Marshall Sahlins: Sebuah Obituari.

Selama tahun 1960an, para antropolog Amerika secara pesat mulai terseret dalam agitasi politik dalam kampusnya meghadapi permasalahan publik. Termasuk Sahlins muda. Ia banyak berpartisipasi dalam gerakan hak-hak sipil. Penentangan terhadap keterlibatan Amerika dalam perang Vietnam dan keterlibatan pemerintah dalam penentangan aksi-aksi politik di kampus yang menjadi permasalahan di berbagai universitas. Para antropolog secara intensif bergabung dengan aktivisme anti perang. Di Universitas Michigan, Marshall Sahlins adalah penggerak demonstrasi tahun 1965. Protes-protes anti perang membakar semangat para dosen dan mahasiswa. Mereka meminta kebebasan mengungkapkan pendapat hingga menduduki bangunan-bangunan administrasi di banyak kampus. Sahlins juga menentang keras Proyek Camelot, yakni misi tentara Amerika untuk membantu pemerintahan yang lebih ramah dalam bernegosiasi dengan berbagai permasalahan politik, khususnya dalam isu Amerika Latin dan Vietnam. Dalam proyek ini, ilmuwan sosial termasuk para antropolog direkrut sebagai mata-mata politik. Sahlins menentang keras proyek tersebut.  

Sumber gambar: https://pressblog.uchicago.edu/2011/10/25/a-knight-and-marshall-both-new-honors-for-sahlins.html

Pada tahun 1957 Sahlins bergabung di jurusan antropologi, Universitas Michigan. Waktu itu, poros pertentangan antara Universitas Columbia yang mengusung mentalisme dan ide sebagai inti budaya berlawanan dengan Universias Michigan yang beraliran materialisme dan evolusi kebudayaan. Selama tahun 1967-1969 Sahlins melakukan perjalanan ke Paris, dimana ia kemudian menjadi seorang antropolog struktural, yang melihat bahwa struktur-struktur yang diciptakan dalam budaya adalah hasil dari ide kepengaturan manusia. Setelah kembalinya dari Michigan, Sahlins menemukan bahwa jurusannya di Michigan tengah bergerak ke arah kajian ekologi yang baginya sangatlah asing karena dianggapnya meremehkan kajian kebudayaan. Pada tahun 1971, tak lama kemudian Sahlins berpindah ke Universitas Chicago.

Ketika itu, Clifford Geertz juga berada di departemen antropologi Chicago bersama David Schneider, salah seorang antropolog kekerabatan. Chicago menjadi tempat yang menyenangkan karena tidak seperti di Michigan, Geertz, Schneider menggiring arah antropologi ke posisi kultural dengan menggunakan pendekatan simbolik. Karena itulah departemen ini menjadi rumah yang menyenangkan bagi Sahlins ketika disana. Namun tak lama, sayangnya, Clifford Geertz meninggalkan departmen tersebut, dan berpindah ke the Institute for Advanced Study di Princeton, sebuah lembaga think tank prestisius, dimana disana Geertz tidak mengajar melainkan hanya meneliti dan menjadi supervisor saja. Sementara Schneider tetap tinggal di Chicago dan memegang pengaruh yang sangat kuat terhadap para murid generasi dibawahnya hingga tahun 1985, ketika ia pada akhirnya berpindah ke Universitas California di Santa Cruz.   

Yang paling saya ingat pertama kali belajar Marshall Sahlins adalah karya-karya pentingnya mengenai antropologi ekonomi dan masyarakat tribal. Karya babon Sahlins, Stone Age Economics yang terbit tahun 1972 dimasukkan dalam aliran substantivis. Aliran ini berpendapat bahwa ekonomi formal hanya valid pada masyarakat kapitalis Barat. Karena itu, dalam melakukan studi ekonomi masyarakat di luar Barat, kita perlu melihat bukan hanya perilaku ekonomi rasional Barat yang menghasilkan kapitalisme, tapi juga harus melihat bagaimana kapitalisme tersebut ditanamkan dalam berbagai institusi-institusi sosial di ranah lokal. Kaum substantifis seperti Sahlins membagi sistem ekonomi ini ke dalam tiga tipe sistem pertukaran: resiprositas, ekonomi yang diatur pada masyarakat berdasarkan kekerabatan; redistribusi, modenekonomi yang diatur oleh kerajaan dan pemerintahan; dan ekonomi pasar yang sepenuhnya berbasis kapitalisme. Pandangan Sahlins ini tentu saja sangat relevan jika kita operasikan dalam melihat gerak ekonomi di masyarakat pinggiran seperti riset saya belakangan ini di Maluku dan Papua Barat

Pada saat buku Stone Age Economics dalam proses penerbitan, Sahlins menghabiskan waktunya selama dua tahun di Paris, dimana ia begitu tenggelam dengan debat-debat tentang Marxisme dan strukturalisme Levi-Strauss. Dan ia berupaya mengusung dua perdebaran ini secara bersamaan ketika kembali ke Amerika. Penggabungan antara Marxisme dan Strukturalisme ini tergambarkan dalam bukunya Culture and Practical Reason yang terbit empat tahun kemudian, 1976. Buku ini menandai fase lainnya yakni pertentangan antara materialisme (sebagai mana dalam judul buku Sahlins, “practical reason” dan idealisme “culture”. Dua perdebatan ini telah berlangsung lama dalam perkembangan antropologi Amerika. Tujuan Sahlins mendekatkan dua ide berbeda ini adalah upaya untuk mengatasi perdebatan antara materialisme historis (Marx) dan strukturalisme (Levi-Strauss) yang saling bertentangan di Eropa.

Di karya-karya selanjutnya, selama Sahlins di Chicago, ia mulai berpindah ke pendekatan yang sangat kulturalis. Sahlins secara mendalam memasukkan pendekatan sejarah yang sangat bersifat kulturalis. Sejarah baginya bekerja di luar tatanan simbolik. Apa yang tampak berubah sesungguhnya adalah sebuah manifestasi dari basis dari struktrur ideologi. Konsep Sahlins tentang “mythopraxis“ misalnya, menggambarkan cara dimana mitos secara konstan terus berulang dalam konteks kekinian. Sahlins menawarkan satu pendekatan sejarah struktural. Peristiwa penting tertentu merupakan rotasi tak terduga dari sejarah yang pernah ada. Rotasi ini terjadi karena peristiwa-peristiwa membentuk kombinasi kultural di dalamnya. Dan dalam prosesnya, kultur itu sendiri membentuk sebuah struktur sejarah Sahlins mengembangkan ide-idenya ini secara detail dalam karyanya yang menafsirkan ulang pertemuan Captain Cook dengan orang Hawaii pada tahun 1788 dan kejadian-kejadian berikut yang mengikutinya (1981, 1985).

Pada tahun 1992, Sahlins terlibat debat keras dengan seorang antropolog Sri Lanka berbasis di Universitas Princeton, Gananath Obeyesekere. Dalam sebuah buku berjudul The Apotheosis of Captain Cook: European Mythmaking in the Pacific. Obeyesekere membantah pandangan Sahlins, dengan mengklaim bahwa mitos tidak diciptakan oleh penduduk asli, melainkan dibikin oleh para pelayar rekan Kapten Cook sendiri. Menurut Obeyesekere, orang Barat seperti Sahlins memproduksi mitos itu sendiri. Para antropolog dari Barat, tuduh Obeyesekere, menawarkan sebuah analisis yang ditanamkan secara kultural, sedangkan informan orang asli Hawaii bertindak dalam kaitannya dengan rasionalitas universal Barat yang telah dibangun oleh peneliti. Beberapa tahun kemudian Sahlins merespon tuduhan Obeyesekere dalam bukunya berjudul, How “Natives” Think” About Captain Cook, For Example (1995). Sahlins membangun argumen tentang pertemuan Kapten Cook dengan orang-orang Hawaii, yang terangkum dalam teori “mythopraxis” dari masyarakat asli. Dua perdebatan panas ini tak pelak menggaungkan debat-debat tentang Orientalisme.

Di tahun 2013, Sahlins mundur dari kursi kehormatan National Academy of Science, sebuah lembaga sains multidisiplin paling terhormat di Amerika Serikat. Alasannya adalah karena ada Napoleon Chagnon. Chagnon, dalam pandangan Sahlins bermasalah dengan sejumlah isu-isu etis. Napoleon Chagnon adalah etnografer masyarakat Yanomami di hutan Amazon, Brazil. Chagnon menggambarkan orang Yanomami sebagai orang-orang yang garang dan kejam (The Fierce People). Sahlins menuduh Chagnon menyalahi nilai-nilai etika dalam risetnya dan terlibat juga dengan seorang ahli genetika James Neel dalam praktik penelitiannya. Sahlins menilai bahwa kedua orang ini telah menyebabkan wabah campak selama tahun 1960an di kawasan Yanomami. Selain itu, Chagnon memperlakukan orang-orang di kawasan Amazon ini sebagai sebuah laboratorium alami untuk menguji teori neo-Darwiniannya. Yang paling mengerikan, berbagai perusahaan perkebunan dan minyak menggunakan rekomendasi Chagnon ini untuk meringsak dan membumi hanguskan orang-orang Yanomami.

Sama seperti koleganya, David Graeber, Sahlins sangat menaruh perhatian terhadap struktur kuasa di dunia pinggiran yang belum didominasi oleh sistem kapitalisme Barat. Marshall Sahlins menjadi penguji disertasi alm. prof Stefanus Djawanai di Universitas Michigan, tentang linguistik dan pemikiran kolektif orang-orang Ngada. Stefanus Djawanai adalah adalah teman satu sekolah menengah dengan Daniel Dhakidae di Ngada. Sahlins juga membimbing dengan antusias Susan Mc Kinnon yang meneliti tentang gender, hirarki dan aliansi orang-orang Tanimbar di Maluku Tenggara Barat.

Sahlins telah pergi. Sebagai seorang senior yang sangat dihormati di University of Chicago, Sahlins berpengaruh selama seperempat abad terhadap murid-muridnya dengan idenya tentang determinisme kultural dan sejarah struktural. Murid-muridnya tersebar luas meneliti berbagai belahan dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s