Antropologi Sebagai Pendidikan: Ulasan buku Tim Ingold

Buku ini secara filosofis berargumen bahwa antropologi adalah pendidikan itu sendiri. Antropologi adalah studi tentang orang lain. Cara memproduksi pengetahuan adalah dilakukan dengan metode partisipasi observasi, yakni memperhatikan budaya orang lain dan dunia mereka. Pendidikan sebagai ajaran untuk mengetahui orang atau objek lain dan perasaannya, atau disebut oleh Ingold sebagai hapticality yakni artikulasi pengetahuan yang dapat ditumpahkan melalui simbol, kata, bicara, puisi, grafik, bagan, hingga formulasi matematika.  Sedangkan dalam antropologi, yang dilakukan dalam hapticality adalah memperhatikan aktivitas dan apa yang dikatakan oleh informan dan apa yang mereka response. Selanjutnya melihat bagaimana manusia melakukan perbincangan (conversation) dengan kehidupan itu sendiri (Ingold, 2016). Dalam artikulasinya, antropologi menawarkan Pertama, pemikiran kritis, yakni pemikiran yang tidak menerima apa adanya tentang segala sesuatu. Kedua, antropologi bersifat komparatif karena mengakui tidak ada satupun makhluk yang tidak ditentukan oleh faktor lain. Pada titik inilah, antropologi mempunyai kesamaan prinsip dengan pendidikan yang juga menekankan pada perhatian, observasi, pemikiran kritis dan komparatif (Spradley, 2016). Apa yang disebut oleh para pendidik sebagai “sekolah”, dalam antropologi disebut “lapangan” (field). Dua praktik ini mempunyai kesamaan. 

Antropologi menawarkan metode utamanya sebagai pembanding dengan prinsip pendidikan, yakni observasi partisipasi (Hume, 2012; Spradley, 2016). Metode klasik ini tetap dan paling relevan digunakan dalam antropologi. Partisipasi observasi berarti bergabung melakukan korespondensi dengan mereka yang kita pelajari. Observasi adalah mengamati apa yang terjadi disekitar kita serta mendengarkan dan merasakan tentang yang diamati. Partisipasi berarti menjalankan bersama dengan yang kita amati. Partisipan menghabiskan waktu berulang-ulang secara panjang, bulan hingga tahun, bergabung dengan kehidupan suatu komunitas di suatu tempat, dan terlibat dengan berbagai aktivitas. Proses ini hanya dapat dijalankan pada apa yang disebut dengan lapangan (field). Di lapangan antropologi, selalu mempunyai pertanyaan terbuka, dan selalu bertanya, tanpa bosan. Dalam partisipasi observasi, dua kalimat ini dijalankan secara bergiliran, bukan bersamaan, karena cukup sulit mengamati orang berenang di sungai dengan sekaligus ikut berpartisipasi berenang. Dengan memisahkan dua cara ini, apa yang disebut oleh Ingold sebagai “doing undergoing” yakni ikut berpartisipasi pada yang dijalankan berbagai aktivitas manusia, seperti berenang. Tentunya setelah itu, mengambil jarak untuk mengamatinya agar tidak bersifat subjektif. Seperti dalam partisipasi observasi, dalam pendidikan, murid (apprentice) perlu melakukan magang (apprenticeship), karena ia mengamati sekaligus menjalani apa yang diamatinya. Di lapangan, sebagaimana di sekolah, kita sama-sama belajar agar diri kita dapat mengembangkan pengetahuan, kebijakan dan nilai-nilai. Pengetahuan dapat berkembang dimana-mana.  

Tugas antropologi adalah harus selalu heran (wonder) dan mengembara (wander). Untuk heran, memerlukan atensi atau perhatian (Delaney, Carol and Deborah, 2017). Sedangkan mengembara memerlukan mengikuti jalur atau orang yang hendak kita perhatikan. Sebagaimana juga yang akan nantinya saya argumentasikan di bawah, bahwa belajar (study) di field, sebagaimana seharusnya juga di sekolah, adalah pengalaman komunal daripada pengalamanan kesendirian (solitary). Belajar berupaya mengatasi persoalan, melakukan spekulasi dan berpikiran kritikal. Studi lapangan, seperti juga sekolah bukanlah aplikasi metode, melainkan praktik menjalankan eksperimentasi dengan penuh kesabaran yang mengubah semua jawaban dengan pertanyaan, khususnya ketika berjalan dengan informan (Emerson, 2007). Partisipasi observasi bukanlah cara mengkoleksi data, melainkan praktik pendidikan, dimana program pembelajaran dilakukan di lapangan, bukan di sekolah. Sebagaimana ditegaskan oleh Ingold, antropologi, yang berbeda dengan etnografi, adalah tidak mengumpulkan data dari informan atau komunitas, melainkan belajar bersama masyarakat, berjalan beriringan bersamanya, dan belajar bersama (study with) komunitas, bukan belajar tentang (study of) masyarakat, seperti yang selama ini dilakukan oleh etnografi (Ingold, 2018: 65-70). 

Seperti dalam pendidikan, studi lapangan juga memberikan laporan (rapport) setelah mengikuti partisipasi observasi dan memberitahukan komunitas, bahwa peneliti akan melaporkan semua hal yang diceritakan dan diikutinya. Setelah sepakat, raport atau laporan ditulis. Raport dibangun dari penggalian data yang panjang, pemberian konsep, kategori dan membangun pemahaman bersama dengan komunitas. Seperti raport dalam pendidikan, laporan riset antropologi bukanlah hasil akhir, melainkan ia membuka pengalaman selanjutnya yang selalu terbuka. Laporan riset adalah proses awal dari penemuan dan perkembangan belajar selanjutnya. Demikian juga dalam raport pendidikan, sebagai proses ia terus berkelanjutan demi membuka pembelajaran selanjutnya. 

Metode dari observasi partisipasi membutuhkan atensi, seperti yang akan saya jelaskan di bawah. Observasi terhadap objek adalah langkah pertama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan (science). Sedangkan atensi atau perhatian muncul jika kita mempunyai rasa ingin tahu (curiosity) yang tinggi terhadap kebenaran. Kebenaran mempunyai versinya sendiri, dalam setiap disiplin, dari antropologi, fisika, seni musik, biologi, sejarah, mempunyai buku panduannnya secara berbeda. Semakin kita dekat dalam melakukan perhatian, atensi, semakin banyak pertanyaan yang muncul dan akan mengirim kita pada pertanyaan yang tidak berakhir. 

Pendidikan bukan Proses Transmisi, Yang dibutuhkan adalah Atensi

Pendidikan sebagai praktik, memperhatikan daripada sekedar mentransmisi. Pendidikan yang hanya melakukan transmisi persis menyerupai perilaku non-manusia yang mentransmisi insting kepada generasi non manusia selanjutnya. Sedangkan manusia, tidak sekedar mentransmisi, melainkan memperhatikan atau menaruh atensi. Itulah kemudian, pendidikan mempunyai makna yang lebih luas dari sekolah. Sekolah adalah institusi yang mempunyai kepentingan dengan tujuan pedagogis yakni memodelkan narasi dan ritual inisiasi, pendisiplinan sebagai warisan yang ditransmisikan. Transmisi dalam sekolah menjadi tonggak moralitas, kepercayaan dan selanjutnya dipraktikan dalam keseharian. Sebagaimana Tim Ingold tegaskan bahwa pendidikan bukanlah praktik transmisi, melainkan praktik atensi, dimana melalui atensi, pengetahuan diturunkan sekaligus dijalankan (Ingold, 2018: 2). 

Atensi adalah memperhatikan pada kehidupan sekeliling manusia, mengapa manusia berbeda dengan binatang, bagaimana memahami perbedaan antara tanaman dengan hewan dan mengapa berbeda dengan batu. Pendidikan (education) berbeda dengan pelatihan (training) pelatihan. Binatang dapat dilatih, namun tidak dididik. Manusia dapat mentransfer pengetahuannya, dan seterusnya. Sedangkan binatang hanya mendapatkan satu kali pelatihan, namun ia tidak dapat meneruskan pelatihan tersebut ke binatang lain. Manusia dapat mengembangkan pendidikan yang telah ia dapat sedangkan binatang tidak. Dengan demikian, tujuan pendidikan bukan untuk mengisi kekosongan otak dalam anak-anak agar ia dapat menjadi dewasa, melainkan menggiring anak muda dan orang dewasa secara bersama-sama agar kehidupan sosial dapat berjalan selayaknya. Tujuan pendidikan adalah berbagi kebijakan yang lahir dari pengalaman panjang, dengan demikian generasi tua dapat berbagi simpati, rasa ingin tahu, sensitivitas dan keterbukaan terhadap mereka yang lebih junior. Dengan atensi, manusia dapat mengetahui dirinya sendiri, dimana binatang tidak. Binatang tidak mampu memisahkan dirinya dari kondisi keberadaannya di dunia. Sedangkan manusia dapat mentransendensikan kondisinya, kemudian memisahkan dirinya dari alam dan melihat dirinya secara objektif dari luar, kemudian melakukan perubahan dari kondisi-kondisi alaminya. Itulah mengapa manusia dapat mengevolusi dirinya dari bar bar ke sistem pertanian, ke sistem kerajaan dan membentuk sistem Negara bangsa. 

Dengan melalui atensi masing-masing generasi memainkan peranan mereka dalam menentukan kondisi-kondisi lingkungan (milieu) dimana mereka dibesarkan dan tumbuh menjadi matang. Dalam era informasi seperti sekarang, pendidikan bukan lagi keberlanjutan dari transmisi pengetahuan, melainkan satu generasi mengangkut bebannya sendiri, yang juga dikembangkan dari generasi sebelumnya. Mereka yang percaya bahwa pendidikan adalah soal transmisi, dengan demikian meneguhkan konservatisme nilai pendidikan yang seharusnya terus kritis dan bermuatan perhatian pada lingkungan (milieu) saat dimana individu sedang menjalankan. Jika pendidikan seperti transmisi, maka tak ubahnya seperti model genealogis dalam keluarga yang sifatnya filiation, atau keturunan berdasarkan hubungan darah, dimana orang tua merupakan agen dari garis transmisi (Dumont&Parkin, 2006). Garis genealogi keturunan bersifat langsung, tegas dan ia tidak dipengaruhi sama sekali kondisi lingkungan disekitarnya (milieu). 

Dalam bagan kekerabatan, model genealogi berasumsi bahwa individual adalah anugerah dari nenek moyang. Dalam logika genealogi, individu adalah bawaan dari nenek moyang yang melahirkan. Pendidikan yang sifatnya transmisi, persis logika biologi kekerabatan. Manusia menurunkan genotype nya secara pasti ke keturunan berikutnya. Namun demikian, model transmisi genealogis cenderung mengabaikan logika kesalahan (logical fallacy) dari nenek moyang sebelumnya. Dengan demikian, daripada melihat pendidikan seperti dalam logika model filiasi atau bagan kekerabatan, pendidikan menekankan pada pengalaman generasi yang tengah menjalani pengalaman. Filiation seharusnya bukan rantai yang berhubungan melainkan menempatkan tiap-tiap generasi tumbuh kembang bersama (growing older together) secara berkelanjutan hingga peranan orang tua berhenti dimana anak menemukan kehidupan mereka sendiri melalui korespondensi dengan lingkungan (milieu) sekitar yang dihadapi.  

Demikian pula, terdapat dua faktor kultural yang tidak ditentukan oleh genotype, misalnya fenotipe atau kulit, dan juga Bahasa. Faktor pertama disebabkan bukan oleh filiation namun affiliation, yakni faktor pernikahan. Seorang ayah dapat saja berkulit gelap dan berambut keriting, namun anaknya berkulit terang dan berambut ombak karena hasil silang perkawinan dengan seorang ibu yang berkulit terang dan berambut lurus.  DNA berubah ketika seorang menghasilkan anak dari proses afiliasi (Stanford and John, 2017). Dengan demikian replikasi dalam biologi juga ditentukan oleh kode dan karakter dari kebudayaan, seperti afiliasi misalnya. Kedua, bahasa adalah faktor yang tidak ditransmisikan seperti gen, melainkan kemampuan berbahasa dan dialeknya dipengaruhi oleh individu tersebut besar dan memperhatikan pergaulan dijamannya dan disekitarnya. Pandangan pendidikan sebagai transmisi, layaknya teori model genealogis yang melihat dari sudut pandang biologis dan meninggalkan aspek-aspek lingkungan dan relasi sosial dimana individu juga berinteraksi dengannya. 

Pendidikan anti transmisi dan menempatkan kemauan agency bukan berarti ia mengagungkan kebebasan, melainkan menghargai pengalaman diri, dan menempatkan pertumbuhan dan kemajuan sebagai gerakan hal yang positif. Hidup tidak ditakdirkan, melainkan diperjuangkan oleh kemauan diri (volition). Kemerdekaan dalam pendidikan tidak berarti menghilangkan kekangan-kekangan, melainkan kekuatan berkembang dan tumbuh bersama. Untuk tumbuh berkembang, ia perlu menggabungkan dengan unsur-unsur lain, seperti antara tubuh fisik dengan sosial dan politik. 

Pendidikan sebagai atensi juga tentunya tidak mengajarkan anti terhadap pengajaran. Justru sebaliknya, pengajaran (teaching) adalah pemberian (gift) (Godelier, 1999)dari generasi tua kepada generasi muda. Namun yang diberikan adalah sesuatu yang tidak dimiliki (the gift it does not possess) (Ingold, 2018: 72) karena masing-masing generasi pada akhirnya harus melepaskan atau memberikan sesuatu ke generasi selanjutnya. Demikianlah hidup seharusnya berjalan. Karena itu, penelitian (research) merupakan upaya pengetahuan baru perkembangan dari diseminasi pengajarah (teaching). Keduanya bukan hal yang bertentangan melainkan bersifat urutan. 

Pendidikan Seperti Berjalan Kaki 

Ingold membedakan antara bio dan zoe. Kita manusia, tidak hanya hidup namun menciptakan cerita dalam hidup. Hidup sebagai hidup hanya menjalankan lingkarannya secara alami. Pendidikan adalah kemauan (volition), bukan kebiasaan (habit). Didalam kemauan, ia didasarkan pada kesadaran. Contoh paling mudah adalah ketika kita melakukan perjalanan, dalam bentuk hiking atau trekking. Dalam jalan tersebut, bukan saja kita perlu merencanakan rute, memakai sepatu bot, mengepak ransel, menyiapkan peta. Namun kita juga perlu memikirkan dan menyadari bahwa dalam perjalan tersebut mungkin kita harus menderita sedikit, kaki lecet, pegal pada bagian lutut. Tetapi ketika kita meyakinkan diri sendiri, bahwa berjalan adalah bagian dari kesadaran dan kemauan kita, maka kita berjalan seperti meditasi. Kita tahu sakit, namun kemauanlah yang menyebabkan kita terus berjalan sesuai keinginan. 

Berjalan, seperti pendidikan adalah campuran antara aktivitas fisik yang diharapkan akan membuahkan hasil setelah melalui campuran sakit dan kebosanan. Berjalan bukan saja aktivitas fisik, melainkan juga kognisi. Kekuatan berjalan menjadi meditatif karena terletak bahwa ia memberi ruang berpikir, untuk bernapas, dan untuk membiarkan diri terus bergerak. Dalam perjalanan juga menuntut bahwa kita harus menjadi makhluk yang responsif dengan kondisi alam di depan yang tidak terduga, medan, dan cuaca. Maka pikiran kita menyiapkan semuanya, untuk menghadapi ketidak pastian tersebut. Karena masalah kemauan, persoalan pendidikan kemudian adalah, kesiapan manusia untuk mempersiapkan dirinya menghadapi resiko hidup, dengan semua ketidakpastiannnya, ketidakterdugaan, dan frustasi. 

Dalam perjalanan, tentu saja, yang kita lakukan adalah memperhatikan (attention), dimana kita memperhatikan berbagai paparan disekitarnya. Dalam jalur berjalan, kita menjalani apa yang disebut dengan “observasi”, yakni pengamatan dengan menggerakkan stimulus sensorik inderawi. Semakin banyak kita berlatih dalam menjalani pengamatan, semakin baik kemampuan kita untuk memperhatikan dan merespons beragam kondisi lingkungan dan relasi-relasi sosial di sekitarnya. Dengan demikian, pendidikan pada dasarnya adalah soal perhatian (attention), bukan soal transmisi. 

Agency atau kekuatan diri dalam melakukan perjalan atau pendidikan, tentu berbeda dengan kebiaasan (habit) (Bourdieu, 1993), dimana yang terakhir ini menempatkan individu hanya sebagai penerus kebiasaan yang telah ada. Padahal tidak demikian seharusnya. Di dalam proses perjalanan, manusia belajar dari apa yang dilihatnya sesuai dengan jamannya. Agency merelasikan dirinya dengan situasi saat yang ini, yang ia hadapi (Ortner, 2008). Relasi ini dihasilkan dari interaksi terhadap apa yang dirasakan. Pendidikan sebagaimana juga permainan catur, dimana pemain terlibat di dalamnya saling berkorespondesi, bertukar posisi bermain. Pemain patut menaruh perhatian pada apa yang dimainkan, selain saling berkompetisi, namun juga berbagi permainan dengan lawan. 

Pendidikan kesadaran adalah doing undergoing atau melakukan apa yang dijalani dengan penuh kesadaran. Kesadaran dalam hal ini adalah kemauan mendengarkan, menyaksikan dan meresponse. Pendidikan dengan demikian, adalah permasalahan menjadi manusia, dari manusia yang tidak begitu matang, menjadi manusia berpengetahuan terhadap norma dan nilai, dan bertanggung jawab terhadap kedirian dan masyarakat sipil.  

Misi pendidikan adalah untuk menyadarkan anak dari kondisi aslinya dari kenaifan dan melepaskan dirinya dalam kemerdekaan bertindak dan menjadi manusia intelijen yang matang. Dengan kata lain, pendidikan adalah emansipasi. Dengan demikian, pendidikan bukanlah pedagogi atau metode pengajaran dalam sekolah yang penuh dengan instruksi dan ceramah, melainkan ia adalah partisipasi dalam praktik dalam melakukan korespondensi dengan kehidupan sosial (Freire, 2018). 

Kunci Minor dalam Pendidikan

Karena pendidikan bukan transmisi, maka ia bukanlah indoktrinasi, melainkan respon terhadap paparan yang ada disekitar kita. Pemahaman terhadap kondisi sekitar pada saat ini sangat penting, karena perubahan radikal (era distraksi) demikian berulang-ulang (Friedman, 2009). Jika saya menggunakan analogi berjalan seperti diatas, maka saat ini, potensi pejalan untuk tersesat dan berbelok ke setapak yang tidak dikenalinya sangatlah mudah. Jalan tersesat ini adalah kunci minor dalam pendidikan. Setiap kita pasti mempunyai potensi tersebut. Berjalan, seperti pendidikan, memerlukan atensi, perhatian. Jaman distraksi adalah mudahnya mental mengalami kehilangan focus. Distraksi adalah tanda penyimpangan dari garis atensi. Karena itu, dalam pendidikan, perlu penekanan induksi, atensi, observasi, dan fakta dilapangan yang belum tentu terukur, fakta yang tidak singular, kemudian dikembangkan menjadi teori. Salah satu cara untuk mengukurnya adalah bergabung dengan apa yang kita perhatikan, tingggal bersama (live in) dan mengikuti semua aktivitas objek yang kita perhatikan. Sains dimunculkan dari kesabaran eksperimen, dimana terletak dinamika perhatian, dan daya tahan kita menunggu (Latour, 2015). Kita harus membiarkan hal-hal yang kita perhatikan muncul, pada waktunya, dan ia tidak dapat dipaksa. 

Sebagaimana dalam semua aktivitas, kita perhatikan ada banyak hal minor diluar kebiasaan umum yang merupakan keputusan individual. Hal-hal minor ini adalah improvisasi, kreativitas. Ia ada disetiap aktivitas berjalan, menyanyi, menulis, memotong kayu dan seterusnya. Celah-celah dari gestur ini, Ingold menyebutnya sebagai celah perbedaan atau “Interstitial differentiation”. Kompleksitas sulaman dalam tenunan, seperti pula sendi dalam rangka tubuh manusia, atau juga seperti rakitan batu dalam sebuah candi, atau improvisasi dalam menyanyi, masing-masing bagan dari aktivitas ini mempunyai celah perbedaan. Celah perbedaan ini secara berkelanjutan muncul di tengah-tengah bergabungnya dua relasi yang berkelanjutan. Yang dibutuhkan dalam pendidikan adalah kemauan kita dalam memperhatikan celah perbedaan ini. Bukan hanya pada diri kita sendiri, namun juga celah apa yang dapat kita gunakan dalam melakukan korespondensi, rakitan (assembly) dengan unsur potensial lainnya (Latour, 2000). Pertemuan dari celah perbedaan inilah yang disebut dengan the common, yakni perpaduan nilai bersama dari unsur-unsur berbeda. Disinilah, kemudian agency dalam pendidikan yang menentang transmisi, bukanlah diri yang liberal, melainkan agen yang mencari korespondensi dan kebersamaan/kolektivitas dan relasional. Dengan demikian, tidak ada pembebasan tanpa tanggung jawab dan kepedulian. Tentu saja, mengacu pada istilah belajar (study) memerlukan sekolah karena disana, seseorang tidak dapat mengisolasi dirinya sendiri, melainkan berjalan, bekerja, menyanyi hingga sengsara secara bersama-sama. Belajar di sekolah adalah cara dimana seseorang melepaskan atau mendisposesi dirinya dan pikirannya dipertukarkan dengan orang lain. Hal ini disebut sebagai proses “mutual dispossession” saling bertukar yang juga merupakan proses “commoning” atau kebersamaan dan proses deprivatisasi. 

Dalam Bahasa Yunani Kuno, sekolah, adalah Scholè yang berarti waktu tak berarah dan tanpa tujuan akhir”. Dalam artian, tujuan sekolah adalah agar murid dapat sementara menyisihkan,  hierarki status dalam kehidupan mereka di masyarakat. Di sekolah, mereka bisa bergabung dengan guru dalam komunitas yang sederajat, namun masing-masing mempunyai fungsi berbeda dan memiliki sesuatu untuk diberikan. Karena itu, dalam sekolah, anak diibaratkan sebagai seorang Yatim Piatu, yakni anak yang dibayangkan terlepas dari ikatan keluarga. Tujuannya agar ia digiring ke gawang masa depan dan berpengalaman dengan kondisi yang ia hadapi saat ini. Tujuan sekolah bukan untuk melengkapi setiap anak dengan takdir. Justru sebaliknya, tujuannya adalah untuk menonaktifkan takdir, menangguhkan perangkap tatanan sosial, membebaskan manusia dari hirarki struktur masyarakat. Karena itu, metode atau pembelajaran studi adalah bukan hanya pemikiran kritis (critical thinking), namun juga berpikir spekulatif, secara sabar melakukan eksperimen, selalu terbuka dan tidak tertambat pada satu hal, dan selalu menangguhkan keinginan masyarakat publik yang awam. Belajar adalah kegiatan aktif dan emansipatif. Ia berbeda dengan proses Bahasa Ibu yang kita dapatkan secara pasif dari ketergantungan kita terhadap orang tua. Bahasa ibu diprogram sebagai struktur yang siap pakai dalam pikiran anak-anak. 

Pendidikan dilihat dari perspektif antropologi, patut menawarkan metode pembelajaran dengan memberikan kesempatan siswa mempraktikkan langsung. Kami percaya dengan moto ‘to learn from someone is a radically different experience from the experience of being taught by someone’. Mengajar itu seperti prinsip memberi sesuatu yang tidak dipunyai oleh guru. Dengan kata lain, guru justru tidak harus mendikte murid, melainkan memberinya keperluan akan pengalaman, keahlian dan pengetahuan. Caranya adalah, menyediakan proses magang sebagai pembelajaran. Tugas guru adalah membimbing secara partisipatif. Magang atau disebut juga apprenticeship adalah upaya memahami melalui praktik (practice understanding). Tentu saja model ini berbeda dengan budaya model pembelajaran ortodoks yang mentransmisi informasi antar generasi. Di dalam magang, siswa saling berbagi ketertarikan dan berpartisipasi terhadap profesi yang ia jalani. 

Memang saat ini yang menjadi tantangan adalah munculnya berbagai layar elektronik (screen) yang menjadi perangkat pengetahuan. Manusia dibuat tidak bergerak menatapnya, namun sekaligus mereka dapat bergerak dunia dimana-mana (placeless). Semua fakta dapat diakses melalui dunia online. Dunia kini dipenuhi dengan suara dan gambar melalui layar telpon pintar. Tantangannya, dunia layar pintar ini akan menggantikan peran pengajar, khususnya mereka yang hanya mengandalkan diktat sebagai transformasi pengetahuan. Dunia akan penuh dengan disrupsi. Disinilah kita memasuki jaman learnification, dimana murid tidak lagi seorang pemula yang belum tahu apapun, melainkan pelanggan yang sudah tahu benar apa yang diinginkan karena saat ini pendidikan telah tersubjektifikasi pada kekuatan-kekuatan pasar. Dunia papan tulis mulai terhapus dengan dunia layar putih. Kampus-kampus menjadi bangunan arsitektur yang dipugar ulang dengan dipenuhi bangunan longue, gym, warung kopi, hingga minimarket. Di era teknologi digital, transmisi pengetahuan secara langsung mudah didapat, tanpa harus mengumpulkan murid-murid di dalam kelas. Jika pendidikan dapat dicapai melalui teknologi digital, pertanyaannya, apakah kita memerlukan sekolah atau universitas? Apakah institusi pendidikan akan tergantikan? Jawaban Ingold, menarik. Ia percaya bahwa institusi pendidikan tidak akan tergantikan karena sebelum adanya teknologi, sekolah adalah tempat untuk belajar (study). Dia tidak akan pernah dimaksudkan sebagai tempat seperti ide learnification diatas. Belajar adalah proses produksi daripada konsumsi. Ia adalah proses membuat sesuatu menjadi publik daripada mengkonsumsi dan menyepakati sesuatu secara pribadi. Belajar adalah proses bersama antara guru dan murid, duduk dimeja, dan menuntut mereka untuk hadir, memberi perhatian serta merespons, bukan sebaliknya, bersembunyi dibalik transmisi kuasa teknologi layar. Belajar menuntut proses evolutif dari awal, bukan bertujuan memenuhi tujuan secara langsung. Dan seperti yang telah saya gambarkan diatas, belajar adalah permasalahan menghasilkan kebersamaan (common) daripada hanya memuaskan hasrat individu. Belajar adalah persoalan pertemanan, keperdulian bahkan cinta, namun bukan untuk melayani keinginan individu secara egoistis. Jauh dari membuat sesuatu menjadi mudah dan terakses dengan ringan, belajar adalah haruslah sulit dan menggelisahkan karena tujuannya adalah mengurai konsepsi-konsepsi awal, asumsi, pengetahuan banal atau stereotype dan selalu mengguncangkan pemikiran-pemikiran yang telah stabil. Karena dengan demikian, ia justru mampu membebaskan kita (Ingold, 2018: 54). Karena itu, jenis learnification sebenarnya adalah keterbalikan dari pendidikan yang sesungguhnya. 

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s