Sejarah Uang di Asia Tenggara

Robert Wicks, adalah seorang arkeolog. Dalam bukunya Money, Markets, and Trade in Early Southeast Asia: The Development of Indigenous Monetary Systems, (Cornell University Press, 1996). Ia mempertanyakan sejak kapan uang muncul di Asia Tenggara dan sejak kapan masyarakat termonetisasi di dalamnya.

Pada masyarakat kuno di Asia Tenggara, uang terbagi antara “money goods” dan “object goods”. Money goods mengacu pada komoditas yang dapat dipertukarkan seperti beras, kerbau dengan object goods berupa koin dan kertas. Contoh dari pertukaran ini adalah padi. Padi adalah alat tukar yang paling umum di Asia Tenggara yang dipertukarkan dengan objek uang tertentu. Ia dibayarkan dalam jumlah yang besar pajak. Dalam transaksinya, kuantitas padi mempunyai nilai ekuivalen dengan perak dan pakaian.

Banyak benda yang mempunyai daya magnet dipertukarkan dengan uang. Seperi beras, kerbau, kain panjang hingga objek-objek dalam alat tukar perkawinan. Uang berbentuk perak dan emas diciptakan karena ia adalah objek yang mempunyai nilai tahan lama (durable), mudah di bawah ke manapun (portable) untuk ditukarkan dengan objek-objek berat. Sementara kerbau sebagai alat tukar didatangkan dari kawasan India Utara. Di kawasan Vietnam misalnya, kerbau digunakan untuk membayar pajak sebelum munculnya kekuatan Dinasti Ming di abad lima belas yang mengubah alat tukar objektif ke dalam bentuk uang kertas. Sedangkan wilayah pesisir, produksi garam menjadi alat tukar yang mempunyai nilai ekuivalen dengan kain sutra.

Wicks berbeda pandangan dengan Karl Polanyi yang berpendapat bahwa masyarakat pasar sudah muncul jauh sebelum kemunculan administrasi kerajaan. Wicks menunjukkan sebaliknya, masyarakat pasar menggunakan uang secara luas didahului dengan kehadiran administrasi kerajaan yang menciptakan pajak, hutang dan mencetak uang. Sebelum munculnya kerajaan , tidak ada kekuatan tunggal yang mampu memproduksi mata uang yang legitimasinya diakui secara dominan. Kehadiran uang kertas ini tentu saja dihadirkan dengan wajah raja yang merupakan simbol legitimasi kekuasaan tunggal. Sehingga mereka yang memalsukan uang tersebut terancam hukuman pancung.

Munculnya kerajaan menunjukkan legitimasi objek uang yang beredar di pasar. Di kawasan Vietnam, pengadopsian koin dengan gaya Cina adalah politik simbol dinasti di Cina memperluas pengaruhnya. Demikian pula, pengenalan mata uang kertas hingga akhir abad 14 menunjukkan dominasi ekonomi sekaligus Imperialisme politik Cina dari Dinasti Han hingga Ming di kawasan Asia Tenggara.

Wicks melihat bahwa persebaran penggunaan uang terkait erat dengan kontrol politik. Di Burma, kerajaan kuno Mon, Pyu dan Pagan memproduksi koin sebagai tanda legitimasi kuasa mereka terhadap tukar menukar di masyarakat. Mon dan Pyu memproduksi koin perak secara ekstensif dari abad 15 hingga 18. Masing-masing raja di ketiga dinasti ini melakukan standar berat pada nilai uang berbeda. Namun kesamaannya, perak dan tembaga sebagai alat untuk membayar pajak sekaligus membayar upah tentara dan pekerja. Uang dari kerajaan ini digunakan membayar pajak. Rata-rata pajak diambil persennya dari harga komoditas yang dipertukarkan. Para warga, yakni petani memerlukan pembayaran pajak dengan menggunakan uang koin keluaran raja ini. Cara untuk mendapatkan koin adalah mereka menukarkan dengan padi (beras yang belum dikupas) di pasaran.

Sedangkan pada masyarakat Jawa kuno di abad 9, uang atau disebut dana digunakan untuk untuk seserahan kepada kelas Brahmin sebagai tanda penghormatan kepada pemimpin agama yang merawat tempat peribadahan. Monetisasi di Jawa terjadi setelah era pemberian koin terhadap brahmin di akhir abad 9. Selain itu, beberapa penggalian arkeologi menemukan ikatan-ikatan besi yang ditukarkan dengan padi di pasar. Ikatan-ikatan besi ini/iket wesi mayoritas digunakan sebagai alat untuk membayar hutang. Beberapa penggunaan perak yang dicetak ditemukan di kawasan pesisir utara Jawa, Semarang, Jepara, Cirebon, Banyumas dan Pekalongan. Kemudian Madiun dan Residen Kedu seperti Temanggung dan Wonosobo yang terletak di dataran tinggi. Terdapat kesamaan mata uang yang digunakan yakni koin perak dengan motif kayu cendana (sandalwood).

Sejak abad 10, orang Jawa sudah mengenal untung yang dihasilkan dari transaksi di pasar-pasar di sekitaran sungai Brantas. Mereka menyebut keuntungan sebagai “pinda” atau pendapatan total dua kali lipat dari semula. Pada jaman tersebut, keuntungan tidak digunakan untuk investasi kapital melainkan dialokasikan membeli koin perak bermotif untuk membayar pajak pada kerajaan. Investasi yang dikembangkan dari hutang belum begitu ada. Hutang bagi orang Jawa Kuno sangatlah sakral. Mereka menyebutnya sebagai “pawitan” atau permulaan. Untuk mendapatkan hutang, orang Jawa harus mandi keramas dulu dan harus ada saksi yang menyaksikan pawitan tersebut.  

Koin-koin uang masa Jawa Kuno. Foto: Hatib Kadir.

Sementara di abad 14, orang Bali juga menggunakan uang perak yang disebut hartha. Uang perak ini tertulis dalam bahasa kerajaan Majapahit dan digunakan untuk alat bayar khususnya pajak. Seperti juga di Burma, untuk mendapatkan uang perak, penduduk menukarkannya dengan beras yang diukur berdasarkan berat dan volume. Beras ini kemudian ditukar dengan perak bermotif bunga cendana. Motif uang perak ini dikeluarkan secara berseri. Di masa-masa kerajaan Majapahit ketegangan dengan Cina sudah sangat terasa. Hal ini tampak pada penggunaan uang Cina yang disebar dan menjadi alat tukar pada periode Song di awal abad 13. Bahan mata uang yang digunakan terbuat dari tembaga. Namun pengaruh ini hilang setelah abad 14.

Geografi distribusi uang di Asia Tenggara awal.

Sumber. Robert S Wicks. 2018. Money, Market and Trade, hal 300. Cornell University Press.  

Pada jaman pra Islam di Sumatera, penggunaan uang berupa perak bermotif kayu cendana juga ditemukan di kawasan Jambi dan Bengkulu. Seperti di Jawa, praktik penggunaan koin ini kebanyakan digunakan untuk transer keagamaan dan administratif pembayaran pajak pada kerajaan. Pada awalnya koin tidak digunakan untuk kebutuhan komersial melainkan dua tujuan diatas. Di pedalaman Sumatera, karena tidak adanya pengaruh dinasti kerajaan yang kuat, penggunaan uang belum menjadi standarisasi tunggal. Penggunaan uang menjadi tunggal semenjak munculnya kerajaan Islam seperti Samudera Pasai.

Di buku ini Wicks menunjukkan banyak kemiripan antar kerajaan dan bangsa-bangsa di Asia Tenggara melalui sejarah materialnya. Uang berasal dari material yang sama yakni emas dan perak dan ditukarkan dengan padi yang menjadi produksi utama di Asia Tenggara. Sementara uang juga mempunyai fungsi serupa yakni untuk membayar pajak yang pada umumnya tercipta dalam sistem politik di Asia Tenggara, yakni kerajaan atau kesultanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s