Pakta Pertanian: Perjanjian dengan “Setan”

Michael Taussig dalam karya babonnya, The Devil Commodity Fethisism in South America menggambarkan ketergantungan petani tembakau, kina, kopi, karet di Lembah Cauca, Kolombia terhadap uang tunia. Ketergantungan terhadap uang tunai ini digambarkan dengan penuh metaforis. Para buruh upahan di perkebunan Kolumbia melakukan kontrak dengan setan agar dapat meningkatkan produktivitas mereka. Uang dipercaya bersifat gersang (tidak subur) tidak dialokasikan untuk menjadi modal dan dikembangkan melalui bunga. Karena sifat tandusnya, uang yang diinvestasikan ke tanah, maka tanah tersebut tidak akan menghasilkan buah. Jika ia dibelanjakan hewan, ia akan tidak akan gemuk, namun mengalami kematian. Para pekerja di perkebunan mengalokasikan uang mereka dengan konsumsi foya-foya. Namun, secara moral, uang dapat dikembangkan menjadi subur dengan cara ditransferkan melalui ritual. Ritual baptisme di perkebunan Kolombia merupakan aksi untuk mengubah sifat uang yang tandus menjadi subur. Ritual baptis menyembah Tuhan merupakan antitesis dari sifat setan yang ada dalam karakter bunga uang yang menjadi modal (interest bearing capital).  

Perkenalan dengan uang tunai pada membuat para petani dan buruh justru mengalami pemiskinan (pauperisasi) dan ketidakpastian. Ketidakpastian ini diatasi dengan melakukan ritual pemujaan. Untuk mengatasi pemiskinan, perjanjiannya, uang yang didapat dari alokasi pertanian perkebunan besar tidak dapat dijadikan modal karena akan menghancurkan usahanya. Ia hanya dapat dialokasikan secara langsung terhadap barang-barang konsumsi seperti pakaian, makanan dan minuman keras. Uniknya, kontrak para petani dalam ritual pemujaan ini hanya terjadi dikalangan petani upahan. Resiprositas kontrak ini tidak terjadi di kalangan petani khususnya perempuan yang tidak mendapatkan uang secara langsung dari perkebunan dan pertambangan.

Di kasus pertambangan Andes Cile, tidak kalah opresifnya. Para buruh pertambangan emas yang dulunya adalah petani menjalani kerja yang sangat melelahkan. Para penambang bekerja selama tujuh bulan namun kehilangan semua tabungannya. Tidak sedikit dari mereka juga mengalami kecelakaan jatuh dari tangga di dalam lubang penggalian. Proses pemiskinan buruh perkebunan di Kolombia dan tambang di pegunungan Andes adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat, namun dapat terasakan. Hal ini membuat mereka melakukan kontrak atau semacam resiprositas dengan melakukan ritual pemujaan terhadap setan. Selayaknya setan, proses pemiskinan adalah hal yang tak dapat dilihat pula. Secara metaforis, pakta setan merupakan renegosiasi karena perubahan mode produksi dari pra kapitalis, yakni aktivitas pertanian yang lebih didasarkan pada use value atau nilai guna menujuk ke aktivitas perkebunan dan tambang yang didasarkan pada exchange value atau nilai tukar.

Proletarisasi pedesaan justru dimulai ketika jumlah buruh upahan (wage laborers) meningkat tajam. Sebagai komoditas, buruh juga sangat tergantung dengan pasar kerja, mereka menjual tenaga kerjanya sebagai komoditas. Aspirasi mereka yang tinggi terhadap uang justru memunculkan kondisi ‘miskin’ dari sebelumnya ketika masih menjadi smallholder atau peladang. Hal ini karena konsentrasi lahan mengerucut hanya dimiliki oleh segelintir pemilik lahan. Meski mendapatkan upah secara reguler, kehidupan buruh pertanian maupun perkebunan menjadi sangat rentan karena mereka tidak mengontrol organisasi kerja sendiri dan selalu mengalami konflik terus menerus dengan manajer terkait pengaturan kerja dan level upah.

Sebagai karya klasik, studi Taussig tentu sudah banyak mengalami kritik akibat perubahan sosial. Dalam menggambarkan efek komodifikasi uang, Suzanne Gashkins tidak tidak melihat efek negatif terhadap uang di kalangan petani Yucatan, Meksiko. Gashkins yang sudah melakukan riset sejak tahun 1980, melihat perubahan mode produksi di desa Yucatan selama dua puluh tahun. Petani mendapatkan kesempatan baru pada tahun 2000an ketika mendapatkan uang tunai sehingga menggantikan aktivitas tradisional ekonomi sebelumnya. Gahskins menunjukkan, sejak dikenalnya uang tunai, rumah tangga masih menjadi unit ekonomi, dimana suami, istri dan anak bekerja dengan peran masing-masing. Meski demikian, pertanian khususnya jagung masih menjadi sumber utama penghasilan. Selain itu pemasukan beragam dihasilkan dari madu, bebek, dan babi yang menjadi sumber ekonomi 20 tahun terakhir. 

Perubahan dari petani jagung ke buruh upahan karena meningkatnya populasi, kegagalan panen karena cuaca dan penetapan harga jagung yang mematikan pasaran. Para petani jagung Yucatan menjadi buruh upahan di kawasan wisata Cancun. Perubahan ini menyebabkan laki-laki harus lebih agresif dan kreatif dalam mendapatkan uang tunai. Para istri juga bekerja di sektor informal. Banyak anak di tahun 2000an sudah tidak tahu bagaimana cara menanam jagung. Mereka mengikuti pekerjaan orang tua yang berjualan cinderamata. Transisi dari jagung ke uang tunai tidak mengubah secara fundamental nilai-nilai budaya seperti pola asuh, namun lebih mengefektifkan response ekonomi lokal terhadap dunia luar yang memperkenalkan kesempatan mendapatkan uang tunai. Tentu saja penemuan Gashkins ini tidak sedramatis seperti di Kolombia dan Chile dalam paparan Taussig.

Di fase selanjutnya, aspirasi petani terhadap uang tunai dan desakan hutang justru menjadikan profesi sebagai petani tidak sepenuhnya dijalankan. Sejarawan Robert Elson, The end of the Peasantry in Southeast Asiamenggambarkan bahwa saat secara umum petani mulai merambah tiga ranah. Pertama, dunia buruh. Beberapa peneliti pertanian menyebutnya sebagai off farm, yakni pertanian yang meninggalkan lahan pertaniannya karena dianggap sudah tidak menguntungkan. Mereka bekerja di sektor konstruksi bangunan, kerajinan dan sektor transportasi. Di Maluku, tempat riset saya, pilihan ini sedikit berbeda. Selama tidak ada masa panen kopra, petani mendapatkan uang tunai dengan menjadi buruh panjat untuk musim panen cengkeh di daerah lain seperti Olas Seram Barat, Laimu Seram Timur dan Banggai di Sulawesi Selatan. Kedua, karena desakan kebutuhan uang tunai, profesi petani setengah ditinggalkan ketika tidak masa tanam. Mereka sekaligus menjadi pedagang kecil di pasar atau penjual keliling. Ketiga, aspirasi terhadap pasar global membuat petani bukan lagi dikategorikan sebagai ‘peasant’ atau petani kecil subsisten, melainkan mereka mengubah dirinya menjadi farmer, yakni petani tanaman hotrikultura yang memproduksi tanaman dengan tingkat naik turunnya harga lebih fluktuatif. Tanaman ini umumnya tidak untuk dikonsumsi sendiri namun mendatangkan uang tunai, seperti kopra, karet, cocoa dan belakangan ini sawit.

Kebutuhan terhadap uang tunai membuat para petani memasuki status pekerjaan baru yang dianggap lebih mendatangkan uang tunai. Mereka mendiversifikasi pekerjaannya seperti tiga bentuk diatas. Sedangkan lainnya adalah dengan bekerja sebagai buruh migran, buruh perkebunan hingga mendiversifikasi pendapatan dengan cara beternak.

Meski studi Taussig telah lama berlalu, hampir 40 tahun yang lalu, namun terdapat beberapa hal yang masih relevan. Ketergantungan terhadap uang tunai justru membuat petani berada pada posisi rentan (vulnerable). Lahan yang dihabiskan untuk tanaman monocrop menempatkan petani di berada di luar kontrol terhadap naik turunnya komoditas global. Taussig hendak menunjukkan bahwa petani menuju bencana ketika menyerahkan seluruh otonomi pangan mereka seperti sagu, jagung, umbia-umbian dll ke ketergantungan dengan komoditas global yang harganya mereka tidak dapat kontrol. Ini adalah keputusan yang sangat beresiko. Hilangnya otonomi pangan  membuat petani rentan, hal ini terlihat pada rendahnya ketahanan pangan (food security) dan kepanikan moril terhadap uang yang begitu cepat didapat, sekaligus begitu cepat menguap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s