Perlukah Perempuan Muslim diselamatkan?

Ketika Amerika Serikat menginvasi Afghanistan di akhir 2001 dan Irak di 2003, hampir semua feminis liberal diam. Alasannya sangatlah rasis “let the white men save brown women from brown men”. Biarkan kulit putih menyelamatkan perempuan kulit coklat dari laki-laki berkulit yang sama. Pandangan ini kemudian diperkuat oleh Laura Bush, istri presiden George Bush yang mengatakan bahwa perempuan di Negara mayoritas Muslim tersebut akan “dibebaskan” dari belenggu-belenggu hijab yang selama ini dikenakan oleh mereka. Feminis Barat berpandangan dunia di luar Amerika, khususnya negara Muslim, masih sangatlah patriarki. Alasannya tentu dengan mengggunakan standar “kesetaraan gender” ala Amerika yang kemudian dipaksakan untuk menjadi universal. Pertanyaannya, apakah hijab, dalam bentuk apapapun itu, dari burqa hingga jilbab adalah simbol dari dominasi pria terhadap laki-laki? 

Perempuan dalam Etnografi Dunia Islam

Antropolog yang melakukan penelitian di Mesir, Saba Mahmood, dalam bukunya Politics of Piety (2011) menunjukkan bahwa perempuan mengenakan hijab adalah bagian dari kebebasan pilihan mereka sendiri. Sebagai subjek yang otonom perempuan punya beragam alasan spiritual dan ideologis dalam menghadapi sekularisasi. Hijab merupakan penguatan identitas mereka sebagai perempuan Muslim. Alasan ini persis terjadi di Indonesia medio tahun 1980an ketika perempuan mengenakan jilbab sebagai kritik terhadap sekularisasi Orde Baru. Kesalehan, dalam argumen Saba Mahmood adalah situasi objektif perempuan pada konteks dimana ia tinggal. Dalam melihat kesalehan, Saba hampir tidak menemukan perempuan Muslim bermimpi atau iri dengan kebebasan seperti yang dimiliki Amerika karena perempuan di Mesir mempunyai nilai yang berbeda.

Hijab juga menjadi simbol resistensi bangsa Palestina terhadap pendudukan Israel. Hal ini tentu berbeda dalam pandangan feminis liberal yang melihat agama dan hijab sebagai belenggu. Leila Ahmed dalam A Quiet Revolution: The Veil’s Resurgence, from the Middle East to America (2012) menceritakan tentang bibinya di Palestina yang berjuang dalam kondisi yang cukup keras. Dan ia menemukan bahwa agama dan segala identitasnya, termasuk hijab menjadi salah satu opsi simbolik perjuangan terhadap hak-hak individunya.

Hijab bukan simbol penaklukkan dari keinginan laki-laki. Lila Abu Lughod, dalam karya monumentalnya, Do Muslim Women Need Saving (2013)  secara etnografis menggambarkan perempuan di dunia mayoritas Muslim menggunakan hijab mereka secara portable, yakni hijab digunakan keteka mereka berada di ruang publik. Hijab juga merupakan simbol partisipasi mereka terhadap berbagai organisasi dalam komunitas. Di Afghanistan, pada dasarnya, Taliban hanya mengubah gaya hijab yang telah ada beragam pada masyarakat. Banyak gaya cadar bertujuan untuk menunjukkan kelas terhormat dan status perempuan. Hijab menunjukkan aksi sukarela dan politik representasi, status sosial, kesalehan dan kehormatan. Masyarakat rural pada umumnya menggunakan chador, yakni hijab longgar yang kemudian di bawah rejim Taliban diubah menjadi burqa. Di pedesaan, mereka yang menolak menggunakan burqa memilih menggunakan chador. Namun pertanyaannya adalah jika burqa adalah tanda penaklukkan perempuan atas Taliban, mengapa para perempuan tidak melepaskan hijab mereka ketika Taliban dikalahkan oleh pasukan Amerika sepanjang kurang lebih 20 tahun?

Karya etnografi Lila Abu Lughod yang pertama, Veiled Sentimen (1986) pada masyarakat Bedouin di Mesir bagian barat menunjukkan bahwa perempuan menutupi wajah mereka dalam konteks. Secara portable, perempuan memutuskan kepada siapa saja mereka merasa pantas untuk berjilbab. Dengan demikian, jika kemerdekaan didasarkan pada kebebasan pilihan, kesamaan antara perempuan yang mengenakan jilbab dengan rok mini adalah keduanya didasarkan pada pilihan yang datang dari diri sendiri, bukan dari tekanan sosial maupun keinginan laki-laki. Hal ini yang seringkali disalah artikan oleh feminis liberal. Setiap orang mempunyai keinginan untuk bebas dan adil, namun cara mengekspresikannya yang berbeda. Perempuan di dunia Muslim memilih dengan sadar untuk tidak sekuler. Bahkan pada tahap tertentu, ini bukan saja pilihan ideologis mereka, namun simbol perlawanan. Ada banyak perempuan di dunia ini yang berjuang untuk bebas tanpa harus menjadi seperti Barat, dan perempuan di dunia Muslim menemukan caranya sendiri.  

Cara Barat melihat Dunia Muslim

Pasca perang dunia kedua, perempuan di dunia Selatan, dalam pandangan pemerhati kajian poskolonial, telah menjadi objek atau agenda kepentingan dunia Utara. Argumen ini tentunya dibuktikan dengan berbagai studi seperti Ananya Roy. Studi Roy, dalam Poverty Capital (2010) tentang kredit mikro atau kredit usaha kecil yang didanai oleh Lembaga finansial dari Washington menunjukkan bahwa perempuan miskin yang hidup dalam struktur patriarki di Bangladesh, Afganistan dan bahkan Mesir menjadi target utama dalam sistem mikro kredit ini. Salah satu upaya membebaskan perempuan dari struktur patriarki dan ketertindasan, perempuan diberikan kredit dengan bunga pinjaman namun mensyaratkan pembayaran ulang dengan penuh kedisiplinan. Namun demokratisasi finansial ini justru tidak menuntaskan kemiskinan, alih-alih menjerat perempuan ke dalam hutang tak berkesudahan. 

Berbagai kasus menunjukkan, campur tangan Amerika justru memperburuk situasi. Cara Amerika melihat relasi laki-laki dan perempuan di dunia Muslim dengan analogi tuan dan budak. Padahal ada relasi kekerabatan, cinta dan keintiman yang jauh dari tuduhan budak dan tuan. Dalam menemukan jati diri kesalehannya, perempuan dengan sadar memilih laki-laki yang dituakan untuk menuntunnya. Pandangan antagonis laki-laki terhadap perempuan ini bisa jadi datang dari bias pengalaman Amerika sendiri. 

Half the Sky sebuah buku non fiksi yang terbit tahun 2009 menceritakan kisah para pengacara yang bekerja sangat keras dan melelahkan dalam membela perempuan di penjara AS yang telah dihukum karena membunuh kekasih atau suami mereka yang kejam. Belum lagi antropolog Peggy Reeves Sanjay dalam laporannya Fraternity Gang Rape (2007) menunjukkan tradisi brotherhood kelas menengah kulit putih di perguruan tinggi. Di tahun-tahun semester awal, mereka membuat perempuan mabuk sehingga para pria ini dapat “memerawani”, bahkan memperkosa mahasiswi yunior dan membual tentang hal tersebut pada hari berikutnya. Ini adalah tradisi yang umum dan diterima oleh laki-laki di Amerika. US Department of Justice (Departemen Kehakiman) melaporkan dalam survei nasionalnya, 1 dari 6 perempuan di Amerika pernah diperkosa dalam hidupnya. Pelakunya adalah teman dekat atau seseorang yang dikenal oleh korban. Sementara di dunia Muslim, perempuan lebih dilindungi oleh komunitas dan kerabat sehingga meminimalisir kekerasan. Sementara komunitas dan dunia kekerabatan adalah problematis bagi dunia Barat. 

Cara audiens Barat melihat dunia Muslim adalah bagian dari trauma mereka sendiri. Karena itu, Barat perlu mengglorifikasi orang-orang seperti Malala, Ayaan Hirsy Ali, Irsyad Manji. Ada begitu banyak laporan mendalam dan komprehensif dihasilkan dari riset panjang tentang masyarakat di dunia Islam, namun publik Barat menyukai fantasi tentang dunia Islam yang brutal, berdarah-darah dan bar-bar. Cara pandang orientalisme hardcore ini bertujuan untuk memberi makan sensibilitas moral Barat agar merasa terus superior. Lila Abu Lughod menyebutnya sebagai “pulp fiction stories” yakni publik Barat hanya mau melihat dunia Islam dari sudut pandang yang brutal dimana perempuan hanya ditempatkan sebagai korban. Perempuan disiksa dan dipaksa menikah. Dan dunia Islam dipeyorasikan hanya berisi Taliban dan ISIS. Perempuan menjadi korban patriarki yang ganas, padahal pelaku kekerasan sebenarnya datang dari aparatus pemerintahan dan hukum Syariah yang mendiskriminasi perempuan. Dunia Barat turut memproduksi patriarkinya dengan cara mengirim pasukan mereka. 

Sementara secara kultural dan kehidupan sehari-hari, dunia Islam jauh lebih berwarna dan dinamis. Dunia perempuan Muslim tidak melulu soal kesengsaraan. Ada banyak gerakan feminis perduli dengan gender, malnutrisi, ekonomi. Mereka mulai memilah dan memilih gaya fashion hijab secara inovatif. Sementara laki-laki juga mengurusi cucian kotor, tanaman, ternak, masakan. Dan semuanya ini dilakukan dengan tanpa harus menjadi sekuler dan Barat. Itu kenapa, ketika Amerika meninggalkan Afghanistan, di akar rumput, masyarakat Afghanistan hanya ingin kembali hidup seperti biasanya. Tanpa ada patronase Barat dan kolonialisme. Seperti juga yang kita semua inginkan.

HAK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s