosial, solidaritas dan komunalitas yang terjalin di dalamnya, dan tak jarang akhirnya hidup sendiri dan kesepian. Sedangkan di tingkatan politik, banyak pandangan ekonomi pembangunan yang frustasi memahami mengapa pernikahan di banyak masyarakat tradisional mensirkulasikan uang yang tidak sedikit. Pertnyaan ini tentu menjadi tantangan. Masyarakat mempunyai mekanisme dan nilainya sendiri dalam menciptakan jaringan keamanan sosial, dan pernikahan adalah benteng terakhir dalam mempertahankan jaring keamanan sosial tersebut yang telah teruji secara turun temurun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s