Pascakolonial dalam Kacang Buncis

Kolonialisme, meski telah berakhir secara fisik, namun rasanya masih ada di ujung lidah. Ini adalah buku etnografi tentang kacang buncis (French beans/string beans) yang diproduksi oleh dua Negara bekas jajahan di Afrika. Zambia adalah bekas jajahan Inggris, dan Burkina Faso adalah jajahan Perancis. Kedua negara ini mengekspor kacang buncis ke Negara yang pernah menjajahnya. Namun demikian, sebagai negara yang “maju”, Inggris dan Perancis menerapkan berbagai aturan ketat, sebelum produk kacang buncis tersebut masuk ke perut warganegara nya. Aturan ketat ini tidak lepas dari kecemasan mereka terhadap penduduk bekas jajahan yang dianggap “polutan”, tidak higienis, dan tidak terdeteksi cara kerjanya.

Di bagian awal, Freidberg menunjukan bahwa pergerakan makanan berdasarkan hukum permintaan dan persediaan (supply and demand) sarat dengan nuansa politik. Si penulis mengungkapkan, rantai permintaan dan persediaan diwarnai dengan regulasi politik dan soal etika. Freidberg mengambil contoh tentang hubungan kekuasaan dalam perdagangan Negara Prancis dan Inggris dalam operasi kuasanya melalui jalur makanan. Negara Eropa yang kuat pada industri pangan ini menentukan prinsip-prinsip pertanian ilmiah yang terkodifikasi, membentuk standar dan kualitas keamanan pangan. Oleh karena itu, rantai pasokan makanan ke pasar belahan Utara sangat berkorelasi dengan kekuatan perlindungan dan proyek pembangunan bangsa. 

Freidberg percaya bahwa makanan adalah ekspresi nasionalisme dan makanan dapat membangun komunitas yang dibayangkan, seperti diungkapkan oleh Benedict Anderson. Kesadaran ini didukung oleh teknologi dan ilmu pengetahuan untuk menjaga kemurnian makanan. Kemurnian makanan tersebut bertujuan untuk menjaga kecemasan orang Eropa terhadap pengaruh makanan tidak sehat yang berasal dari masyarakat non-Barat, atau bekas jajahan. Bagi orang Eropa, makanan impor menimbulkan perasaan bercampur antara antara kebutuhan akan permintaan dan kecemasan akan “kotornya” orang bekas jajahan yang memproduksi bahan mentah makanan. Orang Eropa mewakili standar makanan bersih, sementara makanan dari Dunia Selatan, seperti Burkina Faso atau negara mana pun di Afrika, merepresentasi masyarakat yang polutif dan tidak terdeteksi produksinya dengan baik. Oleh karena itu, untuk menjaga “kemurniannya” orang Barat membuat peraturan keamanan pangan sebelum masuk ke Negaranya. Untuk melindungi konsumennya, setiap makanan yang masuk ke Eropa harus bersih, segar, dan higienis. 

Secara teoretik, Freidberg, pengarang buku ini juga berdiskusi dengan Eric Wolf dan Sydney Mintz yang mengklaim ranah pasokan pangan ada hubungannya dengan kekuatan struktural. Kekuatan ekonomi politik sejak era kolonial telah membentuk relasi produksi dan distribusi yang timpang antara produsen pangan Eropa dan Afrika sebagai negara bekas jajahan. Freidberg percaya bahwa konstruksi peradaban makanan, sanitasi, dan kebersihan di Prancis dan Inggris memiliki korelasi dengan relasi dan eksploitasi yang timpang dari negara-negara jajahannya.

Produksi Makanan dari Negara Jajahan

Sejak neoliberalisme diterapkan di negara-negara pascakolonial, kekuatan untuk mengeksploitasi tanah pedesaan dan tenaga kerja menjadi lebih intensif. Kebijakan neoliberal terdiri dari deregulasi, yakni berkurangnya campur tangan pemerintah dan penyesuaian kebijakan struktural untuk pasar bebas. Freiberg melihat relasi Negara Eropa dengan bekas jajahan seperti hubungan patron-klien yang sangat tidak setara. Untuk mendukung argumennya, Freidberg mengeksplorasi perspektif pedagang dan petani Afrika. Eksportir, pedagang, dan petani Afrika harus mengikuti standar kualitas dunia Barat. Padahal, di Afrika tidak memiliki teknologi yang sama serta memiliki struktur masyarakat yang berbeda dalam memproduksi pertanian. Untuk memenuhi pasar makanan masal di Eropa, Negara Eropa mendesak untuk menambahkan tenaga kerja secara masal di Afrika. Selain itu, tanaman ekspor padat karya juga ditingkatkan. Dalam hal ini, Freidberg juga sependapat dengan asumsi Eric Wolf. Meskipun negara-negara Selatan dan Utara saling berhubungan, namun hubungan tersebut selalu bersifat paradoks. 

Hubungan yang timpang antara Eropa dan negara-negara pascakolonial di Afrika terus berlanjut hingga saat ini. Melalui deregulasi pangan pertanian, penyesuaian struktural dan paket bantuan dari IMF dan Bank Dunia, para petani di negara-negara pascakolonial harus menyesuaikan volatilitas pasar global. Petani harus menyesuaikan diri dengan kenaikan harga pupuk. Selain itu, pemerintah Eropa melindungi petani domestik mereka sendiri melalui hambatan pajak, tarif impor yang tinggi, dan pembatasan kuota impor, sementara petani di Afrika justru didesak untuk terbuka dengan pasar bebas tanpa perlindungan Negara. 

Rasionalisasi Petani

Freidberg menggunakan kata “rasionalisasi” untuk menggambarkan hubungan yang tidak setara antara produsen dan pasar di negara-negara Eropa. Liberalisasi rantai makanan didasarkan pada “rasionalisasi” di mana petani dan pedagang di dunia bekas Jajahan harus mengikuti permintaan rasional dan aturan importir dari dunia Barat. Misalnya, sebagai bagian dari pertanian modern, petani Afrika harus menerapkan standar keamanan dan kualitas produk yang lebih ketat. Para petani harus memenuhi standar sanitasi dan sayuran harus bersih dan segar. Pengelola juga melakukan pengawasan selama penanaman, pemuatan dan pengemasan. 

Rasionalisasi penawaran tidak hanya didasarkan pada produk tetapi juga pada kinerja tenaga kerja. Untuk memenuhi standar pasar dan etika pertanian dan perdagangan di Inggris misalnya, petani dan pekerja Zambia harus bersih, sehat, dan tidak terkontaminasi penyakit apa pun. Semua manufaktur, teknologi, dan sistem kerja berada di bawah pengawasan manajer. Manajer juga mengontrol pupuk dan bahan kimia atas tanaman. Pekerja perempuan tidak diperbolehkan membawa bayinya ke tempat bekerja. 

Rasionalisasi menunjukkan hubungan paternalistik atau patron-klien antara negara-negara pascakolonial dengan negara-negara bekas penjajahnya. Namun, dalam hubungan ini, masyarakat pascakolonial tidak mendapatkan hak setimpal dari relasi patron-klien tersebut. Dengan kata lain, pola perdagangan yang rasionalistik dan paternalistik tidak membuat petani dan petani kecil pascakolonial menjadi lebih kaya, karena mereka dibayar hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.  

Freidberg mengamati bagaimana negara-negara Barat, seperti konsumen Prancis dan Inggris menghargai makanan. Dalam bab lima dan enam, dia mengamati bahwa konsumen Prancis suka memilih makanan yang dapat dilacak, segar dan memiliki kontrol kualitas yang tinggi. Demikian pula, bagi konsumen Inggris, sebagai bagian dari perdagangan dan konsumsi yang etis (fair trade), mereka suka mengonsumsi produk dan makanan transparan yang lebih dapat diaudit produksinya dan memenuhi beberapa standar moral ekonomi. Freidberg juga berpendapat bahwa hubungan perdagangan transnasional berkaitan dengan kondisi tanaman pascakolonial dan produksinya. Dia mencontohkan, melimpahnya stok makanan segar dan pesatnya kemunculan hypermarket di Prancis berkaitan dengan peningkatan besar-besaran pasokan dari negara-negara berbahasa Prancis di belahan bumi Afrika dan Timur Tengah. 

Sebagai kesimpulan, Freidberg menekankan bahwa perbedaan antara makanan Prancis dan Inggris bukan hanya karena keduanya memiliki budaya yang berbeda, atau karena negara-negara bekas jajahannya memasok tanaman dan produk yang berbeda, melainkan karena jaringan dan sistem perdagangan itu sendiri menghasilkan perbedaan yang berkelanjutan. Berbagai macam perantara transnasional seperti auditor institusional, distribusi ritel, dan yang tak kalah pentingnya, tuntutan konsumen berkontribusi untuk menentukan berbagai budaya makanan dan kecemasan.

Mengikuti pendapat Sidney Mintz dan Eric Wolf, Freidberg percaya bahwa kekuatan permintaan dari negara Barat terletak pada ketidaksetaraan struktural ekonomi dunia. Dia mengungkapkan bahwa perlindungan pangan ada hubungannya dengan akar kebijakan pembangunan kolonial dan pascakolonial. Oleh karena itu, membaca Freidberg membuat saya percaya bahwa masyarakat tanpa batas adalah mitos. Meskipun negara Utara dan Selatan terhubung, ada ketegangan dan keterputusan dalam hubungan ini. Dalam keterkaitan perdagangan dan ekspor, para pekerja pasca-kolonial harus melakukan seperti yang diinginkan konsumen Utara. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh negara-negara pascakolonial seperti kebersihan dan transparansi adalah karena negara-negara utara memiliki kecemasan terhadap negara-negara pascakolonial yang mewakili kekotoran, polusi, kemiskinan, dan kesehatan yang kurang. Ketakutan dan kecemasan makanan kemudian menghasilkan peraturan perbatasan tersebut. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s