Bagaimana Meneliti dan Menulis Etnografi

Cara pertama yang dilakukan etnografi adalah partisipasi. Dengan cara mecemplungkan diri (immersion) ke masyarakat ikut aktivitas. Partisipasi adalah hal yang membedakan penelitian antropologi dengan riset yang dilakukan jurnalis misalnya. Yang dikejar etnografer dalam berpartisipasi jangka panjang adalah mendapatkan makna. What mean to them. Apa yang penting atau bernilai bagi mereka/komunitas masyarakat. Dengan melakukan partisipasi, maka ada dua hal yang didapat dan ditranskrip melalui tulisan (inscription) yakni observasi dan wawancara. Ini adalah dua data objektif yang berbeda yang nantinya dapat digabungkan dalam penulisan. Catatan lapangan adalah bagian terpenting dari dua aktivitas, observasi dan wawancara ini.

Mencatat (Jotting Notes)

Aktivitas paling penting dalam partisipasi adalah mencatat atau jotting notes. Meski sekarang ada rekaman, menggambar simbol dan membuat tabel penting untuk mengikuti bahasa infroman  yang sangat cepat. Mencatat tidak harus dilakukan, apalagi ketika informan sambil melakukan aktivitasnya seperti pergi ke sawah, megikuti rituals, festival dll. Seringkali informan berubah sikap ketika peneliti mengeluarkan catatannya, maka peneliti harus pandai-pandai melihat situasi ketika mencatat. Apalagi jika relasi dengan informan berulang. Maka tidak mungkin setiap bertemu peneliti selalu mencatat di depan informan. (Ini hal kedua yang membedakan peneliti dengan jurnalis).


Namun sebelum mencatat, hal paling penting adalah memperkenalkan diri peneliti. Apa tujuan penelitiannya. Tidak semua orang nyaman dengan peneliti yang membuka buku catatan, misalnya di daerah-daerah konflik seperti Papua, Zambia atau daerah yang terancam tergusur, misalnya Kali Code. Hal ini karena ingatan masyarakat bahwa di waktu era kolonial, aparatus pemerintah sering datang dengan membawa buku catatan untuk mendaftar jumlah populasi dan menarik pajak.


Lantas apa yang perlu dicatat: pertama adalah impresi awal ( hal 26). Mencatat bukan saja pada wawancara, namun juga observasi awal. Yang sering terlupakan adalah catatan tentang observasi awal pada lingkungan yang belum familiar.  Peneliti sangat sensitif diawal awal tentang bau, keriuhan, lingkungan baru,  ruang, ukuran dll. Setelah tinggal lama, impresi awal ini akan hilang dan menjadi biasa saja.


Kedua, mencatat insiden kunci (key events). Catat apa yang membuat anda sebagai peneliti shock, senang, terkejut atau marah. Yang perlu diperhatikan adalah apakah kejadian atau respon masyarakat terhadap kejadian ini. Dan apakah kejadian tersebut berlanjut secara reguler sehingga membentuk pola atau sering atau jarang terjadi.
Mencatat insiden kunci ini dapat terjadi pada peristiwa tertentu seperti demonstrasi, kecelakaan, upacara kematian, pertemuan publik dst.

Ketiga. Mencatat ekspresi non verbal (Non verbal expressions). Yang perlu dicatat bukan saja apa yang dikatakan namun juga ekspresi wajah, bahasa tubuh dan warna pakaian. Senang, marah, kecewa, jijik, mood, nada suara dll.

Jotting notes atau mencatat adalah semacam alat untuk memperpanjang ingatan atau yang disebut juga mnemonic device. Tidak semua kita perbincangan, kata-kata dan amatan akan kita ingat dalam penelitian. Dalam melalukan pencatatan, ada tiga perspektif yang digunakan yakni sudut pandang orang pertama, ketiga dan gabungan dari keduanya. Nomer tiga yang menggabungkan antara sudut pandang orang pertama dan ketiga adalah paling tersulit. Pendekatan gabungan menunjukkan peneliti dilibatkan dalam perbincangan dengan satu atau dua orang lebih. Tahap ketiga ini adalah dimana peneliti telah lama tinggal sehingga otomatis, peneliti biasanya sudah tidak lagi membawa buku catatan.


Menggambar lapangan

Yang pertama dilakukan adalah menggunakan visual dalam menggambarkan situasi khususnya lingkungan. Lalu menggambar karakter dari informan atau disebut juga sensory imagery. Kebanyakan dalam menggunakan sensory imagery ini dengan menggunakan kata sifat. Baik, buruk, jelek, pemarah, pendiam dst. Demikian juga perlu memvisualisasi identitas etnis, afiliasi institusi, dan situasi atau tempat ketika melakukam wawancara. Tambahan dari sensory imagery adalah melakukan sketsa, yakni memberikan gambaran tentang infrastruktur wilayah, rel, bangunan, fasilitas publik, jalan raya, daerah aliran sungai dan gambaran lanskap lingkungan penelitian.


Kedua, menulis dialog juga bagian dari penggambaran riset.  Ada banyak kata sarkas dan ironis jika diperhatikan dari dialog tanpa melibatkan peneliti. Penting untuk menangkap pandangan dunia masyarakat yang sesungguhnya. Menggambarkan dialog tentu saja tidak boleh direkam melalui audio. Selain tidak etis, juga akan gagal memangkap situasi di lapangan.

Ketiga, karakterisasi. Digambarkan melalui pakaian, gaya bicara, gestur, dan ekspresi wajah. Tujuannya megkonteksnya cara bicara dan perilaku informan. Dalam menggambar lapangan, sebenarnya peneliti seperti membuat sebuah adegan film dimana peneliti memilih profil informan yang akan dijadikan sebagai pemain utama yang kemudian didukung oleh pemeran pembantu dengan beragam latar belakangnya.


Metode etnografi menggunakan pendekatan interaksionisme simbolik dan phenomenology. Interaksi simbolik adalah menangkap makna di balik pesan yang disampaikan. Sedangkan phenomenology menangkap kejadian yang berulang secara teratur, berpola hingga menjadi fenomena. Karena itu, informan yang diwawancarai akan didatangi secara berulang. Ini lagi yang membedakan etnografer dengan wartawan. Etnografi mendatangi informan secara terus menerus dan berkala. Karena itu dalam catatan lapangan perlu membuat episode catatan pada figur figur yang dipilih diwawancarai secara berulang. Dalam menggambar lapangan, dari hasil wawancara, yang perlu dilakukan pula adalah melakuka asides and commentaries, yakni memberi catatan samping sebagai refleksi atau meresponse sendiri terhadap data wawancara. Refleksi ini bukan kesimpulan akhir, melainkan membuka pertanyaan lanjutan dan berbagai keraguan yang muncul dari studi lapangan. Dari catatan lapangan dan komentar inilah kemudian nantinya lahir sebuah teori. Dengan demikian, dalam penelitian etnografi, teori lahir setelah turun lapangan. Bukan sebaliknya, seperti dalam penelitian sosiologis, dimana teori telah ada sebelum turun lapangan. Sehingga masyarakatnya yang harus dimasukkan dalam klasifikasi-klasifikasi teori.


Menangkap Makna

Apa nilai tertinggi dalam suati komunitas? Cara menangkap makna adalah dengan memahami istilah istilah lokal yang kerap digunakan dalam masyarakat. Agar tidak salah tangkap, maka wawancara jangan dilakukan dengan menggunakan istilah atau kategori dari luar dan sulit dipahami oleh warga, misalnya neoliberalisme, multikulturalisme, modal sosial dst.


Melakukan definisi atau kategori penting karena pertama, seringkali objeknya sama namun dua dunia yang berbeda akan mendefinisikan lain. Misalnya soal konsep kesehatan, obat-obatan, tanaman dan lingkungan, berbeda antara definisi dari masyarakat tradisional dengan sains modern dan dunia kedokteran.


Kedua, menghindari penafsiran yang merendahkan (dismissive interpretation). Banyak kesalahan dalam menangkap perilaku masyarakat yang dengan mudahnya diberi label: malas atau masyarakat penuh takhyul. Misalnya dalam meneliti masyarakat Papua yang dengan mudahnya dilabeli malas atau suka dengan kekerasan. Demikian pula meneliti tentang cerita rakyat, legenda yang dengan mudahnya dilabeli takhyul. Pelabelan seperti ini selain berasal dari kemalasan menafsirkan dari si peneliti, juga karena peneliti sibuk berangkat dari model-model teori yang abstrak yang kemudian ditempakan kepada masyarakat yang diteliti. Selain tidak sesuai juga akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang merendahkan.


Ketiga, menangkap struktur dan cerita anggota masyarakat (members stories). Peneliti perlu melihat bagaimana struktur usia warga, informan dipanggil apa (pak, bu, mas dll). Dengan demikian peneliti akan tahu strukturnya. Kemudian cara sapa ketika saling bertemu antar warga. Dan yang terpenting adalah bagaimana informan menjelaskan grup atau komunitas warganya sendiri dalam menghadapi dan kejadian-kejadian tertentu. Dengan demikian kita akan mengetahui posisinya sekaligus format komunitasnya. Misal, tanggapan informan terhadap demo omnibus law, atau tanggapan ketika anggota keluarga tertangkap polisi akibat narkotik. Dari respons informan kita bisa lihat relasi dan rasa keterhubungan dengan komunitas dari informan, serta posisi klasnya.

Etnografi adalah studi relasi bukan sebab akibat. Mereka misalnya yang berada di kelas lebih atas akan tidak sepakat dengan riot atau demonstrasi dan sebaliknya. Dua orang dapat berbeda dalam meresponse satu kejadian, seperti penjarahan di Los Angeles pada tahun 1995. Kulit putih menyebutnya rebellion, sedangkan komunitas latino dan kulit hitam menyebutnya sebagai riot (hal. 118-119).

Keempat, melihat istilah-istilah dan tipologi (member terms and typologies). Informan punya istilah-istilah lokal dan membuatnya secara struktural relasional, hitam putih, kelas atas kelas bawah dst. Misalnya istilah burnt out untuk kelas pekerja, buzzes untuk narapidana pembuat rusuh dst. Di Indonesia, misalnya coro coklat atau kecoa coklat seringkali disematkan untuk polisi lalu lintas yang memeras pengendara dst. Di Amerika isilah hustler dilabelkan kepada polisi yang menangkap dengan tepat, sedangkan burns out untuk polisi yang menangkap demi mengejar angka prestasi berdasarkan statsitik tangkapan.


Tipologi juga menunjukkan kognisi manusia yang menstrukturkan kekontrasan. Dengan tipologi kita memahami cara komunitas memaknai proses karakter mikro politik dan permasalahannya melalui klasifikasi. Dengan menggunakan istilah dan kategorisasi kita dapat menangkap makna pandangan dunia masyarakat dengan cara: “under which people are actually invoke and apply such terms, terminolgirs and catgeories interaction with others (hal.139)

Selain itu, pandangan yang berbeda dalam memaknai proses permasalahan dan politik didasarkan pada posisi gender, klas, referensi etnis dari informan tersebut. Karena itu peneliti perlu melihat keragaman ini karena informan seringkali tidak mereferensi identitas dirinya secara langsung. Status kelas misalnya, memang dapat disembunyikan, namun ia terlihat dari banyak indikator lainnya, seperti pakaian, properti dan perangkat teknologi yang digunakan.

Etnografi, dengan demikian bukan berfokus pada wawancara namun lebih kepada berinteraksi. Bukan bagaimana mengajukan pertanyaan, namun bagaimana berlatih mendengarkan.  “Not asking but inferring what people are concerned with from the specific ways in which they talk and act in a variety of natural settings (hal.140)“. Jadi sekali lagi, etnografi bukan masalah wawancara namun mencatat perbincangan dan interaksi-interaksi yang terjadi secara natural.

Ini yang saya rasakan ketika melakukan riset selama pandemi menggunakan asisten peneliti. Penelitian survei kuantitaif belajar untuk bertanya, karena pertanyaan telah ada di atas kertas. Namun studi etnografi tidak mencecar dengan pertanyaan, melainkan mendengarkan informan dan melanjutkan pertanyaan dari apa yang sudah dijelaskan oleh informan. Dengan demikian, pertanyaan-pertanyaan dalam etnografi muncul setelah mendengarkan dengan seksama dari apa yang dijelaskan atau dari hasil interaksi yang panjang dan berulang dengan informan.

Ps: Di beberapa buku etnografi terbaru, informan juga disebut sebagai interlocutor atau teman bicara. Sedangkan di buku ini informan disebut dengan “member group” atau salah satu individu yang menjadi bagian dari anggota kelompok suatu komunitas/masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s