Menuturkan Malapetaka Iklim lewat sastra-poskolonial

Sore di bulan Maret, 1978. Amitav Ghosh muda adalah seorang mahasiswa master di Universitas Delhi. Ia bekerja paruh waktu sebagai wartawan. Musim hujan masih jauh, cuaca sejuk dengan langit terang, tiba tiba menjadi ganjil. Ketika duduk di perpustakaan, awan menjadi hitam dan rintik air turun dari langit yang diikuti dengan angin ribut dan hujan es. Ia panik, berlari ke arah jalan yang tidak pernah dilaluinya. Cuaca semakin buruk. Semua objek melayang ke atas, lampu, kulkas, kasur bahkan ia menyaksikan sepeda motornya terbang seperti layang-layang. Riuh rendah hingga akhirnya redam dan diam. Ketika ia naik ke atas balkon, ia menyadari begitu banyak orang terluka. Esoknya, harian berita melaporkan 30 orang meninggal dan 700 terluka serius di beberapa kota akibat serangan badai tornado. Dalam sejarah meteorologi ini adalah serangan pertama kali badai tersebut di kota Delhi.
book660_080916084113

Berangkat dari pengalaman diatas, Ghosh menggunakan konsep “improbablity” (ketidakmungkinan) bukanlah lawan kata dari “probable” (kemungkinan), namun dalam perubahan iklim, ia adalah spektrum dari ketidakmungkinan yang bisa jadi mungkin karena ketidakmenentuan cuaca belakangan ini. Disinilah Ghosh menekankan bahwa segala improbabilitas tersebut telah digambarkan dalan narasi-narasi fiksi klasik seperti The Arabian Nights, Arjuna, hingga dalam kitab Mahabarata. Ian Hacking menunjukkan bahwa sains menggambarkan probabilitas sebagai eksperimen statistik dan menggiringnya ke arah regularitas. Sains, karena itu, lawan dari narasi, didalamnya memungkinkan segala kekacauan dan ketidakpastian.

Dalam debatnya tentang sains, Ghosh berdiri di sisi evolusionis Stephen Jay Gould. Di bukunya yang ternama, Time’s Arrow, Time’s Cycle tentang teori geologi yang memunculkan malapetak (catastropi) Jay Goulds berlawanan dengan pendekatan kaum gradualisme. Bagi Goulds yang terkenal dengan teorinya yang bernama Punctuated Equilibrium, ia mengatakan bahwa evolusi tidak berjalan secara perlahan-lahan, melainkan terjadi melalui serangkaian ledakan yang diakibatkan perubahan mendadak lingkungan yang mempercepat proses evolusioner berbagai spesies dan memunahkan spesies lainnya. Serupa juga dengan Ghosh yang melihat kita sekarang sedang berada dalam kondisi loncatan evolusioner itu. Dalam penelitian ilmiah terhadap manusia, kita sedang dalam proses akselerasi evolusioner semenjak sekitar 10an ribu tahun yang lalu, yaitu sejak ditemukannya pertanian. Pada saat yang sama, spesies-spesies tertentu berhasil beradaptasi dengan peradaban kita (sebagai contoh: kucing, anjing, tikus, kecoak, racoon dan nyamuk) juga sedang mengalami ledakan jumlah. Kaum gradualis tidak melihat lompatan-lompatan malapetaka dalam evolusinya. Tidak ada waktu atau momen yang berbeda dan eksepsional hingga membuat probabilitas baru muncul dalam improbibilitas/ketidakmungkinan.

Dari improbabilitas ini, ke depan sangat mungkin kita mendapati bencana-bencana di tempat yang kita anggap tidak mungkin. Misalkan gempa bumi di Kalimantan, atau yang belakangan baru terjadi adalah gempa bumi hingga ratusan kali terjadi di Maluku atau angin puting beliung di kota Batu, dekat Malang. Di buku ini, Ghosh menggambarkan tentang malapetaka badai Hurricane Sandy tahun 2012 terjadi di New York dan tidak pernah terprediksi sebelumnya dalam catatan sejarah dan statistik meteorologi. Kerentanan akan terus terjadi. Sejak abad 16 manusia mempunyai kecenderungan membangun kota disamping pantai dan menarik diri dari dataran tinggi yang sebelumnya ditinggali oleh nenek moyangnya. Karena itu ke depan kita akan terus rentan terhadap badai, topan, tsunami, gempa yang datangnya dari arah laut. Rumah-rumah samping pantai di kota besar lebih banyak ditinggali oleh orang-orang kaya untuk mendapatkan pemandangan ke arah laut lepas. Para pelobi properti juga melakukan pendekatan ke pemerintah untuk terus dapat membangun rumah di samping pantai.
Kritik Modernitas 
Telah banyak studi tentang perubahan iklim dari sudut pandang sains, yang menjadi tantangan justru menemukan perubahan iklim dari studi humaniora seperti puisi, seni, arsitektur, teater, prosa fiksi dan lainnya. Jika kita merujuk dari perspektif humaniora, tentu terhubung dengan sejarah dunia imperialisme dan kapitalisme yang telah membentuk dunia seperti saat ini. Ghosh menunjukkan bahwa puisi mempunya relasi yang intim dalam menggambarkan kejadian-kejadian katastropi. Karya seni bersifat surealis, serta novel dengan gaya magic realisme dan sains fiksi telah menangkap perubahan global jauh sebelum sains memprediksinya. Seperti karya Herman Melville dalam novelnya Moby Dick adalah sejarah tentang manusia dan hewan laut (marine animals). Kelebihan narasi fiksi adalah ia mampu membayangkan berbagai kemungkinan sebagai spektrum yang dapat saja terjadi. Improbilitas adalah probabilitas.

Yang menjadi masalah adalah dunia modern memisahkan antara fiksi dan sains. Sebagaimana yang ditekankan oleh Bruno Latour bahwa modernitas mengusung proyek dengan cara mempartisi (partitioning) Natur dan Kultur, dimana yang pertama menjadi urusan sains secara eksklusif tertutup dari unsur kedua, kultur. Sains tidak dapat menerima genre sains-fiksi yang merupakan hibrid dari keduanya. Kedua, modernitas menekankan kekuatan pada kemajuan waktu linear dan progresif, yang disusun dalam analogi inovasi sains, dan menganggap bahwa yang tidak mengakselerasinya adalah tertinggal. Akselerasi ini yang kemudian dianuti oleh negaea-negara pasckolonial yang merasa dirinya tertinggal dari negara bekas koloninya

Modernitas ala Cartesian menciptakan dualisme dengan menempatkan kesadaran manusia sebagai pusatnya. Efeknya kita tidak mempertimbangkan apa yang ada diluar kesadaran kita mempunyai agency atau kesasaran subjek yang berjejaring. Perubahan iklim, reaksi binatang dalam eskosistem yang rusak, juga mempunyai intelejensia dan emosi yang menciptakan gerakan sendiri diluar kesadaran manusia. Ide dan kesadaran yang diluar manusia dalam pendekatan ontologis saat ini sedang digalakkan. Mengacu pada antropolog Eduardo Kohn, Ghosh menekankan perlunya manusia bergerak melebihi bahasanya dan terlibat dalam pola komunikasi dengan non manusia. Bagaimana manusia menafsirkan tanda dari sahutan burung, gonggongan anjing, suara angin melalui pohon, hingga merasakan suhu yang naik secara linear dalam tahun tahun belakangan ini sebagai aksi komunikasi yang tidak mengikuti kaidah linguistik sama sekali namun sangat diperlukan.

Poskolonial
Sebagai seorang yang datang dari dunia Selatan, Ghosh percaya bahwa pemanasan global dan malapetaknya dimulai dari sejarah kolonialisasi dalam merebut sumber daya alam, misalnya minyak bumi di Burma dan India. Untuk mengejar ketertinggalan, negara pascakolonial harus melakukan akselerasi dengan hal yang sama, ekstraksi sumber daya alam. Cara untuk menunjukkan bahwa suatu bangsa bekas jajahan tidak miskin adalah dengan mengeluarkan emisi karbondioksida sebanyak negara maju.

Banyak orang yang masih melihat perubahan global atau bencana iklim sebagai peristiwa gaib atau kejadian luar biasa (uncanny). Negara di belahan utara banyak yang  menolak perubahan iklim sebagai efek dari gas buang, emisi karbon daripada melihatnya sebagai bencana. Tujuannya tentu karena mereka tidak mau mengurangi gaya hidup konsumeris masyarakatnya. Karena jika gaya hidup tersebut dikurangi sama dengan mengubah identitas manusia modern, tidak gampang. Dengan demikian, bagi Ghosh, perubahan dan malapetaka iklim bukan soal ekologi melainkan moralitas dari para politis yang masih terus mengeksploitasi alam.

Ghosh sayangnya tidak menguraikan lebih lanjut sastra-sastra di negara Dunia Selatan yang dengan eksplisit menggambarkan perubahan atau bencana iklim. Ghosh secara gamblang hanya menunjukkan pada kitab-kitab klasik seperti yang saya sebutkan di paragraf awal tentang spektrum improbilitas. Sedangkan pandangan pascakolonialnya secara terpisah diletakkan dalam kacamata sejarah dan teoretik tentang relasi negara negara di dunia utara terhadap negara pascakolonial di belahan selatan.

Meski demikiam, buku ini sangat enak dibaca karena tiap babnya hanya terdiri dari tiga sampai halaman. Tidak panjang-panjang. Model narasi dan pembagian bab persis esai jurnalistik sehingga tidak melelahkan pembaca. Buku ini mengingatkan kita untuk selalu siap siap melakukan evakuasi. Ya, evakuasi adalah kata yang akan sering kita dengar praktiknya karena ke depan, kita akan sering melihat banyak orang berpindah karena banjir, kekeringan, tornado, dan berbagai anomali temperatur lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s